Lelakiku

Lelakiku
Ada apa ini


__ADS_3

Annara yang masih setengah bingung berjalan dan kembali duduk dimejanya, ia seakan tak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Bahkan dirinya pun tak sanggup memilih siapa diantara karyawan perusahaan ini yang akan dikeluarkan sebagai pengurangan.


Jika dia berada diposisi ini, mungkin dirinya juga tidak mau sampai merasakan dampak ini. Tetapi karena ini tugas yang ia emban dengan baik, dirinya pun mulai terlihat memilah karyawan disana sesuai permintaan Baruna.


Ketika semua nama itu sudah terkumpul dalam data, ia pun mulai memberikan laporan tersebut pada Baruna.


Tok ... Tok ...


"Pak maaf, berikut nama-nama yang bapak minta barusan" tegas Annara sambil menyodorkan sebuah map.


Inilah yang disukai Baruna dari Annara, dari beberapa karyawan dikantor dirinya sangat bisa diandalkan dalam kondisi seperti apapun. Loyalitas dirinya yang begitu tinggi pada perusahaan membuat Baruna mempertimbangkan posisi Annara saat ini.


"Oke, kamu siapkan semuanya untuk mereka. Saya yakin kamu bisa diandalkan." ucap Baruna yang seketika menutup map tersebut.


Annara yang berdiri tepat dihadapannya, melihat pria tersebut sedang dalam kondisi tak baik saat ini. Ia menyembunyikan rasa panik dalam diamnya, mencoba mengatur segalanya agar tetap kelihatan baik-baik saja.


"Pak, kalau bapak butuh saya ataupun mau bertukar pikiran yang lain. Saya siap," jelas Annara yang tak tega melihat Baruna saat itu.


Tapi Baruna tak menghiraukannya disana, ia lebih memilih untuk memutar kursinya dan membelakangi Annara saat itu. Dengan hati yang sedikit gusar melihat keadaan Baruna, ia meninggalkan ruangan tersebut.


*


*


*


"Selamat bergabung diperusahaan kami pak Handoko, mari silahkan duduk" sambut Roni pada Handoko yang baru saja mengakhiri hubungan kerja diperusahaan Baruna.


Handoko menjabat tangan Roni dan duduk disana. Roni yang kala itu tengah menjelaskan perusahaan miliknya bergerak dalam bidang apa dan bagaimana perusahaan miliknya berkembang dari tahun ke tahun. Saat semua sudah selesai, Handoko pun tanpa pikir panjang lagi segera mengambil berkas yang sudah disiapkan untuk membubuhkan tanda tangannya.


Ke duanya cukup lama berbincang sampai pada akhirnya Roni pun mengetahui bahwa ia sebelumnya juga sempat menjalin kerja sama bersama Baruna.


Roni yang tak asing mendengar nama itu, lalu mengingat dengan baik cerita menantunya Tomy.


"Baiklah, saya permisi dulu pak. Senang bekerja sama dengan anda" Handoko menjabat tanga Roni dan berpamitan.

__ADS_1


Jika memang benar dia kehilangan Handoko saat ini, ada kemungkinan perusahaan miliknya membutuhkan suntikan dana yang cukup besar saat ini," gumam Roni.


Ia pun berjalan menuju ruangan Tomy saat itu juga, dan mengajaknya untuk menuju kantor Baruna.


Tidak berselang lama, keduanya pun tiba dikantor Baruna. Salah seorang receptions mencoba menghubungkan teleponnya kepada Annara untuk menyampaikan pada Baruna tentang kedatangan mereka berdua.


"Siang bu, diruang tunggu sudah ada tamu untuk pak Baruna saat ini" jelasnya.


"Sudah buat janji?, atas nama siapa" sahut Annara diujung telepon.


"Atas nama pak Tomy dan pak Roni bu, belum ada janji katanya" jelas receptions tersebut.


"Baik, saya akan coba tanyakan terlebih dahulu." pungkas Annara yang mengakhiri obrolan mereka.


Masih dengan perasaan yang diliputi tanya begitu besar, langkah kakinya pun memasuki ruangan Baruna. Tanpa mengetuk, pintu itu masih terbuka sepenuhnya. Ia mendapati Baruna tengah melamun sambil tertunduk dikursinya.


"Pak maaf, ada tamu untuk bapak diluar. Apa bapak mau menemuinya?," tanya Annara sedikit ragu.


"Kamu tahu, saya paling tidak suka orang datang menemui saya tanpa janji terlebih dahulu" sahutnya lemas.


"Tapi ini pak Roni bersama dengan Tomy" Annara menyampaikan hal tersebut dengan nada sedikit sumbang.


"Selamat siang, maaf sebelumnya sudah ada janji?" tanya Baruna kepada Roni disana tanpa menghiraukan keberadaan Tomy.


Roni yang tengah duduk pun berdiri dan mengulurkan tangannya untuk menyapa Baruna saat itu.


"Siang, jadi anda pak Baruna" pungkas Roni.


"Mari ke ruangan saya," ajak Baruna.


Mereka bertiga pun berjalan menuju ke dalam ruangan, saat itu Tomy yang sedang berjalan pun melintasi meja milik Annara disana. Matanya memandang Annara begitu dalam, tetapi pandangan itu tak berlangsung lama karena Annara memilih untuk berpura-pura tidak melihat kehadiran dirinya disana.


"Begini pak Baruna, maksud kedatangan kami berdua saat ini ingin membahas tentang penawaran kami tempo hari yang ingin mengajukan kerja sama dengan perusahaan bapak," jelas Roni pada kesempatan kali ini.


"Iya, saya sudah menerima laporan itu dari asisten pribadi saya. Tapi sayangnya untuk saat ini, saya belum menerima tawaran itu." pungkasnya dengan sombong, tanpa memikirkan nasib perusahaannya.

__ADS_1


Roni tersenyum simpul saat mendengar ucapan Baruna, sedari kantor ia sudah menggambarkan bagaimana situasi saat akan berjumpa dengan Baruna. Dan sesuai perkiraan dirinya, Baruna tidak akan mau merespon atau menerima ajakan dirinya.


"Pak Baruna kan baru saja kehilangan seorang investor terbesar bapak, apa saat ini tidak ingin menggantikan kekosongan itu?" pancing Roni.


Satu alisnya terangkat seketika mendengar ucapan Roni, ia tidak percaya bagaimana mungkin dengan santainya Roni dapat mengetahui hal itu.


"Dari mana anda mengetahui hal itu?" tanya Baruna penasaran.


"Hari ini tadi, pak Handoko baru saja dari tempat saya untuk menjadi investor diperusahaan milik saya," ucapnya penuh percaya diri, dan ingin membalas telak penolakan Baruna saat itu.


Baruna terlihat menarik panjang nafasnya dan mengeluarkan dengan sempurna. Ia tidak ingin jika semua perasaan kecewanya terhadap Handoko ataupun kekalahan dirinya dapat diketahui dengan mudah oleh Roni dan Tomy.


"Kalau begitu saya ucapkan selamat pada anda pak Roni, karena jarang sekali kan kesempatan emas seperti itu datang menjumpai perusahaan anda," ujar Baruna yang masih saja terus menyombongkan dirinya.


"Baiklah, tanpa basa-basi yang panjang lagi saya ijin undur diri pak. Terimakasih sudah menyempatkan waktunya untuk kami berdua." pamit Roni yang segera meninggalkan ruangan Baruna saat itu.


Belum sampai keluar dari pintu ruangan Baruna, Tomy mendapati sebuah panggilan dari Anya istrinya.


"Sayang, pulang jam berapa. Tolongin Nami nangis terus" rengeknya.


"Namira kenapa?" jawab Tomy gelisah.


Baruna yang mendengar Namira disebut oleh Tomy pun mengundang sebuah tanya begitu besar dihatinya. Ia pun mencoba mendengarkan percakapan itu lebih lama lagi, tapi sayangnya ia tidak berhasil karena Tomy sudah menutup pintu ruangan miliknya dengan rapat.


Sementara Tomy yang mendapati putrinya tengah rewel pun meminta ijin untuk pulang sebentar saja kepada Roni ayah mertuanya.


*Namira dengan lelaki itu, apa betul. Dia kan sudah menikah, lagi pula baru kemarin dirinya ngejar-ngejar aku masak iya dengan cepat berpaling kepada Tomy. Tapi itu juga bukan urusanku lagi, gumam Baruna yang masih diliputi rasa penasaran.


...----------------...


Happy reading guys 🤗


semoga masih pada betah disini yah❤️


✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.

__ADS_1


✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️


✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️*


__ADS_2