Lelakiku

Lelakiku
usai


__ADS_3

"Hai sayangku, akhirnya dirimu kembali juga" Yasmin berteriak sambil merangkul tubuh Annara disana.


Annara yang baru saja masuk setelah beberapa bulan mengambil cuti panjang, sedang sibuk merapikan mejanya yang sudah lama ia tinggalkan. Tak ada perubahan yang begitu mencolok pada dirinya meski ia sudah memiliki seorang putra.


Dia masih terlihat sama saat seperti dirinya masih gadis.


"Resek nih pagi-pagi udah bikin mood drop" sahutnya menggoda Yasmin.


"Dih bete, nggak bos nggak dia sama aja" ketus Yasmin.


Dirinya tertawa mendapati muka masam temanya itu, mereka berdua bukanlah sahabat tapi hubungan mereka bisa dibilang melebihi seorang saudara. Ke duanya saling mesngisi satu sama lain, saat salah satu diantara mereka tengah bersedih satunya pun pasti merasakan luka.


"Cup cup, sini peluk mama. Kamu diapain sama pak Baruna sampai keder gitu" ledeknya sambil mencolek pipik Yasmin.


"Bapak kau itu, banyak maunya dan cerewet banget. Mending kamu, dia nggak akan pernah berkutik kalau sama kamu Ra" protes Yasmin.


Ditengah kesibukan mereka menghakimi Baruna, tanpa mereka sadari nasib sial yang selalu mereka jumpai selalu datang begitu saja. Yah, kali ini Baruna kembali mendengar hal buruk tentang dirinya dari mulut bar bar Yasmin. Entah sudah keberapa kali Yasmin kepergok oleh Baruna seperti ini.


"Kenapa diam,lanjutkan" sahut Baruna sambil melipat ke dua tangannya dengan muka datar.


"Eh, B-bapak. Pagi ..." sapa Yasmin sambil berlari ke mejanya terbirit-birit, ia tidak mau sampai merusak suasana hati Baruna di pagi hari.


"Pagi pak" sapa Annara dengan senyum khasnya.


Karena pagi hari ini ia menjumpai Annara kembali bekerja, semangatnya mulai naik satu tingkat dibandingkan hari biasanya. Rasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tapi sangat terlihat jelas tersirat dimata.


Ia pun mulai terlihat membuka sebuah topik pembicaraan pagi itu dengan karyawan kesayangannya itu.


"Bagaimana dengan Cio, apa dia sehat?" tanyanya sambil membenarkan jas yang digantung di lengannya.


"Cio sangat sehat pak" pungkas Annara menjelaskan keadaan sang putra.


"Baguslah, semoga ia tumbuh menjadi lelaki yang keren seperti saya" ucapnya dingin, tanpa ia sadari perkataan tersebut seperti mengintimidasi suami Annara Lukman.


Yah, keduanya memang masih terlibat persaingan sengit untuk menjaga perempuan yang sama-sama mereka sayangi.


Annara yang mendengar perkataan Baruna hanya menimpali dengan senyuman, ia tahu betul bagaimana sikap bosnya itu.

__ADS_1


Pagi itu waktu berlalu sangat cepat dan Jam makan siang pun tiba. Dari arah pintu utama kantor, tiba-tiba seorang wanita dengan anggunnya memasuki ruangan saat itu.


Ia berjalan berlenggang penuh dengan kepercayaan dirinya, semua mata lelaki tertuju menatapnya terpukau.


"Wiiidiiih" ucap beberapa karyawan lelaki yang masih berstatus jomblo ngenes.


Biji mata mereka seakan mau lepas dari tempatnya, karena berebut ingin melihat pesona Namira yang berlenggang masuk kedalam ruangan Baruna.


"Kayaknya itu karyawan baru ya Yas" tanya Amar yang hampir saja meneteskan air liurnya.


"Kalau ada karyawan model begitu, kalian nih yang otaknya pada gesrek nggak bakal bisa kerja dengan bener. Yang ada hari-hari kalian bakalan nongkrongin meja dia" celoteh khas Yasmin.


"Widih, takut saingan kayaknya lu Yas" sahut Amar menggoda Yasmin yang juga kepo disana.


Sambil cemberut, ia pun hanya membuang muka pada Amar. Dan terus menelisik siapa gerangan perempuan misterius itu.


"Bagi Bar," sapanya lembut sambil duduk dikursi tanpa dipersilahkan oleh Baruna.


Karena Baruna sudah tau betul gimana suara Namira, ia pun tak perduli dan tetap fokus dengan menggoreskan pena diatas beberapa kertas didepannya.


Tok ... Tok ...


"Masuk" Baruna mulai bersuara.


"Permisi pak," ucap Annara dibalik pintu sambil sedikit membungkuk ke arah Namira, seakan memberikan salam juga kepadanya.


"Sini Ra, tunggu lima menit lagi saya bereskan semua ini dulu" ujarnya yang masih sibuk membalikkan seluruh kertas itu satu demi persatu.


Ra?, jadi gadis ini yang waktu itu diceritakan oleh keluarga Baruna. gumam Namira.


Ia pun berjalan menuju Annara disana, sambil mengulurkan tangannya ia memperkenalkan dirinya pada Annara saat itu.


"Kenalkan, Namira" ia menunggu uluran tangan Annara untuk menjabat tangannya.


"Ah, iya mbak bu. Saya Annara." terdengar gugup ia disana, tapi perkataannya barusan memancing tawa dibibir Baruna.


Namira keheranan melihat tingkah Baruna disana, baginya tak ada hal yang lucu saat itu. Tapi berbeda dengan Baruna, semua sikap gugup ataupun canggung Annara adalah daya tarik tersendiri baginya. Ia selalu terhibur dengan hal itu, kepolosannya selalu dirindukan oleh Baruna.

__ADS_1


"Panggil saja sesuka hati kamu," ucapnya sambil tersenyum ke arah Annara, sementara Annara masih saja terlihat kikuk.


"Ini, semua sudah selesai saya periksa dan bisa kamu bawa" perintahnya.


"Baik pak, saya permisi dulu. Mari mbak" ucapnya meninggalkan ruangan Baruna.


"Aku tau maksud kedatangan kamu kesini, dan barusan sudah aku perkenalkan bukan. Yah itu tadi adalah Annara, gadis yang sangat aku cintai. Seperti itulah wanita yang aku idam-idamkan dihidupku, aku ingin wanita seperti dia yang kelak menjadi ibu dari anak-anakku. Bukan seperti ini" Baruna menjelaskan panjang lebar sambil menunjuk ke arah Namira saat itu.


"Tapi Bar, dia sudah bersuami. Sampai kapan kamu nersikap seperti ini padanya." protes Namira keras.


Pasalnya ia sudah tidak mau menunggu lebih lama lagi perasaan Baruna terhadap dirinya. Namira memang sangat tertantang untuk mengenal lebih jauh pria super cuek ini, tapi dirinya tak dapat memungkiri jika ia juga butuh kepastian.


"Sampai rasa ini mati dengan sendirinya," ia berlalu meninggalkan Namira begitu saja.


Sementara Namira yang sudah terlanjur kesal dengan perilaku Baruna, ia pun keluar dan menuju meja Annara disana.


"Ikuti aku" tariknya dengan paksa.


Bukan hanya Annara yang kebingungan dengan sikap Namira saat itu, sebagian karyawan diruagan itu juga ikut bingung dengan sikap aneh keduanya.


Ternyata Namira mengajak Annara pergi ke kantin karyawan saat itu. Ia pun mulai mempersilahkan duduk Annara yang masih terlihat sedikit kebingungan.


"To the point saja ya, saya nggak mau basa-basi terlalu lama. Jujur kedatangan saya kemari memang ingin mengelmu, tapi setelah saya bertemu dengan kamu. Sungguh jauh diluar dugaan saya, lihat kita penampilan kita semua jauh berbeda. Lalu sebenarnya apa yang disukai Baruna pada dirimu?" umpatnya.


Dia tak percaya dengan ucapan Namira saat itu, pasalnya beberapa bagian kata Namira sangatlah mirip dengan dugaan Yasmin yang selama ini ia tepis bertahun-tahun. Ia masih terdiam dan memandang wajah Namira penuh tanya.


...----------------...


Happy reading guys 🤗


semoga masih pada betah disini yah❤️


✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.


✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️


✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️

__ADS_1


__ADS_2