Lelakiku

Lelakiku
Bertukar


__ADS_3

"Aku mohon, bantu aku" matanya mengiba pada Annara yang masih saja terdiam seolah tak percaya.


Namira sangat ingin menjadi sosok seperti dirinya, yang begitu dikagumi oleh lelaki yang kini sedang ia perjuangkan.


Lalu Annara menatap wajah Namira dengan kesungguhan hatinya, sambil berkata


"Apa kamu yakin?".


Tanpa berpikir Namira pun langsung mengiyakan ucapan Annara saat itu, kali ini ia akan bersungguh-sungguh untuk belajar mulai dari nol bersama dirinya.


"Tapi, saya yakin mbak pasti bisa mengambil hati pak Baruna tanpa harus menjadi orang lain" ujarnya membuat Namira diam seribu bahasa.


"Jadi intinya kamu nggak mau bantu saya dalam hal ini?" ia kembali menekankan permintaan untuk ke dua kalinya.


Sambil meraih tangan Namira, Annara berjanji akan selalu membantu dan memberikan dukungan penuh untuk dirinya dan Baruna.


Aku yang baru saja mengenalmu, beberapa menit yang lalu sudah bisa merasakan kehangatan sikapmu yang begitu luar biasa. Rasa nyaman dan semua ucapan serta perhatian dari perempuan ini sungguh luar biasa, apa aku bisa menjadi dia?. gumam Namira mengagumi sosok Annara.


Setelah ke duanya berbincang, mereka pun akhirnya berpisah dihalaman parkir kantor. Meski ke duanya saling kenal, tapi Annara menyambut baik Namira dihidupnya.


"Ssst ssst," panggil Yasmin yang sudah mengintip dirinya karena masih kepo dengan Namira.


"Apaan si," Annara merasa risih.


"Ngapain kalian berdua tadi?" nadanya penuh telisik.


"Nggak ada, cuman masalah kerjaan aja" pungkas Annara yang lebih memilih menjaga privasi Namira didepan temanya tersebut.


"Aih, nggak seru deh. Aku uda capek-capek nungguin begitu doang gosipnya" celetuk Yasmin yang membuat Annara tersenyum kecil dan berlalu meninggalkan dirinya.


Kali ini, sepanjang ia bekerja selalu teringat dengan apa yang diucapkan oleh Namira saat itu. Pikirannya terlalu penuh dengan nama Baruna sampai ia tak bisa fokus sedikitpun dengan pekerjaannya.


Tak selang berapa lama, Baruna yang baru saja tiba dikantor melintas dihadapannya. Seolah pemandangan tersebut membuyarkan segala pemikirannya.


"Pp-pak," panggilnya berusaha menghentikan langkah Baruna yang hendak masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


"Yah," sahutnya singkat.


"Boleh saya minta waktunya sebentar pak" ucapnya memberikan diri untuk bertanya tentang Namira.


Baruna pun mengiyakan permintaan Annara dan meminta Annara untuk mengikuti dirinya masuk kedalam ruangan miliknya.


Hm, kagak beres emang. bilangnya nggak ada apa-apa sekarang mau ngobrol berdua. Ra Ra, nanti aja kalau kepentok mau tukar pikiran juga cari aku kamu. gumam Yasmin yang masih saja dengan segala keingintahuannya.


"Kamu mau bahas apa, kayaknya penting banget" ujar Baruna sambil melepaskan jaket miliknya.


"Begini pak, ini masalah mbak Namira" ia mencoba mengeluarkan semua keberanian yang ia punya.


Baruna terdiam sejenak sambil membenarkan dasinya. Ia terkejut saat Annara menyebut nama itu, pasalnya ia tidak mau jika sampai Annara mengetahui segala perasaannya.


"Kamu di apain sama dia, bilang" tegas Baruna yang mencoba untuk menjaga harga dirinya sebelum Annara mengetahui segalanya.


"Kami tadi duduk berdua di kantin pak, disana mbak Namira mengutarakan semua isi hatinya" jelas Annara.


Keringat dingin mulai menghampiri Baruna disana, agar tidak sampai terlihat oleh Annara kegelisahannya ditutupi dengan menarik sebuah map laporan dimejanya. Matanya sengaja difokuskan untuk melihat tumpukan kertas tersebut, agar Annara tidak salah mengartikan bahasa tubuhnya.


"Lalu," sahutnya yang masih saja sok sibuk dengan map tersebut.


Karena terkejut, bulpoin miliknya sampai terseok diatas kertas putih tersebut.


"Ngaco," ia masih saja berusaha menutupi semua dengan rapi.


"Tadinya saya juga nggak percaya dengan ucapan mbak Namira disana pak, kan nggak mungkin selera bapak rendah. Bapak pasti punya selera yang lebih tinggi dari pada saya, iya kan pak?" matanya mencoba menelisik ke arah wajah Baruna.


Tapi Baruna tetap memilih untuk menunduk dan menghindar untuk montak mata dengan Annara saat itu.


"Itu pasti," ketusnya yang masih saja terus menyibukkan diri.


"Laluuu" ucap Annara yang harus terhenti karena perkataan Baruna yang memberinya ia perintah secara mendadak.


"Sudah jagan dibahas lagi, cepat pergi ke meja kamu dan tolong benarkan laporan ini untuk saya periksa kembali. Sore ini data itu harus sudah ada dimeja saya" dirinya mencoba mengecoh perhatian Annara disana.

__ADS_1


Annara mematuhi segala perintah Baruna saat itu tanpa membantahnya sedikitpun. Ia berdiri dan meninggalkan ruangan itu penuh dengan tanda tanya yang besar, bukanya ia mendapati jawaban dari segala pertanyaan yang menghantui pikirannya dia malah tak mendapat jawaban sedikitpun tentang pertanyaannya saat ini.


Sementara Baruna yang berada di ruangannya, sedikit terlihat lega dan dapat bernafas panjang setelah ia harus berpura-pura dihadapan Annara.


Bego lu Bar, mau sampai kapan kamu menutupi semua ini darinya. Lagi pula kalau Annara tau, keadaan juga nggak bakalan bisa berubah lagi. Dia tetap menjadi milik lelaki itu, dan kamu juga akan tetap menyendiri dengan kesedihanmu. gumamnya.


"Aakkh, mana ada. Aku nggak boleh biarin Annara sampai tahu semua kebenarannya" ia tetap bersikukuh dengan keinginannya.


Waktu berlalu dengan begitu cepat, sampai pada akhirnya Namira memutuskan untuk lebih memilih pulang ke rumahnya dari pada pergi dengan teman-temannya.


Ia menuju kamar dengan menenteng tas miliknya dan bergegas membuka pintu kamar itu dengan secepat mungkin. Terlihat ia melemparkan tas miliknya keatas ranjang, dan dirinya pun merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.


Perasaan bimbing bercampur gelisah menyeruak dalam pikirannya saat ini, sempat terlintas pikiran goyah akan hal ini. Dan lebih memilih untuk mundur dalam pergulatan batinnya. Ia merasa tak mampu menyaingi Annara dihati Baruna, dirinya merasa wanita itu sudah seperti paket komplit yang tak memiliki kekurangan.


Sambil berguling diatas tempat tidurnya, ia pun mencoba menghubungi Annara melalui sebuah pesan singkat. Yah, keduanya sudah bertukar nomor telepon satu sama lain ketika dikantin.


"Hai Ra, semoga kamu tidak melupakan janjimu padaku." isi pesan singkat Namira.


Annara yang mendapati ponsel miliknya menyala dan sebuah pesan singkat yang tertera nama Namira, ia langsung merespon dengan cepat.


"Tentu" balasnya singkat.


Saat hendak meletakkan ponselnya, matanya tertuju pada foto Cio yang ia jadikan wallpaper ponselnya. Rasanya, seluruh masalah yang berada penuh di otaknya kini menjadi luluh lantak seketika. Wajah kecil itu dapat mengalihkan dunianya seketika.


Bagaimana bisa mama melupakanmu, kamu adalah sumber kekuatan dan kebahagiaan terbesar mama saat ini sayang. gumam Annara sambil mengusap foto tersebut dan menciumnya.


Seperti sebuah kontak batin yang begitu dalam, Annara yang baru saja membayangkan wajah Cio tiba-tiba ia mendapati sebuah pesan singkat yang berisi foto Cio yang dikirimkan oleh ibu mertuanya di rumah.


...----------------...


Happy reading guys 🤗


semoga masih pada betah disini yah❤️


✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.

__ADS_1


✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️


✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️


__ADS_2