
Hal penting apa yang sekiranya membuat Anya begitu cemas saat ini. Tomy hanya bisa diam dan menerka-nerka apa yang akan diucapkan oleh Anya.
"Kamu mau sampaikan apa?, ada hubungannya dengan papa kamu ya?." ucap Tomy penasaran.
"Bukan," sahut Anya.
Dirinya tak bisa mengontrol detak jantungnya saat itu, tangannya pun terasa dingin berada digenggaman Tomy. Rasanya seluruh darah dalam tubuhnya saat itu mengalir lebih cepat dari pada biasanya.
"Coba tenang dulu, tangan kamu dingin banget ini. Tarik nafas dulu, diatur dulu pelan-pelan. Aku disini ada buat kamu." ujar Tomy menenangkan.
Anya yang mendengar ucapan Tomy saat itu, ia merasa lebih tenang dan percaya bahwa Tomy akan selalu ada untuknya.
"Aku ... hamil anak kamu." seru Anya menaikkan tempo bicaranya.
"Hah, kamu seriusan dengan apa yang kamu ucapkan ini?." Tomy mencoba menegaskan kembali apa yang diucapkan oleh Anya.
"Serius," terdengar nadanya pilu.
Flashback Tomy dan Anya malam itu.
*Malam itu, mereka berdua memutuskan untuk melakukan hal yang paling nekat dihidup mereka. Karena hubungan mereka berdua terus ditentang oleh orang tua Anya, akhirnya mereka berdua memilih jalan pintas untuk mengakhiri semuanya.
Demi mendapatkan restu Roni beserta istrinya, Tomy yang saat itu memberikan sebuah tawaran pada Anya. Lantas tanpa berpikir panjang, Anya yang memang begitu sangat mencintai Tomy pun mengambil tawaran itu dengan penuh suka cita.
Ia meyakini, ini adalah jalan terakhir yang dapat mereka lakukan. Tepat dimalam Annara juga mendapat jebakan dari Tomy dan Febrian, dirinya juga melancarkan aksinya pada Anya saat itu. Tanpa pikiran yang berlandaskan sayang ataupun cinta saat itu, ia juga dengan segera membujuk rayu Anya dengan mudahnya.
Gadis polos itu juga masuk perangkap Tomy kala itu, dia sebenarnya bukan gadis yang bodoh. Tapi dirinya hanya mencintai Tomy dengan ketulusan hatinya, malam itu akhirnya mereka pun memutuskan untuk menyatu bersama tanpa ikatan.
Tomy yang tanpa basa-basi saat itu, juga dengan segera membuka seluruh pakaian Anya dan dirinya. Ia benamkan seluruh benda miliknya dalam go*Anya yang sudah terlihat sedikit basah, dengan tempo begitu cepat dirinya juga memacu benda tersebut.
Sampai dimana, tubuh Anya terlihat menggeliat dan sedikit melemah. Terasa hangat sebuah cairan yang keluar dari dalam go* Anya saat itu, dengan bersamaan Tomy pun menanamkan sebuah benih dalam rahim Anya.
__ADS_1
Keduanya terlihat lemas terkulai diatas sebuah tempat tidur hotel saat itu*.
"Jadi malam itu, benih itu beneran ada sekarang diperut kamu?," ujar Surya memandangi perut Anya. Lantas Anya hanya mengangguk memberi jawaban.
Sedikit penyesalan terselip dalam benak Tomy saat itu, tapi dirinya juga bahagia karena mengetahui Anya sedang mengandung anaknya.
Bagaimana mungkin kita bersama, jika jeruji besi ini memisahkan kita. Dan apa masih mungkin kita mendapatkan restu dari ke dua orang tuamu?, semuanya terlihat jauh untuk ku gapai saat ini. Maafkan ayah ya nak, sungguh ayahmu ini memang hanya lelaki yang tak berguna. gumam Tomy sedih meratapi semuanya yang sudah terjadi.
"Kenapa kamu diam?, apa kamu nggak suka dengan kabar ini?." tanya Anya melemah memandangi Tomy.
"Aku senang," jawabnya lirih dan tertunduk lemas.
"Tenang, aku akan berjuang sekuat mungkin untuk bebaskan kamu dari semua hukuman ini. Kamu harus semangat jalani hari-hari demi calon anak kita ini." jelas Anya memberikan semangat pada Tomy.
"Aku mohon, untuk kali ini kamu cukup menjaga dia saja. Biarkan aku disini menebus semua dosa yang pernah aku perbuat selama ini." ujar Tomy sambil mengusap perut Anya.
"Aku bakal selalu jagain dia, seperti aku yang selalu jagain kamu dari kejauhan." ucap Anya meyakinkan.
Setiap hari ia selalu menerima kiriman makanan, buah-buahan beserta vitamin untuknya. Semua kiriman tersebut datang tidak pernah telat untuk dirinya.
Dengan menangis ia pun lalu merengkuh tubuh Anya saat itu, dirinya meyakini semua itu adalah perbuatan Anya. "Terimakasih sayang," ucapnya sambil sesenggukan.
Anya juga terlihat ikut menitihkan air mata, saat mendengar ucapan Tomy. Entah sudah berapa ribu kali cara yang ia gunakan untuk membuka mata hati Tomy, tetapi kali ini dia sungguh mendapatkan perlakuan manis Tomy yang selalu ia dambakan selama ini.
"Maaf pak Tomy, jam besuk sudah usai." terdengar suara polisi jaga yang harus memisahkan mereka lagi saat itu.
Dengan perasaan sedih, Tomy harus meninggalkan Anya saat itu. Mereka harus terpisah kesekian kalinya, tetapi tekad Anya untuk membebaskan Tomy dari penjara tak pernah surut. Ia meyakini, tak lama lagi kekasihnya itu akan segera keluar.
Langkahnya meninggalkan tempat tersebut dengan cepat. Hari ini, ia memutuskan untuk berbicara jujur pada mamanya terlebih dahulu. Apapun yang terjadi, ia siap menghadapinya demi calon buah hatinya bersama Tomy.
Dengan cepat ia segera naik dan berlalu menuju rumah kala itu. Setibanya dirumah, ia yang menjumpai mamanya sedang membaca sebuah majalah bergegas untuk menghampirinya.
__ADS_1
"Ma, bisa minta waktunya sebentar." ucap Anya yang sudah duduk didepan mamanya.
Mamanya yang begitu memahami putrinya tersebut, seakan tahu akan ada hal besar yang ingin putrinya sampaikan.
"Kamu mau ngomongin hal apa?," sahut mama yang segera menutup majalahnya.
"Ma, kali ini Anya mohon sama mama supaya jangan sampai hal ini terdengar oleh papa." pinta Anya sambil memainkan jari-jarinya, yang seakan mengalihkan semua rasa gelisah yang ia rasakan saat itu.
"Cepat kamu ngomong ada apa ini?, Jagan bikin mama berfikiran yang tidak-tidak sama kamu." tegas mama sambil memandangi dirinya.
"Ma, Anya hamil." seru Anya dengan segera.
Air mata mama pun tiba-tiba membasahi ke dua pipinya saat itu. Bagaimana tidak, putri kesayangannya dan putri semata wayangnya itu telah membuat dirinya kecewa dan terluka hari ini. Entah mimpi buruk apa ini, tapi dirinya benar-benar tidak siap untuk semua hal buruk ini.
Ia terus memandangi Anya saat itu tanpa bergeming sedikitpun. Terlihat bibirnya sedikit bergetar menahan tangis yang sudah tak bisa ia bendung lagi didalam sana.
"Maafkan Anya ma, Anya sungguh minta maaf sama mama." ucap Anya yang langsung bersimpuh dikaki mamanya saat itu.
Dengan sedikit kekuatan yang ia miliki, dengan segera ia menarik tubuh putrinya. Ia lalu memeluk tubuh Anya yang bersimpuh dihadapannya saat itu. Entah siapa lagi yang akan mendengarkan keluh kesahnya melainkan dirinya, entah siapa juga yang akan jauh lebih mengerti dirinya dibandingkan seorang ibu.
Mamanya pun memilih untuk berdamai dengan kenyataan yang cukup getir itu, tapi dia sungguh tidak berani sedikitpun membayangkan bagaimana reaksi suaminya jika mengetahui semua ini.
...----------------...
Happy reading guys 🤗
semoga masih pada betah disini yah❤️
✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.
✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️
__ADS_1
✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️