Lelakiku

Lelakiku
Maafkan Saya


__ADS_3

Siang itu, Annara dan Lukman kembali ke kantor mereka masing-masing. Tidak ada kata yang terucap dari bibir mereka, ke duanya berlalu begitu saja dari hadapan ibu Annara.


Selang beberapa menit, Lukman tiba dikantornya. Tak lama kemudian, Roni memanggilnya memalui sambungan telepon kantor. Setelah itu, ia berlalu dari tempat duduknya dan memasuki ruangan Roni papa Anya.


Disana, suasan nampak begitu tegang. Terlihat Anya dan Tomy tengah berdiri disamping Roni. Dengan pelan ia menutup pintu ruangan kerja Roni, dan segera menghampiri Roni. Dengan keras Roni melempar map kehadapan muka Lukman, sontak ia pun terkejut.


"Apa ini Man!. Coba kamu jelaskan, kenapa laporan keuangan kali ini bisa seperti itu." umpat Roni.


Sambil membuka map itu, Lukman memeriksa satu per satu dan lembar demi lembar ia pandangi dengan lekat. Seketika sunyi ruangan Roni kala itu, mereka semua tampak menunggu jawaban Lukman.


Ini adalah map di atas mejaku kemarin lusa, aku sangat yakin sudah memeriksanya dengan benar. Tidak pernah aku lakuin kesalahan sebesar ini, lalu apa yang terjadi dengan isi map ini.


Semua tampak berbeda dengan apa yang aku kerjakan kemarin. Apa benar, ada ulah orang lain dalam hal ini.


Gumam Lukman yang bertanya pada dirinya sendiri.


"Sebelumnya saya minta maaf atas kekacauan ini pak, tapi saya bisa pastikan ini bukan pekerjaan saya." jelas Lukman dengan tegas. Dan Matanya yang kala itu menatap Tomy penuh amarah, ia yakin Tomy penyebab semua ini.


"Baik, tolong buktikan pada saya kalau memang benar ini bukan pekerjaan kamu." sahut Roni tegas.


"Baik pak, tolong berikan saya waktu sebentar untuk memeriksanya." pinta Lukman penuh keyakinan.


Ia dengan cepat keluar dari ruangan Roni, dan kembali menuju meja kerjanya kala itu. Dengan wajah yang tegang, ia menatap layar komputer didepannya dengan serius. Matanya mencari-cari data yang kemarin sudah ia simpan disana, betapa terkejutnya ia tak menjumpai lagi data tersebut.


Keyakinannya begitu kuat, bahwa Tomy adalah pelaku dari semua ini. Ia sengaja ingin merusak nama baiknya didepan Roni dan menyingkirkannya.


Tokk ... Tokk ...


Suara ketukan pintu dari luar ruangan Roni.


"Masuk." jawab Roni tegas.

__ADS_1


"Maaf pak, saya tidak menemukan datanya dikomputer. Tapi saya yakin, data itu sudah tersimpan dengan baik." jelas Lukman pada Roni.


"Kenapa bisa seperti itu, kamu tidak pernah melakukan kesalah fatal seperti ini selama bekerja dengan saya. Kenapa sekarang seperti ini." cecar Roni.


"Saya yakin, pasti ada orang yang ingin menjebak saya dalam hal ini pak." jawab Lukman penuh keyakinan dan menatap kesal Tomy.


"Mungkin aja perlu duit om, jadi ia gelap mata dan memanipulasi data itu." terang Tomy, seolah ingin mengadu domba.


Tanpa perlu pikir panjang, ia pun sontak berdiri dari tempat duduknya dan berdiri menghampiri Tomy. Dengan keras ia layangkan pukulan ke arah Tomy seketika.


Bagh ... Bugh ... Bagh ... Bugh


Suara pukulan Lukman yang bertubi-tubi.


Tomy pun membalas pukulan itu, dengan keras pukulan ia layangkan ke wajah Lukman bertubi-tubi. Mereka saling membalas pukulan, dan tak dapat terhentikan. Anya yang mencoba melerai mereka pun, tak dapat menghentikan perkelahian tersebut. Darah segar mengalir disela bibir Lukman dan Tomy, muka lebam dan pelipis yang sobek tidak mereka perdulikan saat itu. Sampai pada akhirnya Roni lah yang harus menghentikan perkelahian tersebut.


"Stoooop!, hentikan semua ini. Ada apa dengan kalian, seperti inikah cara kalian bekerja sama dalam menyelesaikan masalah?." teriak Roni dengan keras.


Seluruh teman kantor memandanginya, termasuk Abi dan Tyas yang kala itu nampak khawatir dengan keadaan temanya tersebut. Tapi, Lukman seakan tidak perdulikan orang-orang disekitarnya itu. Ia berjalan dengan cepat dan berlalu keluar kantor.


...----------------...


Nampak waktu berlalu begitu cepat hari ini, jam kantor pun telah berlalu. Tampak Annara berdiri disebelah motor miliknya, ia pun tengah sibuk memandangi ponsel miliknya. Tak lama kemudian ia lalu memutuskan untuk menghampiri Lukman ke kantornya.


Dibawah sebuah pohon rindang yang cukup besar, Annara tengah menunggu Lukman keluar dari kantornya. Karena Annara sudah hafal betul, sahabatnya itu selalu keluar paling akhir dari kantornya.


Sekitar dua puluh menit Annara menunggu Lukman disana, tak nampak Lukman keluar dari kantor itu. Tapi dari kejauhan, ia melihat Abi dan Tyas tengah berjalan keluar dari kantor. Annara lalu menghampiri mereka berdua untuk menanyakan Lukman.


"Hei, uda mau pulang ya kalian." sapa Annara pada Abi dan Tyas.


"Ara ... kok disini." sahut Abi dengan heran.

__ADS_1


"Biasa, nungguin Lukman." jawab Annara dengan senyum mengembang.


Abi dan Tyas saling menatap satu sama lain, mereka merasa Annara tidak mengetahui apa yang sudah terjadi pada Lukman. Annara hanya menatap Abi dan Tyas kala itu, ditengah pembicaraan mereka tiba-tiba Annara melihat sosok Tomy dan Anya keluar dari kantor juga saat itu.


Mukanya yang lebam dan meringis kesakitan, membuat Tomy saat itu kesulitan untuk berjalan. Ia berjalan sambil di topang oleh Anya, mereka berdua hanya berlalu dari hadapan Annara begitu saja. Sontak saja, Annara langsung menyadari dengan keadaan yang ada dihadapannya barusan. Ia langsung teringat pada Lukman dan berlari ke arah motor miliknya, tanpa mengucapkan satu patah kata pun ke Abi dan Tyas.


Tokk ... Tokk ...


"Assalamu'alaikum Tante ..." teriak Annara dari teras depan rumah Lukman.


"Wa'alaikumsalam Ra, kamu cari Lukman ya." tanya ibu Lukman.


"Iya Tante, mana Lukman kok nggak kelihatan dari tadi." ucap Annara penuh cemas.


Ibunya yang saat itu tidak tau dimana keberadaan Lukman, lalu menyuruh Annara segera masuk ke rumah. Karena panik, ibunya tidak tersadar bahwa anaknya sudah berada dalam kamar. Dari dalam kamar, Lukman mendengar percakapan Annara dan ibunya. Ia pun segera membuka pintu kamarnya, dengan bersamaan Annara dan ibunya menatap dirinya kala itu. Mukanya yang lebam dan pelipisnya yang robek terlihat jelas saat itu.


"Man ... kenapa sama kamu nak?." tanya ibunya kebingungan. Sambil berjalan dan mengambil kotak obat.


"Cepet duduk sini," pinta Annara.


Seakan tahu apa yang tengah terjadi dengan sahabatnya itu, ia pun segera mengambil kompres air hangat dari dapur. Dengan sabar ia mengusap wajah Lukman, sesekali Annara meniup lirih pelipis Lukman yang terluka. Lukman sangat menikmati momen itu, jauh dilubuk hatinya ia sangat bersyukur karena wanita yang disayanginya ada dihadapannya saat ini. Ia sangat merasa bersalah kepada Annara.


*Terimakasih ya Ra, kamu ada disamping aku disaat aku butuhin kamu.


Maafin aku yang waktu itu ninggalin kamu dirumah sakit sendirian karena egoku.


Gumam Lukman.


❤️❤️❤️*


Happy Reading guys🤗

__ADS_1


makasih yang uda mau mampir kesini.


maafin othor ya, jika masih babak belur kisahnya❤️🙏


__ADS_2