
Malaikat kecil itu memiliki mata sama persis dengan dirinya, dan binar matanya mampu menghipnotis pandangan Tomy yang tertuju pada malaikat kecil itu.
Tanganya gemetar saat pertama kali menggendong gadis kecil itu, ia terus memandangi wajahnya tanpa sedikitpun berpaling. Lantunan adzan mulai terdengar memecah keheningan ruangan seketika. Suaranya bergetar saat mengumandangkan adzan kepeda putrinya tersebut.
"Siapa namanya," Tomy bertanya kepada Anya.
"Aku memanggilnya baby N sayang" ucap Anya.
"Bolehkah aku memberikan nama untuknya," suaranya terdengar sedikit tertahan di tenggorokannya.
Anya menyambut dengan penuh suka cita permintaan Tomy tersebut.
"Mulai hari ini nama kamu adalah Namira Queenzah Zahira, dan kamu akan dipanggil Nami sayang" terdengar Tomy mulai menyusun sebuah nama untuk putri kecilnya.
Saat mendengar nama itu, Anya sedikit terkejut mendengarnya. Pasalnya ia juga menginginkan putrinya bernama Nami, entah sebuah kebetulan atau memang semua ini tentang perasaan yang terhubung antara ikatan batin seorang anak dan ayahnya.
Anehnya, bayi kecil tersebut memberikan senyuman kepada Tomy sesaat dirinya diberikan sebuah nama oleh ayahnya.
"Ayah tau, kamu pasti suka dengan nama itu sayang" Tomy yang menjumpai senyum putrinya langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang dengan memberikan sebuah kecupan seorang ayah untuk yang pertama kalinya.
Mama Anya yang menyaksikan momen penuh haru itu, tak dapat lagi menyembunyikan perasaannya yang haru biru dibuatnya. Ia ikut merasakan kebahagiaan yang teramat besar saat ini, baginya memang tidak ada yang terpenting selainkan kebahagiaan putri dan cucunya saat ini.
"Tante, bolehkah saya meminang Anya dalam waktu dekat ini" pinta Tomy untuk segera meresmikan hubungan dirinya dalam sebuah ikatan yang lebih serius.
"Tentu, datanglah ke rumah dan bujuklah papa mu" mama Anya terdengar mengucapkan nama Roni dengan panggilan papa terhadap Tomy.
Secara tidak langsung, ia sudah merestui hubungan mereka saat itu. Anya merasa sangat lega saat mendapati mamanya memberikan restu, karena dirinya sangat yakin bahwa mamanya akan selalu mendukung apapun yang terbaik bagi dirinya.
Anya terlihat memeluk mamanya dengan erat disana, sementara Tomy menggendong Nami. Tanpa ragu lagi, mama Anya pun mencoba meraih tubuh Tomy untuk ia rangkul bersama putrinya. Ia hanya berharap, semoga ini adalah awal yang penuh kebaikan untuk mereka berdua.
"Mulai hari ini, panggil saja saya dengan sebutan mama. Karena saya sudah memberikan restu pada kamu dan Anya. Terlebih lagi kepada cucu saya ini" ujar mama sambil mengusap air mata yang berlinang dipipinya.
"Baik ma" sahut Tomy untuk pertama kalinya memanggil dengan sebutan kata mama.
__ADS_1
Hari itu mereka lalui bersama dirumah sakit, sampai akhirnya pagi datang menyambut mereka kembali.
Mereka memutuskan untuk bergegas menuju kediaman Roni hari ini, mama Anya mendukung penuh langkah Tomy untuk meminta restu kepada suaminya tersebut.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai dirumah hari itu. Dengan perasaan penuh gusar ia mencoba melangkahkan kakinya untuk mengikuti Anya dan mamanya yang terlihat memasuki rumah itu.
Kali ini kejantanannya pun di uji seketika, bagaimana dirinya yang berani berulah harus siap untuk berani mempertanggung jawabkan semua ini dengan baik.
"Pa" sapa mama Anya kepada dirinya yang tengah membaca surat kabar.
"hm," sedikitpun tak bergeming dari duduknya saat itu, ia belum menyadari kehadiran Anya beserta Tomy dan juga cucunya.
"Ada yang mau bicara sama kamu" terlihat mama Anya memulai percakapan.
Dirinya yang mendengar hal itu, dengan segera menurunkan surat kabar tersebut dari hadapannya. Alhasil dirinya pun memandang dengan jelas kehadiran mereka semua kala itu. Wajahnya masih sama dengan hari itu, merah padam seakan semua akan meledak seketika.
Surat kabar itu pun menjadi sasaran kemarahannya saat itu, ia yang begitu kesal mendapati Tomy disana hanya bisa meremas dengan kuat kertas itu.
"Beraninya kamu kesini, dasar lelaki biad*b!" umpat Roni dengan wajahnya yang begitu garang.
"Paaa" Anya terlihat mulai membela Tomy disana, tapi langkahnya sengaja dihentikan mamanya saat itu juga.
Mamanya hanya memberikan isyarat untuk Anya agar kali ini dia tidak ikut campur terlalu jauh. Mamanya sangat ingin jika calon menantunya itu bisa bersikap gentleman dihadapan suaminya. Kali ini ia harus siap menerima segala konsekuensinya sampai akhir.
"Tampar saya lagi om, jika perlu bunuh saja saya. Memang saya pantas mendapatkan semua ini" ujar Tomy menantang kemarahan Roni.
"Aku nggak sudi mengotori tanganku ini dengan membunuhmu" sahut Roni begitu kesal mendengar tantangan itu.
"Kalau begitu, biarkan saya menebus segala dosa saya kali ini kepada putri om" jelas Tomy yang terang-terangan kali ini.
Roni hanya tertawa licik saat mendengar ucapan itu.
"Mau kau beri makan apa anakku ini, mau kau didik seperti apa dia ditanganmu. Belum cukup kau memberikan kehancuran dan malapetaka dalam hidupnya selama ini. Dan kali ini kau datang lagi dalam hidupnya, apa ingin memberikan kematian?" maki Roni tiada henti.
__ADS_1
"Saya akan berubah demi mereka om" Tomy dengan refleks berlutut dihadapan Roni saat itu.
Dengan tangisnya, ia memohon ampun atas dosa dan kesalahannya dimasa lalu. Dan dirinya juga memohon sebuah pengampunan untuk masa depannya kelak bersama putrinya.
Roni hanyalah seorang ayah, mau bagaimanapun Anya tetaplah darah dagingnya. Terlepas dari semua kemarahannya ia hanyalah manusia biasa yang terkadang tak dapat menghentikan egonya dan berpikir jernih. Mendengar semua penyesalan Tomy saat itu, dirinya mulai tersadar saat melihat bayi kecil yang berada digendongan Anya saat ini.
Terdengar tangisan yang begitu kencang dari Nami saat ayahnya habis-habisan dicaci maki oleh kakeknya itu. Seakan menandakan bahwa bayi kecil itupun bisa menerima semua kesalahan Tomy di masa lalu dengan baik.
"Bangun!" nadanya terdengar masih tinggi disana.
Tomy pun menuruti permintaannya itu.
"Saya maafkan kamu untuk kali ini, tapi ingat ini adalah akhir dari saya memberikan kamu kesempatan. Jika di lain waktu saya mendapati kamu melakukan sebuah kesalahan sedikit saja, saya tidak akan pernah segan memisahkan dirimu selama-lamanya dengan anak saya berserta putri kamu" peringatan keras Roni terhadap Tomy.
"Saya mengerti om" sahut Tomy mengiyakan segala persyaratan tersebut.
Setelah pertikaian itu berakhir, Roni pun mulai mendekati cucunya yang masih saja menangis tiada henti disana. Ia yang melihat Anya beserta istrinya tengah kesusahan menenangkan Nami, dengan segera mengambil bayi kecil itu dari tangan Anya.
Saat tubuh bayi itu berpindah ditangan Roni, seketika tangisnya terhenti.
"Hai sayang, ternyata kamu mau digendong sama opah ya" sapanya lembut kepada cucunya.
...----------------...
Happy reading guys 🤗
semoga masih pada betah disini yah❤️
✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.
✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️
✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️
__ADS_1