Lelakiku

Lelakiku
Terlalu cepat


__ADS_3

Bu, yang tenang disana ya. Pasti sekarang ibu sudah bertemu dengan ayah. Kalian lihat aku disini gak?, aku sangat rindu kalian. Do'akan aku disini agar aku mampu melanjutkan hidupku tanpa kalian. Peluk ci*um dari aku buat kalian disana.


Bisik Annara.


Lalu, Lukman yang sudah menunggu lama dibelakangnya mengajak ia segera pulang ke rumah. Karena hari sudah mulai petang. Sesampainya dirumah, Lukman yang tengah melihat Annara duduk di sofa ruang tamu menghampirinya.


"Ra, makan dulu yuk. Biar kamu gak sakit." bujuk Lukman.


Annara yang hanya terdiam, hanya membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Lukman.


"Aku tau kamu sedih Ra, tapi jangan sampai berlarut-larut ya. Kasihan ibu disana, biar ibu istirahat dengan tenang. Kalau kamu sedih, ibu juga yang susah disana. Tarik nafas dalam-dalam supaya kamu sedikit lega." ucap Lukman.


Tatapannya yang kosong, membuat Lukman semakin terpukul melihat keadaan Annara kala itu. Annara yang terdiam, tiba-tiba menangis sesenggukan disamping Lukman.


"Sudah ya, aku yakin kamu kuat. Kamu bisa lewatin semua ini dengan baik Ra. Ada aku disini." ujar Lukman sambil mengusap air mata Annara.


"Aku ... sekarang sendiri Man. Aku uda gak punya siapa-siapa lagi." sahut Annara dengan isak tangis dibibirnya.


"Kamu punya aku Ra. kamu gak pernah sendiri, aku selalu ada buat kamu." ujar Lukman sambil menenangkan Annara.


Hari tampak semakin larut, Lukman memutuskan untuk segera pulang malam itu. Karena Annara sudah tertidur, sebelum pulang ia memastikan Annara baik-baik saja. Dengan menggunakan selimut, Lukman menutupi tubuh Annara dari dinginya angin malam. Sambil berbisik pelan, ia berpamitan dengan Annara.


Malam berganti pagi, tepat pukul enam pagi hari itu Annara terbangun dari tidurnya. Ia yang lupa bahwa ibunya telah tiada, lalu beranjak dari tempat tidur dan mengetuk pintu kamar ibunya seperti biasa.


Tokk ... Tokk


"Bu, bangun yuk sudah pagi ni." ucap Annara lirih.


Desiran angin yang begitu kencang dari jendela rumahnya, seketika membuyarkan semua lamunannya. Sebuah karangan bunga diteras rumahnya lalu menyadarkan ia dari lamunannya. Seketika tangis Annara kembali pecah saat itu.


Dengan duduk ditepi ranjang tempat tidur milik ibunya, ia menatap sebuah foto di atas meja. Didalam foto itu, ada ibu ayah dan dirinya. Lalu Annara mengambil foto itu dan memluknya, betapa rindu hatinya saat ini. Saat ia meletakkan foto itu kembali, tidak sengaja Annara menjatuhkan sebuah kertas putih disamping foto tersebut.


❤️


Sepucuk Surat Dari Ibu


Ra, ini ibu nak.


Tolong tersenyum dulu saat kamu sudah membuka surat ini yah.


Kamu anak yang kuat kan Ra, kamu putri kebanggaan ayah dan ibu nak.


Saat pertama kali kamu terlahir ke dunia ini, kami begitu senang menyambut kehadiran kamu saat itu.


Tangis mu yang begitu kencang, seakan memecah keheningan didalam ruangan kala itu.

__ADS_1


Mata kamu yang bulat, rambut kamu yang hitam, bulu mata kamu yang lentik dan hidung kamu yang mancung semua mirip ibu yah.


Pastinya ayah gak kebagian pokoknya.


Sekarang kamu sudah tumbuh menjadi dewasa, entah semenjak kapan malaikat kecil ibu sudah tumbuh dewasa seperti sekarang. Kamu tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan tangguh.


Maafkan ibu ya Ra, selama ini sudah menyusahkan kamu setiap hari. Dengan susah payah kamu bekerja tidak mengenal waktu, semua itu hanya demi ibu. Kamu tidak pernah perduli pada dirimu sendiri yang sudah lelah bersusah payah.


Sekarang, saatnya kamu untuk menjemput bahagiamu nak. Kami akan melihatmu dari sini, dan kami pun juga akan ikut bahagia jika kamu sudah bahagia dibawah sana.


Semoga kamu menemukan lelaki yang tepat dihidupmu.


Lelaki yang mencintaimu.


Lelaki yang menyayangimu.


Lelaki yang menjagamu.


Lelaki yang menerima mu apa adanya.


dan dapat membimbingmu dengan baik.


Seperti ayah kamu, ia adalah suami terbaik yang pernah ibu miliki. Tidak semua lelaki yang mau menua dengan kita, maka carilah lelaki yang siap menua bersamamu nak.


Siapapun yang menjadi pendamping kamu kelak, ibu dan ayah setuju. Hanya sebuah nama yang sederhana yang mampu kami wariskan kepada kamu. Annara Putri Candrawati, jaga nama itu baik-baik ya Ra.


Salam ibu.


Sambil berlinang air mata Annara membaca surat itu, didekapnya dengan begitu erat sepucuk surat kecil itu. Ia harap, isi surat dari ibunya tadi membuat ia lebih kuat lagi menjalani hari-harinya.


Tokk ... Tokk ...


"Ra, kamu udah bangun belum?." ujar Lukman sambil berdiri didepan pintu rumah.


"Eh kamu, sama ibu kesini. Silahkan masuk bu, maaf ya berantakan. Annara belum sempat berkemas dari kemarin." jelas Annara.


"Gak papa, ayo duduk sini. Mulai sekarang kamu bisa anggap ibu seperti ibumu sendiri ya, jangan sungkan. Karena ibu juga sudah lama anggap kamu seperti anak ibu. Kalau kamu mau ibu masakin, tinggal bilang sama Lukman ya. Nanti setiap pagi pasti ibu bawain makanan buat kamu." tutur ibu Lukman penuh kehangatan.


"Bu ... terimakasih ya." ucap Annara sambil menangis dalam pelukan ibu Lukman.


Saat itu, mereka bertiga tengah berkemas didalam rumah. Dan menyiapkan segala keperluan untuk menyambut pengajian yang di adakan besuk malam. Annara senang saat itu, rasanya ia seperti memiliki keluarga baru. Suasana yang hangat, membuat ia lupa kalau dirumah itu kini ia tinggal sendiri.


Dari ujung pintu, terdengar beberapa suara teman kantor Annara yang tengah datang kesana untuk melayat.


"Ra ... maaf ya kami datang tiba-tiba, gak kasih kabar dulu ke kamu." jelas Yasmin sambil memeluknya.

__ADS_1


"Kami turut berduka cita ya Ra." sahut teman-teman kantor lainnya ke Annara.


"Makasih ya, sudah sempetin datang kesini." sahut Annara.


Mata yang sembab dan penampilan yang masih acak acakan kala itu, Annara terlihat tersenyum manis pada teman-temannya. Seperti Ara yang biasanya, ia selalu berusaha tegar dalam situasi apapun.


"Eh, uda banyak tamu disini. Mari diminum dulu ya, ayo silahkan duduk semua." pinta ibu Lukman.


Yasmin yang begitu penasaran dengan perempuan setengah baya itu. Lalu bertanya pada Annara yang sedang duduk disebelahnya.


"Ra, itu siapa?. Saudara ibu ya." tanya Yasmin sambil melemparkan senyuman.


"Bukan, itu ibunya Lukman. Mereka disini dari tadi, bantuin aku disini biar gak sendirian." ujar Annara pada Yasmin.


"Beruntung banget si kamu Ra, dikelilingi banyak orang baik dihidup kamu. Terlebih lagi Lukman, seakan siap mati buat kamu deh. Cakep pula." cecar Yasmin yang tengah menghibur Annara.


"Hus, ngomong apaan si kamu. Gak baik tau." sahut Annara dengan ketus.


❤️❤️❤️


**Happy Reading Guys❤️


Gak terasa Uda sampai disini aja, semoga kalian tetap setia menunggu bab nya sampai tamat ya🌷🤗


...----------------...


Jangan lupa mampir kesini juga yah, aku punya rekomendasi novel terbaik buat kalian baca juga❤️❤️**



SURGA DI ATAS LARA


(Ika Oktafiana)


Pernikahan Zoya dan Zada yang sudah berjalan tiga tahun ini tampak rukun dan bahagia.


Namun siapa sangka, Zada yang tipekal suami setia tiba-tiba membawa pulang wanita lain ke rumah Zoya dan Zada.


Bagai tertusuk seribu sembilu, Zoya begitu kecewa dengan Zada yang diam-diam sudah menikah lagi tanpa persetujuan darinya. Zoya meminta talak, namun Zada menolaknya.


"Aku tidak akan pernah menjatuhkan talak untukmu. aku masih mencintaimu, Zoya." Begitulah alasan yang selalu terucap dari bibir suaminya.


"Tidak masalah aku di madu asalkan, aku tidak tinggal satu atap dengan maduku," lirih Zoya penuh luka dan nyeri di hatinya.


Biarlah Zoya menerima semuanya. Karena tanpa Zada ketahui, Zoya sedang mengandung anak yang selama ini di nanti-nantikan. Biarlah Zoya menerima surganya, walau surga itu telah menorehkan luka dan lara yang mendalam.

__ADS_1


Mampukah Zoya tetap bertahan ketika melihat suaminya bersanding dengan wanita lain?


__ADS_2