
Sepanjang hari Annara hanya menahan rasa mual yang begitu hebat, tak sedikitpun makanan yang dapat memasuki perutnya itu.
Saat dirinya mulai terlihat sedikit pucat dengan keringat yang mengucur dari sela rambutnya, ia yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi tersebut tiba-tiba bersimpangan dengan Baruna.
Brakkk
Tubuh Annara menabrak badan Baruna yang kekar dan sedikit berotot itu. Dirinya yang tak mampu menyeimbangkan tubuhnya saat itu, tiba-tiba terjatuh dan beruntungnya dengan siaga Baruna yang disana masih menangkap tubuh Annara dengan baik sebelum ia tersungkur dilantai.
Karena begitu panik, Baruna dengan cepat menggendong Annara masuk ke dalam ruangannya. Ia tak tahu harus melakukan pertolongan seperti apa saat itu, dirinya begitu cemas melihat keadaan Annara lemah seperti ini.
Tanpa pikir panjang, ia pun keluar dari dalam ruangan miliknya dan menghampiri Yasmin.
"Kamu ikut saya." seru Baruna yang tengah bingung sambil menarik cepat tangan Yasmin.
Tanpa perlawanan, Yasmin pun berlari kecil dibelakang Baruna mengikuti langkah kaki Baruna.
Setibanya diruangan Baruna, mata Yasmin terbuka sempurna keduanya. Dirinya mendapati Annara tengah tertidur diatas sofa ruangan tersebut tanpa daya yang berarti.
"Tolong jangan pikir macam-macam, saya cuma menolongnya tadi dikamar mandi. Ia begitu pucat dan hampir jatuh ke lantai. Jadi saya bawa dia kedalam ruangan saya dan manggil kamu." jelas Baruna yang masih kebingungan harus berbuat apa.
"Ah, iya pak. Apa harus saya bawa Annara ke rumah sakit?." ujar Yasmin menawarkan sebuah pertolongan darurat untuk Annara.
"Nggak perlu, saya sudah memanggil dokter keluarga saya untuk datang kemari." ucap dia segera.
Tidak lama kemudian, dokter tersebut tiba diruangan Baruna dengan senyum dan tutur kata yang lembut. Ia adalah dokter Cynthia Lazuardi, salah satu dokter kepercayaan keluarga Baruna. Dirinya sudah cukup berumur, dengan perawakan rambut hitam sebahu dan mengenakan kacamata. Saat itu ia terlihat berjalan ke arah Annara, dirinya terlihat duduk disamping dengan mengeluarkan beberapa alat untuk memeriksa keadaan Annara dengan detail.
"Mas Baruna nggak perlu khawatir, dalam kondisi yang seperti ini sebaiknya dia memang memerlukan waktu istirahat yang cukup. Saya sarankan dia untuk tidak banyak beraktivitas terlebih dahulu, karena saat ini dia telah berbadan dua." jelas dokter Chyntia dengan mendetail.
Ke dua alis Baruna saling bertaut saat mendengarkan sebuah kenyataan tersebut. Sementara ke dua tanganya terlihat dimasukkan ke dalam saku celana miliknya, tanpa berkata banyak ia pun hanya mengucapkan terimakasih kepada dokter Chyntia yang sudah berkenan datang ke kantornya saat itu juga.
Yasmin pun dengan segera mengantarkan dokter Chyntia menuju pintu keluar, dan mengantarkannya sampai didepan kantor.
__ADS_1
"Mass ..." ucap Annara ditengah dirinya yang mulai tersadar dari tidurnya.
"Ini saya, Baruna. Bukan mas kamu," sahutnya sedikit ketus tapi sebenarnya masih menyimpan perasaan pada Annara.
"Loh pak, kenapa saya ada disini?. Kenapa bisaaa," cecar Annara bertubi-tubi pada Baruna yang tengah duduk diujung sofa lainnya.
"Kamu tadi dari kamar mandi dan hampir terjatuh disana, jadi saya tolong kamu dan bawa kamu kesini tadi. Jadi jangan berpikir yang aneh-aneh tentang saya, obat itu dari dokter Chyntia tadi cepat kamu minum. Dan hari ini, hingga beberapa hari ke depan kamu saya ijinkan untuk cuti hamil." Baruna menjelaskan panjang lebar kepada Annara yang masih terlihat sedikit lemas.
Annara tak percaya, Baruna sudah mengetahui bahwa dirinya sudah berbadan dua. Ia sangat merasa bersalah karena telah melontarkan pertanyaan yang begitu tidak sopan kepada bos nya tersebut, dengan tubuh yang masih sedikit gemetar ia pun beranjak dari sofanya dan berjalan ke arah Baruna.
"Terimakasih ya pak, maafkan atas kelancangan saya dalam berbicara tadi." Annara terlihat mengucapkan rasa terimakasih dengan badan sedikit membungkuk dihadapan Baruna.
"Tidak perlu sampai seperti itu, ini sudah menjadi kewajiban saya." sahut Baruna dengan nada yang sedikit terlihat berwibawa.
Sampai kapan rasa ini akan terus ada didasar sana. Apa yang harus saya lakukan untuk membunuh semua perasaan ini kepadamu, ucap Baruna sambil memandang wajah Annara.
"Baiklah pak, saya ijin pulang hari ini. Dan sekali lagi terimakasih." ujar Annara yang berulang kali mengucapkan rasa terimakasihnya.
Terlihat Baruna hanya mengangguk yang tengah terduduk disofa.
"Aku akan jemput kamu lima menit lagi sayang, jangan tunggu diluar kantor. Tetap berada dalam kantor ya." perintah Lukman pada istrinya tersebut.
Ia pun terlihat menidurkan kepalanya diatas meja kerja miliknya, tubuhnya seperti kehilangan semua daya seketika. Tak lama kemudian, terlihat Lukman yang berjalan menghampiri dirinya didalam kantor.
Lukman memutuskan untuk menjemput Annara yang berada didalam kantor saat itu.
"Sayang, ayo kita pulang." ucapnya sambil mengemas beberapa barang milik Annara dan membopong tubuh istrinya tersebut.
Annara hanya berlalu dan patuh kepada ucapan Lukman saat itu. Secara tidak sengaja, Baruna yang terlihat baru saja keluar dari ruangan miliknya menjumpai momen tersebut.
Ke dua tanganya mengepal secara bersamaan, seakan tak terima dengan pemandangan yang terjadi dihadapannya saat itu. Kali ini, dirinya sudah tidak mampu berdekatan dengan Annara yang sudah menyandang status sebagai istri orang lain. Ia hanya berlalu dari tempat tersebut tanpa menghiraukan Lukman dan Annara.
__ADS_1
"Sayang, apa perlu kita ke rumah sakit lagi?." ucap Lukman yang panik mendapati Annara seperti itu.
Hanya menggeleng lemah Annara menjawab pertanyaan Lukman.
"Baiklah, kita akan segera sampai dirumah." tegas Lukman yang segera membawa Annara berlalu dari kantornya.
Setibanya mereka dirumah, ibu yang saat itu terlihat diteras rumah sedikit terkejut dengan kedatangan mereka berdua. Pasalnya ibu hanya mengetahui jika mereka berdua berlibur saat ini.
"Ada apa dengan istrimu?, kenapa terlihat pucat seperti ini." seru ibu dengan meletakkan sapu yang ada ditangannya.
"Nggak papa bu," ucap Annara yang terlihat menenangkan ibu mertuanya dalam dekapan Lukman.
"Bu, mulai hari ini ibu akan menjadi eyang uti. Annara hamil bu," jelas Lukman kepada ibunya yang masih terlihat bingung mengikuti mereka berdua ke dalam kamar.
"Alhamdulillah, apa benar semua ini. Selamat ya sayang, terimakasih karena sudah memberikan ibu cucu dan memberikan kesempatan untuk ibu menjadi seorang eyang uti." tutur lembut ibu Lukman sembari memeluk tubuh Annara.
Sementara Annara hanya tersenyum manis, mendapati kebahagiaan yang luar biasa ini.
❤️
Ditempat yang berbeda, Anya yang tengah berada didalam ruangan kantor miliknya. Hanya dapat memandangi awan gelap dari arah jendela. Terdengar suara guntur saling bersautan saat itu, dan hujanpun mulai turun tanpa beraturan. Aroma air hujan kala itu menyusup kedalam hidung Anya dan menyeruak ke dalam pikirannya.
Aku akan selalu menunggu mu disini, bersama hujan ini. gumam Anya yang tengah merindukan kehadiran Tomy.
...----------------...
Happy reading guys 🤗
semoga masih pada betah disini yah❤️
✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.
__ADS_1
✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️
✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️