
Di antara ke duanya memang tak pernah ada perseteruan, hanya saja mereka begitu menyayangi dan mencintai wanita yang sama. Satunya telah resmi menjadi suami Annara, tetapi disisi lain pria ini lebih memilih mencintainya dalam diam.
Lukman hanya memicingkan ke dua matanya pada Baruna yang berdiri didepannya. Tanpa menjawab ancaman Baruna disana, ia lebih menurunkan tangan Baruna dan melemparkan senyuman ke arah lelaki tersebut.
"Saya akui, saya bukanlah suami dan ayah yang sempurna bagi keluarga kecil saya. Tapi saya adalah lelaki yang akan selalu memperjuangkan segalanya bagi orang yang saya cintai," tutur Lukman pada Baruna disana.
Ia yakin, sebanyak apapun lelaki yang mengagumi istrinya. Tak akan membuat gentar dirinya, dirinya meyakini hal yang sama pada Annara.
Kamu boleh jauh lebih sempurna dibandingkan aku, tetapi kamu tak memiliki hati istriku. Hati dan raganya hanya milikku sampai detik ini, dan aku pastikan semua itu akan tetap sama sampai maut memisahkan kami berdua. gumam Lukman sambil berlalu pergi dari hadapan Baruna.
Baruna yang mendengar perkataan Lukman saat itu, hatinya begitu terluka tetapi terselip rasa bahagia karena perempuan yang ia cintai telah menemukan seorang lelaki yang mampu menjaganya dengan baik.
Tak banyak keinginannya bagi Annara, ia hanya mau dia bahagia tanpa harus merasakan kesedihan bertubi-tubi lagi. Meski ia sadar, dalam merelakan hal itu akan ada hati yang tersakiti. Yaitu dirinya sendiri, ia harus menikam perasaannya saat berhadapan dengan Annara.
...🖤...
Roni beserta keluarganya yang baru saja meninggalkan rumah sakit saatitu, telah bertolak ke sebuah rumah makan yang tak jauh dari rumah sakit. Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak dari semua acara yang sudah dilalui hari ini.
Istri Roni memilih sebuah tempat lesehan dirumah makan tersebut, agar memudahkan dirinya beserta cucunya beraktifitas. Terpilih sebuah tempat yang cukup dekat dengan sebuah kolam ikan koi yang tak begitu besar tapi sedap jika dipandang.
Gemericik suara air yang berjatuhan, membuat suasana semakin nyaman dan damai dihati. Terlihat Roni dan Tomy sedang berdua berdiri lebih jauh dari tempat duduk Anya dan mamanya disana.
Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu masalah yang cukup serius disana.
"Kamu kenal dengan lelaki dirumah sakit tadi?" ucap Roni bertanya ke menantunya sambil melipat ke dua tanganya.
"Baruna yang papa maksud," sahut Tomy.
"Oh, siapa dia" tanyanya penuh penasaran.
__ADS_1
"Dia adalah pemilik perusahaan ditempat Annara bekerja pa" jelas Tomy.
Roni yang mengetahui hal itu, tampak berpikir sejenak sebelum melanjutkan obrolannya dengan Tomy disana. Ia pikir Baruna adalah hanya teman sekantor Annara saat itu, ternyata ia juga memiliki kedudukan yang sama dengan dirinya.
"Papa nggak banyak berharap sama kamu, tapi papa minta jaga dengan baik nama keluarga besar kita diluaran. Papa tidak mau mendengar hal seperti dirumah sakit tadi."
Tomy hanya tertunduk dan tak mau menatap mata Roni yang sedikit menegang disana, ia tidak mau sampai harus mengecewakan kembali mertuanya ini. Dan dirinya juga tidak ingin, jika sampai orang rumah tau bahwa dirinya dulu sempat bersitegang dengan Baruna karena Annara.
Bagi Tomy, sudah cukup masa lalunya begitu berantakan hanya karena kebodohannya. Sekarang dirinya hanya ingin menata masa depannya lebih baik bersama anak dan juga istrinya. Memberikan dan melakukan hal terbaik yang ia punya, sebagai bentuk penebus dosanya selama ini.
"Tomy akan usahakan sebaik mungkin pa" sahut Tomy penuh keyakinan.
"Baguslah" jawab Roni yang saat itu berlalu dan berjalan meninggalkan Tomy disana.
Meski ia sudah menyandang status sebagai suami Anya dan menantu Roni. Hubungan dirinya dengan Roni masih terlihat ada jarak, mereka belum bisa terlihat menyatu dalam keadaan. Tetapi kali ini, tak membuat semangat Tomy surut untuk membuktikan ketulusan dirinya untuk berubah. Justru dengan sikap Roni yang masih seperti ini, membuat dirinya merasa tertantang untuk menunjukkan yang terbaik.
Berbeda dengan Roni, dirinya sampai dengan hari ini hanya memandang putri dan cucunya saja. Selebihnya ia tak memandang dengan penuh arti.
Bisa-bisa semua menu dalam list semua mereka pesan terkecuali minuman.
"Mari makan," mama Anya terlihat mengambilkan nasi untuk masing-masing piring dihadapannya. Dengan wajah ke ibunya ia begitu tulus dalam menyajikan makanan disana.
"Panggil juga pak Slamet untuk makan bersama disini" perintah Roni yang sedang asyik menikmati ikan bakar gurame miliknya.
Tanpa perlu Roni menyebutkan nama, Tomy pun dengan sukarela untuk berdiri dan memanggil sopir papanya tersebut.
"Pak mari makan, sudah ditunggu papa didalam" ajak Tomy menghampiri pak Slamet yang tengah menunggu keluarga tersebut didalam mobil.
"Baik mas" sahutnya segera menimpali ucapan Tomy.
__ADS_1
Akhirnya semua berkumpul disana untuk menikmati makanan yang telah dihidangkan hari ini. Keluarga Roni termasuk keluarga yang selalu menghargai setiap karyawan yang bekerja dirumah maupun kantornya. Ia tak pernah pandang bulu jika ingin berbuat baik, siapapun itu dan apapun itu pekerjannya ia akan pandang sama rata.
"Sayang, kamu mau tambah ini" ucap Anya mengangkat piring cah kangkung kesuksesan Tomy.
"Kasih lagi yang banyak buat Tomy" ucap mama menimpali putrinya.
Mama Anya melihat bahwa Tomy masih sedikit malu-malu disana, ia masih sangat canggung.
"Makasih sayang" ujar Tomy sambil mengangguk ke arah mama mertuanya.
Ia pun melanjutkan untuk memakan semua makanan tersebut sampai habis tak tersisa. Anya yang melihat selera nafsu makan Tomy saat itu, tiba-tiba air matanya menetes penuh haru. Ia senang karena Tomy begitu lahap menyantap makanan tersebut, pasalnya Anya sangat mengetahui bagaimana keadaan Tomy selama dalam sel tahanan dengan makanan yang seadanya dan jauh dari kata layak.
Anya yang sudah menghabiskan makanannya disana, saat itu tengah membawa Nami ke kolam ikan tersebut untuk menenangkan tangisan Nami yang semakin kencang, tak disangka bayi kecil itupun lalu terdiam saat mendapati suara gemericik air di kolam ikan itu.
"Ternyata kamu sama dengan mama yah, anak cantik. Kita sama-sama suka dengan hal yang berbau alam, itu sangat menenangkan jiwa nak" Anya sambil menciumi putrinya.
"Apa benar Nami hanya mirip dengan mama?," Tomy meledek Anya disana sambil meminta Nami dari gendongannya.
"Kamu, apaan si" cubit Anya dengan lembut pada suaminya itu.
Tomy hanya sibuk menimang Nami disana, ke duanya begitu terlihat mesra. Hubungan antara seorang ayah putrinya ia tunjukkan begitu erat. Karena memang benar adanya, jika cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya.
...----------------...
Happy reading guys 🤗
semoga masih pada betah disini yah❤️
✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.
__ADS_1
✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️
✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️