
Setidaknya, ada sedikit rasa lega yang menyelimuti perasaan Anya saat itu. Salah satu orang tuanya sudah mengetahui kebenaran tentang dirinya dan Tomy. Ia sangat meyakini, jika mamanya tidak akan pernah meninggalkan dirinya dengan calon anaknya.
Hari demi hari dijalani Anya dengan kesendirian, ia pun juga harus menutup rapat sementara masalah ini dari papanya. Ia tidak menginginkan jika papanya akan berbuat nekat setelah mengetahui kebenaran tentang dirinya. Semua hal buruk tentang papanya sudah terpikirkan olehnya saat itu.
Termenung Anya didalam mobilnya saat itu, matanya hanya menatap kaca mobil miliknya. Ia seakan tak tahu harus kemana langkah kakinya akan melangkah. Di tengah kesendiriannya saat itu, tiba-tiba matanya bergerak menatap dua orang yang tengah melintas dihadapannya.
Ternyata mereka adalah Lukman dan Annara, terlihat mereka berdua baru saja berlalu dari salah satu tempat perbelanjaan. Mereka berdua terlihat begitu bahagia saat itu, berbeda dengan dirinya saat ini. Rasanya dunia sudah hampir runtuh dalam pandangannya.
Ia pun memutuskan untuk mengikuti kemana perginya Lukman dan Annara saat itu. Dengan berhati-hati ia mengikuti arah mobil Lukman saat itu, dan mobil itu tiba-tiba terhenti disebuah pedagang bakso yang terletak dipinggir taman kota.
Dari kejauhan, terlihat Lukman dengan begitu manis memperlakukan Annara saat itu. Tidak sedetik pun ia lepaskan tangan Annara dari genggaman tangannya. Anya hanya tersenyum simpul menyaksikan kebahagiaan mereka berdua. Sudah cukup lama Anya memandangi mereka dari dalam mobil, pada sampai akhirnya ia memutuskan untuk segera turun dan menghampiri mereka berdua.
Awalnya, ia hanya ingin sekedar menyapa Lukman dan Annara. Tetapi tidak saat langkah kakinya mulai berjalan cepat menuju ke arah Lukman dan Annara. Ada rasa iri yang menyelimuti perasaan Anya saat melihat kemesraan mereka berdua, dan dirinya juga menginginkan hal yang sama saat ini.
Entah semua ini hanya bawaan seorang ibu yang sedang mengandung atau tidak. Tapi sangat terlihat Anya tidak bisa mengontrol dirinya disana.
"Hai, boleh gabung." ucap Anya yang sedikit canggung.
Mata Annara dibuat terkejut saat melihat kedatangan Anya disana.
"Boleh, duduk sini Nya." ujar Lukman menyambut kedatangan Anya.
"Apa kabar kalian berdua, kelihatannya semua terlihat bagus." sambung Anya yang tengah membuka topik pembicaraan.
"Kami baik, kamu sendiri bagaimana?. Kami kemarin sempat lihat kamu disebuah rumah sakit, waktu itu aku lagi antar Annara ke dokter kandungan." tutur Lukman.
Bibirnya dalam sekejap terkunci saat mendengar ucapan Lukman. Waktu itu, Anya memang memilih rumah sakit yang letaknya agak jauh dari rumah dan kantornya agar tidak ada yang tahu kemana ia akan pergi. Malang bagi dirinya, ternyata Lukman dan Annara sudah mengetahui hal itu.
"Nya," ucap Lukman sambil mencoba membubarkan lamunan Anya.
__ADS_1
"Eh iya, kalian kesana ngapain?. ketemu sama dokter Stephanie?." jelas Anya yang sedikit keceplosan.
"Sama dong, kamu juga ketemu dia?." sahut Annara yang tiba-tiba terpancing oleh omongan Anya.
"Enggak, kita cuman temen kuliah aja." jawab Anya mencoba menutupi dengan rapat.
Annara pun melanjutkan untuk memakan baksonya dengan lahap.
"Apa istri kamu ini sudah isi Man?." tanya Anya penasaran.
Senyum Lukman merekah saat itu, dengan penuh antusias ia pun menjelaskan keadaan Annara.
"Alhamdulillah sudah, sebentar lagi kami akan menjadi orang tua." sambut bahagia Lukman.
Ternyata kita sama Ra, beruntungnya kamu bisa didampingi oleh suami kamu dalam keadaan begini. Tetapi tidak dengan aku, harus merasakan ketirnya kesendirian dalam kondisi seperti ini. gumam Anya pilu dalam hati.
"Boleh tidak aku bicarakan hal penting dengan kalian berdua." jelas Anya yang tiba-tiba serius.
"Kamu mau bahas apa?." tanya Annara yang mendadak ikut sedih, sepertinya memang ini adalah bawaan dari bayi mereka berdua.
"Terutama kamu Ra, aku mohon sebelum aku bicarakan hal ini kalian jangan terima semua perkataanku dengan gamblang ya." seru Anya.
"Kami akan coba menelaah dengan baik semua ucapan kamu." jelas Lukman memberikan kenyamanan.
"Aku, mau bahas soal Tomy pada kalian." tutur Anya yang sudah mulai membuka topik pembicaraan.
Mereka berdua terkejut mendengar penuturan Anya saat itu. Lukman dan Annara hanya saling menatap dan tidak bergeming sedikitpun.
"Ayolah, aku mohon. Gunakan hati kalian sedikit saja untuk mendengar ini." rengek Anya.
__ADS_1
"Apa yang kamu mau dari kami," pungkas Annara dengan nada yang sudah mulai menegang.
"Sayang." ucap Lukman menenangkan.
"Aku tau, mungkin permintaanku ini terlalu egois untuk kalian berdua. Tapi tolong lihat disatu sisi yang lain, aku mohon. Kedatanganku kesini, untuk memohon kepada kalian berdua agar mau membebaskan Tomy tanpa syarat." tutur Anya dengan nada pilu.
Sungguh tak percaya Annara mendengar kenyataan ini, dirinya sangat pilu melihat Anya yang sama sekali tidak melihat perih batinnya oleh ulah Tomy saat itu. Rasanya ingin sekali Annara memaki Anya yang duduk dihadapannya, meluapkan semua kata yang selama ini lebih ia pilih untuk dipendam.
"Sayang, tenang ya." ucap Lukman menenangkan istrinya tersebut.
"Maafkan aku, ini benar-benar sangat sulit untuk aku. Kamu tau aku Man, aku bakal lakuin apapun untuk Tomy. Jika hukum dengan mudah dibeli dengan uang, akan aku serahkan semua uangku untuknya. Aku cuman mau sama dia saat ini, aku dan anaknya sangat membutuhkan kehadirannya." jelas Anya yang sudah terlihat pilu.
Annara sangat terkejut bukan main, saat mendengarkan ucapan Anya saat itu.
Kenyataan apalagi ini Tuhan, apa benar semua ucapan Anya kali ini. Apakah wanita ini rela berbohong demi menyelamatkan Tomy dari jeratan hukum?, tapi tidak kali ini. Matanya berbinar seakan mengisyaratkan kebenaran, pilu yang ia rasakan mampu juga aku rasakan. Benarkah dia mengandung anak Tomy kali ini?, aku harus apa? , apakah aku bisa memahami dirinya yang tengah berbadan dua sepertiku. gumam Annara yang mengalami pergulatan batin saat itu.
Cukup lama mereka saling terdiam disana, sampai pada akhirnya Annara mau bersuara untuk hal ini.
"Kamu tau, aku memang sudah memaafkan Tomy dan Febrian semenjak kejadian itu. Aku lebih memilih untuk berdamai dengan kenyataan saat itu, apa jadinya aku jika waktu itu lebih memilih dendam kepada mereka berdua. Mungkin aku tidak akan dengan begitu mudah melewati masa sulit ini. Aku lebih memilih alam yang akan memberikan kesakitan kepada ulah mereka berdua saat itu. Tapi jika memang ini benar adanya, dan semua yang kamu ucapkan kepada kami adalah sebuah kebenaran maka aku tidak akan berat hati melepas semua proses hukum ini untuk kamu. Aku melakukan semua ini hanya atas dasar kemanusiaan, nggak lebih." jelas Annara yang berhati besar memandang semua masalah ini dengan bijak.
...----------------...
Happy reading guys 🤗
semoga masih pada betah disini yah❤️
✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.
✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️
__ADS_1
✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️