Lelakiku

Lelakiku
Promo novel : Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku


__ADS_3

Hallooo, semoga masih pada betah disini buat ikutin karya remahan author yah🙏☺️. Kali ini author bakal bawain sebuah karya yang menjurus ke konflik rumah tangga yang begitu pelik didalamnya.


Konflik ini terpicu oleh orang-orang terdekat mereka sendiri nantinya. yuk lah cus, ke critanya disebelah ❤️❤️❤️


**Cuplikan Bab :


Gubraakkk


Tubuh Pricilia menabrak salah seorang pelayan cafe disana. Karena ia berjalan sambil berlari dan tak melihat ke arah depan, ia pun akhirnya tak bisa melihat dengan jelas siapa yang tengah berjalan didepanya.


"Maafkan saya ya mbak, aduh nanti biar saya ganti minuman ini" ucap Pricilia yang merasa bersalah kepada pelayan tersebut dan mencoba bertanggung jawab.


"Saya juga minta maaf mbak, karena saya baju mbaknya jadi basah begitu" pelayan tersebut mengulurkan beberapa lembar tisu.


Pricilla dengan segera mengambil tisu tersebut dan mencoba mengeringkan kemejanya yang sudah basah akibat tumpahan air. Ia pun mengajak pelayan tersebut berjalan bersama dirinya untuk menuju kasir. Dan sesuai janjinya, Pricilia menepati ucapanya saat itu. Ia sudah membayar minuman yang telah dirinya tumpahkan.


Karena Pricilia juga seorang karyawan, dirinya juga bisa memposisikan jika ia berada diposisi karyawan cafe tersebut. Maka dengan sebaik mungkin, ia tetap memanusiakan orang.


"Pricil, kenapa basah begitu kemeja kamu" tanya Juna yang tengah memandangi baju Pricilia yang sudah sangat basah bagia depanya.


Waktu itu, ia mengenakan kemeja bewarna cream. Benar saja akibat tumpahan air tersebut membuat bajunya sedikit menerawang. Terlihat juga dalam*n Pricilia yang berwarna pink dari balik kemeja tersebut. Saat itupun Juna tidak sengaja melihat hal itu dihadapannya, yah lelaki mana yang akan melewatkan hal tersebut jika tersuguh dengan jelas di kedua matanya.


"Ikuti saya," dengan cepat menarik tangan Pricilia.


Pricilla hanya patuh pada ucapan Juna saat itu, mereka tengah memasuki mobil Juna. Saat berada didalam mobil, Juna berusaha meraih tisu yang berada dikotak mobilnya. Entah apa yang terbesit dibenaknya, ia pun dengan santai mengambil beberapa tisu dan mengusap pelan ke arah kemeja Pricilia yang setengah basa itu.


Tubuh Pricilia tiba-tiba tersentak karena kaget mendapati Juna yang sudah sedikit lebih dekat dengan wajahnya. Ia menahan nafas dalam-dalam saat mendapati hal itu, matanya tak berkedip sedikitpun ketika wajah Juna hanya berjarak beberapa centi dari dirinya.


Degup jantung yang begitu kencang tak mampu ia sembunyikan disana. Deru nafasnya pun mulai terdengar sayup ditelinga Juna.


"Kamu baik?" ucap Juna yang masih saja berupaya mengeringkan kemeja Pricilia. lantas Pricil yang mendengar ucapan itu hanya mengangguk.


Terlihat ke dua tangan Pricil mencengkeram erat rok miliknya, seakan menyembunyikan rasa takut dan khawatir dengan keadaan tersebut.


Tanpa sengaja, tangan Juna pun menyentuh gunung milik Pricil saat itu.

__ADS_1


"akh" desah Pricil singkat sambil mengguncang tubuhnya.


"Maafkan saya ya, tidak sengaja" sahut Juna yang segera menutupi kekhilafan itu.


"Nggak papa pak" timpal Pricilia segera, karena ia tak ingin jika sampai bos nya tersebut sampai merasa tidak enak kepadanya.


Selepas kejadian itu, Juna pun menyudahi niat baiknya. Mereka pun terdiam didalam mobil, sementara Pricilia hanya mematung kaku dan menahan malu diwajahnya. Ia seperti bingung hendak mencairkan suasana seperti apa saat itu, hanya bisa diam dan tertunduk.


Sementara Juna, pikirannya sudah melayang jauh untuk membayangkan hal yang sepatutnya tak perlu dibayangkan. Mau bagaimana lagi, sudah lama hasratnya itu tak tersalurkan dengan baik. Semenjak pertengkarannya dengan Citra ia sudah tak pernah mendapatkan perlakuan manis dari seorang istri.


"Pp-pak," ujar Pricilia yang setengah ragu.


Dengan tatap mata yang lemah, Juna menoleh ke arahnya sambil mengangkat satu alisnya.


"Iya" sahutnya singkat.


"Tadi bapak ngajak ketemu saya disini ada apa ya?" tanya Pricilia yang mencoba memecah keheningan di antara mereka.


Juna terlihat tengah berpikir sebelum menjawab pertanyaan dari Pricilia.


"Baik pak, kemana?" Pricil menyambut baik ajakan itu, baginya ia hanyalah sebatas karyawan yang harus patuh terhadap perintah bos nya.


Tidak disangka Pricil mengiyakan permintaan Juna, tanpa buang-buang waktu terlalu lama dirinya membawa laju mobilnya ke sebuah hotel bintang lima.


Pricilla yang masih bisa mengendalikan pikiranya, ia masih terlihat santai saat diajak turun dari mobil. Dalam hatinya, ia akan diajak untuk menjumpai customer disana dan meeting bersama.


Langkah kakinya mengikuti kemanapun Juna pergi, sampai pada saatnya ia menyadari bahwa Juna telah memesan sebuah kamar untuk mereka berdua.


"Mari saya antarkan ke atas pak" suara pegawai hotel dengan paras cantik sambil mengenakan seragam hotel yang cukup ketat, mengantarkan mereka berdua untuk menuju kamar.


Sambil berjalan, mata Pricilia terus di buat takjub dengan design interior hotel tersebut. Ia tidak pernah masuk ke dalam hotel semewah itu.


Tiit ... Tiit


Pintu kamar sudah terlihat terbuka saat itu.

__ADS_1


"Silahkan pak, bu. Selamat menikmati" pegawai hotel tersebut mempersilahkan masuk mereka berdua.


Pricilla terlihat cengang di ujung pintu.


Hah?, hanya kami berdua. Mana yang lain, kenapa didalam sana terlihat sepi. Apa maksud dari semua ini. kepolosan Pricilia yang bertanya pada hatinya.


"Ayo masuk, bukanya kamu tadi sudah setuju" ucap Juna mengingatkan kembali ucapan Pricilia. Hanya mengangguk dan berlalu ke dalam kamar dirinya.


Cetek ... cetek ...


Terlihat lampu kamar tersebut seketika padam, yah rupanya Juna sudah dikuasai oleh hasratnya yang menggelora. Seakan tak sabar, dirinya lalu menuju arah Pricilia yang tengah duduk di ujung ranjang.


Ini adalah kali pertama Pricilia mendapati momen seperti ini dengan seorang pria, pasalnya ia pun tak memiliki teman dekat. Dan ini adalah bentuk perintah dari bosnya, ia tak bisa berkelit lebih banyak saat ini.


"Mari," Juna terlihat menarik lembut tangan Pricil, tubuh Pricilia seketika dingin seperti es. Ia hanya berjalan patuh ke arah Juna.


"Pp-pak," ucapnya terbata.


"Saya janji akan memperlakukan kamu selembut mungkin malam ini" jawab Juna sambil menutup bibir Pricilia.


Matanya terlihat bulat sempurna saat mendengar perkataan Juna, terkejut dan takut bercampur menjadi satu dihatinya.


Dengan lembut ia pun menidurkan tubuh Pricilia diatas sebuah bantal, mereka saling beradu diatas ranjang tersebut. Pricilia yang tak begitu punya pengalaman disana, dibimbing Juna dengan baik mengikuti alur permainannya.


Kaki mereka terlihat saling bertaut satu sama lain, hingga akhirnya Juna menguasai tempo permainan itu dengan lihai. Pricillia di buat tak berkutik dengan perlakuan Juna disana, ia hanya bisa pasrah mendapati dirinya sudah dikuasai oleh bos nya sendiri.


Srrr ...


Ke duanya kini berada dipuncak *******, dan tak butuh waktu lama sebuah cairan juga keluar membasahi da*a Pricilia disana.


"Maafkan saya karena terlanjur mencintai kamu, terimakasih untuk malam yang begitu indah ini" suara Juna melemah sambil mengec*p kening Pricilia yang sudah terengah-engah disampingnya.


Ia terkejut mendengar ucapan Juna disana, baginya itu hanyalah ucapan yang dibuat-buat oleh atasannya tersebut**.


...--------------...

__ADS_1



__ADS_2