Lelakiku

Lelakiku
Bonchap 2 : Pernikahan Baruna


__ADS_3

Setelah sekian lama terpuruk dalam rasa cintanya kepada Annara, kini ia mulai menyusun kembali serpihan hati yang tercerai berai itu. Hari demi hari, ia sibukkan dengan hal yang membuatnya lupa untuk memikirkan gadis pujaannya itu.


Sampai suatu seketika, ia pun dengan tidak sengaja bertemu Anya disebuah mall sedang mengajak putrinya Nami. Keduanya terlihat sangat menikmati wahana permainan disana, Anya memang sengaja mengajak putri kecilnya itu untuk sekedar jalan-jalan dan menghabiskan waktu luang bersama.


Tiba-tiba dengan tidak sengaja Anya menjatuhkan sebuah roti kelantai dan buttercream dari roti tersebut mengotori lantai mall. Ia yang selalu mendapatkan ajaran kedisiplinan dari orang tuanya dengan cepat mengambil sebuah tisu dari dalam tas dan mengutip sisa-sisa roti tersebut dan membuangnya ke sampah.


Anya yang tengah sibuk membersihkan cream yang menempel dilantai mall itu tidak sadar jika stroller Nami terlepas dari pengawasannya. Karena mereka berada disebuah area mall dengan jalan yang sedikit menanjak saat itu, dengan cepat stroller itu menggelinding meninggalkan dirinya disana.


"Ah, Namiiiii" teriaknya.


Tangannya tak mampu lagi menjangkau stroller tersebut, tapi ia tetap berlari mengikuti arah stroller Nami meluncur.


Dakkkhhh


Stroller itu ditangkap oleh seorang pria yang sedari tadi sudah mengawasinya sejak lama. Akhirnya Nami pun dapat terselamatkan dengan baik tanpa luka sedikitpun. Pria tersebut lalu mengambil Nami dalam stroller sambil menggendongnya, ia sangat tersentuh ketika melihat bayi kecil itu menangis ketakutan.


"Hai sayang, diem ya cup" ujarnya sambil mengayun tubuh Nami.


"Hahhhh, syukurlah" sahut Anya sambil mengatur nafas yang sudah terengah-engah dihadapan pria tersebut.


Karena pria itu mendapati suara seorang perempuan dibalik punggung datarnya dan ia sangat yakin itu adalah ibu dari si bayi tersebut dengan cepat berbalik dan memberikan bayi malang itu kepadanya.


"Anda?" sambutnya.


"Kamu?" pungkas Anya.


Keduanya sungguh tak percaya jika harus dipertemukan lagi dalam keadaan seperti ini, yah sudah lama sekali keduanya tidak berjumpa lagi semenjak kejadian dirumah sakit waktu itu. Anya yang tahu betul tentang dirinya dari mantan suami beserta papanya, dengan penuh kedewasaan ia menyambut hangat Baruna disana.


"Apa kabar?" ujarnya sambil mengulurkan tangannya.


"Baik," jawab Baruna.


"Sebagai rasa terimakasih saya kepada anda, boleh tidak jika saya traktir minum disana," tawar Anya.


"Tentu," sambut Baruna dengan begitu baik.


Meski keduanya mengetahui hubungan masa lalunya begitu tidak menyenangkan, tapi mereka masih terlihat mau untuk saling berdamai dengan semua kenyataan ini tanpa ragu.


"Gimana suami anda?," ia mulai membuka sebuah percakapan.


"Kami sudah lama berpisah." sahut Anya dengan nada sedikit cepat.


"Oh, pasti karena perempuan!" pungkasnya sambil terus mengaduk kopi digelas miliknya.


Dengan tatapan sorot mata yang penuh tanya, Anya pun mencoba menyelidiki lebih dalam lagi.


"Jangan begitu, saya cukup mengenal suami anda. Saya tahu semuanya tentang dirinya saat dulu masih bersama Annara. Meskipun saya terkesan dingin dan cuek, bukan berarti saya bukan pengamat yang handal. Saya cukup baik dalam hal mengamati" seloroh Baruna.

__ADS_1


"Yah, saya bisa lihat itu. Bahkan anda dengan baik dan mudah dapat menebak kemana arah pembicaraan saya kali ini," tuturnya.


Setelah sekian lama keduanya terdiam dan menikmati segelas minuman miliknya masing-masing, Anya pun melayangkan sebuah pertanyaan yang begitu pelik selama setahun belakangan ini bagi Baruna.


"Lalu anda sendiri kapan akan menikah,?" tanya Anya yang tengah sibuk membukakan sebuah biskuit untuk Nami putrinya.


Baruna yang sedari tadi memegang gelas minuman dan memandangi dirinya, lalu menurunkan gelas kopi itu dan tertawa kecil.


"Saya?, dengan hal itu?. Sangat tidak mudah ditebak rasanya." lelaki itu terlihat semakin pesimis.


"Anda bisa, jika mampu melupakan dan mengikhlaskan semua rasa di masa lalu itu dengan baik. Jika kita menutup, maka kita pasti akan siap membuka lembaran berikutnya bukan?" ujar Anya.


Tak terasa kebersamaan mereka kali ini membuat perasaan Baruna semakin tak menentu dan nyaman pada wanita yang sedang berada dihadapannya saat ini.


"Baiklah, saya tidak bisa menemani anda berlama-lama disini untuk kali ini. Semoga di lain waktu kita bisa bertemu kembali" tutur Baruna sambil memberikan sebuah kartu nama. Ia seperti mencari sebuah alasan untuk menghindar dari jerat pertanyaan yang dilayangkan oleh Anya.


"Baiklah, akan saya simpan nomor anda dan terimakasih sebelumnya karena sudah menolong putri saya hari ini" ucap Anya memberikan salam perpisahan.


Keduanya pun berpisah di mall tersebut, sementara Anya masih sibuk dengan putri kecilnya yang sudah mulai lincah saat ini.


Bulan demi bulan pun berlalu, Baruna yang menjalani aktifitas seperti biasa rupanya juga tengah menunggu sebuah pesan dari Anya saat itu.


Sementara Anya juga masih sibuk dengan dunia keibuannya dirumah.


"Bibiii, kemarin waktu nyuci celana saya nemuin kartu nama nggak ya?" tanya Anya pada salah seorang asisten rumah tangganya.


"Ah, syukurlah. makasih ya bik" ucapnya lega.


Sambil berjalan ke kamar, ia pun menepati janji yang sempat terucap dari bibirnya saat itu. Dengan cepat jadi lentiknya itu mengetik setiap angka yang tertera dikartu nama tersebut.


🖤


2 minggu berlalu, Anya pun hanya menyimpan nomor Baruna tanpa menghubunginya kembali.


Sampai suatu ketika, Baruna tidak sengaja bertemu kembali di sebuah supermarket yang berletak tak jauh dari kantornya. Kali ini, Anya tengah berbelanja disana sambil mengenakan pakaian kantor lengkap. Hari ini, dirinya diminta oleh Roni untuk menggantikan posisinya disebuah meeting bulanan bersama seluruh karyawan.


Baruna mencoba mendekatinya dadi belakang, karena ia yakin wanita itu adalah Anya.


"Anya," sapanya lembut.


"Hei, sedang apa disini?" sambut Anya penuh kesopanan.


Sambil mengangkat satu tanganya, ia mencoba memberitahukan kepada Anya bahwa dirinya sedang membeli beberapa camilang ringan disana.


"Ohh, jadi masih suka nyemil snack juga yah. Kita satu frekuensi loh" ujar Anya tengah menggodanya.


Meskipun candaan itu terkesan terdengar sangat receh, tapi sangat ampuh dan mujarab untuk mengundang tawa Baruna. Sudah lama rasanya ia tak merasakan hal ini, tertawa lepas dan bersenda gurau. Semenjak Annara menjadi milik pria lain, ia hanya sibuk membalut luka itu tanpa menutupnya rapat.

__ADS_1


Dari situlah, akhirnya mereka berdua seringkali menjalin komunikasi melalui sebuah pesan singkat ataupun telepon. Anya pun selalu mengajak Nami putrinya jika sedang bertelepon ataupun melakukan panggilan video call bersama Baruna.


Pada dasarnya, Baruna sangat menyukai anak kecil. Jadi tak butuh waktu lama baginya untuk mendapatkan simpati Nami, putri kecil Anya itupun sangat merasa nyaman dengan sosok Baruna dalam hidupnya. Bak seorang ayah, ia juga sangat telaten jika sedang bersama Nami.


Mereka bertiga sering menghabiskan waktu bersama, meski sekedar hanya jalan-jalan santai.


Anya yang melihat kedekatan diantara mereka cukup mesra ikut bahagia karena putrinya saat ini bisa merasakan sosok papa dalam diri Baruna. Meski keduanya belum memiliki ikatan yang pasti saat ini.


Musim demi musim pun berganti, dan Baruna akhirnya mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Ini belum pernah ia lakukan, dan sama sekali tak pernah terjadi dalam hidupnya.


Dia yang sudah memiliki tekad bulat dan keberanian seutuhnya akhirnya pergi ke rumah Anya untuk menyampaikan semua isi hatinya. Karena dia sangat yakin, ia adalah perempuan terakhir selama penantian hidupnya.


Bukan tidak mungkin, jika Tuhan mengirimkan Anya dan Nami dalam hidupnya secara kebetulan. Semua pasti telah dirancang begitu indah dan sempurna.


Ting tong Ting tong


Bel rumah Anya ditekan beberapa kali olehnya. Baruna yang setengah gugup diujung pintu, sudah berdiri tegak bak seorang pangeran yang tengah siap menjemput sang putri.


"Iyah," suara Roni membukakan pintu rumahnya.


Seketika semangat Baruna mulai kendur dan kikuk saat menjumpai calon ayah mertuanya itu. Dan salah satu kompetitor diperusahaan miliknya dahulu kala. Tapi semenjak Roni sudah mendengarkan semua cerita dadi putri dan beserta istrinya, kali ini dirinya sangat yakin jika lelaki yang berdiri dihadapannya sekarang adalah sosok lelaki yang baik untuk putri beserta cucunya.


"Baruna, silahkan masuk ayo" sambutnya hangat.


Roni pun berupaya menghilangkan rasa canggung Baruna disana dan mencoba membantunya untuk mencairkan suasana. Kali ini, Roni harus menyabut pria itu sebagai seorang calon menantu. Bukan lagi sebagai rekan bisnis.


"Ma, cepat panggilkan Anya kemari" tutur Roni pada istrinya yang sudah berdiri didepan pintu kamar putrinya.


Anya pun berjalan dengan tersipu malu ke arah papa dan juga Baruna. Bagaikan seorang gadis yang baru saja menerima pinangan dari kekasihnya ia pun terlihat salah tingkah tak karuan.


"Sebelumnya, saya mau menjelaskan kepada tante dan om tentang maksud kedatangan saya kemari. Maaf jika terkesan mendadak semuanya, tapi karena saya berpikir jika suatu hal baik memang seharusnya segera dipercepat. Jadi, saya ingin meminang Anya sebagai istri saya om tante" tutur Baruna dengan tegas dan lugas.


Senyum merekah sempurna jelas tergambar diwajah keduanya, Anya pun sangat bahagia mendengar hal ini. Ini adalah hal yang paling ditunggu-tunggu olehnya semenjak kedekatan dirinya dengan Baruna.


"Kami setuju" ucap Roni mewakili istrinya tanpa ragu.


❤️❤️❤️


Beberapa hari kemudian, setelah Baruna resmi melamar wanita pujaannya itu dihadapan kedua orang tuanya, mereka pun melangsungkan pernikahan disebuah gedung mewah.


Acaranya begitu meriah dan dekor digedung itupun terlihat megah, keduanya yang sudah melangsungkan ijab kabul berjalan menuju ke pelaminan dengan perlahan. Baruna terlihat gagah dengan mengenakan setelan jas berwarna hitam, dan Anya terlihat sangat cantik mengenakan gaun putih yang simpel dan elegan.


Semua tamu undangan turut menyaksikan kebahagiaan dua insan ini, semua orang yang mengenal mereka pun hadir menyaksikan disana. Termasuk Tomy, mantan suami Anya. dirinya juga ikut menjadi bagian dari saksi perjalanan cinta mereka.


Keduanya pun hidup bahagia bersama selamanya ❤️❤️


__ADS_1


__ADS_2