
..."Selamat Membaca"...
Semakin lama, suara gemuruh serangan yang dilancarkan dari atas langit terdengar sangat keras, dan membuat pendengaran terasa sakit. Tatsuya yang sudah siap dalam posisinya, mulai melesatkan serangannya.
Hanya menggunakan jari telunjuknya saja, ribuan pedang kematian yang diberi berbagai macam energi, langsung melesat ke atas langit secara bersamaan. Dengan sengaja Tatsuya memfokuskan serangannya pada satu titik, karena nantinya dia berniat untuk menyatukan semua pedangnya dalam ketinggian tertentu.
"Swooossshhh"
Ketika semua pedang kematian miliknya berada dalam ketinggian lebih dari 200 meter, Tatsuya kembali mengucapkan kata kunci dari jobs machine. Meski Tatsuya mengetahui kalau dirinya itu telah mencapai batasannya, dia tetap bersikeras untuk melampauinya dan sudah bersiap menerima efek samping dari tindakan yang dilakukannya.
"Giant Sword Frame"
Dalam sekejap, lingkaran sihir dengan skala besar mulai terbentuk tepat di depan ribuan pedang kematian, sehingga semua pedangnya masuk ke dalam lingkaran sihir tersebut.
Tidak lama setelah itu, ribuan pedang kematian bersatu menjadi sebuah pedang raksasa dengan diselimuti oleh aura naga halilintar, lalu kembali melesat menuju serangan dari atas langit lebih cepat daripada sebelumnya.
"Booossshhh"
Namun, pada yang sama, seluruh tubuh Tatsuya mulai bergetar dan merasakan rasa sakit yang luar biasa sampai ke tulang-tulangnya, dan membuat dirinya mengeluarkan darah merah segar dari dalam mulutnya.
"Ugghhh... Dibandingkan dengan waktu itu, ini bukanlah apa-apa bagiku." gumam Tatsuya sambil menahan rasa sakitnya. "Entah bagaimana pun caranya, aku tetap akan melampaui batasanku!" lanjutnya dengan berteriak, sambil menatap pedang raksasa miliknya yang hendak berbenturan.
"Baaaammmm"
Hantaman keras dari kedua kekuatan berdengung hingga mengeluarkan suara yang menyakiti pendengaran. Hempasan angin kuat juga terjadi dan memberikan tekanan besar sampai penghalang bagian atas dengan ketinggian 500 meter hancur.
"Praaankkk"
Akibatnya, sekumpulan awan yang berada dalam wilayah tersebut, musnah dalam sekejap mata, dan semua orang menyaksikan hal tersebut berpikir, bila hempasan itu terjadi di bawah sudah dipastikan apa yang berada di sekitarnya akan hancur.
"Sungguh mengerikan, membayangkannya saja sudah membuatku merinding." gumam Tommy dengan memikirkan akibat dari serangan tersebut.
"Untung saja bocah itu menghantamnya lebih tinggi dibandingkan dengan gedung-gedung di wilayah ini. Akan tetapi, kita sebagai ketua guild besar negara tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bertaruh pada seseorang bocah." ucap Steven dengan kesal, karena kekuatannya tidak dibutuhkan dalam hal tersebut.
Menyadari hancurnya penghalang pada ketinggian itu, semua roh milik Tatsuya segera memulihkannya dan berusaha keras memperkuat penghalang tersebut. Meski harus menguras banyak energi sampai jiwanya musnah asalkan bisa memenuhi tugasnya, merupakan sebuah kehormatan sebagai pelayan dari penguasa kegelapan.
Semua orang yang menyaksikan hal tersebut terutama Mikha, terus menerus memanggil namanya dan berusaha untuk menembus penghalang tersebut. Begitu pula dengan yang dilakukan oleh Rena beserta dengan teman-temannya yang baru saja tiba termasuk Clara dan Aurel, kecuali Khilar yang masih pingsan.
Baru saja Clara dan Aurel ingin bertanya sesuatu pada Rena, secara tidak terduga gelombang kejut kembali terjadi dan memberikan tekanan yang cukup besar pada pedang raksasa milik Tatsuya. Sedikit demi sedikit bagian ujung pedang tersebut terkikis, namun masih dapat dipulihkan karena kata kunci dari jobs healer terus bekerja tanpa henti.
__ADS_1
Akan tetapi, kondisi tubuh Tatsuya semakin memburuk akibat tekanan yang diberikan oleh kedua kekuatan yang saling berbenturan. Sepintas pandangan Tatsuya mulai kabur, namun karena tekadnya ingin melampaui batasannya dia tetap bertahan dan menghiraukan rasa sakit yang di alaminya.
"Hah... Hah... Hah... Aku, harus tetap fokus untuk menyelesaikan semua ini dan segera kembali kepadanya." gumam Tatsuya sambil bernafas terengah-engah.
Kemudian Tatsuya mengambil pedang besar yang berada di balik punggungnya, dan menancapkan pedang tersebut tepat dihadapannya. Dia sengaja melakukan hal itu guna untuk berpegangan agar tidak jatuh, bilamana kedua kakinya tidak sanggup menahan beban tubuhnya.
Lagi-lagi, gelombang kejut serangan dari atas langit terjadi untuk kedua kalinya setelah berbenturan dengan pedang raksasa milik Tatsuya. Kali ini pedang raksasa miliknya terdorong serta mengikis bagian ujung terus menerus sehingga pemulihan bekerja lebih lambat daripada sebelumnya.
Melihat hal tersebut, Mozark menduga kalau pedang besar milk Tatsuya tidak bisa bertahan lebih lama lagi, dan kemungkinan besar serangan dari atas langit akan menghantamnya. Di dalam hatinya dia merasa kesal, karena dirinya tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Tatsuya yang menjadi incaran entah oleh siapa.
"Apakah kita hanya bisa menyaksikannya saja tanpa bisa berbuat apa-apa? Bila seperti ini terus Tatsuya akan... Dia akan..." ucap Rena dengan rasa kesal, dan tidak melanjutkan perkataannya karena rasa khawatir mengenai hal yang terjadi setelahnya.
"Tenangkan dirimu Rena, Pasti ada suatu cara untuk mengatasi hal ini!" pinta Aurel sambil menenangkan Rena.
"Mungkin aku harus mengatasi penghalang ini terlebih dahulu, supaya bisa membantu tuanku!" ucap Clara dengan bersiap untuk mengucapkan salah satu kata kuncinya.
"Tidak ada hal yang bisa kalian lakukan, apalagi mengatasi penghalang yang dibuat oleh Roh miliknya." ucap Mikha sambil berjalan mendekatinya. "Namun ada sebuah cara yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkannya." lanjutnya.
Mendengar perkataannya seperti itu, Rena kembali menegakkan kepalanya, lalu berjalan mendekati Mikha.
"Apapun, apapun akan kulakukan asalkan bisa menyelamatkan dia!" jawab Rena sambil memegang bahu Mikha dengan kedua tangannya.
"Ternyata bukan hanya aku saja yang memiliki perasaan terpendam kepadanya." ucap Mikha dengan sedikit tertawa.
"Lebih baik kamu segera beritahu, hal apa yang harus kami lakukan untuk menyelamatkannya!" sambung Clara dengan memasang wajah serius.
"Ah maaf... Mengenai hal itu, hanya aku yang bisa melakukannya, tapi aku perlu meminta bantuan pada Merry untuk menyalurkan mana poin miliknya padaku." jawab Mikha sambil menatap wajah Merry.
"Kalau begitu, tidak perlu lagi membuang banyak waktu. Ayo segera kita lakukan." ucap Merry sambil mengusap air mata yang mengalir pada kedua pipinya.
"Tunggu Mikha!" pinta Kazima sambil memegang salah satu tangannya. "Sebenarnya apa yang akan dilakukan olehmu?" lanjutnya dengan bertanya.
"Tentu saja, aku akan memenuhi tugas seperti yang sudah dilakukan oleh ibuku." jawab Mikha dengan ekspresi serius.
"Tidak, aku sebagai ayahmu tidak akan pernah mengizinkanmu melakukan hal itu!" ucap Kazima dengan tegas.
"Kenapa kamu melarang keinginannya untuk menyelamatkan Tatsuya? Kalau ada sebuah cara, bukankah itu hal wajar untuk menyelamatkan nyawa seseorang, teruma orang itu adalah Tatsuya dan bukan siapa-siapa." tanya Rena dengan kesal.
"Jangan ikut campur dengan urusan keluargaku! Kau tidak mengetahui apa-apa mengenai apa yang akan dilakukannya." jawab Kazima dengan tegas dan penuh emosi.
__ADS_1
"Kau..." ucap Rena, namun perkataannya di sela oleh Mozark.
"Pertukaran tempat, memang membutuhkan mana poin 2x lipat dari penggunanya. Namun hal yang dilakukannya terbilang sangat berbahaya karena terlihat seperti pertukaran nasib. Apakah dugaanku benar Kazima?" sela Mozark sambil bertanya apa yang dikatakannya itu benar atau salah.
"Perkataan anda sangatlah benar. Maka dari itu aku melarang putriku untuk bertukar tempat dengannya, karena situasinya sangat berbahaya." jawab Kazima sambil menoleh Tatsuya.
Tak lama setelah mereka berbicara seperti itu, gelombang kejut selanjutnya kembali muncul dan membuat serangan itu bertambah besar. Tekanan yang diberikannya juga berbeda dari sebelumnya, sehingga permukaan tanah yang berada di dalam penghalang hancur.
"Blaaaarrrr"
Akibatnya dari gelombang kejut itu, pedang besar miliknya sudah tidak mampu bertahan dan terkikis sedikit demi sedikit. Semua orang yang menyaksikan hal tersebut sudah menduga hal buruk, akan tetapi Mikha mencoba untuk meyakinkan lagi ayahnya.
Dengan ekspresi wajah serius, disertai tekad yang kuat dia memohon pada ayahnya untuk melakukan rencananya sekaligus memenuhi kewajiban sebagai keluarga, seperti yang dilakukan oleh mendiang ibunya.
"Mengapa kamu bersikeras ingin melakukannya? Padahal dia bukanlah siapa-siapa dan juga tahu kalau pasangannya itu bukan kamu?" tanya Kazima dengan nada tinggi serta kesal terhadap keinginannya itu.
"Janji, karena sebuah janji aku ingin melakukannya." jawab Mikha dengan singkat.
"Janji? Apa maksudnya itu?" tanya Kazima.
"Di waktu kecil dulu, kami berdua sudah membuat sebuah janji untuk saling melindungi apapun yang terjadi. Mungkin di waktu itu pikiran kami masih belum dewasa dan menurut orang dewasa pasti hanyalah sebuah candaan. Namun, sampai sekarang dia masih menjaga janji itu dan sudah membuktikannya kepadaku. Meskipun aku bukan pasangannya, dia tetap menyelamatkan ku dari bahaya. Sekarang, giliranku untuk memenuhi janji itu dan membuktikan kepadanya kalau aku sama sekali tidak melupakannya." jawab Mikha dengan menjelaskan alasan dari keinginannya melakukan pertukaran tempat.
Mendengar perkataan seperti itu, Kazima terdiam dan meresapi semua kata-kata yang di ucapkan oleh putrinya. Perkataan itu sangat mirip dengan yang di ucapkan oleh mendiang istrinya di waktu dulu ketika menyelamatkan dirinya dalam kejadian yang tidak terduga.
Sepintas dalam pikirannya, dia ingin melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh mendiang istrinya. Akan tetapi bertahun-tahun belajar, dia tetap tidak bisa melakukannya karena bukan keturunan langsung dari keluarga tersebut.
"Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan, buktikanlah janjimu itu padanya. Aku hanya bisa merasa bangga memiliki putri dari orang yang paling aku cintai di dunia ini." ucap Kazima sambil membalikkan badannya, dan menahan rasa sedihnya.
"Aku sangat lega mendengar perkataan itu ayah, terimakasih atas waktu yang sudah dijalani bersama. Aku sangat bahagia..." jawab Mikha sambil memeluk ayahnya dari belakang. "Sekali lagi terimakasih ayah, dan maaf aku sangat merepotkan dari kecil hingga sekarang. Bila ada kesempatan, aku berharap bisa bertemu lagi dengan ayah dan ibu." lanjutnya dengan melepaskan pelukannya lalu pergi menjauhi Kazima.
Sepintas, seluruh tubuh Kazima mulai bergetar setelah mendengar perkataan terakhir dari putrinya. Ingin sekali dia menangisi kepergian Mikha, akan tetapi dia menahannya dengan paksa supaya tetap tegar ketika melihat kepergian putrinya.
...Bersambung......
...{Pemberitahuan Update}...
...(Untuk sementara update episode terbaru masih belum bisa ditentukan.)...
...Jika berkenan jangan lupa untuk dukung author dengan menekan jempol ke arah Like, Komen, Vote, Rate novel ini....
__ADS_1
...Terimakasih....
...🙏...