Lelakiku

Lelakiku
Dengarkan aku


__ADS_3

Suasana pagi hari itu cukup membuat Tomy begitu tegang saat tengah berada di meja makan bersama dengan ke dua mertua beserta istrinya.


Anya masih terlihat bersikeras mempertahankan sikap dinginnya pada Tomy pagi ini, dirinya masih saja sibuk mengunyah sarapan pagi. Tak sedikitpun ia menoleh ke arah Tomy yang berada tepat disampingnya.


Sementara Tomy dengan wajah bersalahnya, ia terlihat begitu canggung dihadapan Roni yang sedari tadi memperhatikan tingkahnya.


Uhukk


suara Roni yang pura-pura tersedak mencoba untuk memancing perhatian putrinya disana, kali ini umpan yang ia layangkan tak disambut baik dengan Anya. Ia masih terus sibuk memperhatikan piringnya dan tak menghiraukan apapun. Roni yang mendapati sikap aneh putrinya, hanya bisa menatap istrinya disana.


"Anya sudah selesai pa ma. Anya duluan yah," ujar Anya yang masih enggan berbicara.


Ceklek Ceklek


Dia kembali mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.


"Ada apa ini?" seru Roni pada menantunya Tomy.


Wajah Tomy seketika memerah karena tersedak makanan yang tengah ia kunyah. Dia pun dengan segera meraih gelas air yang berada disisinya untuk segera diminum.


Kenapa ini anak salah tingkah begini. gumam Roni yang sedari tadi mengamati Tomy.


"Pa biarkan Tomy selesaikan makan terlebih dahulu" jelas istrinya.


"Nggak papa kok ma, Tomy sudah selesai ini" Tomy mengakhiri sarapan paginya.


"Kamu dan Anya kenapa pagi ini," tatar Roni bertubi-tubi.


"K-kami ... bertengkar pa kemarin malam" jelas singkat Tomy.


"Hah, selesaikan dengan baik. Papa nggak mau ada ketegangan lagi saat kumpul bersama seperti tadi" seru Roni yang langsung berdiri meninggalkan meja makan dan memilih untuk mengambil sebuah surat kabar.


Tomy yang tak tau harus berbuat apa untuk masalah kali ini hanya mengangguk lemas ketika mendapati perintah oleh ayah mertuanya itu. Dengan ketidakpastian ia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah, untuk mencari keberadaan Chyntia. Dan mengajak dirinya untuk meluruskan semua masalah ini dihadapan istrinya Anya.


Ia tidak mau, karena kehadiran Chyntia akan merusak rasa kepercayaan Anya pada dirinya.


🖤


Bugh ...

__ADS_1


"Oek,oek,oek ..." suara tangisan Cio begitu kencang dari dalam kamar.


Lukman yang waktu itu berada di ruang tamu, segera berlari ke arah kamar dengan cepat. Ia yang kaget dengan keadaan Cio yang sudah terlentang di lantai dengan segera mengambil dan menggendong tubuh putranya.


"Cup cup sayang," tenangnya.


"Sayang ada apa ..." tanya Annara yang sudah telat untuk melihat keadaan Cio.


Lukman tetap terdiam dan tak menjawab sedikitpun. Ia terus sibuk menenangkan putranya yang sedari tadi menangis tiada henti.


"Sini, berikan Cio biar aku sus*i dulu," pinta Annara.


Tapi permintaan dirinya saat itu ditepis oleh Lukman, saat ini Lukman begitu dibuat kesal dengan ulah istrinya yang sudah teledor menjaga Cio.


Pasalnya, ia selalu berpesan kepada Annara untuk menitipkan Cio kepada dirinya jika ia tengah sibuk didapur. Tapi kali ini, Annara benar-benar lupa untuk bilang kepada Lukman karena terburu-buru untuk mematikan kompor didapur.


Ia yang tadinya sedang sibuk menyiapkan air panas untuk membuatkan Lukman secangkir kopi.


"Cio tadi jatuh dilantai, kenapa kamu begitu seceroboh ini" umpat Lukman.


"Maaf sayang, aku salah" Annara tertunduk mengakui kesalahannya kali ini.


Bukan Annara tak ingin membela dirinya kali ini, tapi ia lebih memilih sikap diam dari pada berdebat dengan suaminya disana. Dirinya diam karena tidak ingin melanjutkan permasalahan ini lebih panjang lagi.


"Bu, aku nitip Cio sebentar ya" jelas Lukman.


"Eh, kemana ibunya?" tanyanya.


Anaknya itu hanya diam dan pergi setelah memberikan Cio pada ibunya.


Kali ini, Lukman pergi dari rumah dengan hati tak tenang. Pasalnya, baru kali ini ia memarahi istrinya dengan nada tinggi. Semenjak pernikahan keduanya, mereka berdua benar-benar saling menjaga keharmonisan rumah tangganya begitu baik.


Tangisan Cio begitu kencang saat berada digendongan ibu Lukman, dia pun segera mencari keberadaan Annara untuk memberikan Cio yang mungkin sudah menahan haus sedari tadi.


"Ra," panggil ibu mertuanya dengan lembut.


"Bu ..." dia terlihat sibuk mengusap bersih air mata yang sudah singgah di pipinya.


"Nggak papa, kamu nggak perlu tutupi itu dari ibu" tuturnya.

__ADS_1


Annara lalu mengambil Cio yang masih saja menangis ditangan ibu mertuanya, seketika malaikat kecil itu terdiam saat sudah berada digendongan ibunya.


"Kamu, bertengkar sama Lukman?" tanya Kinanti.


Annara tampak mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dan lebih memilih untuk menyus*i putra kecilnya.


"Itu sangat wajar dalam pernikahan, terkadang masalah selisih paham sering timbul begitu mudah. Ibu yakin kalian berdua pasti dengan mudah melewati semua ini. Ibu yakin pada Lukman, bahwa dirinya juga pasti khilaf saat ini. Bukan maksud dia semarah itu pada kamu nak, hanya saja mungkin dirinya butuh menyesuaikan keadaan dengan baik." tutur Kinanti.


"Iya bu," pungkas Annara yang masih terlihat sembab.


Tak berselang lama, Lukman yang saat itu kembali pulang kerumah setelah berkeliling sebentar dijalan segera masuk ke dalam kamar.


Dirinya sudah meyakini bahwa ke dua belahan hatinya itu pasti sudah berada didalam kamar bersama.


"Sayang," seru Lukman dibelakang punggung Annara.


Annara yang tengah sibuk menyus*i Cio lalu memalingkan pandangannya kepada suaminya itu.


"Maafkan aku yah" ujarnya sambil membawa mawar putih dan sebuah coklat kesukaan istrinya.


"Mas," tangisnya pecah saat mendapati sikap romantis dari suaminya itu.


"Sudah ya, jangan nangis lagi. Maafkan aku, udah ngebentak kamu tadi sayang. Ini bukan salah kamu aja, kejadian hari ini adalah kesalahan kita berdua. Kita lalai menjaga Cio, untuk kedepannya aku akan lebih berhati-hati lagi untuk menjaga Cio saat kamu nggak ada." Lukman memeluk dan mengusap lembut rambut istrinya.


Memang kali ini Cio sudah lebih aktif, ia sekarang sudah pandai berguling sendiri. Tingkahnya yang begitu lincah, terkadang membuat keduanya sedikit lengah.


"Baiklah,sekarang buka mulutnya sini. Aaak" pinta Lukman yang sudah membuka kertas coklat dengan sempurna.


Annara tersipu malu, saat tengah disuapi oleh suaminya. Akhirnya keduanya pun dapat melalui permasalahan ini dengan begitu baik dengan kepala dingin.


Keduanya lalu bermain bersama dengan Cio diatas tempat tidur, baik Annara ataupun Lukman sangat bahagia saat mendapati pertumbuhan putranya yang begitu pesat perkembangannya.


...----------------...


Happy reading guys 🤗


semoga masih pada betah disini yah❤️


✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.

__ADS_1


✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️


✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️


__ADS_2