Lahirnya Penguasa Kegelapan Season 2 : The Union Of World Academies

Lahirnya Penguasa Kegelapan Season 2 : The Union Of World Academies
#49 Kembalinya Tatsuya dan Mikha


__ADS_3

...*Selamat Membaca*...


Kabar buruk yang diterima oleh Rena dari teman-teman Tatsuya, membuat dirinya mengalami syok berat dan masih tidak percaya akan kenyataannya. Kesedihan yang sudah lama dilupakan olehnya, kini mulai terasa kembali setelah bertahun-tahun lamanya semenjak keluarganya meninggal.


"Tidak, ini tidak mungkin terjadi. Katakan padaku kalau semua yang kalian ucapkan itu hanyalah kebohongan!" pinta Rena dengan raut wajah penuh kesedihan.


"Tenangkan dirimu Rena!" pinta Aurel sambil memegang kedua bahunya. "Kemana sikapmu itu sebagai orang keras kepala itu? Mengapa kau sangat lemah ketika mendengar kabar yang belum tentu benar dengan kenyataannya?" lanjutnya dengan bersikap optimistis, sambil berusaha menenangkan Rena.


"Aku... Aku tidak ingin... Mengalami kejadian yang sama seperti dulu!" jawab Rena dengan nada lemah, karena teringat mengenai kejadian yang di alami oleh keluarganya.


Clara yang sedang berdiri di dekat mereka, sudah tidak tahan lagi melihat Rena seperti itu. Dia berjalan mendekatinya, lalu jongkok tepat dihadapannya. Tanpa terduga, Clara langsung menampar wajahnya dengan cukup keras, guna untuk menyadarkannya dari pemikiran negatif.


"Plaaakkk"


Semua yang berada di tempat itu, sangat terkejut ketika melihat Clara menampar wajah Rena tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Apa yang kau lakukan Clara?" tanya Aurel sambil menarik bajunya.


"Aku hanya membantunya tetap sadar dengan situasi yang kita hadapi saat ini." jawab Clara dengan singkat, sambil menoleh wajah Aurel.


"Hah? Memangnya dia terlihat akan pingsan? Enggak kan?" tanya Aurel dengan sangat kesal.


"Dasar bodoh!" ucap Clara dengan melepaskan diri dari genggaman tangan Aurel. "Hei kau, tadi bilang tuanku sudah mati?" lanjutnya sambil berjalan menghampiri teman-teman Tatsuya.


"Iya benar, memang seperti itu kenyatannya." jawab Shenji sambil menahan rasa sedihnya.


"Lalu, apakah kalian melihat semua pasukannya masih berada di tempat itu?" tanya Clara sambil menatap wajahnya.


"Pasukan?" ucap Shenji sambil memikirkan perkataan darinya. "Maksudmu pasukan roh yang dimiliki oleh Tatsuya?" lanjutnya dengan balik bertanya.


"Iya, memangnya pasukan siapa lagi? Apakah kau masih melihatnya?" tanya Clara.


"Iya, kami melihatnya. Mereka sedang berjaga pada tempatnya masing-masing, dan mereka..." jawab Shenji, namun perkataannya disela oleh Clara.


"Ok sudah jelas. Berarti tuanku masih hidup." sela Clara sambil membalikkan badannya, dan hendak berjalan menjauh.


Semua orang yang berada di tempat tersebut, sangat terkejut setelah mendengar perkataan seperti itu dari Clara, terutama Rena.


"Bagaimana mungkin dia masih hidup? Jelas-jelas dia mati tepat dihadapan kami!" ucap Merry dengan nada tinggi.


"Hah... Ternyata kalian sama bodohnya dengan Aurel." ucap Clara sambil menghentikan langkah kakinya, lalu membalikkan badannya.


Tak lama, Clara menjelaskan pada mereka secara singkat mengenai alasan dari perkataannya yang menganggap Tatsuya masih hidup. Bila seseorang dari jobs mage telah memanggil sebuah Roh, maka dia akan tetap hidup meski dibunuh beberapa kali oleh lawannya. Tapi bila tuannya mati, secara otomatis roh yang dipanggilnya akan binasa tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Jadi sudah jelaskan, kalau pasukan roh masih ada, tuanku juga masih hidup." ucap Clara sambil berjalan ke tempat dimana Tatsuya berada.

__ADS_1


"Tunggu!" pinta Rena sambil berdiri kembali.


"Apalagi? Apakah tamparanku masih belum cukup?" tanya Clara sambil menoleh kepadanya.


Rena sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Clara. Dia terus berjalan ke depan, lalu berhenti tepat dihadapan Clara. Tanpa diduga Rena hendak menampar wajahnya menggunakan tangan kanannya, untuk membalas perlakuannya tadi. Namun Clara menyadari apa yang akan dilakukan oleh Rena, sehingga dia menepis tangannya.


"Ctak"


"Mau apa kau?" tanya Clara dengan mengerutkan dahinya.


"Aku hanya ingin membalas perbuatanmu tadi, tapi mengapa kau malah menipisnya hah?" ucap Rena sambil balik bertanya.


"Aku itu lebih kuat darimu, jadi wajar saja bila aku menepisnya." jawab Clara sambil berjalan kembali.


"Hah? Apa kamu bilang?" tanya Rena dengan sangat kesal.


"Kau lemah dan aku itu kuat. Itu yang aku maksud." jawab Clara dent singkat.


Kekesalan Rena mulai memuncak, setelah mendengar perkataan seperti itu darinya. Dia hendak mengajukan pertarungan satu lawan satu dengannya, akan tetapi Aurel segera menghentikannya.


"Berhenti bertingkah seperti anak kecil, tenangkan dirimu Rena!" pinta Aurel sambil menahan tubuhnya.


"Kau juga sama lemahnya Aurel." ucap Clara sambil menoleh kepadanya.


"Apa?" ucap Aurel dengan emosi yang langsung memuncak. "Sini kau! Ayo bertarung satu lawan satu denganmu untuk menentukan siapa yang lebih kuat!" lanjutnya dengan bersikeras.


Melihat hal itu, seketika teman-teman Tatsuya tertawa melihat tingkah laku mereka. Kesedihan yang tertanam, kini telah terhapuskan dengan kecerian. Tak lama, Rena dan Aurel juga ikut tertawa karena menyadari kalau kelakuannya itu sama-sama seperti anak kecil.


"Hmm." ucap Clara dengan sedikit tersenyum. "Daripada harus menunggu, lebih baik kita segera pergi ke tempat tuanku untuk membantunya dan melihat apa yang sedang terjadi." lanjutnya dengan ajakan.


"Ya benar, masih dini untuk merayakannya, karena kita harus menyelesaikan semuanya." jawab Rena dengan kembali tersenyum.


Tidak lama setelah itu, Rena, Clara, Aurel, serta teman-teman Tatsuya lekas pergi ke bagian depan gedung, untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Tatsuya. Kini semua perintah di bagian belakang gedung dipercayakan Rena pada Joseph, karena yakin kalau dia layak diberi tugas seperti itu sesuai dengan pengalamannya yang memimpin tentara bayaran.


Kembali pada situasi pertarungan di depan gedung...


Serangan yang dibuat oleh Kazima, begitu mematikan sampai-sampai robot besar yang dikendalikan oleh Leonard hancur berkeping-keping. Diapun terpental dengan cepat hingga menabrak sebuah bangunan yang berada cukup jauh di belakangnya sampai hancur.


Ketiga ketua guild beranggapan kalau masalah ini sudah terselesaikan, dan Leonard dipastikan mati akibat terkena serangan pamungkas milik Kazima. Mereka bertiga kembali berkumpul dan hendak beristirahat sejenak karena mana poinnya berada bawah 50%.


Akan tetapi, sebuah tangan muncul dari reruntuhan bangunan dan Leonard masih hidup karena kristal yang tertanam melindungi seluruh tubuhnya. Seketika ketiga ketua guild tersebut kembali waspada karena tidak menyangka kalau Leonard masih hidup meski diserang oleh serangan pamungkas.


"Cih, benar-benar merepotkan!" gumam Steven dengan kesal karena serangan Kazina gagal membunuhnya.


"Huh, kondisi kita sudah sungguh tidak menguntungkan untuk kembali bertarung. Bila Cecilia berada disini mungkin dia bisa membuat mana poin serta stamina kita pulih seperti semula." sambung Tommy dengan menjelaskan kondisinya.

__ADS_1


"Memang kondisi kita saat ini seperti itu, namun bisa saja kondisi pengkhianat itu lebih parah daripada kita. Makanya itu kita akan terus bertarung sampai titik darah penghabisan. Bila dia terus dibiarkan hidup, maka hal yang serupa... Tidak... Hal yang lebih buruk akan terjadi." sambung Kazina sambil mengajak mereka berdua untuk terus bertarung melawan pengkhianat negara.


Disisi lain, Leonard yang baru saja keluar dari reruntuhan tersebut kondisi tubuhnya terluka parah. Bahkan penyembuhan otomatis dari kristal yang tertanam dalam tubuhnya sangat lambat.


"Hah... Hah... Hah... Sialan, dasar bajingan!" ucap Leonard dengan nafas terengah-engah. "Untung saja aku memiliki kristal yang tertanam pada tubuhku, sehingga aku masih hidup meski terkena serangan seperti itu." lanjutnya sambil berdiri kembali dan menatap ketiga ketua guild.


Melihat hal itu, Kazima berserta kedua ketua guild lainnya bersiap untuk melakukan serangan. Akan tetapi mobil berwarna hitam yang dilapisi pertahanan kuat datang secara tiba-tiba beserta rombongan lainnya dan berhenti tepat di tengah-tengah mereka.


Tanpa terduga, Mozark turun dari mobil tersebut dan di ikuti oleh bawahannya. Dia tidak langsung melihat orang-orang yang sudah ada di tempat tersebut, melainkan dia melihat kondisi di sekelilingnya seperti bangunan tempat tinggal, jalanan dan juga yang lainnya.


"Sungguh pemandangan yang mengerikan untuk dilihat. Padahal aku hanya meminta untuk menangkap Tatsuya tanpa merusak area yang tidak berhubungan dengan jalur pergerakan kalian." ucap Mozark dengan menyesal karena mempercayakan semuanya pada ketua guild besar negara.


"Memang anda memerintahkan kami dengan demikian, akan tetapi ada kejadian yang tak terduga sehingga merusak tempat ini. Namun ada seseorang yang harus bertanggungjawab atas kejadian ini, tiada lain adalah seorang pengkhianat yang berada di samping kanan anda serta dia sudah melakukan hal terlarang." jawab Kazima sambil menunjuk Leonard.


"Jangan sembarangan kalau berbicara, memangnya kau punya bukti apa Kazima!?" tanya Leonard dengan mengelak akan kebenarannya.


"Kami bertiga adalah saksinya dan kau sudah merencanakan hal ini sejak lama." jawab Tommy.


"Hanya saksi saja tidak cukup bila tidak dibarengi dengan bukti yang jelas." jawab Leonard dengan berusaha menutupi kesalahannya.


"Bila seperti itu, hanya pertarungan yang bisa membuktikan kalau kau telah melakukan hal terlarang." jawab Steven dengan niat untuk bertarung kembali melawan Leonard.


"Apakah anda melihat mereka? Bukankah expresi seperti itu bisa dikatakan kalau mereka bertiga adalah orang yang berkhianat? Sampai-sampai ingin bertarung 3 lawan 1." tanya Leonard pada petinggi akademi.


"Ya benar, aku melihatnya. Namun yang lebih penting lagi, apakah aktingmu sudah selesai Leonard?" tanya balik Mozark kepadanya.


Mendengar perkataan seperti itu, Leonard sangat terkejut dan dia sedikit kaku dalam menjawab pertanyaannya.


"A-apa maksud anda berbicara seperti itu" tanya Leonard.


"Rupanya kau masih belum faham juga dengan situasinya." jawab Mozark, lalu dia melihat ke atas langit. "Sampai kapan kalian akan berada disana terus, bukankah ini saat yang tepat untuk menujukan wajah kalian." lanjutnya.


Semua yang berada di tempat tersebut melihat ke atas langit dengan bingung, karena belum mengetahui kalau Mozark berbicara dengan siapa. Secara tiba-tiba, setitik cahaya muncul dari atas langit dan terlihat sedang melesat ke arahnya dengan sangat cepat.


"Blaaaarrr"


Asap yang cukup tebal bermunculan, akibat pendaratan seseorang yang cukup keras hingga membuat retakan besar dalam diameter tertentu. Lama kelamaan, asap dari debu tersebut mulai menghilang sedikit demi sedikit sampai kelihatan 2 buah sosok yang belum diketahui.


"Tadinya aku ingin melihat pemandangan dari atas langit lebih lama lagi, akan tetapi bukanlah waktu yang tepat untuk melakukannya." ucap Tatsuya sambil berjalan mendekati Mozark, lalu di ikuti oleh Mikha.


...Bersambung......


...{Pemberitahuan Update}...


...(Untuk sementara update episode terbaru masih belum bisa ditentukan.) ...

__ADS_1


...Jika berkenan dan bersedia jangan lupa untuk dukung author dengan Like, Komen, Vote, Rate novel ini serta saran dan bantuannya agar lebih semangat untuk terus up episode terbaru. Pendapat anda sangat berharga bagi pemula seperti saya....


__ADS_2