
"Eh, sorry. Kamu nggak biasa ya kena asap rokok ya." ujar Baruna mematikan rok*k miliknya.
"Gak papa kok pak, hanya belum terbiasa aja." jawab lirih Annara dengan mengibaskan tangannya.
"Saya ajak kamu kesini, mau bicarain sesuatu. Tolong dengar baik-baik. Kemarin, ketika kamu saya ajak bertemu keluarga besar saya mereka meminta saya untuk membawa kamu bermalam dirumah mereka. Sepertinya mereka tidak percaya dengan apa yang saya katakan kemarin. Mau kah kamu berpura-pura menjadi istri saya sebentar saja?." jelas Baruna panjang lebar.
Seketika ia terdiam sambil memandangi gelas kopi yang ada didepannya, dengan air mata yang berlinang dan bibir yang bergetar ia beranikan dirinya untuk mengambil tawaran itu.
Yang hanya ia pikirkan saat itu adalah ibunya, apapun akan ia lakukan demi ibunya. Beban yang menumpuk dibahunya saat ini, begitu terasa berat. Bagaimana mungkin, ia menolak tawaran itu didepan Baruna. Ia pasti akan dipecat dari kantor saat itu juga, oleh Baruna.
Baruna yang terkenal cuek dan tak mau tau, menatap Annara yang sedang tertunduk menangis. Ia lalu merasa iba pada karyawannya tersebut. Entah sejak kapan ia bisa bersikap lembut pada wanita, sampai ia sendiri pun lupa, ada rasa tak tega didalam hatinya.
"Hei, kenapa kamu nangis si. Tolong jangan aneh-aneh disini, mereka pikir aku Uda aneh-aneh sama kamu. Cepet apus air mata kamu nih." cecar Baruna dengan menyodorkan kotak tisu.
"Maafin saya pak, saya cuma teringat dengan ibu saya." sahut Annara.
"Lagi pula, saya juga nggak maksa kamu kok. Kamu nggak perlu takut untuk jawab atau menolak. Kamu punya hak." tegas Baruna.
"Tapi bapak sudah begitu banyak membantu saya dan ibu saya." ucap Annara sedih.
"Manusia itu saling ngebantu kan, jadi Uda kewajiban saya juga nolong kamu dan ngebantu kamu selama saya masih bisa." ujar Baruna sambil menyeruput kopinya.
"Tolong kasih saya waktu buat berfikir ya pak." jawab Annara lirih.
"Baik, pikirkan dengan baik. Satu hal, jangan pernah merasa takut dengan saya." ucap Baruna.
Hari sudah terlihat gelap, nampak kilat petir yang menyala di langit malam itu. Suara deru angin dan hujan yang begitu keras, membuat semua orang tampak mencari tempat untuk berteduh didepan cafe.
Annara yang saat itu sudah dalam keadaan basah, ia pun menutupi rambutnya dengas tas miliknya. Saat hendak memacu mobilnya, tidak sengaja Baruna menoleh ke arah Annara. Dengan segera ia turun dari mobil itu dan berlari ke arah Annara.
Dengan sigap ia bentangkan jaket miliknya ke atas kepala mereka berdua. Annara yang saat itu, hanya patuh dengan ajakan Baruna berlalu memasuki mobil.
"Kenapa gak bilang saya aja, kalau kamu mau nebeng pulang. Malah hujan-hujanan nggak jelas disana." gerutu Baruna.
Annara yang nampak kedinginan karena baju yang ia kenakan basah, tanpa sadar ia pun memakai jaket milik bosnya tersebut.
__ADS_1
"Maaf pak, apa boleh ac nya saya kecilkan." pinta Annara yang kedinginan.
"Iya gak papa." sahut Baruna.
Dengan cepat Annara mengecilkan ac tersebut, dengan menggigil kedinginan ia lalu menutupj tubuhnya dengan jaket milik Baruna. Di tengah perjalanan, ia nampak tertidur. Sesekali Baruna menoleh ke arah gadis tersebut.
Didalam hatinya, ia melihat sosok Annara adalah gadis yang tangguh. Ia lakukan apapun demi ibunya, entah rasa bahagia apa yang tengah ia rasakan saat ini. Tersenyum tipis saat memandangi wajah Annara yang tertidur pulas disampingnya.
Setibanya mereka di rumah, dengan sigap Baruna membuka pintu mobil dan membangunkan Annara. Dengan muka yang lesu Annara terbangun dari tidurnya, berjalan menuju pintu rumah dan melambaikan tangan pada Baruna.
Mata yang terasa begitu berat karena menahan kantuk tak dapat ia sembunyikan lagi. Dengan memasuki rumah, ia lalu membuka pintu kamarnya perlahan dan bergegas tidur. Tak lama kemudian, ponsel Annara bergetar. Nyala ponselnya itu membuat mata Annara begitu terang, dan memaksa ia untuk terbangun. Sebuah pesan dari Barun yang muncul dilayar ponsel Annara.
isi pesan Baruna.
Mandi dulu sebelum kamu tidur,
tadi kehujanan kan, baju kamu juga basah. biar gak demam kamunya.
abis gitu bikin minuman hangat dulu, baru boleh tidur.
Seakan tak percaya dengan apa yang ia baca barusan, ia lalu mengusap ke dua matanya dengan cepat. Untuk memastikan betul adanya, pesan itu dari Baruna. Sempat terpikir oleh Annara, bahwa Baruna salah mengirimkan pesan padanya. Ia pun membalas pesan itu dengan singkat.
Pesan Annara.
Maaf pak, salah kirim pesan ya. Lebih baik, bapak istirahat dulu. Karena Uda malam.
Sontak pesan Annara tersebut membuat Baruna kesal dan menggerutu dalam hati.
Ada yang salah kayaknya sama aku ,
atau gadis itu yang gak peka?
atau mungkin ini hanya halusinasi aku aja .
Kenapa akhir-akhir ini aku selalu mikirin gadis itu sih?.
__ADS_1
Gumam Baruna.
Annara yang kala itu tengah membersihkan tubuhnya,
lalu segera pergi ke dapur untuk membuat minuman hangat. Sambil menyandarkan tubuhnya disofa, ia membayangkan semua kata-kata Baruna dalam pesan singkat tadi. Tidak tersadar olehnya, semua perintah Baruna ia lakukan begitu saja.
Jam menunjukkan pukul dua belas malam itu, Annara yang sudah tidak tahan menahan kantuk dimatanya kembali beranjak masuk ke dalam kamar. Dengan sigap mematikan lampu kamar tidur, ia pun berharap hari esok akan baik-baik saja. Dan mampu ia lewati dengan baik seperti biasa.
❤️❤️❤️
happy reading guys
makasih yang sudah mau mampir kesini.
mohon krisanya yah
jangan lupa like dan komen sebanyak-banyaknya
ditunggu yah ...🤗❤️🙏
...----------------...
Sekalian mampir kesini yuk, ini salah satu karya terbaik juga!!❤️❤️
**1. APA SALAHKU TUAN?
(Muda Anna)
Ningtiyas Paramitha adalah gadis 18 tahun baru lulus SMK jurusan tata busana. Dia harus menerima takdir dinikahkan siri dengan paksa oleh ayahnya dengan lelaki dewasa berumur 30 tahun dan telah memiliki istri bernama Alfarizi Zulkarnain. Kontrak nikah selama lima bulan, tetapi Neng selalu mengalami kekerasan baik lahir maupun batin. Perlakuan suami sirinya selalu melampiaskan kekesalannya akibat kesalahan istri sahnya.
Setelah empat bulan berlalu Al meninggalkan Neng begitu saja, tanpa disadari Al meninggalakan benih janin di kandungan Neng. Akhirnya Neng meninggalkan desanya yang selama ini menjadi kebanggaannya, pergi ke Jakarta untuk merubah nasib dan menyongsong masa depan yang lebih baik bersama janin yang dalam kandungan.
Sayangnya takdir mempertemukan mereka kembali setelah delapan tahun berlalu. Dengan situasi yang berbeda, apakah mereka akan bersatu kembali setelah Al mengetahui memiliki keturunan. Apakah Neng menerima cinta Al**?
__ADS_1