
Tubuhnya bergetar seketika, tatapan matanya yang kosong dan tubuh yang lemas saat ia membaca isi pesan tersebut. Ia pun tak mampu membendung air matanya lagi, air mata itu deras mengalir membasahi ke dua pipinya. Bagaikan tersambar petir saat itu, seakan tak percaya ada yang mampu membuat teror fitnah seperti ini.
Yasmin yang berada disampingnya saat itu, berusaha menenangkan Annara. Dengan erat Yasmin memeluk tubuh Annara, seakan meyakinkan bahwa Yasmin lebih percaya pada ia dari pada isi pesan singkat tersebut.
Dengan membopong tubuh Annara kembali ke mejanya, ia terus berusaha menenangkan Annara. Ditengah pandangan sinis teman kantor lainnya, hanya Yasmin yang saat itu menemani Annara. Dari arah luar ruangan, nampak Baruna berjalan memasuki kantor dengan segera. Ia yang melihat Annara tengah menangis sejadi-jadinya, datang menghampirinya.
" Pagi, kalian berdua lagi ngapain?. Apa ada sesuatu?." tanya Baruna dengan cemas.
"Pagi pak, maaf Annara tadi sedih saat membaca ini." tukas Yasmin sambil menyodorkan ponselnya.
Seketika ponsel milik Yasmin di ambil oleh Annara, ia tak mau Baruna mengetahui masalah itu. Annara tak ingin, Baruna ikut terseret dalam masalah ini. Dengan cepat, ia membersihkan wajahnya saat itu.
"Maaf pak, gak papa kok. Cuma orang iseng saja." sahut Annara sambil melirik Yasmin.
Baruna dibuat lebih penasaran oleh Annara, jika memang hanya hal sepele tidak mungkin Annara menangis sampai seperti itu. Ia pun hanya terdiam sambil berfikir.
Rupanya, teror pesan singkat yang dibuat oleh Tomy belum sampai ke telinga Baruna. Hanya Baruna satu-satunya orang yang tidak mengetahui isi pesan tersebut. Annara yang menarik tubuh Yasmin didekatnya, berbisik agar jangan sampai masalah ini diketahui oleh Baruna. Yasmin pun hanya mengangguk, Annara yang saat itu langsung memilih untuk ijin dari kantor berlalu meninggalkan Yasmin.
Diluar kantor, ia nampak sibuk menelepon Lukman. Ia ingin memastikan apa sahabatnya itu juga mendapat pesan yang sama.
Suara Annara.
Hallo, kamu dimana?. Ucap Annara dengan menahan tangis dibibirnya.
Suara Lukman.
Iya Ra, aku kesana sekarang. Sahut Lukman yang sudah mengetahui semuanya.
Setiba dikantor Annara, Lukman berjalan dan menghampiri Annara yang tengah terduduk di pinggir taman kantor. Annara yang melihat kehadiran Lukman saat itu, memeluknya dengan erat seakan ia ingin mengadu tentang perasaanya hari ini.
Dengan sabar Lukman menunggu Annara sampai selesai menangis. Sampai pada akhirnya, mereka berdua sudah saling berbicara. Saat Annara terlihat sedikit tenang, Lukman menyampaikan semua yang ia ketahui tentang masalah ini.
Betapa terkejutnya Annara, bahwa ini adalah ulah Tomy. Entah dosa apa yang dilakukannya, sampai Tomy tega berbuat seperti ini. Lukman hanya menepuk punggung Annara dengan pelan, seakan menguatkan wanita yang sangat ia sayangi itu.
__ADS_1
Emosi yang meledak dalam diri Annara, tak mampu lagi ia sembunyikan. Dengan menarik tangan Lukman, Annara meminta Lukman untuk mengikutinya. Sampailah mereka ditempat kerja Lukman saat itu, mata Annara yang penuh dengan amarah terus mencari-cari keberadaan Tomy kala itu.
Ia terus berjalan menyusuri ruangan demi ruangan. Sampai pada akhirnya ia menemukan Tomy diruanganya.
Plaaaakkkkk
Suara tamparan Annara pada Tomy.
"Gila kamu ya!. Dasar gak punya hati nurani, tega banget kamu nyebarin berita kotor seperti ini. Picik banget otak kamu, Setega itu sama aku. Apa salahku?, sampai kamu bisa seperti ini." cecar Annara memaki Tomy sambil berteriak.
Rupanya, teriakan Annara saat itu mengundang banyak mata diruangan itu melihat mereka. Anya yang sedang berada diruanganya pun terlihat menghampiri mereka.
"Stop!, tunggu dulu. Ada apa ini, kenapa kalian ribut-ribut disni." tanya Anya sambil melihat Annara dan Lukman.
"Kamu tau wanita ini siapa?, yah ... ia pacar kamu kan. Setelah semua apa yang kamu lakuin ke aku, dengan berselingkuh dibelakangku kamu mau menyakitinya kali ini?." teriak Annara ke arah Tomy sambil menunjuk Anya.
"Tolong jelaskan ada apa ini?." tukas Anya memohon.
"Ia yang kamu sebut sebagai pacar, bahkan mungkin sebagai lelakimu. Sangat tidak bermoral, ia mengirimkan pesan teror ke semua teman kantorku saat ini. Dan akibat dari ulahnya, semua mata tertuju padaku dengan sinis." jelas Annara dengan tangis.
Annara yang tak mampu menguasai amarahnya, menggandeng Lukman menuju pintu keluar kantor dan mengajaknya pulang. Ia yang sudah tidak tahan berdiri lama-lama dihadapan Tomy, memilih untuk pergi dari sana.
Diperjalanan, dengan menangis ia sandarkan kepalnya pada bahu Lukman. Entah, rasa bahagia atau sedih yang harus di ungkapkan Lukman saat itu. Tapi setidaknya, ia sangat lega karena Annara lebih memilih ia dari pada lelaki lain disaat ada masalah.
"Assalamu'alaikum bu ..." ketuk Annara.
"Assalamu'alaikum." sahut Lukman yang membantu Annara mengetuk pintu Lukman.
Lama tak terdengar suara ibunya, ia pun lalu mengambil kunci cadangan rumahnya dari dalam tas. Dengan segera ia membuka pintu rumah, langkah kakinya terhenti didepan ruang tamu begitu saja. Ia yang kaget melihat ibunya tergeletak dibawah lantai langsung berlari menghampiri ibunya.
Annara seakan tak percaya dengan ini, ibunya sudah terbujur kaku dilantai rumah mereka. Dengan sigap Lukman yang memeriksa denyut nadi ibu Annara sambil mengucapkan Innailaihi wainnailaihi rojiun. Tangis Annara kembali pecah saat itu, tubuhnya yang bergetar sambil memangku ibunya. Ia pun tidak ada hentinya memanggil ibunya, dengan sesekali ia menci*mi wajah ibunya.
Seakan tak mau semua ini terjadi, ia memeluk erat ibunya dengan tangis yang menjadi-jadi.
__ADS_1
"Bu ... ayo bangun, jangan tinggalin Annara sendirian didunia ini. Bangun bu, Annara takut sendirian disini." ucap Annara sambil menangis.
"Ayo kita bawa ibu masuk dulu ya Ra." rayu Lukman disamping Annara.
Prosesi pemakaman saat itu, terjadi sore hari itu juga. Dengan wajah yang datar ia menatap tubuh ibunya yang sudah ditutupi oleh kain kafan. Semua pelayat pun sudah siap mengantarkan ibu Annara sampai ke tempat peristirahatan terakhir saat itu. Terlihat banyak orang yang menghantarkan beliau saat itu, setibanya di pemakaman umum setempat jenazah ibu Annara pun di kebumikan.
Sayup terdengar suara para pelayat berpamitan pada Annara. Ia pun hanya mengangguk lemas saat itu, dan mengangkat ke dua tanganya ke para pelayat seakan menandakan ucapan terimakasih darinya.
Lemas ia menatap batu nisan yang bertuliskan nama ibunya disana, dengan sesekali ia mengusap dan menci*um batu nisan itu. Sambil berbisik lirih pada batu tersebut.
❤️❤️❤️
**Happy reading guys❤️
kali ini ... siapin tisu yang banyak ya, karena kalian juga bakal ikut terbawa emosi dalam bab ini🌷
...----------------...
Sekalian mau ingetin nih buat kalian, jangan lupa buat mampir kesini juga ya. Salah satu karya novel yang aku rekomendasikan buat kalian!!!❤️❤️**
JURAGAN MUDA
(Ipah)
Reyhan adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Gambaran masa depan nya belum terbayang jelas dalam otaknya. Kebahagiaan terbesarnya adalah menjadi pemenang dalam setiap ajang perlombaan futsal.
Dan, sebuah kecelakaan maut yang mengakibatkan bapaknya meninggal telah berhasil merubah jalan hidupnya.
Kegigihannya dalam mencari kerja perlahan mulai membuahkan hasil.
Tapi sayangnya, keberhasilan nya dalam mendapatkan pekerjaan, tidak dibarengi dengan kisah cintanya yang justru sering kali kandas begitu saja.
__ADS_1
Hingga setelah ia berada dititik keemasannya, semua wanita bagaikan terkena magnet dan gigih mendekati nya.
Akankah Reyhan berhasil menemukan cinta sejatinya? Simak selengkapnya di Juragan Muda