Lelakiku

Lelakiku
mencintaimu yang tak mencintaiku


__ADS_3

"Tolong sudahi semua usaha mu untuk mendekatiku dengan segala cara, hatiku hanya untuk satu orang" isi pesan singkat Baruna pada Namira.


Sekitar pukul satu pagi, pesan itu dikirim oleh Baruna. Ia yang mengetahui segala upaya Namira untuk bisa lebih dekat dengan dirinya menghentikan langkahnya. Baruna tidak ingin, jika gadis tersebut merasakan hal yang sama seperti dirinya. Mencintai tanpa dicintai, rasa itu yang selama ini ia pendam didasar hatinya untuk Annara.


Masih dengan mata yang begitu berat menahan kantuk, Namira yang masih berusaha meraih ponsel miliknya diatas meja dekat tempat tidurnya. Ketika ia mendapati nama Baruna disana, matanya seketika terbuka lebar. Mata yang tadinya menahan kantuk yang begitu hebat, kini terbuka lebar sempurna.


Ia membaca pesan itu dengan penuh kehati-hatian, pasalnya bukan baru kali ini saja Baruna menyuruh pergi ia dari hidupnya. Dirinya tak ingin jika pesan tersebut meluluh lantakkan semua semangat yang sudah ia bangun dengan susah payah bersama Annara.


"Tidak Bar, kali ini kamu harus berikan aku kesempatan. Yah cukup satu kali" balas Namira pada Baruna.


Mungkin pesan itu cukup terdengar egois, tapi Namira tidak ingin berhenti sampai disini saja untuk memperjuangkan segala perasaan dirinya terhadap Baruna. Ia ingin menyerah jika segala cara dan upayanya sudah sepenuhnya ia kerahkan.


Baruna yang masih terjaga dari tidurnya dan melihat pesan Namira muncul dilayar ponselnya, ia memilih untuk mengacuhkannya begitu saja tanpa ia baca terlebih dahulu. Bagi Baruna sudah cukup jelas penjelasan dan permintaan dirinya terhadap Namira tanpa perlu diperpanjang lagi.


Sampai dengan keesokan harinya, Namira yang masih dengan segala tekadnya ia mencoba untuk masuk ke dalam dapur. Ini adalah kali pertama bagi Namira menyentuh dapur sepanjang hidupnya.


"Mbak, mau bikin apa biar saya saja yang buatin" salah seorang asisten rumah tangga yang sudah disiapkan oleh ke dua orang tua Namira.


Sejak Namira dipercaya memimpin perusahaan papanya, ia memang telah hidup mandiri tanpa tergantung lagi pada ke dua orang tuanya. Dirinya hidup terpisah oleh keduanya, dan hanya tinggal bersama dua asisten rumah tangga lainnya.


"Nggak perlu mbak," ucap Namira yang masih tengah berusaha.


Hari ini, ia menyiapkan sebuah sarapan pagi untuk Baruna. Maksud hati ingin membuat omelette dan nasi goreng, tapi dirinya masih saja sibuk dengan omelette yang tak kunjung bisa ia balik dari penggorengan dengan sempurna. Sisi omelette itu sudah terlihat menghitam, sementara atasnya masih saja basah.


"Mbak, apinya terlalu besar" ucap asisten rumah tangganya yang bernama mbak Fina.


"Enggak mbak, cuma ini susah balikin telurnya. Gimana sih" sahutnya yang masih dengan mimik wajah yang serius setengah berkeringat.


Fina yang sedari tadi berdiri tepat dibelakangnya hanya memandangi tingkah Namira yang sudah mati-matian untuk masak didapur. Ia melihat kondisi dapur saat itu porak poranda oleh ulah Namira, semua isi kulkas saat itu terlihat dikeluarkan semua olehnya.

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga Namira berusaha membalik telur itu, tapi sayangnya telur itu malah terlempar ke arah tempat pncucian piring yang berjarak tak cukup jauh dari dirinya.


Fina hanya bisa menepuk jidatnya saat melihat aksi Namira kali ini.


Hiks


Namira tiba-tiba menangis sesenggukan dihadapan Fina, ia merasa gagal hari ini dengan segala upayanya.


"Ada apa mbak, kenapa menangis" ujar Fina yang juga duduk mengikuti Namira.


"Aku nggak becus jadi seorang perempuan yang baik ya mbak" sahut Namira dalam tangisnya.


Fina yang sudah mengetahui kemana perginya arah pembicaraan Namira dengan segera ia mencoba menenangkan anak majikannya tersebut.


"Mbak itu sudah sempurna dimata saya, wanita pekerja keras dan nggak mau tergantung sama papa dan mama. Semua orang pasti memiliki titik kelemahan masing-masing mbak, begitupun saya. Kalau saya jadi mbak Namira, saya tidak akan mungkin merubah diri saya menjadi orang lain. Saya ya saya, kalaupun laki-laki itu tidak bisa menerima saya dengan segala kekurangan saya berarti dia belum jodoh saya" tutur Fina yang sudah berkeluarga dan diceraikan oleh suaminya.


Tangisnya terhenti ketika mendengar pendapat Fina saat itu, pikirannya mulai terbuka lebar memandang luas urusan asmara antara dirinya dengan Baruna. Bagaimana mungkin Namira yang biasanya selalu tegas dan kuat mendadak lemah soal urusan cinta.


Namira yang telah tersadar dengan perkataan Fina saat itu, mulai menata hati dan semua pikirannya tentang Baruna. Ia sudah memutuskan untuk tak lagi menjadi seperti Annara dihidupnya, demi mendapatkan simpati Baruna. Kini ia mulai bisa melangkah dengan tenang dan pasti, tanpa kebingungan. Jika memang benar Baruna adalah jodoh yang sudah dituliskan untuknya maka ia akan pasti kembali pada Namira.


Pagi itu, ia pun mengawali paginya dengan bersiap menuju kantornya.


🖤


"Ra, tolong pagi ini atur jadwal meeting saya dengan pak Handoko" perintah Baruna sambil menunjuk Annara.


Annara pun mengiyakan permintaan itu dengan segera menghubungi salah satu asisten pak Handoko disana.


Hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja bagi Annara untuk menyiapkan semua itu, ruangan meeting pun sudah dipersiapkan dan ditata rapi oleh dirinya. Dan hanya menunggu jalanya meeting saat itu.

__ADS_1


Saat itu, meeting hanya berlangsung dengan dua orang saja. Baruna dan Handoko, saat meeting dimulai Baruna juga tak terlihat mengajak Annara untuk menemani dirinya. Nampaknya meeting kali ini berjalan cukup serius, sampai harus dilakukan tertutup seperti ini. Handoko adalah salah satu investor terbesar diperusahaan Baruna.


Selama bertahun-tahun keduanya menjalin kerja sama dengan cukup baik dan berjalan lancar. Tapi beberapa minggu belakangan, beredar rumor bahwa kali ini Handoko ingin mengakhiri hubungan kerja sama dengan Baruna begitu saja tanpa kejelasan.


Sampai pada akhirnya meeting tersebut berjalan cukup singkat, dan ke duanya terlihat saling berjabat tangan diruangan itu sebelum meninggalkan ruangan. Saat Baruna membuka pintu ruangan tersebut, wajahnya sudah mulai suram.


"Ra, kenapa pak Baruna. Apa emang bener ya gosip yang beredar selama ini?" ucap Yasmin ratu kepo dikantor.


"Diem lu ah, berisik" pungkas Annara.


"Ra ..." teriak Baruna dari arah ruangan miliknya, suaranya cukup terdengar jelas karena pintu kantornya masih terbuka lebar.


Mendapati panggilan itu, dirinya pun segera menuju ruangan Baruna.


"Iya pak, ada yang bisa saya bantu" ujar Annara.


"Tentu, baru saja kita kehilangan salah satu investor terbesar kita. Dan kali ini, perusahaan lagi dalam kondisi tidak baik. Kamu tau tujuan saya memanggil kamu kesini," jelas Baruna sambil meremas ke dua tanganya, Annara hanya menggeleng saat mendapati pertanyaan itu.


"Saya mau kamu pilih beberapa karyawan saja yang akan dipertahankan" perintahnya.


...----------------...


Happy reading guys 🤗


semoga masih pada betah disini yah❤️


✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.


✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️

__ADS_1


✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️


__ADS_2