
"Ok, kayaknya saya nggak bisa temenin bapak disini lama-lama. Bapak mau pulang bareng saya, atau masih mau disini?," ujar Yasmin segera.
"Pulang aja, disini gerah." sahut Baruna penuh kesal dengan keadaan saat itu.
Yasmin dan Baruna akhirnya berlalu dari ruangan terebut sambil berpamitan pada Annara beserta orang tua Lukman. Tapi tidak dengan Baruna, dirinya terlihat begitu cuek dengan sekitarnya saat itu.
"Ehem, barusan juga bakal jadi saingan aku kayaknya ni." goda Lukman pada Annara.
"Apaan si mas," sahut Annara menepis dugaan Lukman.
"Apa kamu nggak peka selama ini?, kayaknya bos kamu juga menyimpan perasaan sama kamu. Kita sama-sama lelaki, jadi aku tau banget gimana gesture orang yang lagi suka sama lawan jenisnya." jelas Lukman sambil duduk disamping Annara.
"Aku nggak pernah tau dan nggak pernah mau tau.” jawab Annara ketus dan mulai tidak nyaman dengan topik pembicaraan.
"Hihi, kok kamu yang ngambek si. Harusnya aku yang ngambek dong, istriku ini masih aja ada pengagum rahasianya selain aku." Rayu Lukman mencairkan suasana.
Di sela pembicaraan mereka, terlihat seorang perawat memasuki ruangan terebut. Untuk melepas selang infus yang menancap ditangan Annara.
"Bagaimana keadaannya hari ini bu?," ucap salah seorang perawat.
"Baik sus," sahut Annara lirih.
"Tadi saya dapat perintah dari dokter Rehan, jika memang kondisi ibu dirasa sudah jauh lebih baik. Sore hari ini juga, bisa segera pulang." tutur perawat.
"Alhamdulillah," ucap ibu.
Lukman juga sangat bersyukur istrinya dapat berangsur-angsur membaik dengan begitu cepat. Apa yang ia takutkan selama masa pemulihan Annara, tidak sampai terjadi. Dengan perasaan bahagia, ia membereskan seluruh barang milik istrinya dan akan segera bersiap untuk mengajak keluarganya pulang.
Waktu itu menunjukkan pukul tiga sore, dan pada jam tersebut Lukman sudah memboyong istri beserta ibu dan adiknya untuk pulang. Dengan penuh hati-hati ia membantu Annara untuk segera masuk ke dalam mobil.
Dipertengahan jalan menuju rumah, ponsel Lukman berdering. Terlihat sebuah nomor tak dikenal menghubungi dirinya, dengan segera ia menjawab panggilan telepon tersebut.
"Hallo," suara Lukman.
__ADS_1
"Selamat sore, apa benar ini dengan pak Lukman?," terlihat suara salah seorang lelaki paruh baya.
"Benar pak dengan saya sendiri," jawab Lukman.
"Baiklah, kami dari kepolisian pak Lukman. Mengenai laporan bapak waktu itu, sudah kami proses dan tersangka sudah kami tangkap. Di mohon kehadirannya bapak Lukman untuk memberikan keterangan. Terimakasih," jelas seorang polisi.
"Baik pak, saya akan segera menuju lokasi. Terimakasih," pungkas Lukman.
Tiba-tiba dirinya melayangkan sebuah ci*man kepada Annara yang sedikit penasaran dengan isi percakapan suaminya tersebut.
"Siapa mas, ada apa?. Kamu mau kemana?," cecar Annara yang tengah penasaran.
"Akhirnya, untuk kasus kamu sudah ditemukan pelakunya sayang. Aku diminta datang kesana untuk memberikan keterangan. Ada yang ingin kamu sampaikan sama pelaku itu?, atau sebuah penjelasan yang nanti akan membantu proses penyidikan lebih lanjut," tutur Lukman.
Dengan pandangan lurus ke depan, Annara yang mendengar hal itu hanya berkata "Aku maafkan dia".
Lukman yang setengah terkejut dengan ucapan istrinya itu, hanya bisa terdiam dan terpaku memandangi Annara. Seakan mencoba mengerti apa yang tengah dialami Annara bukanlah hal yang mudah.
Saat dirinya sudah sampai dirumah, ia pun dengan segera menurunkan semua barang dengan cepat. Terlihat ibu yang membantu membopong tubuh Annara untuk berjalan memasuki rumah.
"Baik bu,". sahut Lukman.
Ia dengan cepat menyambar kunci mobil dan segera berlalu meninggalkan rumah menuju kantor polisi saat itu. Dirinya sungguh tak sabar melihat wajah pelaku tersebut, dan ingin menyudahi semua penderitaan istrinya saat ini.
Dirinya telah sampai dikantor polisi saat itu, dengan menuruni mobil langkah kaki dan tanganya sedikit gemetar dan mengeluarkan keringat. Kali ini, dirinya tengah diselimuti oleh rasa amarah yang begitu luar biasa. Dan segera ingin mendapati wajah tersangka tersebut.
"Permisi pak," ucap Lukman menyapa seorang polisi jaga saat itu.
"Oh, pak Lukman. Mari silahkan duduk, akan saya panggilkan saudara FN terlebih dahulu." ucap polisi tersebut.
Lukman yang mendengar inisial nama tersebut awalnya hanya biasa saja, ia tidak pernah terfikir untuk membayangkan siapa pelaku tersebut. Sampai pada akhirnya, seorang polisi membawa sosok lelaki yang sudah memakai baju tahanan lengkap dengan tangan yang di borgol saat itu. Bagaikan tersambar petir Lukman melihat wajah pelaku tersebut, ia yang tak percaya dengan wajah pelaku tersebut mencoba untuk mengkonfirmasi sekali lagi pada petugas.
"Apa benar dia pelakunya pak?, apa bapak tidak salah tangkap," ujar Lukman memastikan.
__ADS_1
"Tidak pak, tersangka kami tangkap beserta barang bukti. Dan dia sudah mengakui perbuatannya pada kami," ucap petugas kepolisian.
Bagh ... Bugh ...
Suara pukulan tangan Lukman yang ia layangkan kepada wajah Febrian.
"Stop, hentikan pak Lukman. Biarkan kami yang akan memproses semuanya." lerai seorang petugas.
"Brengs*k loe ya, nggak nyangka seburuk itu kamu punya hati." umpat Lukman begitu murka.
Sementara Febrian yang tak ingin memperkeruh suasana menjadi pelik hanya memilih diam tanpa perlawanan satu katapun.
"Tunggu sebentar pak, tapi saudara FN ini mengaku telah diperintah oleh seseorang untuk melakukan aksinya tersebut. Dan kami masih melakukan pencarian sampai detik ini," ujar salah satu polisi.
Entah mengapa, saat itu juga pikiran Lukman langsung tertuju pada Tomy. Tapi dirinya kali ini tak punya cukup bukti yang kuat untuk mengirim Tomy masuk ke dalam penjara.
"Dengerin gue, siapa yang udah nyuruh lu ngelakuin semua ini?. Selama ini hubungan antara kita baik-baik aja Feb, tidak pernah ada masalah antara kita. Apa kamu tau, Annara istri aku. Yah, perempuan yang sudah kamu lecehkan itu memilih untuk maafin semua perbuatan kamu. Kamu tau, dia trauma begitu dalam akibat ulah biad*p kamu ini. Tolong untuk kali ini aja, kamu kasi tau siapa yang sudah nyuruh kamu." cecar Lukman sambil mengangkat sedikit baju Febrian.
Febrian yang sedih mendengar penjelasan dari Lukman, ia segera bersimpuh di kaki Lukman saat itu. Dirinya menyesal telah melakukan semua ini demi uang, ia juga tidak pernah memiliki niatan untuk mengusik rumah tangga Lukman dan Annara. Ia hanya menjalankan tugas saat itu, karena sudah terlanjur menerima tawaran tersebut dengan bayaran yang menggiurkan.
"Aku cuma disuruh oleh Tomy Man, tolong maafin aku." ujar Febrian mengakui segalanya.
"Baj*ngan benar orang itu, hatinya begitu iblis sampai bisa terbesit cara kotor seperti ini. Aku dan Annara udah maafkan kamu, tapi kamu harus tetap jalani proses hukum dengan semestinya." jelas Lukman yang terlihat pergi meninggalkan kantor polisi.
...----------------...
Happy reading guys 🤗
semoga masih pada betah disini yah❤️
✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.
✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️
__ADS_1
✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️