Lelakiku

Lelakiku
Dia milikku


__ADS_3

Hari mulai terlihat sore saat itu, Lukman dan Annara yang memutuskan untuk segera pulang melanjutkan untuk menutup semua sofa dengan gulungan kain panjang, agar terhindar dari debu. Mereka juga mengemas barang lainnya dengan baik.


Sesampainya dirumah Lukman, mereka berdua yang merasa kelelahan segera masuk ke dalam kamar dengan membuka pintu begitu pelan. Agar tak terdengar dan mengganggu istirahat ibu dan Chia saat itu. Terlihat Annara mengganti pakaiannya sebelum memutuskan untuk beristirahat, sementara Lukman masih merebahkan seluruh badanya diatas tempat tidur.


"Mas, sudah aku siapin air hangat buat kamu mandi. Cepetan mandi dulu, biar badanya enakan." perintah Annara pada suaminya.


"Iya, makasih ya sayang. Maaf merepotkan kamu jadinya." ucap Lukman yang segera berdiri dan mengambil handuk miliknya.


Lukman yang sudah selesai mandi, ia lalu segera menghampiri Annara yang berada diatas tempat tidur. Sambil menepuk punggung istrinya dengan pelan ia memanggilnya. Tapi sayangnya, Annara yang saat itu sudah tidur terlelap. Dirinya lalu mengurungkan niatnya untuk membangunkan istrinya, dan menci*m pipi Annara.


Saat itu, dirinya berlalu menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Terdengar suara ibu membuka pintu kamarnya, dengan memanggil lirih.


"Man, sudah pulang. Istri kamu mana?." tanya ibu.


"Eh bu, iya kami sudah pulang. Annara lagi tidur Bu dikamar." jelas Lukman.


"Mungkin dia kelelahan, jangan diganggu biarkan dia istirahat dulu." ucap ibu, dan Lukman mengangguk patuh.


Sementara ibu yang tengah bersiap untuk menyiapkan makan malam saat itu terlihat sibuk didapur. Menyiapkan semua bahan-bahan dan memotong semua sayur.


Tekk ... Tekk


Suara pisau dan talenan yang saling bertaut dari arah dapur.


Ketika ibu menumis beberapa bumbu, baunya yang begitu sedap membuat Annara terbangun dari tidurnya. Harum masakan itu mengingatkan pada almarhum ibunya, dirinya sering membantu ibu ketika dulu menyiapkan makanan.


Dengan segera, ia merapikan rambutnya dengan pita kecil dan menguncinya. Lalu ia berjalan menuju dapur dan membantu ibu.


"Loh kok sudah bangun Ra, maaf ya pasti gara-gara ibu berisik menyiapkan makanan ya." ujar ibu.


"Endak bu, Ara justru kebangun karena ngeci*m aroma masakan ibu yang lezat." ucap Ara dengan ke dua matanya yang sipit, karena baru saja terbangun dari tidurnya.


"Karena didapur sudah dikuasai oleh dua wanita, sebaiknya aku mundur saja. Aku kalah jumlah soalnya." celetuk Lukman mengejek istri beserta ibunya.


Mereka berdua hanya tersenyum saat mendengar celoteh Lukman saat itu, dengan cekatan ke dua tangan Annara yang sudah terbiasa membantu ibunya didapur sangat terampil membantu ibu Lukman saat itu.

__ADS_1


"Sudah mahir didapur rupanya menantu ibu ini." puji ibu dengan tersenyum.


"Ara cuman terbiasa aja bu, dulu sewaktu ibu masih ada Ara selalu membantu ibu didapur jika memang masih sempat." jelas Ara mengenang ibunya, tak terasa air matanya menetes di pipinya.


"Sudah jangan sedih, ada ibu sekarang. Anggap ibu juga sebagai orang tua kamu ya." tutur ibu sambil merangkulnya penuh kasih sayang.


Annara yang sangat nyaman dalam pelukan ibu mertuanya itu, tak terasa dirinya juga menjawab rangkuman ibu dengan sebuah pelukan erat sambil mengenang ibunya. Rasanya ia menemukan sebuah kehangatan seorang ibu, untuk ke dua kalinya.


❤️


Pagi harinya, mereka berdua yang segera pergi untuk berangkat kerja menghampiri ibu dan berpamitan. Sesampainya dikantor, baik Annara maupun Lukman masih saja mendapati teman sekantornya yang menggoda mereka.


"Aura pengantin baru nih, seger bener." ucap Febrian teman kantor Lukman.


Lukman hanya tersenyum menanggapi ucapan Febrian kala itu. Ini adalah hari pertama Lukman masuk kantor semenjak ijin cuti menikah, dirinya tengah ditunggu oleh setumpuk pekerjaan yang berada diatas meja kerjanya. Dirinya yang segera memulai pekerjaannya, masih menyempatkan diri untuk mengetik pesan singkat untuk istri tercintanya.


"Sayang, lagi apa?. Semangat buat kerjanya ya, apalagi dengan status baru." goda Lukman pada Annara.


Sementara Annara yang tengah berada dimeja Yasmin saat itu, segera membuka isi pesan tersebut dengan cepat. Dirinya tersipu malu mendengar godaan Lukman dan tersenyum saat melihat layar ponselnya.


Ih, bisa aja. Kan baru tadi ketemu dirumah, udah tanya ngapain. ujar Annara gemas melihat tingkah laku Lukman.


Ponsel Lukman bergetar saat itu, menerima pesan masuk yang dikirim oleh Annara. Ketika layar ponselnya menyala, Tomy berada tepat dibelakang punggung Lukman. Dirinya yang tak sengaja membaca sekilas pesan tersebut merasa jijik dibuatnya.


Cih, jangan senang dulu kalian. Bisa-bisanya bahagia diatas penderitaan gue, tunggu balasan yang setimpal dari aku. Jangan panggil aku Tomy kalau nggak mampu membuat rumah tangga kalian hancur.


umpat Tomy dalam hati kesal saat mendapati pesan tersebut.


Nih, selesaikan laporannya dan aku tunggu diruanganku!" tegas Tomy dengan sombong melempar sebuah map ke atas meja Lukman.


Dirinya yang mendapati tingkah Tomy seperti itu tidak menggubrisnya sedikitpun. Ia sadar, jika Tomy saat ini tengah dibakar api cemburu oleh pernikahan dirinya dengan Annara. Jadi Lukman masih bisa memahami tingkah Tomy saat itu dengan hati yang lapang.


"Oke nanti aku beresin." ujarnya sambil sibuk mengetik.


Sialan, dia nggak kepancing rupanya. dengan kesal Tomy bergumam dan meninggalkan meja Lukman.

__ADS_1


Saat Tomy memasuki ruangannya, Lukman saat itu mendapati dirinya dipanggil oleh Roni untuk segera masuk ke ruangannya. Dengan cepat, dirinya pun merespon panggilan itu.


Tokk ... Tokk ...


Suara ketukan pintu terdengar dari luar ruangan Roni.


"Selamat pagi pak, bapak memanggil saya?. Ada yang bisa saya bantu?," tanya Lukman dihadapan Roni.


Tanpa berkata banyak, Roni saat itu membuka laci mejanya dengan mengeluarkan sebuah surat dan kunci. Terlihat sebuah surat mobil dan kuncinya yang diletakkan Roni dihadapan Lukman.


"Ini buat kamu." ujar Roni dengan menyeret surat dan kunci tersebut dihadapan Lukman.


Dirinya yang tak percaya menanggapi hal tersebut hanya diam mematung saat itu. Gemetar tubuhnya saat itu, beserta keluar keringat dingin yang mengucur.


"Ayo ambilah," pinta Roni segera sambil duduk dikursi kerjanya.


"Maafkan saya pak, dalam rangka apa mobil ini diberikan kepada saya?," tanya Lukman penasaran.


"Ini adalah kado pernikahan kalian dari saya dan istri saya. Kamu sudah saya anggap seperti putra saya sendiri, dan kamu juga sudah bekerja dengan baik memajukan perusahaan ini. Jadi tidak ada salahnya kamu juga mendapatkan apresiasi dari kami." jelas Roni pada Lukman yang masih berdiri mematung tak bergerak, dirinya lalu berdiri untuk menghampiri Lukman dan memberikan semua surat beserta kunci tersebut.


"Saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya ya pak. Semoga bapak sekeluarga diberikan kebahagiaan yang berlipat ganda. Saya bingung harus berkata apa lagi pada bapak dan ibu yang sudah begitu baik." ujarnya sambil menyeka air matanya, Lukman lalu menerima semua surat itu dari tangan Roni.


"Semoga bisa bermanfaat bagi kamu dan istri kamu. Sampaikan salam kami untuk dia ya." ucap Roni sambil merangkul pundak Lukman yang berdiri tepat disampingnya.


...----------------...


Happy reading guys 🤗


semoga masih pada betah disini yah❤️


✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.


✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️


✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️

__ADS_1


Maafkan yah, yang sudah menunggu lama buat up bab nya. Kami sekeluarga lagi kurang sehat, do'ain othor supaya sehat kembali dan ngebut buat up bab nya yah🖤🖤🙏🙏🙏


__ADS_2