Lelakiku

Lelakiku
Ada apa dengan kalian?


__ADS_3

Malam hari itu, Lukman pergi untuk menemui Annara. Dengan penuh keyakinan, ia yang tengah bersiap didepan cermin sambil sesekali tersenyum. Menatap dirinya dengan bangga, bahwa ia pasti bisa melakukanya.


Lukman segera berangkat dari rumahnya, di tengah perjalanan ia pun nampak berhenti di penjual bunga tepi jalan. Ia memilih mawar putih kala itu, seakan melambangkan perasaannya yang tulus untuk Annara.


Ia pun melanjutkan perjalanan dengan segera mungkin, karena malam sudah mulai larut. Raut wajah yang bingung saat tiba didepan rumah Annara, tampak mobil yang terparkir didepan teras rumah Annara. Dan lampu ruang tamu Annara yang menyala saat itu, seakan menunjukkan didalam sedang ada tamu.


Langkah kakinya yang sedikit melemah, terhenti didepan teras rumah. Ia mendengar sayup lirih tawa mereka, menandakan mereka tengah asyik dengan perbincangannya. Ia pun yang merasa ragu untuk masuk ke rumah, menghentikan langkah kakinya dan memilih meninggalkan bunga itu diatas meja teras depan rumah.


Dengan perasaan yang kecewa pada dirinya sendiri, ia pun berlalu dan memilih untuk pergi dari situ. Berkali-kali ia urungkan semua niatnya untuk mengutarakan perasaannya tersebut, dan berkali-kali juga ia harus menelan kecewa.


Annara yang tengah mengantarkan Rehan keluar dari rumahnya, ia pun tak sengaja menemukan bunga itu diatas meja. Perasaannya yang bertanya-tanya membuat ia sedikit bingung, milik siapa bunga ini.


"Cie ... ada pengagum rahasi kayaknya ni." sindir Rehan sambil tertawa.


"Eh, apaan si mana ada. Mungkin seseorang salah kirim aja." jawab Annara tersipu malu.


"Salah kirim ke tempat yang benar maksudnya?." goda Rehan bertubi-tubi.


"Hahah gak juga, Uda gih pulang keburu malam. Terimakasih sudah mau repot-repot kesini untuk periksa ibu ya." ujar Annara dengan lambaian tangan.


Yah, Annara yang selalu menghayal tentang sesosok lelaki yang kelak akan singgah dihidupnya. Ia begitu menginginkan sosok lelaki yang mampu membimbingnya dengan baik, serta menerima dan menyayangi ia dan ibunya dengan baik.


Bayangan lelaki yang begitu sempurna dalam hidupnya serta mampu melindungi dirinya.


Entah kapan hari itu akan tiba dihidupnya, tapi ia selalu sabar menantikan hal itu terjadi.


Sambil tersenyum ia memandangi bunga mawar itu, dengan menatap langit malam. Dengan segera ibunya memanggil ia dengan sedikit menggoda, sontak lamunan indah itu bubar seketika begitu saja.


Keesokan harinya, saat Annara hendak berangkat ke kantor ia bertemu dengan Lukman. Entah kenapa lagi dengan Lukman, ia seakan tidak menghiraukannya saat itu. Ia bingung dengan perubahan sikap sahabatnya itu yang kerap berubah-ubah.


"Pagi semua ..." sapa Annara kepada semua orang dikantor waktu itu. Ia segera duduk dan merapikan meja kerjanya terlebih dahulu.


"Pagi Pak ..." seru teman kantor Annara yang menyapa Baruna pagi itu. Sambil berlalu melewati Annara, ia pun melempar senyum manis kepada gadis itu.


"Eh, pagi pak ..." sapa Annara dengan kebingungan melihat sikap pak Baruna pagi itu. Ia juga merasa bosnya sedikit aneh sikapnya sampai sekarang.


Diujung meja lainnya, nampak Yasmin yang tengah menggoda Annara sambil mengerlingkan matanya sambil melirik Baruna. Ia yang nampak semakin bingung pagi hari itu, tak memperdulikan Yasmin kala itu. Entah apa yang terjadi pada orang-orang hari ini semua terasa aneh baginya.

__ADS_1


Pukul dua belas siang saat itu, semua nampak keluar untuk mencari makan siang. Annara yang memilih untuk tidak keluar kantor kala itu, tiba-tiba dibelikan sekotak nasi oleh Baruna. Sambil meletakkan nasi dimeja Annara, ia tersenyum manis.


"Cepet makan, jangan sampai gak makan. Entar sakit, siapa yang susah. Saya juga kan?." celetuk Baruna.


"Eh pak, gak perlu repot-repot. Saya memang lagi gak pengen makan hari ini. Buat bapak aja." sahut Annara dengan menggeser kotak makanan tersebut.


"Kamu tau saya kan, apa yang udah saya berikan gak akan pernah saya minta atau terima lagi. Jadi cepet makan". Jelas Baruna sedikit kesal, Annara mengangguk patuh.


"Lagian kamu kenapa pake gak makan siang segala sih. Udah tau dirumah ibunya lagi sakit, ini pake acara mogok makan segala. Apa mau ikutan sakit juga kamu?, terus siapa yang bakal jagain ibu kamu kalau kamu juga sakit." cecar Baruna dihadapan Annara.


Annara yang tengah menikmati makanannya tersebut, tiba-tiba tersedak saat mendengar semua ucapan Baruna. Dengan segera ia mengambil minum dan meminumnya dengan cepat.


Entah mimpi buruk apa aku semalam, sampai siang ini terus bertemu dengan hal aneh.


Jangan-jangan pak Baruna juga mimpi buruk semalem, makanya ia mencari orang buat melampiaskan keanehannya hari ini.


tapi kenapa harus aku ...


Gumam Annara yang tengah mengunyah nasi yang penuh dimulutnya.


Baruna yang mulai tersadar akan perasaannya itu, berlalu meninggalkan Annara dimejanya. Ia hanya duduk dan termenung didalam ruangan.


Apa iya aku mulai jatuh cinta pada wanita itu,


Karyawanku sendiri?.


iya betul, karyawanmu.


Apa kamu udah gila Bar?.


Enggak, kamu gak gila kok. Manusiawi kalau kamu menyimpan rasa pada gadis itu.


Ia gadis yang baik, cantik dan memiliki jiwa yang begitu tulus. Jadi wajar kamu sangat nyaman saat berada disampingnya.


Gumam Baruna dengan dirinya sendiri, disudut ruangan.


Saat jam kantor berlalu, sore itu Baruna yang melihat Annara tengah berdiri menunggu taxi online segera menghampirinya. Dengan segera ia menawarkan tumpangan untuk Annara, dengan nada yang sedikit memaksa.

__ADS_1


"Cepet naik, bareng sama saya aja. Kebetulan saya juga mau mampir ke daerah situ, Deket sama rumah kamu." pungkas Baruna.


"Baik pak." patuh Annara pada Baruna.


Annara segera membuka pintu mobil dan langsung naik ke mobil Baruna, didalam mobil Baruna yang kembali memandangi wajah Annara tersenyum sambil tersipu malu. Betapa bahagia Baruna saat itu, dapat kembali memandangi wajah Annara.


"Pak pak ..., kenapa senyum-senyum begitu." tanya Annara sambil mengibaskan tangannya didepan wajah Baruna.


"Loh, kamu ngapain ngipas-ngipas begitu tangannya." sahut Baruna yang tersadar dari lamunannya.


"Seharusnya saya yang tanya ke bapak, ngapain dadi tadi senyum-senyum sambil liatin saya pak. Ada yang aneh ya sama saya, apa hari ini saya salah make baju ya?." ucap Annara sambil bertanya pada Baruna.


Baruna hanya tersenyum dan terheran dengan tingkah Annara. Ia yang begitu polos, seakan tak tau jika pria dihadapannya itu menyimpan rasa untuk dirinya.


Ditengah perjalanan, Baruna yang merasa aneh mencoba menengok ke arah kaca spion mobil dengan segera. Benar saja, ada sosok laki-laki yang membuntuti mereka sedari tadi dengan pelan.


❤️❤️❤️


**Happy Reading guys🤗❤️


terus pantengin kisahnya yak, jangan lupa siapin stok cemilan yang banyak...


...----------------...


Mampir kesini juga yuk, salah satu novel yang aku rekomendasikan buat kalian nih ❤️❤️**



**5. TAWANAN CINTA PLAYBOY


(Thatya0316)


Thalia Rafika Azhari mencintai sahabatnya sendiri dalam diam. Meskipun dia tahu kalau sahabatnya itu merupakan seorang playboy. Namun, kedekatannya dengan Sandiaga Lancanter membuat Thalia tidak bisa berpaling dari rasa cintanya.


Hingga pada saat orang tuanya menjodohkan dia pada seorang lelaki pilihan keluarganya, Sandiaga merasa sangat terpukul sehingga dia mencari cara agar menggagalkan perjodohan itu.


Mungkinkah pernikahan Thalia berjalan sesuai rencana? Atau dia kembali bersama Sandiaga meskipun hanya sebagai sahabat? Ataukah keduanya sama-sama menyadari kalau memiliki cinta yang tersimpan rapi di hati untuk sahabatnya**?

__ADS_1


__ADS_2