
Ketika semua tamu undangan telah meninggalkan tempat acara pernikahan mereka, Lukman dan Annara juga segera turun dari pelaminan. Mereka diarahkan ke sebuah kamar ganti oleh sang perias, karena pakaian yang dikenakan Lukman cukup simpel jadi ia bisa mengganti pakaiannya sendiri dengan baik.
Berbeda denga Annara, yang masih membutuhkan bantuan dari sang perias untuk melepaskan beberapa aksesoris dan gaun yang ia kenakan saat itu. Pengantin perempuan jauh lebih rumit dibandingkan pengantin pria. Saat semua sudah terlepas dari tubuhnya, Annara yang saat itu segera membersihkan dirinya dari sisa make up riasan pengantin segera pergi mandi dan berganti pakaian.
Begitu pula dengan Lukman yang sudah berganti pakaian dan membersihkan dirinya dari sisa make up. Saat itu jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, mereka yang saat itu memutuskan untuk segera pulang beserta ibu dan adiknya bergegas memesan sebuah taxi online dan menuju rumah Lukman.
Sesampainya dirumah, mereka berdua menurunkan beberapa kado yang dibawakan oleh teman sekantor mereka. Lalu ibu dan adiknya segera masuk ke dalam rumah untuk segera membersihkan diri.
"Sayang boleh minta tolong, bawakan ini?," pinta Lukman sambil menyodorkan satu buah paper bag kecil ditangan kanannya, sementara dirinya sudah penuh membawa barang bertumpukan.
"Iya sayang." ucap Annara yang menirukan Lukman sedikit canggung.
Saat mereka berdua memasuk kamar Lukman, betapa terkejutnya Annara. Sangat terlihat indah kamar milik Lukman saat itu, dengan dekorasi yang cantik disetiap dindingnya dan tempat tidur yang bertaburan bunga mawar merah beserta terlihat beberapa lilin menyala disetiap sudut kamar. Nuansa romantis didalam kamar itu, membuat hati Annara begitu bahagia.
"Bagus kan kamarnya, nggak kalah sama hotel bintang lima hehe." celetuk Lukman yang berada dibelakangnya.
"Bagus banget, khas seperti kamar pengantin baru." ucap Annara dengan mata berbinar-binar.
"Semua ini ibu yang siapkan, khusus untuk menantu kesayangannya selama ini." jelas Lukman bangga.
"Hah, serius ini ibu yang nata semua ini?." sahut Annara terkejut.
Betapa bahagianya Annara saat itu, dirinya mengetahui bahwa mertuanya tersebut sangat menyayanginya bagaikan anak kandung sendiri. Begitupun Lukman, yang sangat menerima dirinya dari segala hal semenjak pertama berkenalan. Ia merasa memiliki sebuah keluarga yang utuh kembali untuk ke dua kalinya, meskipun tanpa didampingi oleh ayah dan ibunya lagi ia yakin hidupnya kini juga sudah direstui oleh ke dua orang tuanya.
"Kenapa melamun, sudah kamu istirahat dulu. Mulai sekarang anggap rumah ini sebagai rumah kamu sendiri, begitu juga dengan ibu dan adikku. Terima mereka seperti layaknya keluarga sendiri." pinta Lukman pada istrinya.
"Iya sayang." ucapnya yang masih canggung.
__ADS_1
"Oia, untuk panggilan itu terserah kamu ya mau panggil apa. Nggak perlu niruin aku seperti manggil kamu. Biar nggak canggung." goda Lukman sambil menjelaskan.
"Iya mas." ucap Annara dengan segera.
"Nah, begitu lebih enak didengarnya." jelas Lukman sambil tersenyum.
Malam itu, dilalui keduanya dengan berisitirahat. Tak ada tuntutan apapun dari Lukman dimalam pertama itu. Dirinya hanya ingin memberikan Annara sedikit waktu untuk beristirahat dan membiasakan diri untuk mengenal lebih jauh rumah dan keluarganya. Ia yang saat itu tidur disamping Annara, lalu menarik selimut yang berada tak jauh dari ujung kakinya.
"Mas." ucap Annara lirih, yang ingin menanyakan sesuatu padanya. Tetapi saat itu Lukman sudah tertidur pulas.
Annara yang menyadari hal itu, lalu mengurungkan niatnya untuk bertanya. Dirinya yang memahami keadaan Lukman yang baru saja pulih dari kecelakaan hari itu, ia ingin Lukman dapat beristirahat lebih banyak hari ini.
Terimakasih kamu sudah menerimaku dengan baik, dan tidak menuntut banyak dari diriku malam ini. Semoga dihari yang bahagia ini, kita dapat saling melengkapi satu sama lain sampai kapanpun suamiku.
ujar Annara dalam hati.
Sekali lagi, ia coba sadarkan pikirannya agar apa yang tengah dirinya rasakan ini tidak benar. Dengan menoleh ke arah Lukman saat itu, ia tersadar bahwa dirinya kini sudah menjadi istri sah sahabatnya itu. Setelah ia mencoba merilekskan tubuhnya diatas tempat tidur, dan dirinya lebih memilih untuk tidur membelakangi suaminya saat itu.
Belum sempat mata Annara terpejam, matanya sempat melihat sebuah bingkai foto kecil yang terletak diatas meja kerja Lukman. Ia yang begitu penasaran dengan isi foto tersebut mencoba mendekatinya, saat dirinya tau bahwa itu adalah foto mereka berdua yang masih mengenakan seragam putih abu-abu ia hanya tersenyum kecil sambil meletakkan kembali pigura foto tersebut.
Kali ini ia dapat tertidur pulas dengan perasaan bahagia.
Pukul tiga pagi saat itu, jarum jam berdenting dari arah luar kamar mereka. Kebiasaan keluarga Lukman yang selalu bangun lebih awal untuk menunaikan ibadah sholat subuh sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Lukman yang segera terbangun dari tempat tidur, lalu mengambil air wudhu dan beranjak sholat. Dirinya yang tak ingin membangunkan istrinya tersebut, dengan pelan ia melakukan aktivitas. Ia tak ingin Annara sampai terganggu dari tidur nyenyaknya saat itu, meskipun sekarang ia sudah menjadi imam bagi Annara dirinya sudah berjanji tidak akan memaksakan hal apapun pada istrinya tersebut.
Ia ingin, Annara belajar mengalir begitu saja tanpa ada paksaan. Saat Lukman sedang menyelesaikan rakaat terakhir, terlihat Annara terbangun dari tidurnya dengan wajah yang kaget. Dirinya sangat malu, karena sudah mendapati suaminya tengah bangun dan menunaikan sholat saat itu. Annara yang segera bangun dari tempat tidur lalu pergi membersihkan tubuhnya dan mengambil air wudhu.
Terlihat ia mejuntaikan sajadah tepat dibelakang Lukman yang belum beranjak dari duduknya. Ia yang terlihat sangat khusyuk menjalankan ibadah sholat pagi saat itu, membuat Lukman terkagum pada istrinya. Tanpa diminta, Annara mampu mengerti dengan apa yang ia lihat saat itu.
__ADS_1
Saat mereka berdua telah selesai menunaikan sholat, Annara segera menghampiri Lukman saat itu.
"Mas, maafin aku ya. Telat bangun," ucap Annara sambil menci*m tangan suaminya.
"Nggak papa kok, aku ngerti kamu pasti tidur larut malam kan. Terus ditambah capek juga, nggak mudah bagi orang untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan baru." jelas Lukman pada Annara.
Betapa beruntungnya diriku ini, memiliki suami yang begitu pengertian seperti kamu mas. decak kagum Annara dalam hati.
"Pagi ini, kita akan jiarah ke makam orang tuaku beserta ayah dan ibu kamu ya sayang." jelas Lukman.
"Iya mas, itu juga yang mau aku sampaikan pada kamu hari ini." sahut Annara senang.
...🖤🖤🖤...
...**Biarkan cinta tumbuh tanpa paksaan dan mengalir begitu saja dalam kehidupan ...
...Lukman**...
...----------------...
Happy reading guys 🤗
semoga masih pada betah disini yah❤️
✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.
✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️
__ADS_1
✓ Ditunggu juga kritik dan saran yang membangun buat othor 🌷