
Pagi itu, diawali Annara penuh dengan senyuman. Tampak suasana kantor berjalan seperti biasa, Baruna yang tengah duduk diruanganya terlihat sibuk dengan ponsel miliknya. Saat Annara ingin menghampirinya, segera mengurungkan niatnya. Karena Baruna tengah sibuk menelpon diujung ruangannya. Ia tak mau mengganggu bosnya itu, apalagi sampai merusak mood Baruna dipagi hari.
Belum sempat Annara kembali duduk, Annara yang sempat memandang ruangan Baruna tampak dipanggil oleh bosnya itu dengan lambaian tangan. Saat Annara tiba diruangan Baruna, nampak Annara membawa paper bag coklat yang berisi jaket Baruna. Dengan menunggu Baruna, ia nampak berdiri didepan mejanya. Baruna yang kala itu sibuk dengan ponsel miliknya, duduk membelakangi Annara.
Dengan berani Annara memberikan isyarat, bahwa ia sudah berada didalam ruangan.
"Ehem." celetuk Annara lirih.
"Eh kamu, sejak kapan berdiri disitu. Sudah tau ada kursi kenapa masih terus berdiri." cecar Baruna sambil memainkan ponselnya.
"Pak, maaf saya kesini untuk ngembalikan jaket milik bapak kemarin yang terbawa oleh saya. Terimakasih pak, maaf saya belum sempat untuk mencucinya. Takut salah." jelas Annara.
"Hah, jadi jaket saya masih bau badan kamu dong. Kenapa gak dicuci dulu, baru dikembalikan ke saya. Kalau kayak gini saya yang susah, kamu yang pake dan saya harus nyuci bekas kamu." gerutu Baruna menggoda Annara.
Tertunduk malu Annara mendengar ucapan Baruna.
"Emm ... pak, saya kemari juga ingin menyampaikan keputusan saya soal yang kemarin. Jauh dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya minta maaf ke bapak yang sebesar-besarnya. Bukan maksud saya menolak permintaan bapak, tapi saya belum berani untuk melakukan hal besar seperti itu pak. Saya juga akan mengembalikan uang pinjaman dari bapak yang kemarin, tapi dengan potong gaji saya tiap bulan ya pak. Saya nggak bisa kalau harus bayar semua, saya tidak punya cukup uang pak. Sekali lagi maafkan saya pak." jelas Annara dengan tertunduk dihadapan Baruna.
"Udah ngomongnya?, kenapa harus minta maaf segala. Dan ngapain juga kamu ungkit soal uang kemarin itu. Apa yang udah keluar dari mulut saya tidak akan pernah saya tarik kembali." tegas Baruna.
"Baik pak." sahut Annara dengan lesu.
Saat Annara berlalu dari hadapannya perasaan aneh itu muncul kembali dalam hati Baruna. Sedih dan kecewa, permintaanya kala itu ditolak oleh Annara. Tapi ia tersadar, apa yang ia minta pada Annara adalah hal yang tidak pantas untuk dilakukan. Sambil melanjutkan pekerjaan, ia sesekali memandangi meja Annara dari kejauhan. Ia takut jika gadis tersebut sedih dengan ucapannya.
Pukul dua belas siang waktu itu, Baruna menghampiri meja Annara dan meletakkan sebuah kopi. Di ujung cup kopi tersebut tertulis permintaan maaf Baruna pada dirinya. Annara pun semakin dibuat bingung oleh sikap bosnya akhir-akhir ini. Antara sedih dan bahagia, ia merasa bahagia jika memang benar Baruna sudah mulai berubah untuk menjadi lebih baik.
Dengan membawa kopinya tersebut, Annara berjalan didepan ruangan Baruna sambil mengangguk. Seakan mengisyaratkan rasa terimakasih pada bosnya kala itu. Annara yang terburu-buru keluar dari kantornya, berlari kecil menghampiri Yasmin untuk mencari makan siang bersama.
__ADS_1
Mereka berdua sampai pada salah satu warung makan favorit mereka berdua, sayangnya kala itu Annara sedang melihat Tomy dan Anya sedang makan siang berdua ditempat itu. Annara yang hendak mengurungkan niatnya untuk makan ditempat itu, dengan cepat Yasmin menyambar tangan temanya itu. Ia pun lalu mengajak Annara untuk memesan nasi dan memilih tempat duduk.
Yasmin pun memutuskan untuk duduk di dekat jendela saat itu, karena cuaca yang sangat panas dan matahari yang begitu terik membuat mereka sedikit kegerahan saat itu. Tak jauh dari mereka nampak tempat duduk Tomy dan Anya, rupanya Yasmin punya niat tersendiri untuk Annara. Ia ingin, pembicaraan mereka berdua dapat didengarkan oleh Tomy dan Anya.
Seolah mengisyaratkan sesuatu, Yasmin yang menatap Annara dengan mengernyitkan ke dua matanya lalu membuka topik pembicaraan dengan penuh semangat.
"Ra ... gimana kemarin?, sukses kan ngedate bareng pak Baruna. Bikin iri aja si kamu." goda Yasmin dengan tatapan rasa ingin tau.
"Hah! eh iya ..." sahut Annara yang mencoba mengikuti alur pembicaraan Yasmin.
Tomy yang merasa penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, ia pun mencoba mencari alasan kepada Anya untuk berlama-lama ditempat itu.
"Ceritain dong kalian ngapain aja kemarin?." seru Yasmin penuh semangat, sambil menatap ke arah Tomy.
"Biasa, kita ngobrol dicafe aja. Terus karena emang ngobrol lama dan panjang lebar kita sampe lupa waktu. Dan kerana uda malem hujan juga, kita putusin untuk pulang bareng." jelas Annara dengan sesekali melirik ke arah Tomy dan Anya yang memandangi mereka.
Keseriusan mereka berdua yang sedang membahas Baruna, ternyata berhasil mengundang rasa penasaran pada Tomy. Hatinya yang penuh tanya kala itu, membuat dia sedikit kesal. Karena Tomy kira, selama ini Annara tengah dekat dengan Lukman. Dan mereka memiliki hubungan melebihi sahabat.
Dengan kesal ia berdiri sambil mengepalkan tangannya ke atas meja makan, dan mengajak Anya untuk segera kembali ke kantor.
Melihat mereka berdua berlalu dari warung makan itu, sontak saja Yasmin tertawa penuh kemenangan kepada Annara. Ia merasa puas, karena bisa membuat mantan temannya itu terpancing penuh kesal.
"Gimana Ra, keren gak rencana aku barusan. Lihat mantan kamu yang menahan amarahnya, bikin geli perut aku. Rasanya pengen ketawa ngeliat dia penasaran dan marah tapi nggak bisa berbuat apa-apa. Untung kamu Uda lepas dari cowok yang tak tau diri kayak dia." cecar Yasmin penuh kesal.
"Hm, kamu emang paling bisa kalau bikin sesuatu makin panas. Di gesek dikit pasti udah jadi, tapi aku nggak nyangka kamu bakal bahas pak Baruna tadi. Emang nggak ada topik lain selain dia ya ?." tanya Annara sedikit ketus.
Setibanya mereka berdua dikantor, mereka pun tak sengaja berpapasan dengan Baruna. Mata Baruna yang melirik ke arah mereka sambil tersenyum manis. Mengundang tanya dihati Yasmin pada temannya itu.
__ADS_1
"Sumpah, apa aku nggak mimpi barusan. Sejak kapan sih pak Baruna bersikap manis kayak gitu." celetuk Yasmin sambil bergelayut dibadan Annara.
"Eh, Apaan si kamu. Perasaan juga biasa aja, masak iya liat pak Baruna senyum aja uda girang banget. Kayak dapetin undian ciki kamu." ledek Annara pada Yasmin yang tengah cengar cengir.
❤️❤️❤️
**Happy Reading Guys
Terus dukung aku yah , biar semangat lanjutin ceritanya🤗❤️❤️❤️
...----------------...
Jangan lupa juga mampir kesini guys❤️, salah satu novel karya terbaik**!!!
**2. PENAKLUK SANG CASANOVA
(Warnyi)
Diandra, perempuan dingin dan cenderung angkuh, berusia 27 tahun. Kehidupannya begitu rumit, dengan berbagai masalah yang mengelilinginya. Pertemuannya dengan laki-laki yang merupakan seorang pemain wanita, perlahan mulai merubah kehidupannya.
Giovano, laki-laki dewasa berusia 32 tahun. Seorang casanova juga pewaris perusahaan keluarganya. Dia hidup dengan sebuah janji kepada mending ayahnya. Hingga akhirnya dia harus pergi ke suatu tempat terpencil, untuk mengembalikan kembali kejayaan hotel peninggalan kakeknya. Giovano merasa tertanang saat bertemu dengan seorang perempuan yang terus menolak pesonanya.
Bagaimanakah kelanjutan kisah mereka berdua?
Mampukan Giovano membantu Diandra untuk menyelesaikan semua permasalahannya**?
__ADS_1