
Sebulan berlalu pasca pembebasan Tomy dan Febrian dari balik jeruji besi, lama tak terdengar kabar dari keduanya ternyata Tomy dan Anya sudah melangsungkan sebuah pernikahan yang begitu sederhana dan jauh dari kesan mewah anak pemilik sebuah perusahaan.
Rupanya mereka berdua memutuskan untuk lebih memilih mengundang kerabat terdekat saja saat itu, bahkan tak satupun teman mereka terlihat hadir waktu acara berlangsung.
Semua ini mereka lakukan karena untuk menjaga harkat dan martabat keluarga didepan publik, mereka tak ingin jika sampai mengecewakan keluarganya untuk yang kesekian kalinya. Suasana acara saat itu terlihat berjalan lancar tanpa ada suatu halangan sedikitpun.
Pada acara penting kali ini, mereka memutuskan untuk mengundang orang yang paling berarti dalam kehidupan mereka. Ia adalah Lukman dan Annara, keluarga kecil itu nampak menghadiri acara tersebut dengan mengenakan pakaian senada. Masih tetap sama dengan Lukman dan Annara yang dulu, selalu terlihat apa adanya dimanapun mereka berada.
"Terimakasih ya, sudah berkenan hadir di acara kita berdua" Anya menyambut bahagia kedatangan ke dua orang yang paling berarti dihidupnya.
"Sama-sama, kami ucapkan selamat sekali lagi untuk kalian berdua ya. Semoga menjadi sebuah kisah yang baik sampai maut yang mampu memisahkan kalian berdua nantinya" Annara memberikan sebuah do'a dalam acara pernikahan Anya dan Tomy sambil memegangi perutnya.
Lukman saat itu terlihat gagah mendampingi Annara disana. Aura sebagai calon orang tua baru sudah sangat jelas terpancar diwajahnya saat itu.
Sementara ibu Lukman berjalan menghampiri Roni beserta istrinya yang terlihat menggendong bayi kecil dengan mengenakan selimut pink yang membalut tubuhnya.
"Wah, jadi ini cucu cantiknya. Cantik sekali
Annara yang memasuki usia kehamilan trisemester akhir sedikit terlihat kesusahan saat berjalan dengan perut yang sudah membuncit. Langkahnya terbata saat berjalan menghampiri ke dua orang tuan Anya.
"Eh ada tante cantik nih, ayo disapa dulu sayang" bayi kecil tersebut menyunggingkan senyuman kepada Annara.
Seakan mengerti apa yang dimaksud oleh omahnya ia pun mematuhi ucapannya.
"Iihh gemes sekali sama kamu sayang, murah senyum seperti mamanya. Namanya siapa tante?" tanya Annara yang mencoba menggendong bayi kecil itu.
"Namanya Nami tante Annara" jelas mama Anya kepadanya.
"Cantik namanya" ujar Annara yang saat itu terlihat memegang perut serta pinggangnya secara bersamaan.
__ADS_1
Ia ternyata mengalami kontraksi ringan di tengah kerumunan orang yang memadati ruangan. Dirinya memutuskan untuk duduk disebuah kursi tamu yang terbalut dengan pita bewarna putih. Sambil mengatur nafasnya, ia terlihat menahan sakit kontraksi.
Menit demi menit berlalu, mulas perutnya pun bertambah hebat dan semakin sering terasa. Tubuhnya terlihat sedikit menurun dari bangku kursi itu, yang tadinya ia mampu untuk duduk dengan tegap kali ini sudah tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Mm-mass..." erang Annara kesakitan dengan meremas kursi.
Lukman yang kala itu berada jauh dari jangkauan Annara tidak dapat mendengar dengan baik panggilan Annara. Mata Annara mencoba mencari-cari keberadaan dirinya ditengah kerumunan orang saat itu.
"Aaakkh, sakit bu" jerit Annara ditengah kontraksi yang sudah mulai terasa semakin sering muncul.
Tubuhnya pun terjatuh dari atas kursi, ia sudah mulai menggelinjang tak beraturan disana. Beberapa orang kerabat dekat Anya mulai menghampiri untuk memberikan pertolongan. Lukman yang saat itu terkejut menjumpai beberapa orang yang tengah berkerumun disana pikirannya lalu terbang mengingat semua kejadian nahas itu.
Sama seperti hari ini, Annara juga terlihat di kerumuni beberapa orang hingga tubuhnya tak dapat lagi di lihat Lukman dengan jelas dari kejauhan. Lukman lalu mengurungkan niatnya untuk mengambilkan beberapa kue untuk istrinya tersebut, dan dengan cepat menyibak kerumunan orang disana.
Benar saja, sama seperti hari itu ia mendapati Annara sudah terkapar dibawah dengan lemah. Bedanya kali ini ia ingin melahirkan seorang anak dari buah cinta mereka berdua.
Dengan posisi jalanan yang masih dipadati ramainya kendaraan Lukman terus membunyikan klakson mobilnya berulang kali saat itu dengan mengemudikan mobilnya begitu zig zig melewati tengah-tengah kendaraan lainnya.
"Mm-mas, anak kita kayaknya sudah mau keluar ini" tanganya mencengkram erat tangan Lukman.
"Sabar sayang, sebentar lagi" sahut Lukman menenangkan Annara.
"Aaaaakh, aku nggak kuat ini masss" cengkraman tangannya begitu erat sampai meninggalkan bekas luka dilengan Lukman.
Karena kemacetan saat itu teramat panjang, Lukman tak dapat mengendalikan laju mobilnya dengan cepat disana. Tanpa diduga, kepala bayi sudah mulai terlihat dari balik paha Annara. Darah segar mengalir deras dan secara bersamaan pula tubuh bayi tersebut keluar dengan begitu mudahnya.
"Oek Oek Oekkkk" Suara tangisan bayi terdengar begitu keras.
Lukman terkejut mendapati istrinya sudah melahirkan anaknya didalam mobil, ia yang sedikit kebingungan harus berbuat apa untuk menolong Annara dengan cepat mengambil ponsel miliknya dan menelpon salah satu rumah sakit terdekat disana.
__ADS_1
"Hallo sus, ini istri saya melahirkan secara tiba-tiba didalam mobil. Tindakan apa yang harus saya ambil untuk menolong mereka berdua" terlihat panik dirinya saat menghubungi rumah sakit.
"Baik pak, sebelum tiba disini. Tolong dengarkan arahan dari saya dengan baik, dan jangan panik. Ambil bayi tersebut dan segera berikan sebuah kain untuk menutupi tubuhnya agar tetap dalam kondisi yang hangat. Kemudian segera berikan cairan untuk istri anda sekarang juga, agar tetap bisa dalam kondisi yang stabil saat sesudah melahirkan.
Lukman pun meletakkan ponsel itu sambil melakukan semua arahan tersebut dengan baik, ia mengambil kain untuk menutup semua tubuh bayi kecil itu. Dan mengambilkan sebuah minuman untuk Annara yang sedikit terlihat lemas didalam mobil.
"Sayang, kamu masih bisa mendengarkan aku dengan jelas?" Lukman berupaya memastikan kondisi Annara baik-baik saja.
Annara hanya mengedipkan ke dua bola matanya dan tengah menggendong bayi kecil mereka.
Lukman yang sudah memastikan istri beserta anaknya dalam kondisi baik-baik saja, segera meluncur ke rumah sakit sesegera mungkin. Mereka pun tiba dirumah sakit, dengan wajah yang masih sama pucat dan kebingungan ia mencoba untuk mengendalikan keadaan disana.
Dengan beberapa bantuan perawat yang sudah sigap disana, ia pun membantu membawa Annara memasuki sebuah ruangan untuk melakukan tindakan terhadap dirinya beserta anaknya.
Bayi kecil tersebut berjenis kelamin laki-laki, hidungnya yang mancung serta warna kulitnya begitu putih mirip dengan ibunya. Hanya satu yang terlihat sama dengan Lukman, bola matanya terlihat begitu bulat sempurna seperti ayahnya.
Lukman hanya berucap syukur saat mengetahui anaknya adalah seorang laki-laki, karena baik dirinya maupun Annara telah bersepakat untuk tidak mengetahui jenis kelaminnya hingga hari persalinan tiba.
...----------------...
Happy reading guys 🤗
semoga masih pada betah disini yah❤️
✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.
✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️
✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️
__ADS_1