
Kali ini, Anya yang sudah mengikhlaskan kejadian hari itu lebih memilih untuk melepaskan Chyntia dari cengkraman anak buah suaminya. Ia juga berharap ini kali terakhir dirinya bertemu dengan wanita itu.
"Biarkan dia pergi," ucap Anya pada Bonbon dan memilih untuk berlalu pergi begitu saja.
Bonbon beserta ke dua teman yang lainnya pun mengikuti perintah Anya dengan segera. Ia pun melepaskan ikatan tali yang sudah meililit ke dua tangan Chyntia sedari tadi.
"Auww, kasar banget sih!" gerutu Chyntia.
Tomy yang saat itu hendak mengikuti Anya yang tengah berlalu masuk kedalam kamar, langkah kakinya tiba-tiba terhenti akibat ucapan Chyntia.
"Tunggu hadiah selanjutnya sayang," ujar Chyntia sambil mengerlingkan matanya.
"Tutup mulutmu!," maki Tomy.
Mereka berdua kali ini memang tak lagi terlibat hubungan asmara, tapi dendam Chyntia begitu dalam pada lelaki yang sedang berdiri dihadapannya itu. Sejak dulu, ia sama sekali tak bisa menghargai keberadaan Chyntia sedikitpun.
Bahkan untuk sekedar mengucapkan maaf, itu tak pernah terdengar dari bibir Tomy kepada dirinya.
Chyntia yang tengah berjalan keluar dari rumah Roni saat itu, sambil menggerutu ia pun menendang sebuah botol minuman disana. Karena cukup kencang ia tendang botol air mineral tersebut, akhirnya botol itupun mendarat tepat dikaca mobil Roni yang baru saja tiba dan terparkir tepat dihalaman.
Roni beserta istrinya segera turun dari dalam mobil, dan bertanya ke arah Chyntia.
"Anda siapa, ada keperluan apa kemari?" ujar Roni sambil melepas kacamata hitamnya.
"Lalu anda sendiri siapa, kenapa kesini?" ucap Chyntia tengah menirukan ucapan Roni.
"Tentu saya pemilik rumah ini," sahut Roni kesal sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.
"Oh, jadi anda mertua Tomy. Perkenalkan om dan tante saya adalah istri simpanan menantu anda" timpal Chyntia kepada keduanya, kali ini ia ingin membalas dendam kepada Tomy sesegera mungkin.
Roni yang begitu marah disana akibat ucapan Chyntia, hanya diam dan dahinya berkerut seperti menaruh rasa curiga terhadap Chyntia dan menantunya Tomy.
"Oke, saya permisi dulu" sambar Chyntia segera menutup percakapan diantara mereka.
Tanpa berpikir panjang lagi, Roni yang sudah seperti orang kesetanan lalu masuk kedalam rumah. Wajahnya yang sudah merah padam, seperti seekor singa yang siap menerkam mangsanya.
"Tomyyyyy, keluar kamu!" nada tinggi Roni.
"Papa," ucap Anya yang begitu kaget mendengar teriakan orang tuanya didepan.
Keduanya lalu berjalan keluar dan menghampiri mereka didepan.
"Iya pa" sahut Tomy dengan nada rendah.
__ADS_1
"Siapa perempuan tadi, beraninya kamu mempermainkan anak saya dengan menyimpan selingkuhan!" jelas Roni menjabarkan ucapan Chyntia.
"Pa ..." ucap istrinya yang mencoba menenangkan suasana.
"Maksud papa Chyntia?" sahut Anya.
"Iya" ucap Roni yang masih tak melepaskan tatapnya pada Tomy.
"Tadi kita sudah ketemu kok pa, semua uda clear" beber Anya.
Muka yang merah padam tadi, seketika surut perlahan meninggalkan wajah Roni. Ia terasa lega mendengar itu terlontar dari mulut putrinya sendiri.
"Baiklah kalau memang begitu, jika sampai terbukti ucapan wanita tadi papa nggak segan akan depak kamu keluar dari rumah ini" umpat Roni.
Tomy yang hanya berdiri dibalik istrinya tak mampu mengeluarkan satu patah katapun dari bibirnya.
"Lalu kalian siapa, cepat angkat kaki kalian dari rumah saya!" umpat Roni pada Bonbon cs yang sedari tadi menyaksikan pertengkaran keluarga tersebut.
"Siap bos," sahut Bonbon sedikit ketakutan.
Saat semua masalah hari ini dapat tertangani dengan baik, lagi-lagi Tomy harus dihadapkan dengan sebuah masalah yang diciptakan kembali oleh Chyntia saat ini.
Flashback Chyntia.
Sashi Minahasa adalah sahabat Chyntia semenjak mereka kecil, keduanya tumbuh besar bersama dan menjalin persahabatan sampai dengan saat ini. Keduanya saling membantu disaat yang satu membutuhkan bantuan.
"Oke, Chyn. Bakal aku lakuin" balasan pesan singkat Chyntia.
Pada hari berikutnya, Sashi yang sudah menjumpai letak kantor Tomy dan semua informasi tentang Tomy ia pun mulai beraksi.
"Selamat siang, saya sudah ada janji dengan pak Tomy hari ini. Bisa saya bertemu?" ucap Sashi.
Seperti biasa, jika memang sebelumnya sudah membuat janji maka tamu tersebut akan langsung diantarkan menuju ruangan Tomy dengan segera.
Tok Tok ...
Ketukan pintu diluar ruangannya terdengar sempurna.
"Masuk," terlihat Tomy sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Matanya yang saat itu hanya fokus tertuju pada semua kertas putih itu tak menghiraukan siapa yang sebenarnya masuk kedalam ruangan miliknya tersebut.
"Selamat pagi pak Tomy?" ujar Sashi menyapanya lembut.
__ADS_1
Tangan Tomy terhenti dari aktifitasnya dan menoleh ke arah suara perempuan tersebut.
"Siapa kamu, saya rasa kamu bukan karyawan kantor ini" jelasnya.
"Perkenalkan saya Sashi, memang saya bukan karyawan sini pak. Saya kemari karena sudah dipesan khusus untuk anda" tutur Sashi.
Dirinya tak lagi segan menggoda Tomy diruangan miliknya, ia pun segera menghampiri Tomy yang masih tengah terduduk. Tangan nakal Sashi mulai memutari seluruh kemeja Tomy, ia pun sesekali meniup lembut telinga lelaki itu. Dan sesekali melontarkan kata manja.
"Apa, bapak nggak mau cicipi sedikit saja" rayuan maut Sashi keluar dari bibir **** nya.
"Lepaskan tanganmu!" bentak Tomy.
"Iih galak banget, santai aja pak" seru Sashi.
Ia melanjutkan aksinya, bahkan kali ini lebih brutal dari sebelumnya. Tangan halus Sashi kini merambah ke wajah Tomy dan menghadapkan wajah datar itu tepat kepada wajahnya.
Sashi yang tak segan-segan melayangkan bibirnya kepada Tomy segera melanjutkan aksinya. Tomy yang sedang masuk perangkap itu, kini mulai menikmati dan terbawa oleh suasana.
Tubuhnya tak lagi menegang, bahkan terlihat semua otot yang tadi mengencang karena memendam amarah kini terlihat melemas sempurna.
Srakkkk
Pintu ruangan miliknya tiba-tiba dibuka oleh sesorang tanpa ijin terlebih dahulu, Tomy yang sedang menikmati sentuhan lembut Sashi terkejut setengah mati saat ke dua matanya mendapati sosok Roni kala itu.
"Bedeb*h kamu!, memang nggak tau di untung" maki Roni pada Tomy.
Kali ini, Roni memastikan bahwa menantunya itu akan ia seret dengan kedua tangannya sendiri. Dirinya yang tak rela jika Anya jatuh kedalam pelukan lelaki yang salah sepertinya, dengan cepat mengusir Tomy untuk keluar dari kantor.
Semua mata karyawan disana, menyaksikan hal tersebut termasuk juga Lukman. Kali ini, untuk yang kesekian kalinya ia harus menyaksikan Tomy terjatuh dikesalahan yang sama. Dirinya tak begitu baik mempergunakan segala kesempatan demi kesempatan yang hadir menghampirinya.
"Man, kenapa lagi tuh dia" tanya Abi yang berdiri tepat disebelah Lukman.
Sementara Roni tengah sibuk menyeret tangan Tomy, Sahsi juga terlihat tengah keluar dari dalam ruangan Tomy sambil mengenakan sebuah masker agar tak mudah dikenali orang.
...----------------...
Happy reading guys 🤗
semoga masih pada betah disini yah❤️
✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.
✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️
__ADS_1
✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️