Lelakiku

Lelakiku
Pilu


__ADS_3

Ruangan itu terasa senyap dan dingin tanpa suara. Hanya langkah kaki yang berderap di atas permukaan lantai yang terdengar, yah Tomy merasa di asingkan oleh semua karyawan disana.


Semua membisu tanpa menyapa saat ia terlihat melintas dihadapan beberapa orang. Semua mata hanya sibuk tertuju memandangi monitor komputer. Ia pun yang berusaha menerima kenyataan pahit itu, berlalu kedalam ruangan dan memilih untuk menyibukkan dirinya.


🖤


"Yas cepat ke ruangan saya" teriak Baruna didepan pintu ruangan miliknya, kali ini Yasmin harus menerima dengan lapang dada semua umpatan yang Baruna layangkan kepada dirinya.


Karena selama Annara mengambil cuti, ia yang menggantikan posisinya. Tapi masa cuti itu, tak lama lagi akan segera berakhir.


"Iya pak saya" seru Yasmin yang berdiri tegak dihadapannya.


"Kita dapat sebuah penawaran kerja sama dengan sebuah perusahaan, emailnya sudah aku kirim balik ke kamu. Tolong pelajari semuanya terlebih dahulu, dan segera laporkan ke saya. Dan ingat jangan tunggu saya meminta, segera laporkan!" tegas Baruna pada Yasmin yang serius mendengarkan perintahnya.


Tanpa pikir panjang, Yasmin yang mendengar arahan itu lalu keluar meninggalkan ruangan Baruna dan menuju mejanya.


Ini semua gara-gara Annara nih, semenjak dia cuti gampang banget dia jadi uring-uringan begini. Dan gue yang jadi sasaran empuknya, kayak nggak ada karyawan lain selain aku gitu disini. Apa-apa marahnya ke aku, sebel. gerutu Yasmin.


Sesuai dengan perintah Baruna Yasmin pun membuka email tersebut dan mulai mempelajari perusahaan yang ingin mengajukan kerja sama tersebut. Setelah ditelisik lebih jauh oleh Yasmin, perusahaan yang bernama PT Hand itu memiliki owner yang bernama Roni disana.


Yasmin yang mengingat betul nama tersebut segera berdiri dan beranjak menuju ruangan Baruna disebrang. Ia segera melapor apa yang sudah ia pelajari tersebut.


Tokk ... Tokk ...


Baruna belum memberi ijin untuk masuk, dirinya sudah menerobos pintu tersebut dengan segera.


"P-ppak saya sudah buka email bapak" Yasmin terbata-bata dengan penjelasannya.


"Atur yang bener nafas kamu itu" gerutu Baruna yang kesal melihat tingkah Yasmin.


Karena ia sering dibuat bingung dengan tingkah Yasmin saat menyampaikan laporan pada dirinya dibandingkan Annara.


"Yang kirim penawaran kerja sama dengan kita itu adalah PT Hand pak, mereka bergerak dibidang perhotelan" jelas Yasmin.


"Saya tau, terus apa yang ngebuat kamu seperti orang kesurupan begini" maki Baruna setengah konyol.


"Ini pak, kan perusahaan itu milik ayah Anya dan mertua Tomy" sambil tertunduk Yasmin mengutarakan hal itu.

__ADS_1


Mukanya terlihat garang seketika, ia merasa tidak begitu senang mendapati hal ini. Bukanya ia tak bisa berlaku profesional dalam situasi ini, tapi ia tidak ingin jika harus bekerja sama dengan musuh bebuyutannya Tomy.


Jika ia menerima tawaran ini, otomatis dirinya akan lebih intens ketemu dengan orang menyebalkan nomor satu di dunia itu menurut Baruna. Dengan berat hati, ia pun tidak menerima tawaran tersebut.


"Abaikan penawaran itu" ucapnya sambil memainkan bulpoin miliknya.


"Tapi itu cuan pak, kenapa harus dilewatkan," celoteh Yasmin mengundang kesal Baruna.


"Gimana kalau kamu saja yang gantikan saya disini, biar saya pulang" tegas Baruna.


Mendengar tantangan Baruna mulut Yasmin langsung tertutup rapat dan tak mengeluarkan sepatah kata pun disana. Ia sadar, bahwa segala sesuatu keputusan yang diambil oleh Baruna sudah final dan tidak bisa di tawar.


Tapi niat baik Yasmin kali ini hanya ingin mengingatkan dirinya untuk tidak melewatkan cuan saja. Ternyata tidak disambut baik hal itu oleh Baruna.


Sedikitpun aku takkan pernah sudi berurusan dengan lelaki songong itu. Meskipun aku melewatkan cuan, setidaknya aku tak kehilangan kehormatanku sebagai lelaki. gumam Baruna.


Tling ... Tling ...


Sebuah pesan singkat muncul dilayar ponselnya. Tertera sebuah nama Namira disana, ternyata ia adalah perempuan yang dijodohkan oleh keluarganya saat ini. Setelah kebohongan tentang dirinya beserta Annara diketahui oleh keluarga besarnya.


"Bar" isi pesan singkat itu.


Meski Namira dijodohkan dengan Baruna, ia sama sekali tak pernah memaksakan kehendak Baruna sedikitpun. Ia selalu melayani Baruna dengan begitu lembut, meskipun sering ia jumpai Baruna bersikap cuek dan acuh pada dirinya.


Dan entah, berapa banyak pesan Namira yang tak ditanggapi olehnya. Pesan-pesan itu hanya terlihat menumpuk di ponselnya.


Tok ... Tok ...


"Kamu lagi, ada apa lagi" ucapnya.


Yasmin kali ini masuk dengan membawakan beberapa box makanan yang sudah dikirimkan oleh Namira kepada dirinya untuk makan siang.


"Saya cuma mau antar ini buat bapak" seru Yasmin yang terlihat begitu hati-hati meletakkan box tersebut dimeja.


"Dari siapa?" pungkas Baruna.


"Kata kurirnya si, atas nama Namira pak. Itu cewek bapak ya?" Yasmin terpancing dengan rasa ingin tahunya.

__ADS_1


"Jaga mulut kamu" cecar Baruna tanpa basa-basi.


Ia pun kembali mendapatkan ultimatum dari Baruna untuk kesekian kalinya. Hanya terdiam, dan berjalan untuk keluar ruangan saat itu. Tetapi belum sampai langkah kakinya keluar dari ruangan itu, dirinya mendapati Baruna memanggil namanya.


"Bawa semua box itu," perintah Baruna.


"Semua untuk saya pak?" timpal Yasmin sambil menunjuk wajahnya.


"Apa kurang jelas perintah saya Yas, kenapa hari ini kamu membuat hari saya jauh lebih suram" imbuh Baruna sambil meninggalkan ruangan tersebut.


Dengan wajah yang begitu riang gembira Yasmin mengutip semua box tersebut untuk dibawa ke mejanya.


Gak apalah, meskipun sehari ini disemprot banyak kali. Yang penting dapat juga imbal balik yang setimpal, perut kenyang. Hahaha. gumamnya begitu gembira.


"Yas bagi satu dong," intip Sesil teman sekantornya yang tepat dibelakangnya.


"Idih, tau aja ada berkat disini. Kecium baunya yah kamu Sil, nih." ujarnya yang selalu ceplas-ceplos dalam segala hal.


"Maacih bebeku..." timpal Sesil tersenyum manis.


"Huft, kalau ada maunya saja bebeb bebeb. Nggak sopan kali dirimu" lanjut gerutu Yasmin yang tengah meluapkan kekesalannya pada Baruna kepada Sesil.


Setelah ia terlihat berbagi dengan Sesil disana, ia pun melanjutkan pekerjaannya dan duduk kembali dimeja.


Lain halnya dengan Baruna yang lebih memilih untuk menenangkan pikirannya yang kalut saat ini. Ia meninggalkan kantor dan menuju sebuah cafe untuk memesan sebuah minuman yang segar di hari yang begitu membuatnya kesal.


Dirinya pun terlihat memesan segelas minuman bersoda disana, cafe tersebut adalah tempat dimana ia dan Annara dulu menghabiskan waktu. Terdapat kenangan yang manis antara mereka, meskipun saat itu hanya terjadi antara karyawan dan bos saja.


Kenangan itu perlahan menyusup kembali dalam benaknya. Dan tersusun rapi di ingatnya.


...----------------...


Happy reading guys 🤗


semoga masih pada betah disini yah❤️


✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.

__ADS_1


✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️


✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️


__ADS_2