
Siang hari itu, mereka berdua pun memutuskan untuk kembali ke hotel. Setibanya disana, mereka berdua memilih untuk segera masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Dirinya tak mau sampai sang istri kelelahan dan lain sebagainya.
Baru saja menginjakkan kaki dikamar hotel, Annara tiba-tiba berlari ke arah kamar mandi.
Hoeekkk ... Hoeekkk ...
Terdengar suara muntahannya berulang kali.
Saat itu, Lukman yang mendengar kondisi Annara didalam kamar mandi tengah muntah ia pun dengan cepat memutuskan untuk memesan sebuah makanan yang mudah dicerna oleh istrinya. Lima belas menit berlalu, apa yang dipesannya sudah tiba dikamar. Dengan cekatan ia menyiapkan sebuah bubur hangat untuk Annara makan saat itu.
"Ayo duduk sini sayang, dimakan dulu buburnya. Habis itu, kamu minum semua vitaminnya ya." ujar Lukman sambil menuntun tubuh Annara.
"Iya," sahutnya singkat sambil mengelap mulut yang masih basah terciprat air.
Terlihat Annara hanya makan beberapa suap, selebihnya ia hanya memainkan sendok didalam bubur tersebut. Ia hanya memainkan sendok tersebut dengan melamun, tapi tidak dengan Lukman saat itu dirinya terlihat begitu ingin menyantap bubur tersebut.
"Sayang, kamu mau aku suapin?." tanyanya lembut.
"Maaf, aku nggak mau bubur ini mas." ucapnya lirih dengan muka yang kusut.
"Baiklah, sini biar aku habiskan yah." ucap Lukman.
Annara yang terlihat keheranan dengan tingkah suaminya tersebut, ia tidak tahu sejak kapan Lukman berubah menjadi lebih sedikit rakus dari biasanya.
"Kamu mau makan apa, biar aku pesenin yah. Aku juga masih laper banget sayang." tanya Lukman sambil memainkan ponselnya untuk melihat sejumlah menu.
Sementara Annara hanya cemberut diatas tempat tidur dengan posisi bersandar. Dirinya kali ini merasa sangat mual, apalagi jika melihat Lukman tidak ada hentinya berbicara. Ia semakin merasakan mual yang begitu hebat dan tak tertahankan.
"Yank, kok diem?." ujar Lukman bertanya pada Annara yang sudah kembali masuk dalam toilet.
Ia tampak kebingungan tidak menjumpai istrinya diatas tempat tidur.
"Sayang, kamu muntah lagi?." tanyanya cemas diujung pintu kamar mandi.
Annara yang terlihat keluar dari dalam kamar mandi, dan mendapati Lukman berada tepat dihadapannya sontak saja ia meremas bibir suaminya tersebut dan berlalu begitu saja. Lukman yang terkaget dengan sikap Annara pada dirinya, dengan terheran sambil memegangi ujung bibirnya yang ia manyunkan.
Lukman yang tidak mengerti dengan isyarat Annara, ia pun menghampiri istrinya tersebut dan menci*minya.
__ADS_1
"Iiikh, apaan si mas." sembur Annara tiba-tiba merasa risih dengan suaminya.
"Lah, itu tadi kamu jambak bibir aku kenapa?. Aku kira kamu mau itu yank," ujar Lukman mengartikan bahasa isyarat Annara.
"Bukan, itu aku minta kamu diam. Bukan ngomel mulu dari tadi mas. Aku mual lihatnya," umpat Annara kesal.
Ia kemudian diam sejenak seakan menuruti apa permintaan istrinya. Dengan duduk disebuah sofa kecil ia memandangi Annara yang duduk bersandar diatas tempat tidur.
Apa ini yang dinamakan ibu hamil, baru aja tadi senyum-senyum sekarang uda berubah lagi moodnya. Masak iya aku harus ngomel sendiri begini biar dia nggak ngerasa mual. gumam Lukman.
Dengan sebuah ide, ia pun memutuskan untuk mengetik sebuah pesan singkat untuk Annara.
"Sayang, kamu mau makan apa?. Aku mau pesan juga ini, biar sekalian aku pesenin buat kamu juga." tulis Lukman.
"Nggak mau yang manis-manis, asin boleh dikit aja. Pedes ya, tapi jangan yang gampang bikin ennek diperut." jawab Annara.
Lukman dibuat kebingungan dengan pesanan Annara kali ini, makanan apa kira-kira yang seperti dijabarkan dirinya tersebut. Tanpa bertanya dua kali, dan nggak ingin istrinya tersebut menunggu lama ia pun memesan sebuah bakso ukuran tiga porsi.
Ting ... Tung ...
Bunyi bel pintu kamar hotel berbunyi.
"Ini sayang baksonya sudah datang, ini semua bumbunya aku taruh sini ya. Biar kamu bisa racik sendiri semuanya." jelas Lukman menata bakso yang berada diatas baki.
Sementara dirinya dengan begitu lahap menyantap dua mangkok bakso yang berukuran jumbo. Wajahnya begitu bahagia saat menikmati bakso tersebut, lain dengan Annara yang sedikit susah untuk dimasuki sebuah makanan ke dalam perutnya. Saat itu ia hanya memakan dua biji bakso kecil dan memutuskan untuk tidak melanjutkan untuk memakannya lagi.
"Kamu nggak mau lagi yank?, biar aku aja yang abisin ini yah." pinta Lukman yang segera memakan bakso milik Annara tanpa persetujuan terlebih dahulu.
Annara yang menyaksikan suaminya kalap dengan semua makanan hari itu, membuat dirinya merasa kenyang seketika.
"Aku sudah kenyang mas," ucapnya lirih.
"Kenyang dari mana?, aku aja belum kenyang sayang." jawab Lukman yang masih antusias untuk mencari sebuah makanan.
Annara memilih diam dan melanjutkan tidur, tanpa menggubris sedikitpun ucapan Lukman.
🖤
__ADS_1
Ditempat lain, Anya yang terlihat sedang menyambangi Tomy dikantor polisi membawa sebuah kotak merah yang berisi makanan dan beberapa buah untuk Tomy.
"Pak Tomy, mari silahkan keluar. Ada keluarga yang datang membesuk anda." ujar salah satu seorang polisi jaga.
Dengan lemas Tomy pun keluar dari sel tahanan tersebut, dirinya yang mendapati Anya duduk menunggu disebuah bangku kayu dengan segera ia menghampirinya.
"Kamu," ucap Tomy yang segera duduk disebelahnya.
"Hai sayang, apa kabar?. Aku bawain makanan kesukaan kamu nih." ujar Anya bahagia saat bertemu Tomy.
Kenapa perempuan ini begitu baik denganku, bahkan saat aku meringkuk disini ia masih tetap menjumpai diriku. Apa memang aku selama ini terlalu bodoh menyia-nyiakan dirinya begitu saja Tuhan. sesal Tomy dalam hati.
Dirinya terus memandang Anya penuh dengan lekat, kali ini ia tak ingin sedetik pun menyudahi pandangan itu. Sementara Anya dengan tulus menyiapkan sebuah makanan untuk dirinya. Setelah itu pun Anya dengan telaten menyuapi Tomy yang masih terus menatapnya.
"Enak, apa kamu sendiri yang masak ini." terdengar suara Tomy luluh.
"Maaf ya, ini aku beli. Tapi aku janji lain kali pasti akan masak buat kamu." ujar Anya memberikan sebuah janji.
"Iya, pasti aku tungguin masakan kamu." sahut Tomy segera sambil membuka mulutnya lebar-lebar untuk menerima suapan dari Anya.
Pemandangan saat itu terlihat begitu sangat syahdu untuk ke duanya, jarang Anya mendapatkan momen berdua seperti ini. Bagi dirinya, Tomy sekarang sudah berubah begitu pesat. Ia berharap Tomy saat bebas nanti akan masih bersikap hangat seperti ini kepada dirinya.
Tak terasa semua makanan yang berada dikotak tersebut habis seketika, ia sangat merasa senang Tomy dapat menghabiskan seluruh makanannya dengan baik.
"Sayang, aku mau bicara hal penting sama kamu." ujar Anya sembari menggenggam erat ke dua tangan Tomy yang tengah diborgol.
Ia sedikit terlihat menggigit bibirnya kecil saat mengucapkan itu, ada rasa cemas yang begitu dalam tengah dirasakan Anya.
...----------------...
Happy reading guys 🤗
semoga masih pada betah disini yah❤️
✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.
✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️
__ADS_1
✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️