
Kediaman dirumah Lukman saat itu tengah terlihat cukup sibuk, semua saudara tengah berkumpul disana. Menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut baby Cio pulang, beberapa adik dari sang ibu juga terlihat menyulap ruang tamu mereka dengan cukup meriah.
Pim Pim ...
Lukman membunyikan suara klakson mobilnya saat hendak memasuki halaman rumahnya, ia sudah mengetahui rencana ibunya kali ini. Dan mereka berdua pun sepakat memberikan kejutan untuk Annara dan Cio saat itu.
Saat itu, suasana memang terlihat sepi. Pintu rumah terlihat tertutup dengan rapat. Disana membuat Annara sedikit bingung, dimana gerangan ibu mertuanya dan Chia berada.
Dengan langkah yang masih sedikit lebih berhati-hati Annara berjalan menuju pintu rumah saat itu, sementara Lukman berada dibelakangnya sambil membawa tas milik Annara dan Cio. Lukman pun terlihat membantu Annara untuk membuka pintu rumah.
"Kejutan ..." teriak saudara Lukman menyambut mereka.
Annara yang terkejut menjumpai hal itu, menitihkan air mata bahagia. Ternyata kepulangan dirinya dengan Cio sudah ditunggu begitu banyak paman dan bibinya disini. Annara pun melihat sebuah tumpeng berukuran sedang disebuah meja, dan di sematkan nama beserta foto Cio disana.
"Ayo sini, cucu omah yang ganteng" ucap ibu Lukman.
"Mbak Ara ayo sini kita foto rame-rame" ajak seorang keponakan Lukman yang bernama Kiara. Ia adalah putri dari adik ibu Lukman yang bernama Asih.
Dan ibu Lukman sendiri bernama Kinanti, lalu adek paling kecil dari ibunya bernama Sofian. Mereka adalah tiga bersaudara, semuanya sudah memiliki cucu masing-masing satu. Dan saat ini, Kinanti baru saja menyusul mereka yang sudah lebih dulu menjadi kakek dan nenek.
Pantas saja dirinya sangat bahagia saat mendapati Annara hamil. Ia sudah lama ingin menimang cucu seperti adik adiknya yang lain. Sebuah gambar foto keluarga yang lengkap pun sudah diambil saat itu, kali ini terasa berbeda tanpa kehadiran ayah Lukman.
Tapi Kinanti yakin, dia pasti berada bersama kita untuk menyambut Cio disini. Tak berselang lama dari ucapannya, tiba-tiba angin bertiup kencang ke arah rumah denga sedikit lembut. Tampak gorden jendela yang terbuat dari kain yang tipis juga tersibak oleh tiupan angin itu. Langit saat itu cerah dan tak mendung sedikitpun, tapi angin itu tiba-tiba muncul seketika dan berlangsung begitu cepat.
Aku yakin itu kamu mas, kamu pasti ingin melihat cucumu kali ini. Terimakasih karena sudah datang untuk melihatnya. sahut Kinanti pada angin tersebut, matanya pun terlihat menutup saat angin itu memilih untuk pergi meninggalkan mereka disana.
__ADS_1
Lukman yang menyadari ibunya saat itu, ia pun menghampirinya dan memeluk erat ibunya. Dia sangat paham dengan apa yang ibunya lakukan barusan, tidak hanya kali ini ia pun sering menjumpai ibunya jika tengah merindukan mendiang ayahnya selalu menutup ke dua matanya dan di iringi dengan sambutan angin lirih seperti barusan.
Pasalnya Kinanti selalu meyakini, bahwa suaminya selalu menjaga dirinya beserta ke dua anaknya dari kejauhan.
Sementara di tengah riuh suara banyak orang, Cio begitu pintar. Ia tidak menangis sedikitpun, ia hanya tertidur dengan pulas dan sesekali menyunggingkan senyumnya ke arah mereka semua yang tengah memandanginya.
"Coba sini sama bibi Cio, ganteng sekali kamu. Bagaimana mungkin papa kamu kalah ganteng sama kamu" ucap Asih sambil menggoda Lukman.
Lukman hanya menarik nafas dalam-dalam setelah mendengar ucapan yang tidak jauh berbeda dengan beberapa orang dirumah sakit kemarin.
"Sudah-sudah, dari kemarin Lukman sudah dibully habis-habisan dirumah sakit. Kasihan dia, meski tidak ganteng seperti Cio tapi ia tetap papa Cio yang keren." Kinanti juga melanjutkan godaan adiknya kepada putranya yang sudah cemberut disisinya.
Annara yang menjumpai hal itu hanya bisa tertawa sambil menutupi mulutnya.
Mereka pun berjalan menuju tumpeng nasi itu, dan terlihat tangan Lukman memegangi pisau yang sudah di bawa oleh Annara disana.
"Bismillah" ke duanya dengan bersamaan memotong ujung tumpeng tersebut dengan perasaan haru.
Setelah semua selesai, semua anggota keluarga juga terlihat menikmati tumpeng tersebut untuk dinikmati secara bersamaan disana. Sudah lama keluarga ini tidak berkumpul lagi setelah kepergian ayah Lukman. Dan sekarang dapat berkumpul kembali penuh suka cita untuk menyambut Cio.
🖤
Berbeda dengan suasana dikantor Roni saat itu, Ia yang baru saja tiba dikantor bersamaan dengan Tomy menjadi sorotan mata beberapa karyawan ya disana. Tak sedikit dari mereka juga berkomentar tak sedap tentang kehadiran Tomy kali ini, pasalnya yang mereka tahu Tomy saat itu sudah digelandang oleh polisi tentang kasusnya dengan Febrian.
Tetapi dengan santainya, ia kini berjalan memasuki kantor bersama Roni menuju ruanganya dengan cepat.
__ADS_1
"Kayak nggak tau ulah orang kaya aja lu" ucap sinis Nindira salah seorang karyawan di perusahaan Roni.
"Eh, apaan emang. Aku emang nggak tau loh" sahut Desy yang masih kepo abis.
"Kudet ih, sekarang si Tomy itu kan jadi menantu pak Roni. Desas desusnya si mereka uda melangsungkan pernikahan kemarin, katanya Anya hamil diluar nikah sama tu orang. Kan pinter banget dia, uda tau nggak dapet restu make jalan pintas kayak begitu. Otomatis pak Roni kan mau nggak mau harus nerima Tomy demi putrinya, reputasi pak Roni bisa ancur kalau putrinya hamil dan punya anak tanpa ayah" ujar Nindira yang tengah bergibah ria disana.
"Jadi begitu ceritanya, licik juga ya tu orang. Semoga si, setelah semuanya berlalu dia nggak macem-macem lagi" seru Desy yang setengah bergidik mendengar celotehan Nindira.
Bukanya mendapatkan sambutan baik, Tomy malah menjadi bahan perbincangan teman sekantornya. Yah, semua ini memang semua resiko yang harus ia terima dan telan mentah-mentah akibat masa lalunya yang sudah begitu buruk. Sementara dirinya masih mendapat kesempatan ke dua dari Roni untuk diterima menjadi menantu beserta salah satu karyawan juga dikantornya, justru berbanding terbalik dengan keadaan Febrian.
Ia harus menelan pil pahit dari ulahnya dengan Tomy, sebuah surat pemecatan secara tidak hormat dari kantor Roni mendarat dirumah Febrian pagi ini. Baru saja ia ingin pergi ke kantor untuk menanyakan hal ini, tetapi dia sudah mendapati jawabannya.
Mungkin ini juga salah satu bentuk hukuman dari Tuhan buat aku, atas kesalahan yang sudah aku perbuat kepada gadis malang itu. Tetapi setidaknya aku masih diberi kesempatan untuk menghirup udara bebas kembali berkat kebaikan hati Annara beserta Lukman. gumam Febrian yang lesu sambil memandangi secarik kertas dihadapannya.
...----------------...
Happy reading guys 🤗
semoga masih pada betah disini yah❤️
✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.
✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️
✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️
__ADS_1