Lelakiku

Lelakiku
Mungkin dia yang terbaik


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal kontrol bagi ibu Annara, pagi itu mereka segera naik ke dalam mobil menuju rumah sakit. Waktu itu, Rehan sudah terlihat menunggu kedatangan mereka diruanganya.


Tersenyum ia, saat melihat Annara membuka pintu ruangannya dan berjalan menghampirinya. Perasaan macam apa ini, ia merasakan begitu bahagia saat menatap Annara. Perasaan yang seharusnya tidak pernah terjadi oleh seorang dokter dan pasien.


Dengan menggelengkan kepalanya, ia mencoba tersadar dari pikiran yang menjebaknya dalam situasi yang rumit.


"Pagi dok ..." sapa ibu Anya pada Rehan.


"Selamat pagi ... mari silahkan duduk." ucap Rehan penuh sopan sambil tersenyum manis.


"Jadwal kontrol saya hari ini, tolong jangan banyak-banyak ya resep obatnya dok. Saya Uda nggak mau makan obat begitu banyak." pinta ibu Annara dengan muka lesu.


"Bu ... gak boleh gitu. Nurut aja sama apa yang diberikan sama dokternya ya." jelas Annara yang tengah duduk disamping ibunya.


Dengan tubuh yang di papah oleh Annara, Meraka berjalan menuju tempat tidur. Tubuh putri saat itu dibaringkan oleh seorang suster, dan Rehan bergegas untuk memeriksanya dengan baik. Setelah semua selesai, Putri berjalan menghampiri Annara yang tengah menunggunya sambil berdiri.


Dengan muka yang cemas ia menuntun ibunya perlahan untuk kembali duduk.


"Gimana dok ibu saya?." tanya Annara pada Rehan.


"Sementara ini cukup baik." tegas Rehan sambil tersenyum saat mendengar Annara memanggilnya dengan sebutan dokter.


"Syukurlah ... " sahut Annara dengan perasaan lega.


"Baiklah, semua resep sudah saya tulis disini. Nanti tolong diambil didepan ya, untuk ibu saya minta tolong ya. Jangan beraktivitas terlalu berat saat ini." cecar Rehan pada ibu Annara.


Mereka berdua berlalu dari ruangan Rehan saat itu. Dengan segera Annara menuju loket pembayaran dan menebus resep obat untuk ibunya. Saat mereka tengah menunggu taxi online, terlihat Rehan berjalan menghampiri mereka.


"Ra ... mau pulang ya?." tanya Rehan pada Annara.


"Eh iya ni dok, eh maaf maksud saya Rehan." jawab Annara dengan bingung.


"Dokter mau kemana?." tanya ibu Annara pada Rehan.


"Kebetulan sekali, saya juga mau keluar. Sekalian bareng sama saya mau?. Searah juga jalannya, dari pada nunggu lama disini. Kasihan ibu berdiri kelamaan nanti." ujar Rehan tengah mencari alasan.


"Silahkan masuk." pinta Rehan sambil membuka pintu belakang mobilnya.


Terdengar suara Putri lirih disamping Annara. Ibunya kala itu meminta Annara supaya duduk didepan untuk menemani Rehan. Mendengar permintaan ibunya, ia hanya mengangguk patuh dan segera membuka pintu mobil bagian depan.


"Eh, duduk didepan ya." tanya Rehan pada Annara yang terlihat malu.

__ADS_1


"Iya, tadi ibu yang minta supaya duduk didepan saja." jelas Annara.


"Maaf ya dok, kami sudah merepotkan." sahut ibu Annara dari bangku kursi belakang.


"Bu, panggil saja saya Rehan. Sama sekali tidak merepotkan, kan saya yang minta. Lagian ini jalannya satu arah dengan rumah kalian." jelas Rehan dengan sopan.


Setibanya di depan rumah Annara. Rehan segera turun dan membukakan pintu mobilnya, tampak Annara dan ibunya turun dari dalam mobil.


Blak ... Tit ...


Suara pintu mobil tertutup.


"Nak Rehan, nggak mampir dulu. Duduk dulu didalam, ibu akan buatin teh untuk kamu." pinta ibu Annara.


"Maafkan saya, mungkin lain kali saya akan main kerumah. Saya sedang buru-buru." jelas Rehan.


"Oh, baiklah. Hati-hati dijalan ya." tegas Ibu Annara.


Annara dan ibunya segera memasuki rumahnya, nampak Lukman sudah menunggu mereka didepan teras rumahnya. Sontak di buat kaget dengan kedatangannya, Annara dan ibunya lalu menyuruh ia untuk masuk.


"Apa Uda dari tadi kamu disitu nak Lukman?." tanya ibu Annara.


"Yuk masuk dulu Man, ngobrol didalam aja biar ibu bisa sambil istirahat." pinta Annara.


"Tante, ini ada bingkisan kecil dari ibu saya. Beliau titip pesan,maaf belum bisa main kesini


." jelas Lukman tersenyum manis.


"Aah, repot sekali ibu kamu. Sampaikan rasa terimakasih Tante ke ibu kamu ya." ucap Ibu Annara.


Lukman hanya mengangguk.


"Diminum dulu tehnya man, maaf ya cuman minum aja." ujar Annara dengan membawa nampan minuman.


"Tadi kita abis kontrol dari rumah sakit, maaf ya kami nggak tau kalau nak Lukman ke rumah. Kebetulan tadi juga di antar pulang dengan dokter rumah sakit itu, karena kami lama menunggu taxi online." jelas cerita ibu Annara pada Lukman.


Seakan tidak mau Lukman salah paham dengan kejadian yang tadi dilihatnya, ibu Annara menceritakan semua dengan baik kepadanya.


"Salah saya juga kok tante, nggak kasih kabar dulu kalau mau kesini tadi." sahut Lukman sambil tersenyum kecil.


Di tengah perbicangan mereka bertiga, nampak ponsel milik Annara menyala. Layar ponsel itu menunjukkan sebuah pesan singkat dari Baruna.

__ADS_1


Hari ini, adalah hari libur. Entah permintaan aneh apa lagi yang akan dipinta bos nya itu padanya kali ini. Dengan muka masam dan mendengus kesal, ia lalu berlalu dari hadapan Lukman dan ibunya.


isi pesan singkat Baruna.


Tolong temui saya dicafe cempaka sekarang , perintah Baruna pada Annara.


Brakkk


Terdengar suara pintu kamar Annara yang ditutup dengan kesal.


"Bu, Annara ijin keluar sebentar ya. Ada perlu bentar aja." jelas Annara dengan menci*m tangan ibunya.


"Bareng sama aku aja Ra, aku sekalian mau pamit." ujar Lukman.


"Nah kebetulan, bareng nak Lukman saja. Biar ibu Ndak khawatir Ra." ucap ibunya.


Annara pun mengiyakan ajakan Lukman tersebut. Keduanya mengenakan helm lalu berangkat menuju cafe tersebut. Setibanya disana, nampak sosok pria yang tengah menunggu Anaara sambil meminum kopi miliknya. Hati Lukman bertanya-tanya, itu adalah pria yang dirumah sakit. Dan sekarang ia kembali bertemu dengan Annara, sebenarnya siapa dia? ada hubungan apa dia dengan Annara.


"Eh Man, aku masuk dulu ya. Aku nitip helm, kamu pulang duluan aja. Biar nanti aku naik taxi online aja gak papa." ucap Annara, sontak ucapan Annara tiba-tiba membubarkan lamunan Lukman.


Hanya mengangguk tanpa kata Lukman.


"Pak, maaf sudah menunggu lama disini.Tadi saya baru pulang dari rumah sakit antar ibu saya." jelas Annara.


"Gak papa duduk aja." sahut Baruna dengan cuek.


"Maaf ada apa bapak meminta saya untuk datang kesini? Maslah kantor ya pak?." tanya Annara dengan cepat.


"Bukan, pesan minuman aja dulu. Tunggu biar saya aja yang pesankan buat kamu." terang Baruna.


Sekitar lima belas menit mereka berdua terdiam dan menikmati minumanya masing-masing. Annara baru tersadar, bahwa bosnya itu juga merok*k. Tanpa segan, asap rok*k itu mengepul didepan wajah Annara. Sontak saja ia terbatuk saat asap itu menutupi wajahnya.


Uhuk ... Uhuk ...


Suara batuk Annara.


❤️❤️❤️


"happy reading guys"


terus semangatin aku ya, biar bisa lanjutin ceritanya sampai tuntas🤗

__ADS_1


__ADS_2