Lelakiku

Lelakiku
Ku bawa dia


__ADS_3

Pagi itu, mereka berdua tengah bersiap untuk menuju makam orang tua mereka masing-masing. Lukman dan Annara yang keluar dari dalam kamar, lalu menghampiri ibunya untuk segera berpamitan.


"Bu, Lukman sama Annara pamit dulu sebentar ya. Mau ke makam ayah dan orang tua Annara." jelas Lukman pada ibunya.


"Iya, ayahmu beserta orang tua Annara juga pasti sudah menunggu kedatangan kalian berdua. Kalau sudah selesai, segera pulang ya. Ibu sudah siapkan sarapan pagi buat kita semua." ujar ibu Lukman.


"Iya bu." sahut Lukman sambil menci*m tangannya dan di ikuti oleh Annara dibelakangnya.


Dengan perasaan bangga, akhirnya setelah sekian lama ia menunggu pujaan hatinya ini. Sekarang ia sudah bisa memiliki seutuhnya wanita impianya ini, dengan status nyonya Lukman. Mereka berdua mengendarai motor sambil menghirup udara segar pagi hari itu, suasana yang sejuk dan sedikit sinar matahari menyinari permukaan kulit mereka berdua dengan hangat.


Waktu itu, mereka menuju pada makam ayah Lukman terlebih dahulu. Terlihat sebuah batu nisan bewarna hitam dengan tulisan bewarna keemasan. Sambil mengusap nisan tersebut, Lukman mengucapkan salam lalu berbicara di atas pusara ayahnya tersebut.


"Ayah, coba lihat siapa yang Lukman bawa kemari. Sesuai janji Lukman pada ayah, hari ini sudah terpenuhi. Ini adalah Annara, menantu ayah yang selama ini selalu Lukman ceritakan pada ayah jika Lukman berkunjung kesini. Ia adalah gadis itu, gadis yang selama ini Lukman tunggu siang dan malam. Alhamdulillah sekarang Lukman bisa bersama denganya, meskipun harus melalui banyak sekali lelaki yang mendekat padanya. Jodoh memang nggak akan pernah menjauh ya yah. Kali ini, Lukman kesini untuk meminta restu dari ayah. Meskipun Lukman tau, ayah sudah pasti akan ikut bahagia dan merestui kami disana. Do'akan kami ya, semoga bisa membina keluarga yang baik seperti ayah dan ibu." ujar Lukman diatas pusara sang ayah.


Saat dirinya selesai mengutarakan semua isi perasaannya pada sang ayah, Annara lalu menghampiri dan duduk disebelah Lukman sambil menabur bunga diatas pusara ayah mertuanya itu. Keduanya nampak khusyuk melantunkan do'a saat itu, sampai selesai.


Selanjutnya, mereka berdua berjalan menyusuri sepanjang makam pagi hari itu. Tak begitu terlalu jauh letak makam ke dua orang tua Annara dan ayah Lukman. Berdiri tegak sebuah pohon bunga Kamboja putih yang rindang dengan ditumbuhi oleh bunga yang lebat, terletak dibawah pohon itulah ke dua makam orang tua Annara.


Makam itu terlihat berdampingan, dan memiliki warna batu nisan beserta tulisan yang senada. Memang itu adalah wasiat terakhir ibu Annara kepada putrinya, ia ingin disandingkan dengan makam suaminya saat meninggal. Dan permintaan tersebut dikabulkan oleh Annara saat itu, sudah lama sekali Annara memesan tempat itu secara khusus untuk ibunya kepada sang penjaga makam. Dirinya meminta, agar tidak ada orang yang menempati tanah yang berada disebelah makam ayahnya persis saat itu.


Dan seolah mereka memang ditakdirkan untuk bersanding lagi pada peristirahatan terakhir, tempat itu belum terisi oleh orang lain sampai pada akhirnya ibu Annara menghembuska nafas terakhirnya.

__ADS_1


"Ayah, ibu. Annara datang," sambil mengusap baru nisan terebut dengan lembut.


"Kali ini, Annara datang dengan Lukman bu. Kalau ayah, apa masih ingat dengan sahabat Annara yang satu ini?. Yah, kami telah resmi menikah kemarin. Semoga ayah dan ibu juga merestui kami dari kejauhan. Dan Annara harap, lelaki pilihan Annara kali ini adalah pilihan ayah dan ibu juga disana. Berikan kami restu ya ayah, bu. tanpa restu kalian, belum lengkap kami menjalani bahtera rumah tangga dengan baik. Do'akan kami, supaya kami juga seperti kalian. Hanya maut yang mampu memisahkan kami nanti." jelas Annara sambil menyeka air mata yang hendak menetes, Lukman pun segera duduk dan memberikan dukungan pada istrinya tersebut.


Lukman yang memimpin do'a dihadapan makam ke dua orang tua Annara juga menyampaikan rasa terimakasih yang mendalam pada dua mertuanya itu. Karena mereka sudah merawat istrinya sedari kecil dengan baik, hingga tumbuh menjadi wanita yang tangguh seperti sekarang ini.


"Kami pamit dulu ya bu, ayah. Yang tenang dan berbahagialah di surga, jangan cemaskan putri kalian lagi. Saya akan menjaganya dengan baik semampu saya." tutur Lukman.


Lalu mereka berdua juga terlihat menabur bunga yang sama seperti dimakan orang tua Lukman tadi. Setelah semuanya selesai, mereka memutuskan untuk segera kembali pulang ke rumah. Karena dirumah ibu Lukman sudah menunggu kepulangan mereka. Ditengah perjalanan saat mereka hendak menuju ke area tempat parkir motor, Annara menyampaikan sesuatu pada suaminya itu.


"Mas, maaf ya aku mau tanyakan ini ke kamu. Tapi aku mohon jangan salah paham dengan apa yang akan aku ucapkan ini ya." jelas Annara.


"Aku maunya, rumah peninggalan orang tua aku nggak akan aku jual. Pengenya kita akan tempati rumah itu, jika kamu tidak keberatan. Tapi kalau kamu merasa keberatan dengan permintaanku ini, aku nggak papa kok. Aku akan ikut kemanapun kamu pergi." jelas Annara.


"Aku juga sudah memikirkan hal itu sebenarnya, jika kamu nggak keberatan bagaimana kita bahas ini setelah tiba dirumah." tanya Lukman.


"Baiklah." jawabnya singkat, Annara memang sudah mengenal betul siapa suaminya. Ia tidak akan mengambil keputusan dengan gegabah tanpa meminta pendapat dari sang ibu.


Dirinya sangat senang, karena suaminya itu begitu menyayangi sang ibu. Karena, ibunya dulu berpesan jika mencari suami carilah lelaki yang menyayangi ibunya, disitu pasti ia akan menyayangi istrinya dengan baik. Dan kini ia mendapatkan lelaki seperti apa yang ibunya ucapkan saat itu. Hanya bisa terus berharap, lelaki yang sekarang menjadi suaminya ini bisa terus mendampingi dirinya sampai kapanpun.


Setibanya mereka dirumah, terlihat ibu Lukman beserta adiknya menunggu dimeja makan. Mereka berdua nampak sudah siap untuk sarapan pagi saat itu, lalu Lukman dan Annara bergegas menghampiri mereka berdua. Untuk bergabung sarapan pagi bersama.

__ADS_1


"Ra, coba kamu lihat semua makanan ini. Semua ini makanan kesukaan suami kamu. Nanti ibu ajarin buatnya yah, biar nanti kalau ibu nggak ada kamu bisa bikinin semua kesukaan Lukman." tutur ibu pada Annara.


"Baik bu, Annara akan belajar semuanya pada ibu nanti." seru Annara.


"Bu, kami berdua mau ijin untuk ngomongin sesuatu hal pada ibu. Aku dan Annara punya pertimbangan tentang rumah peninggalan ke dua orang tua Annara bu." jelas Lukman.


"Ibu juga mau sampaikan hal itu pada kalian berdua. Termasuk juga kamu Man, sekarang kamu sudah menjadi kepala keluarga bagi Annara. Jadi ibu rasa, kalau kalian berdua bisa tinggal dirumah itu. Rumah itu adalah kenangan buat istri kamu, jadi kamu harus jaga rumah itu dengan baik." tutur ibu kepada putranya.


"Kaakkk, kalau kakak pergi aku sama siapa dirumah ini. Nanti aku sendirian disini, tolong jangan pergi." terdengar suara adik Lukman yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Namanya adalah Chia, usianya sekitar sepuluh tahun.


...----------------...


Happy reading guys 🤗


semoga masih pada betah disini yah❤️


✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.


✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️


✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️

__ADS_1


__ADS_2