
...*Selamat Membaca*...
Setelah Rena meluapkan seluruh isi hatinya di dalam ruangan penyembuhan, dia segera menghentikan tangisannya lalu bersiap untuk membantu Cecilia. Melihat suasana hatinya lebih baik dibandingkan sebelumnya, dia tidak akan segan lagi untuk meminta bantuan kepadanya.
Disisi lain...
Tasya beserta semua rombongannya, hampir tiba di titik awal dari tujuannya. Namun sebelum itu, mereka semua di cegat oleh para tentara yang menjaga wilayah tersebut, karena tidak boleh ada seseorang pun yang melewati batas tersebut.
Salah satu dari tentara yang bertugas itu berjalan mendekati mobil paling depan, dan tentara lainnya diperintahkan untuk bersiaga. Tasya yang berada di dalam mobil langsung turun dari mobilnya sebelum diminta oleh tentara tersebut.
Seketika raut wajah dari tentara itu berubah setelah melihat kalau orang yang keluar dari dalam mobil itu adalah anggota dari Slayer Of God. Reflek cepat, tentara itu menodongkan senjatanya pada Tasya, namun dirinya sama sekali tidak merasa takut akan tindakan yang dilakukan oleh tentara tersebut.
Melihat hal itu, Muzan beserta yang lainnya hendak keluar dari dalam kendaraan, akan tetapi Tasya memberikan kode dengan mengacungkan telapak tangannya, yang berarti diam ditempat karena dia bisa mengatasinya sendiri.
Kemudian, Tasya berjalan perlahan-lahan mendekati tentara tersebut, namun dia malah memintanya untuk diam ditempat serta jangan mendekat. Gertakan dari tentara itu diabaikan olehnya dan dia terus berjalan mendekatinya.
"Sedikitpun kami tidak ada maksud buruk pada kalian semua, malahan kami ingin membantu memperbaiki wilayah ini secepat mungkin. Jadi segera laporkan pada atasan kalian, kalau organisasi Slayer Of God akan bertanggung-jawab atas perbaikan pada wilayah selatan." pinta Tasya pada tentara tersebut dengan raut wajah serius.
Muzan yang sedikit mendengar perkataan nya itu cukup terkejut dengan hal yang dibicarakan olehnya. Dia tak menyangka kalau Tasya dengan mudahnya mengambil keputusan tanpa dirundingkan terlebih dulu dengan yang lainnya.
"Hah, semudah itu dia berbicara hal seperti itu, memangnya perbaikan semua wilayah selatan bisa dilakukan secara singkat?" ucap Muzan sambil memegang dahinya.
"Apakah hal ini bertentangan dengan mu?" tanya Antonio yang berada di mobil sama dengannya.
"Tidak... Adikku memang orangnya seperti itu, dan aku akan tetap mendukungnya." jawab Muzan sambil tersenyum. "Terlihat mirip, dan sangat mirip dengan apa yang dilakukan oleh ibu. Mungkin sifatnya itu diturunkan pada adikku, jadi tak apa-apa bila ia ingin bertanggung jawab atas semua yang dilakukan oleh pasangannya." lanjut dalam hatinya dengan bangga terhadap keputusan yang diambil oleh Tasya.
"Oh ya, dan mengenai perkataanmu tadi, mungkin si orang tua gila sudah menyiapkan hal yang begitu berguna!" ucap Antonio dengan menanggapi perkataan sebelumnya.
__ADS_1
"Baguslah kalau kau sudah menyadarinya, dan itu berarti aku lebih berguna dibandingkan denganmu. Hahahaha..." tanggap Shaman yang tiba-tiba berada di sampingnya.
"Diam kau orang tua gila, aku juga sangatlah berguna dibandingkan denganmu." jawab Antonio, namun perkataannya itu sama sekali tidak di dengar olehnya karena terus tertawa terbahak-bahak. "Sejak kapan mobilnya itu berada di sampingku, ahh dasar sial, jadinya aku keceplosan berkata seperti itu." lanjutnya sambil menghela nafasnya.
Tak lama, Tasya kembali masuk ke dalam mobil tersebut karena urusannya dengan tentara itu sudah selesai, dan mereka semua dipersilahkan untuk masuk ke dalam wilayah tersebut.
Sebelumnya, tentara itu sudah berkomunikasi dengan atasannya, lalu pesan nya itu disampaikan pada petinggi akademi. Sesuai dengan keputusannya itu, organisasi yang dibuat oleh Tatsuya memiliki hak khusus, serta apapun yang ingin dilakukan oleh mereka akan didukung selagi demi kepentingan semua orang.
Kemudian, Tasya beserta rombongannya bergerak kembali menuju titik lokasi yang telah ditentukan olehnya, dan sekarang sudah tak ada lagi orang-orang yang akan memberhentikannya.
Hanya membutuhkan waktu 30 menit, mereka semua sudah sampai di lokasi blok A dari wilayah selatan. Dilihat dari situasi nya, ada beberapa orang pindah dari pengungsian untuk mencari barang-barang yang masih bisa digunakan, serta makan makanan seadanya yang disiapkan oleh relawan.
Tanpa banyak bicara, Tasya turun dari mobilnya, dan diikuti oleh semua orang. Dia juga meminta pada semua orang segera berkumpul terlebih dulu, guna untuk memutuskan masing-masing tugas yang akan mereka jalankan.
"Baiklah, mulai dari saat ini juga kita akan sibuk sampai keseluruhan wilayah ini kembali seperti semula. Jadi mohon kerjasama nya!" pinta Tasya pada semua orang sambil menundukkan kepalanya.
Melihat Tasya yang selalu bersikap seperti itu, membuat semua orang yang berada di dekatnya merasa nyaman. Terlebih lagi, meski pangkatnya lebih tinggi dari semua orang disini, dia tetap merendahkan dirinya.
Mendengar perkataan seperti itu, Tasya langsung membagikan tugas pada mereka semua. Yang pertama pada Antonio, yang harus menyiapkan makanan bagi semua orang, yang kedua Shaman akan bertugas untuk membersihkan puing-puing dari reruntuhan bangunan, serta memberikan hak dalam membangun rumah bagi orang-orang yang kehilangan tempat tinggalnya.
Terakhir, Tasya meminta Muzan, Aurel, Clara dan tentara bayaran yang ikut, diminta untuk berjaga di sekitar blok A, lalu secepatnya melaporkan apabila ada hal darurat. Selain itu juga, apabila melihat siapapun yang berada di blok A, ajak mereka untuk mengunjungi lokasi ini supaya mendapatkan sedikit bantuan berupa makanan dan minuman.
Tanpa membuang banyak waktu, mereka semua langsung menjalankan tugasnya masing-masing, sedangkan dirinya akan terus memantau aktivitas semua orang. Seperti biasa, lagi-lagi Shaman mengejutkan orang-orang yang tidak mengetahui tentang penggunaan robot.
"Hahaha... Bangunlah anak-anakku, sekarang saatnya bagi kalian untuk bekerja tanpa henti." ucap Shaman sambil menekan sebuah tombol yang berada di genggaman tangannya, dengan tujuan untuk mengaktifkan robot yang di desain khusus untuk bekerja. Ada sekitar 300 robot yang diaktifkan kembali oleh Shaman, dan mereka langsung turun dari beberapa mobil kontainer.
Melihat hal tersebut, beberapa orang menjerit ketakutan terutama anak kecil yang pertama kali melihat hal tersebut. Dengan sigap, Tasya menghampiri mereka lalu menjelaskan semuanya kalau semua robot itu akan membantu membangun kembali tempat tinggal mereka.
__ADS_1
Perlahan-lahan, beberapa anak kecil menghentikan tangisannya, dan ada juga sebagian dari mereka ingin menyentuh robot tersebut. Keinginan mereka bukanlah suatu hal sulit bagi Tasya, lalu dia meminta Shaman untuk menyisakan 1 atau 2 robot untuk bermain dengan mereka.
Seketika, raut wajahnya berubah menjadi sangat senang, karena sebelumnya ia sudah memprediksi akan hal tersebut. Tanpa menunggu lama, Shaman memberikan perintah pada beberapa robot untuk membawa peti besar ke hadapannya.
Ukuran peti itu terbilang sangat besar, dan isinya berupa robot yang di desain khusus untuk mainan anak-anak. Sudah dipastikan main tersebut tidaklah berbahaya, meski dengan sendirinya bisa bergerak sendiri serta pengisian tenaga berasal dari energi listrik.
"Baiklah anak-anak, silakan ambil robot apapun yang kalian suka dalam peti ini dan tentunya gratis." ucap Shaman sambil tersenyum bahagia.
Mendengar perkataan seperti itu, semua anak-anak langsung mengambil mainan yang diinginkan oleh mereka. Tak lupa mereka juga berterimakasih kepada nya, karena telah diberikan mainan secara gratis.
"Aku bersyukur kalau paman telah menyediakan hal seperti ini. Dilihat dari wajah anak-anak itu, mereka sangat bahagia dengan hadiah yang diberikan oleh paman." ucap Tasya sambil menatap semua wajah dari anak-anak tersebut.
"Begitu pula denganku, aku juga sangat bahagia melihat anak-anak berekspresi seperti itu." tanggap Shaman. "Ya, mereka semua harus tetap bahagia, dan tak boleh mengalami hal sama seperti diriku dulu." lanjutnya sambil mengingat masa lalu suram yang sudah di alami olehnya.
"Paman, paman, apa kau baik-baik saja?" panggil Tasya sambil bertanya mengenai kondisinya, karena Shaman melamun.
"Ahh, ya, aku baik-baik saja. Maaf barusan aku malah memikirkan sesuatu mengenai masa laluku. Baiklah aku akan kembali memantau anak-anak ku yang sedang bekerja keras." jawab Shaman sambil berjalan menjauh.
"Iya paman, jangan memaksakan diri dan beristirahatlah nanti." tanggap Tasya, dan Shaman merespon hanya dengan melambaikan tangannya.
Di dalam pikiran Shaman, sebelumnya dia tidak pernah terlepas dari masa lalu yang menghantuinya, dan setiap hari pikiran dari masa lalunya sering berdatangan. Dia berpikir sudah tak ada harapan lagi untuk melangkah keluar dari hal ini, namun sampai akhirnya dia bertemu dengan Tatsuya, dan dengan mudahnya membantu dirinya keluar dari pemikiran tersebut.
"Jadi, seperti inikah sebuah perasaan yang ingin dipertahankan olehmu tuanku! Begitu luar biasanya perasaan ku ini, setelah melihat kebahagiaan dari anak-anak meski cuma diberikan sebuah mainan. Aku sangat bersyukur telah bertemu denganmu tuanku." gumam Shaman dalam hatinya dengan mendedikasikan seluruh masa hidupnya untuk mewujudkan keinginan Tatsuya.
...Bersambung......
...{Pemberitahuan Update}...
__ADS_1
...(21.00 WIB)...
...Terimakasih....