Lelakiku

Lelakiku
Bertahanlah demi aku


__ADS_3

"Apa saya tidak bisa masuk untuk melihat anak saya sus?." tanya ibu Lukman.


"Boleh bu, silahkan. Tapi saya mohon jangan ajak bapak Lukman untuk banyak berinteraksi dahulu ya." jelas suster.


"Baik sus terimakasih." sahut Annara.


Ceklekk


Suara pintu kamar Lukman dibuka oleh ibunya yang lemas.


Dua wanita yang sangat menyayangi dirinya ini, datang menghampiri Lukman yang tengah tertidur diatas ranjang putih dan beberapa alat bantu yang terpasang ditubuhnya. Air mata mereka tumpah saat memegang tangan Lukman, saat itu Lukman yang hanya bisa diam dan terbaring lemah membuat ibunya sedikit menahan tangis di pipinya. Sesekali ia menyeka air mata yang hendak keluar lagi untuk membasahi ke dua pipinya.


Annara yang berdiri disampingnya itu, mencoba memberi kekuatan dengan merangkul pundak ibu Lukman saat itu. Ia saat itu juga lemah, tapi Annara mencoba untuk kuat dihadapan ibu Lukman. Karena ibunya tak kuasa menahan tangis saat melihat keadaan Lukman, ia lalu hanya mengec*p kening putranya itu dan berlalu keluar dari dalam kamar tersebut.


"Tolong kamu temani Lukman dulu ya, ibu mau keluar sebentar." pinta ibu Lukman, seakan dirinya ingin memberi kesempatan pada Annara untuk bersama putranya. Dan Annara hanya mengangguk patuh.


Annara memegang seluruh tubuh Lukman, air matanya tak terasa menetes pada wajah Lukman saat itu. Dengan perlahan ia tanganya menyusuri setiap alat yang menancap ditubuh Lukman.


Hei, apa semua alat ini membuatmu sakit?. Kenapa kamu tidur aja, cepat bangun lihat aku disini nungguin kamu. Apa kamu tadi dijalan tergesa-gesa, sampai akhirnya membuat kamu seperti ini?, kenapa kamu bandel sekali. Tidak pernah mau memikirkan dirimu sendiri, hidupmu selalu kamu habiskan untuk memikirkan orang lain.


Aku mohon, cepatlah bangun dari tidurmu. Aku , ibu dan adikmu beserta semua temanmu menunggumu disini. Kamu juga harus tanggung jawab kepadaku, kamu sudah membawa seluruh perasaanku bersamamu saat ini. Apa kamu ingin melihat Annara mu ini menangis lagi dan harus merelakan orang yang ia sayangi untuk pergi lagi.


Please bangun, kuat demi aku. Aku sangat mencintai kamu.


Gumam Annara.


Dalam ruangan itu, terlihat sunyi. Hanya suara monitor kecil yang berbunyi untuk menunjukkan kesetabilan kondisi Lukman. Annara hanya bisa memandangi keadaan Lukman dengan lemas saat itu, tanpa mengeluarkan kata-kata.


Tanpa ia sadari, ibu Lukman yang membuka pintu kamar begitu pelan menghampiri dirinya yang tengah tertidur disamping Lukman.


"Ra, bangun nak. Diluar ada teman-teman Lukman yang mau jenguk." ucap ibu Lukman sambil mengusap kepala Annara.


"Maaf ya bu, Ara jadi ketiduran." ucap Annara.


Annara yang segera keluar dari kamar Lukman, menghampiri Abi dan Tyas yang sudah menunggu giliran untuk masuk bertemu Lukman. Terlihat Tyas memberikan peluk*n untuk Annara sebagai tanda support dari mereka.


"Tenang ya Ra, Lukman pasti kuat untuk melalui semua ini." ucap Abi sambil menepuk pundak Annara.


"Terimakasih do'a baiknya ya." sahut Annara lemah.

__ADS_1


Setelah itu, Abi dan Tyas memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamar itu. Mereka berdua seakan tak percaya melihat keadaan Lukman saat itu, mereka pikir tak akan separah ini keadaan Lukman. Karena mereka juga tidak dapat berinteraksi dengan Lukman, mereka memutuskan untuk keluar dari ruangan itu.


"Kamu pasti bisa Man." bisik Abi lirih ditelinga Lukman.


Dengan langkah kaki yang lemah, mereka berdua keluar dari kamar Lukman saat itu.


"Tante, kita berdua pamit dulu ya. Kami yakin Lukman mampu melewati semua ini." ucap Abi yang berpamitan pada ibu Lukman.


"Kami pulang ya Ra. Kabarin kami tentang perkembangan kondisi Lukman." sahut Tyas berpamitan.


Setelah Abi dan Tyas berlalu dari lorong rumah sakit, Annara yang waktu itu tengah memesan sebuah makanan untuk ibu Lukman segera menghampirinya.


"Bu, Ara belikan ini buat ibu dan adek dirumah. Untuk malam ini, biar Ara yang tungguin Lukman ya. Biar besuk Ara ijin dulu dikantor, sekarang ibu pulang kasihan adek sendirian dirumah. Nanti Annara akan kabari kondisi Lukman ke ibu. Annara juga sudah pesenin ibu taxi online diluar, ayo Annara antar ibu ke depan. jelas Annara.


"Terimakasih ya nak, maafkan ibu jadi nyusahin kamu. Ibu titip Lukman ya." ucap ibu Lukman.


"Iya bu, Ara pasti jaga Lukman dengan baik. Pak tolong hati-hati antar ibu saya pulang ya." jelas Annara pada ibu Lukman dan supir taxi online.


"Baik mbak." sahut supir taxi online.


Saat itu, dirinya lalu masuk ke dalam ruangan Lukman. Ia masih belum melihat tanda-tanda Lukman akan segera sadar, tapi ia akan terus menjaga Lukman sepanjang malam. Annara yang tengah duduk disebuah sofa panjang yang tak begitu jauh dengan Lukman, lantas menyalakan ponsel miliknya. Ia segera menghubungi Yasmin agar bisa membantunya untuk ijin kepada pak Baruna besuk pagi.


Yas, tolongin aku ya. Besuk aku ijin nggak bisa masuk kerja dulu, aku lagi dirumah sakit nemenin Lukman. Ia kecelakaan, jadi aku nggak bisa ninggalin Lukman sendirian.


Isi pesan singkat wa Yasmin.


Oke , besuk aku sampaikan ke pak Baruna ya. Kamu yang kuat , Lukman pasti bisa lakuin semua ini dengan baik. Besuk aku kesana.


Saat dirinya mendapati balasan pesan dari Yasmin, ia sedikit lega karena sudah ada yang membantunya untuk ijin pada Baruna. Dirinya lalu menghampiri Lukman diatas ranjang putih itu, "Banyak yang do'ain kamu kuat." sambil lirih ia berucap.


Malam pun mulai larut, waktu itu sekitar pukul dua pagi Annara yang masih terus berjaga disamping Lukman. Saat itu tak terasa ia pun mulai mengantuk dan tertidur disamping Lukman. Dalam tidurnya, ia merasa seperti ada yang memanggil dirinya saat itu. Entah itu siapa, tapi sosok itu jauh dari pandangannya.


Hanya sebuah cahaya terang yang terlihat menutupi wajah orang tersebut. Saat itu, malam telah berganti pagi dan Annara yang belum terbangun dari tidurnya masih tampak tertidur pulas. Dia yang terbangun karena mendapati gerakan tangan dari Lukman, lalu bergegas untuk memanggil perawat saat itu.


Saat dirinya hendak berdiri, suara lirih Lukman terdengar memanggil namanya. Ia pun mengurungkan langkah kakinya yang hendak pergi ke luar.


"Ra ..." panggil Lukman.


"Syukurlah kamu sudah sadar, tunggu ya aku bakal panggilin perawat buat periksa kamu." ucap Annara dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


"Sus, tolong periksa pasien yang bernama Lukman. Ia sudah siuman." ucap Annara, dan terlihat dirinya dengan seorang perawat berlari kecil menuju kamar Lukman.


Pada saat itu, seorang perawat yang tengah memeriksa keadaan Lukman dengan sigap melepas alat bantu pernapasan yang terpasang pada Lukman. Dan memeriksa denyut nadi beserta yang lainnya, setelah semua sudah diperiksa dengan baik. Perawat itu terlihat mengemas semua peralatan yang digunakan untuk memeriksa keadaan Lukman tadi.


...----------------...


Happy reading guys 🤗


semoga masih pada betah disini yah❤️


✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.


✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️


✓ Ditunggu juga kritik dan saran yang membangun buat othor 🌷


----------------


Mampir kesini juga yuk, aku punya rekomendasi novel terbaik buat kalian baca❤️❤️**




ASMARA TURUN RANJANG


(Lichalika)



Wanita mana yang sanggup hidup menjanda saat baru dua hari menikah? Di tinggalkan suami tercinta untuk selama-lamanya, membuat kehidupan Khaira Arandhita, gadis yang biasa dipanggil Aira, menjadi berubah seratus delapan puluh derajat. Ia harus menikah dengan adik iparnya sendiri karena wasiat dari mendiang suaminya.


"Jangan pernah berharap Aku akan menyentuhmu, karena Aku sudah mencintai wanita lain, pernikahan ini ku anggap hanya sebuah kesepakatan, bukan ikatan." ucap Martin kepada Aira di saat malam pengantin mereka.


Martin Nugroho, mantan adik ipar yang kini menjadi suami Aira, yang sudah memiliki kekasih yang di pacarinya sejak dua tahun, Martin memaksa tetap akan menikahi pacarnya meskipun dirinya sudah menikah dengan istri dari kakaknya.


Akankah kehidupan rumah tangga Aira berjalan mulus? Mampukah Aira meluluhkan hati suaminya?


Ikuti kisah romantis mereka ❤️❤️

__ADS_1


Novel pertama author yang bertema religi, mohon dukungannya ya 😊🥰❤️


__ADS_2