
"Hei Chia sayang, coba lihat kakak. Kita nggak akan pernah kemana-mana kok, bakalan terus sama Chia disini." Hibur Annara pada Chia.
"Benar apa yang kak Annara bilang Chia, kita akan disini sama-sama." sahut Lukman memberikan penjelasan kepada adik kecilnya.
Ibu yang tengah berdiri dibelakang Chia, merasa sangat lega karena menantunya tersebut dapat menerima dan menyayangi Chia dengan begitu baik. Dirinya juga belum pernah melihat Lukman tersenyum sebahagia hari ini.
"Bu, kami berdua memutuskan untuk tinggal disini bersama kalian. Tentang rumah peninggalan orang tua Annara, kami bisa berkunjung kesana saat libur kerja. Selebihnya kami tetap disini, aku yakin Annara juga satu pemikiran denganku. Jelas Lukman dengan memandang Annara.
Annara pun mengangguk patuh dengan apa yang diucapkan Lukman saat itu.
"Baiklah, kalau memang kalian berdua sepakat untuk menyetujui itu. Ibu cuman bisa dukung yang terbaik saja buat kalian berdua. Tapi ibu juga mau berterimakasih pada istri kamu ini, karena masih mau mendengar rengekan adikmu Chia. Ujar ibu pada Lukman, dan tersenyum ke arah Annara.
"Sama-sama bu, Chia kan adek Annara juga sekarang." sahut Annara.
Semenjak kecil, Chia memang sudah begitu dekat dengan Lukman. Chia sudah menganggap Lukman seperti teman, sahabat bahkan sebagai pengganti ayahnya. Hingga sebegitu dekatnya mereka, Lukman selalu menggendong Chia kemanapun mereka pergi. Ia selalu menganggap Chia sebagai adik kecilnya, meskipun sekarang sudah beranjak dewasa.
Hari ini, adalah hari terakhir mereka mengambil cuti dikantor. Jadi mereka akan memaksimalkan waktu ini dengan sebaik mungkin, saat itu mereka berdua memutuskan untuk pamit kepada ibu dan Chia untuk segera pergi ke rumah Annara. Karena, Annara juga ingin menata rumahnya dengan baik sebelum dirinya tinggal dirumah Lukman.
Ia juga akan mengambil baju beserta beberapa perlengkapan lainnya yang akan diperlukan untuk sehari-hari. Karena pada saat tiba dirumah Lukman, dirinya hanya membawa baju ganti satu setel saja.
Saat mereka tiba dirumah Annara, dengan segera mereka membuka pintu rumah saat itu. Terlihat lantai yang masih sedikit berdebu saat mereka menginjakkan kaki. Annara yang dengan cekatan berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengambil air dan mengepel seluruh ruangan. Mereka berdua terlihat kompak mengemas rumah itu, tak ketinggalan juga kamar tidur milik ibu Annara terlihat dibersihkan dengan rapi oleh Lukman.
Mereka membagi tugas untuk membersihkan rumah dengan baik. Annara yang melihat suaminya tersebut begitu semangat dalam mengemas rumah, ia pun lalu beranjak ke dapur untuk menyiapkan sebuah minuman. Ia membuka lemari es miliknya, dan mengambil beberapa butir es batu untuk disandingkan dengan minuman yang sudah ia siapkan.
"Mas ayo diminum dulu ini, nanti dilanjut lagi." ucap Annara yang menghampiri dirinya.
"Tau aja kalau aku lagi haus hehe." ucap Lukman sambil meminum yang disuguhkan Annara.
__ADS_1
Setelah Lukman menghabiskan seluruh minumannya, ia lalu menuju kamar Annara saat itu. Kamar itu juga akan dibersihkan oleh Lukman, tetapi Annara yang malu melihat kamarnya berantakan itu di lihat oleh suaminya. Dirinya berlari menghampiri Lukman yang sudah terlanjur berada didalam kamar itu.
"Maaasss, yang itu biar Annara aja yang bersihkan," pekik Annara sambil menahan malu dihadapan Lukman.
"Nggak papa, biar aku yang bersihkan. Kamu lanjutin aja kerjaan yang lain. Nanti kalau yang disana sudah beres, boleh kok bantuin juga beresin yang disini." ujar Lukman sambil menoleh ke istrinya.
Annara hanya mampu menahan malu dengan wajah kemerahan dipipinya.
"Tapi yang disana sudah beres semua, aku bantu beresin disini juga ya," pinta Annara.
"Yakin yang disana sudah beres," sahut Lukman menggoda istrinya sambil menarik tubuh Annara kedalam pelukannya.
"Mass..." ucap Annara yang tertahan oleh jari Lukman diatas bibirnya.
Dengan tatapan mata yang begitu lekat, Lukman memandangi seluruh wajah istrinya. Tanganya yang mulai bergerak memegang ke dua pipi Annara sesekali mengusap rambut istrinya tersebut. Tidak butuh waktu lama, ia pun bergerak untuk mengaitkan ke dua tanganya pada pinggang Annara. Wajahnya mulai mendekati wajah Annara, dan ia pun mencoba untuk menci*m bibir Annara saat itu.
Ke duanya terlihat saling terhanyut dalam keadaan itu, Annara yang merespon cepat ci*man Lukman dengan segera ia memeluk tubuh suaminya itu. Waktu demi waktu mereka lalui berdua dirumah itu, sedikit canggung Annara saat itu, tubuhnya sedikit kaku saat hendak memeluk Lukman.
Semua tubuh Annara saat itu dijelajahi oleh Lukman, dengan bergerak cepat ia lalu menci*mi leher Annara saat itu. Annara yang sedikit memberikan respon dari tubuhnya, seakan menunjukkan dirinya menikmati hal itu. Tangan Lukman juga segera meraba ke dua gunung kembar milik istrinya itu, tak butuh lama tanganya yang mencoba membuka baju milik Annara dengan perlahan menariknya ke atas.
Sebuah pemandangan yang asing bagi Lukman, tapi ia tahu bahwa Annara sekarang adalah miliknya seutuhnya. Deru nafas Annara yang mulai berantakan, memacu Lukman untuk segera memulai dengan cepat.
Tapi sayangnya, ke duanya terhenti oleh suara dering telepon di rumah Annara.
Kring ... Kring ...
Suara telepon rumah Annara.
__ADS_1
Annara yang terkejut, segera terbangun dari atas tempat tidur. Dengan rambut yang berantakan, beserta baju yang yang sedikit menyibak keatas ia menerima panggilan telepon tersebut.
"Iya hallo, dengan siapa ini?. tanya Annara diujung telepon.
"Hai Ra, apa kabar. Maaf saya ganggu waktu kamu, selamat ya atas pernikahan kalian. Maafkan saya tidak bisa datang waktu itu, karena saya sekarang sudah berada diluar pulau. Saya dipindah tugaskan oleh rumah sakit, jadi saya belum bisa berkunjung ke tempat kalian." ucap Rehan.
"Ya ampun, Rehan. Kabar baik, nggak papa kok kita berdua ngerti kamu pasti lagi sibuk banget. Do'akan kami berdua ya, semoga bisa membina rumah tangga dengan baik." jelas Annara.
Lukman yang penasaran, lalu menghampiri istrinya tersebut. Dengan berdiri dibelakang Annara, ia memeluk tubuhnya dari belakang sambil meci*mi pundak Annara.
"Selalu aku do'akan yang tebaik untuk kalian berdua. Udah dulu ya, aku masih harus lanjut kerja. Sampaikan salamku kepada suami kamu." pungkas Rehan di ujung telepon.
"Baik, akan aku sampaikan pada Lukman. Terimakasih." ucap Annara mengakhiri teleponnya.
Annara yang saat itu mencoba menghentikan ulah suaminya tersebut. Mencoba meraih tangan Lukman.
"Mas, tadi itu Rehan. Kamu masih ingat dia kan?. Dokter ibu dirumah sakit dulu, ia titip salam juga buat kamu." jelas Annara.
"Tentu aku ingat, dia juga salah satu saingan terberat aku saat itu." sahut Lukman menggoda istrinya.
...----------------...
Happy reading guys 🤗
semoga masih pada betah disini yah❤️
✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.
__ADS_1
✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️
✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️