Lahirnya Penguasa Kegelapan Season 2 : The Union Of World Academies

Lahirnya Penguasa Kegelapan Season 2 : The Union Of World Academies
#74 Berharap Pada Hasil Positif


__ADS_3

...*Selamat Membaca*...


Setelah semuanya selesai dipersiapkan, Alex beserta ketiga orang laik bergegas pergi menuju markas pusat. Di dalam raut wajah mereka, tidak ada sedikitpun keraguan untuk masuk ke dalam wilayah markas pusat, serta rela mengorbankan diri apabila keputusan dari petinggi akademi menjadikan Tatsuya sebagai musuh negara.


Dalam waktu lebih dari satu jam, mereka akhirnya sampai di tempat parkir yang terletak cukup dekat dari depan gerbang markas pusat. Disana sudah ada ratusan mobil dari para wartawan yang selalu memburu informasi penting untuk dibagikan pada media sosial.


"Hah... Melihat hal ini, sepertinya bakalan lama untuk masuk kesana." ucap Hamura dengan menghela nafas, setelah melihat orang-orang mengantri untuk masuk ke dalam.


"Jangan terus mengeluh! Ayo kita bawa peralatannya supaya antrian tidak semakin banyak." ajak Rifaldi sambil turun dari mobil dan membawa keperluan yang harus dibawa sebagai juru kamera.


"Lagian juga, cuma kalian berdua yang akan masuk ke dalam. Padahal aku juga ingin menjadi bagian dari rencana ini." ucap Erwin dengan mengungkapkan keluhannya.


"Menjaga kendaraan serta melihat situasi di daerah sekitar termasuk juga bagian dari rencana yang dijalankan, terlebih lagi apabila semua masuk dan terjadi hal buruk, siapa yang akan mempersiapkan mobil untuk kita pergi dari tempat ini?" ucap Alex dengan memberikan penjelasan kepada mereka berdua. "Jadi lakukanlah yang terbaik, dan tetap berhati-hati, jangan sampai apa yang dilakukan oleh kalian berdua membuat semua orang di sekitar curiga." lanjutnya dengan memberikan peringatan.


Mendengar perkataan seperti itu, mereka berdua kembali fokus pada tugas yang diberikan olehnya. Sedangkan Alex dan Rifaldi lekas pergi menuju antrian sambil membawa sebuah kamera ukuran besar serta alat-alat lainnya.


Dari kejauhan, Alex memperhatikan kalau penjagaan yang dilakukan oleh para tentara sangatlah ketat, dan dia sempat berpikir kalau akan sulit baginya untuk keluar dari markas pusat dalam keadaan utuh tidak terluka. Namun, tekadnya tidaklah berubah meski nantinya harus mengorbankan nyawanya sendiri demi keselamatan rekan-rekannya


Tidak lama setelah itu...


Tibalah bagi Alex dan Rifaldi untuk diperiksa oleh para tentara yang ditugaskan di bagian gerbang markas pusat. Mereka diminta untuk mengeluarkan kartu Identitasnya, dan ditanya berbagai macam mengenai asal usulnya, serta tubuh mereka berdua dipindai menggunakan alat khusus.


Tidak ada satupun benda tajam ataupun berbahaya yang disembunyikan oleh mereka berdua pada tubuhnya, dan akhirnya mereka diperbolehkan untuk memasuki halaman markas pusat.


Baru saja melangkahkan kakinya beberapa langkah ke depan, mereka berdua diberhentikan dengan sengaja oleh salah satu penjaga tersebut. Seketika Alex dan Rifaldi pun berhenti di tempatnya, serta berpikir kalau mereka sudah ketahuan.


"Kenapa harus menunggu sampai memasuki gerbang, apakah mereka sengaja melakukan hal ini supaya tidak ada celah untuk kabur?" gumam Rifaldi dalam hatinya. Namun perasaan itu di tenangkan oleh Alex dengan menepuk pundaknya, karena percaya kalau hal seperti ini masih bisa di negosiasi.


"Maaf, ini kartu anda tadi ketinggalan." ucap salah satu penjaga tersebut sambil menyodorkan kartu Identitas mereka.


Mendengar perkataan seperti itu, mereka salah mengira kalau alasan diberhentikan nya itu hanyalah mengembalikan kartu Identitas yang tadinya sedang diperiksa oleh penjaga lain.


"Ah, hahaha... Terimakasih sudah mengembalikannya, saya tadi lupa karena ingin bergegas mencari tempat yang cukup dekat dengan beliau." jawab Alex dengan sedikit tertawa dan perasaan lega karena dugaan nya itu salah.

__ADS_1


"Baiklah, silakan." tanggap salah satu penjaga tersebut, lalu kembali pada pekerjaan nya.


Kemudian mereka berdua kembali berjalan ke depan, sambil sedikit tertawa karena telah salah menduga. Lalu mereka kembali berfokus pada tugasnya, dan mencari tempat paling depan untuk meliput informasi yang akan diberikan oleh Mozark.


Setelah lamanya berdesak-desakan, akhirnya mereka berdua mendapatkan tempat paling depan, lalu bergegas menyiapkan peralatannya. Dalam waktu singkat mereka berdua telah selesai, dan kini tinggal menunggu acaranya dimulai.


"Akhirnya, aku bisa beristirahat dulu sebentar." ucap Rifaldi dengan senang sambil meregangkan seluruh tubuhnya.


"Ya, masih ada waktu 30 menit lagi sebelum acaranya dimulai, jadi gunakanlah waktu sebaik mungkin." tanggap Alex dengan setuju dengan ucapannya.


Beralih pada dimana Mozark berada.


Sudah berjam-jam Mozark istirahat di dalam ruangannya, dan kini terbangun karena sebuah Alarm yang sengaja dia buat sebelumnya. Disaat bersamaan, salah satu bawahannya mengetuk pintu untuk memastikan kalau Mozark sudah terbangun 30 menit sebelum acara di mulai.


"Tok... Tok... Tok..."


Mendengar suara tersebut, Mozark langsung menjawab nya dengan berkata kalau dirinya sudah bangun, dan dia akan bersiap-siap terlebih dahulu sebelum menemui semua wartawan yang menunggu di halaman markas pusat. Karena sudah dipastikan terbangun, bawahan tersebut kembali menjalankan pekerjaannya, dan mempersiapkan pakaian yang akan dikenakannya.


Sejenak, Mozark terdiam di tempat istirahat nya dan berpikir ketiga kalinya mengenai keputusan yang akan dibuat. Di dalam pikirannya dia meyakinkan diri kalau keputusannya itu tidak lah salah, dan hal ini malah memberikan keuntungan pada kedua belah pihak.


Sementara itu di kediaman Cecilia.


Tasya mengumpulkan semua orang di ruang tengah, karena ada hal penting yang perlu diketahui oleh mereka. Dia menjelaskan informasi yang di dapatkan olehnya dan sesuai dengan isi surat yang diberikan oleh Alan.


Seketika semua yang mendengar penjelasan darinya sangat terkejut, karena Mozark secara langsung akan mengungkapkan kejadian yang di alami pada wilayah selatan. Hal buruk yang dikhawatirkan ialah menargetkan Tatsuya sebagai musuh negara.


"Krepp... Apakah dia tidak memikirkan kontribusi sebelumnya yang dimiliki oleh Tatsuya? Padahal sampai sekarang dia selalu membantu semua orang, meski perilakunya seperti itu." ucap Cecilia ketika menduga hal buruk yang akan terjadi.


"Iya, tapi masih belum tentu hal itu bakalan terjadi dan kita hanya perlu menunggu keputusan yang akan dibicarakan olehnya." jawab Tasya dengan tenang.


"Lalu, bagaimana caranya kita mengetahui informasi nya itu? Di sekitar sini alat komunikasi masih belum bisa digunakan." tanya Cecilia.


"Mengenai hal itu, aku sudah dibuatkan alatnya oleh paman Alex." jawab Tasya, lalu dia menjelaskan semuanya pada semua orang yang berada di dalam ruang tengah. berempat. Sesuai dengan perkataan Alex, dia menjelaskan mengenai jam tangan digital tersebut serta rencana yang dilakukan olehnya.

__ADS_1


Singkat cerita, semua yang berada di ruangan tersebut faham mengenai penjelasan dari Tasya, tapi mengenai rencana yang dilakukan oleh mereka berempat membuat Cecilia sangat keberatan, dikarenakan dapat membahayakan nyawanya sendiri.


Akan tetapi, Tasya memberitahukan kalau hal ini adalah keinginan Alex dan tidak ada sedikitpun keraguan dari wajahnya atas tindakan yang dilakukan nya, begitu pula dengan ketiga orang lainnya yakni mantan tentara bayaran.


Mendengar perkataan seperti itu Cecilia hanya bisa menenangkan dirinya, lagian juga mereka sudah terlanjur melakukan hal tersebut.


"Ahh, apakah kakakmu dan yang bersamanya mengetahui akan hal ini Tasya?" tanya Cecilia yang baru tersadar.


"Sebelumnya juga aku sempat terpikir untuk memberitahu mereka, namun kamu juga tau kalau alat komunikasi di wilayah selatan tidak ada yang bisa dipakai." jawab Tasya dengan menundukkan kepalanya.


"Kalau tidak keberatan, boleh aku mencari mereka semua? Aku sangat yakin kalau bisa menemukannya dengan waktu yang singkat." tanggap Josep dengan bersedia untuk membantu mencari kakaknya beserta 3 orang lainnya.


"Tapi, sudah dipastikan kalau mereka memasuki portal dan mana bisa km..." ucap Tasya, namun perkataannya disela oleh kedua gadis kembar.


"Mengenai pencarian di dalam portal serahkan pada kami berdua." jawab Tiara.


"Maka dari itu, kami akan membantu kakak." Sambung Kiara.


Sejenak Tasya terdiam untuk memikirkan keinginan mereka berdua, akan tetapi lama kelamaan raut wajah mereka terus menatapnya sehingga Tasya menyerah untuk menolak permintaan mereka.


"Baiklah, baiklah... Kalian tidak harus menatapku seperti itu!" jawab Tasya dengan sedikit terpaksa. "Tapi, kalian harus tetap hati-hati dan apabila merasakan bahaya, lebih baik pergi selamatkan diri!" lanjutnya dengan memperingatkan mereka.


"Baik" jawab Kiara dan Tiara.


Tidak lama setelah itu, Joseph mengajak Cika dan Rainer untuk tambahan orang sekaligus melindungi kedua gadis kembar yang ikut bersamanya. Lalu mereka semua bergegas pergi menuju arah barat daya, karena terakhir melihat, mereka pergi kesana.


"Kini tinggal menunggu kabar dari paman Alex, semoga saja tidak terjadi apa-apa pada mereka." ucap Tasya sambil menatap jam digital yang berada di atas meja ruang tengah. "Dan semoga keputusan petinggi Akademi berarah pada positif." lanjut dalam hatinya dengan berharapan yang tinggi.


...Bersambung......


...{Pemberitahuan Update}...


...(Maaf untuk update masih belum bisa ditentukan.🙏)...

__ADS_1


...Terimakasih....


__ADS_2