
"Tau apa kamu tentang Lukman dan pak Roni?," tanya Tomy mencoba menelisik lebih dalam.
"Kemana aja kamu, apa Anya nggak pernah cerita kalau Lukman itu anak kesayangan pak Roni dari dulu. Dia itu kan, anak sahabat calon mertua kamu Tom. Ujar Febrian sambil mengejek Tomy.
Tomy yang mendengar ucapan Febrian semakin dibuat kesal bukan kepalang. Kenapa hal ini tidak pernah diceritakan oleh Anya pada dirinya, pantas saja segala upayanya selama ini untuk menyingkirkan Lukman begitu sulit. Ternyata Lukman memiliki ikatan tersendiri pada keluarga Anya.
Dengan pikiran yang begitu jahat, ia telah merencanakan sesuatu yang akan membuat Lukman hancur.
"Aku punya penawaran buat kamu," ucap Tomy arogan.
"Hah, tiba-tiba penawaran aja nih. Boleh lah selama itu berbau uang nggak masalah." ujar Febrian yang mata duitan.
"Soal uang itu gampang, tinggal sebrapa jauh kamu bisa selesaikan tugas ini dengan baik dan rapi," jelas Tomy percaya diri.
Setelah mereka berdua saling menyetujui, kesepakatan itu dibuat. Febrian yang setengah terkejut dengan ide gila Tomy, membuatnya sedikit ragu saat itu. Tetapi disisi lain, Febrian juga tengah membutuhkan pemasukan untuk memenuhi gaya hidupnya yang sangat suka berfoya-foya.
Tomy yang merasa menang diatas awan karena rencananya dapat dukungan dari Febrian. Dirinya sangat yakin, jika rencana kali ini akan membuat Lukman benar-benar hancur dan terpuruk.
Sementara itu, Lukman yang tengah berada dirumah lebih memilih untuk membantu ibu beserta istrinya membuat tumpeng nasi kuning sederhana. Nasi kuning tersebut di lambangkan sebagai rasa ucap syukur atas kebahagiaan yang begitu besar hari ini.
Mereka bersama nampak terlihat menikmati tumpeng sederhana itu, bagi Lukman ibu beserta istrinya tiada hal yang paling mewah didunia ini melainkan kebersamaan.
"Nasinya enak banget, wangi." ujar Chia.
"Tentu, ini kak Ara yang buat. Bilang apa pada kak Ara karena sudah menghidangkan makanan begitu lezat hari ini," jelas ibu menuntun Chia.
"Terimakasih kak, Chia sayang sama kakak." ucap Chia polos.
"Sama-sama sayang, ayo makan yang banyak. Biar Chia cepat tumbuh besar seperti kakak," ujar Annara sambil mengusap rambut Chia.
Sudah lama rasanya Lukman tidak melihat senyum Chia begitu lepas, Annara seperti membawa aura baru dalam hidup Chia. Dia sangat bersyukur bahwa wanita pilihannya sangat tepat untuk keluarga dan dirinya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit kemudian, Annara terlihat membantu ibu untuk mengemas piring kotor dan meja yang sedikit berminyak. Dengan segera ia mengambil kain lap untuk mengusap meja tersebut sampai bersih, setelah selesai dirinya pun membantu ibu untuk membereskan tumpukan piring yang telah dicuci ibu dengan bersih dan ditata rapi di atas rak piring untuk ditiriskan.
"Sudah selesai kan, kamu istirahat dulu sana," ucap ibu pada Ara. Annara hanya mengangguk dan tersenyum.
Dirinya yang berlalu dari dapur, ke dua matanya terlihat tengah mencari sosok suaminya saat itu. Ia terus mencarinya dari ruang tamu hingga depan teras rumah, tetap saja tidak terlihat batang hidungnya. Kemudian ia memutuskan untuk berlalu memasuki kamar saat itu, benar saja lampu kamar sudah dalam keadaan gelap gulita.
Terlihat Lukman sedang duduk berada di ujung tempat tidur, ia pun memikirkan bahwa suaminya tersebut akan meminta jatah pada malam hari ini. Dengan polosnya, Annara berjalan ke arah tempat tidur dan terbaring di atas kasur.
Dengan posisi terlentang ia mengisyaratkan
"aku sudah siap" pada suaminya itu. Lukman yang menoleh ke arah istrinya hanya tertawa kecil melihat tingkah laku istrinya tersebut. Bagaimana tidak, tanpa diminta ia sudah bersiap terlebih dahulu diatas ranjang.
"Jadi, uda mulai nakal sekarang ya," celoteh Lukman menggoda istrinya.
Tidak butuh waktu lama untuk Lukman membuka semua pakaian Annara saat itu. Dengan segera ia menyibak lembut rambut Annara yang sedikit menutupi wajah cantiknya, tangannya terlihat mulai mengitari wajah Annara dan berlanjut hingga turun ke dad*.
Ia pun mulai menci*mi seluruh gunung kembar milik Annara, detak jantung Annara berdetak lebih cepat saat itu. Sambil sesekali ia pun melirik ke arah istrinya tersebut untuk melanjutkan permainannya. Mata Annara hanya terpejam karena menikmati permainan itu, mulutnya pun mengeluarkan suara des*han yang begitu cepat.
jerit Annara lirih saat merasakan ada benda tumpul hangat yang memasuki miliknya. Ia pun semakin di buat tak karuan dengan benda tersebut. Deru desahnya kian menjadi saat itu, hingga memacu Lukman untuk mempercepat tempo permainannya.
Tubuh Lukman nampak menegang di atas tubuh Annara, dan seketika lemas begitu saja.
"Sudah aku kirimkan Lukman junior untuk kita," bisiknya nakal pada istrinya.
Istrinya yang mendengar hal itu hanya tersipu malu mendengarnya.
Mereka berdua akhirnya tertidur pulas di atas ranjang tanpa busan*. Keesokan harinya, Annara yang terlihat kaget dengan keadaan dirinya telanj*ng bulat didepan suaminya itu. Dengan segera ia pun menyibak selimut putih yang menutupi tubuh Lukman saat itu, terlihat lega wajahnya saat menjumpai suaminya itu dalam keadaan yang sama seperti dirinya.
Dengan segera ia berlalu untuk mandi dan bersiap untuk pergi kekantor. Saat dirinya sudah siap, ia pu membangunkan Lukman dengan lembut agar segera bersiap juga.
"Mas, ayo bangun. Aku sudah siap pergi ke kantor," ucapnya lirih sambil mengusap pipi Lukman.
__ADS_1
Lukman yang terkejut saat menjumpai istrinya sudah rapi untuk pergi kekantor, ia pun bergegas untuk bersiap.
Hari ini, adalah hari pertama bagi Lukman untuk mengajak istrinya tersebut menaiki mobil milik mereka berdua. Decak kagum Lukman pada dirinya sendiri karena bangga bisa mengukir senyuman dibibir Annara saat itu.
"Silahkan masuk tuan putri," ucap Lukman yang segera membuka pintu mobil untuk Annara.
Hanya tertawa kecil Annara melihat ulah suaminya itu.
Setibanya dikantor mereka masing-masing, Lukman yang saat itu terlihat memarkir mobil miliknya tengah di awasi sinis oleh Tomy di kejauhan. Sorot matanya yang begitu benci, akan sosok Lukman.
Bentar lagi hidup lu kelar!. gumam Tomy.
Tak jauh berbeda saat itu, semua aktivitas dikantor terlihat berjalan normal. Sampai pada waktunya jam pulang kantor, Lukman juga berusaha menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin. Tetapi ada hal aneh yang ia jumpai saat itu, tiba-tiba Tomy memberikan setumpuk kertas yang berisikan laporan keuangan bulan lalu.
"Periksa lagi, kerja yang betul," ucap Tomy arogan.
Dirinya terlihat bingung dengan ulah Tomy saat itu, memberikan pekerjaan yang jelas-jelas sudah ia selesaikan di bulan lalu, kenapa sekarang harus direvisi ulang. Semua teman kantornya saat itu sudah meninggalkan ruangan dan berlalu untuk pulang, hanya tersisa dirinya berdua dengan Tomy diruangan itu.
Dengan cepat jari-jarinya mengecek setumpuk kertas putih yang ada dihadapannya. Tapi entah kenapa, terbesit rasa khawatir dipikirannya tentang Annara saat itu, gelisah yang amat dalam tengah memenuhi pikirannya.
...----------------...
Happy reading guys 🤗
semoga masih pada betah disini yah❤️
✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.
✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️
✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️
__ADS_1