Lelakiku

Lelakiku
Gagal


__ADS_3

Braaaakkk


Suara tangan Tomy yang tengah memukul meja kerja.


Hanya kecewa yang saat itu ia rasakan, semua rencana yang ia susun rapi semua berantakan. Kala itu, Tomy mampu mengelabui papa Anya dengan memanipulasi data milik Lukman. Ia berharap dengan begitu ia merasa menang dari Lukman, tapi sayangnya tidak demikian. Apa yang terpikir olehnya justru membuat dia salah dalam mengambil keputusan.


Dengan segera Anya menenangkan Tomy.


"Hei, ada apa dengan kamu. Semua baik-baik aja kan?, kenapa sampai semarah itu." ucap Anya penuh kecemasan.


"Aku gagal menyingkirkan Lukman!." sahut Tomy dengan emosi, lalu ia sadar dengan ucapannya dan kembali terdiam. Seakan tak mau Anya sampai mengetahui apa yang sudah ia perbuat kepada Lukman.


Ia pun berlalu dari hadapan Anya, dengan tatapan mata yang penuh curiga Anya lalu mengikuti Tomy dari belakang. Tomy yang kala itu menaiki motor miliknya tidak sadar telah di ikuti Anya dari belakang, terlihat Anya yang berhati-hati menaiki mobilnya untuk mengikuti pacarnya tersebut.


Benar saja, Tomy telah sampai ditempat dimana ia nampak menunggu seseorang. Dengan jarak yang tak begitu jauh dari Tomy, Annara menghentikan mobilnya sambil mengawasi Tomy. Kala itu,mata Tomy tertuju pada sosok wanita yang ada diseberang jalan. Tak menunggu lama, ia pun mengikuti wanita tersebut.


Benar dugaan Anya, Tomy telah menunggu Annara kala itu. Ia rupanya ingin mengetahui siapa yang sebenarnya tengah dekat dengan Annara. Didalam mobil, Anya yang hanya bisa menagis melihat kelakuan Tomy yang masih memendam rasa pada Annara. Sungguh tak percaya dengan apa yang ia lihat saat itu, perasaan sayangnya yang begitu besar kepada Tomy seakan di abaikan begitu saja.


Dengan cepat Annara memacu mobilnya untuk kembali ke kantor. Pikiran yang kacau, membuatnya ingin mengakhiri semuanya kala itu. Sambil berjalan menuju ruangan milik Tomy, ia sesekali nampak mengusap air mata yang membasahi pipinya.


Betapa terkejutnya Anya waktu ia membuka laptop milik Tomy, ia menemukan laporan milik Lukman tengah terpampang dilayar laptop itu. Ia lalu segera memeriksanya dengan baik, dan penuh ketelitian. Jelas saja, data itu telah dirubah total oleh Tomy.


Tangisnya semakin menjadi kala melihat kebenaran yang ada dihadapannya itu, ia tak percaya lelaki yang sangat ia sayangi dan percayai itu mampu melakukan hal sekotor itu. Dari arah luar ruangan, terdengar suara derap kaki yang mencoba masuk mendekati Anya.


Rupanya itu adalah langkah kaki Tomy, begitu sampai didepan pintu ruangannya ia nampak sangat terkejut tengah mendapati Anya disana sambil memegang laptop. Mulutnya tiba-tiba sulit untuk mengeluarkan kata-kata.


"Kenapa kamu kembali lagi kesini." tanya Anya dengan suara bergetar menahan tangis.


"Maksudnya gimana si sayang aku gak ngerti." sahut Tomy dengan kebingungan.


"Cukup!, apa maksud semua ini. Tolong jelasin ke aku." pinta Anya dengan suara tegas.


"Hei, itu cuman laporan aja. Sekarang kamu tenang dulu ok." ucap Tomy yang masih berkelit untuk menutupi kebohongannya.


"Tutup mulut kamu, hentikan semua ini. Kamu pikir, aku gak tau laporan siapa yang ada dalam laptop ini hah!. Ini milik Lukman kan, tega-teganya kamu ngejebak Lukman dengan cara kotor seperti ini. Apa kamu lakuin semua ini hanya untuk balas dendam?, hanya untuk kepuasan kamu semata?. Atau jangan-jangan kamu masih menyimpan rasa untuk Annara?." cecar Anya penuh amarah.


"Please, kasih aku kesempatan untuk ngejelasin semua ini." sahut Tomy.


Anya yang saat itu sedang tidak bisa mengontrol emosinya dengan baik, berlalu begitu saja dari hadapan Tomy. Dengan segera ia menuju ruangan milik papanya, dengan Isak tangis yang tertahan ia menyampaikan apa yang telah diperbuat Tomy pada Lukman.


"Pa ... maafin aku yah." ucap Anya dengan menangis.

__ADS_1


"Kamu kenapa, ada apa kamu sampai menagis?. Coba jelaskan pada papa." tanya Roni penuh kecema.


"Aku sudah tau siapa yang menjebak Lukman pa, ternyata Lukman sudah berkata jujur waktu itu. Ia sama sekali gak bersalah tentang laporan itu." jelas Anya sambil menahan tangis.


Roni yang telah mengetahui semuanya, sontak berdiri dan menahan amarah. Ketukan pintu terdengar dari luar ruangan Roni saat itu.


Tokk ... Tokk ...


Suara ketukan pintu.


"Selamat sore pak." sapa Tomy pada Roni yang tengah menahan amarahnya.


"Masuk." jawab Roni dengan sinis.


Anya yang tengah terduduk dikursi hanya bisa diam dan menangis lirih. Seolah tak perduli dengan kedatangan Tomy saat itu.


"Ada perlu apa kamu masuk ruangan saya!." tegas Roni sambil menarik nafas panjang.


"Maaf pak, saya ... cuma ingin ..." sahut Tomy dengan terbata-bata.


Plaaakkkk ...


Suara tamparan Roni.


"Maafkan saya pak, tolong beri saya satu kesempatan lagi." pinta Tomy sambil berlutut dihadapan Roni.


"Kesempatan itu sudah habis untuk kamu, Cepat pergi dari sini. Atau saya minta security menyeret keluar kamu dari balik pintu itu." tegas Roni dengan nada tinggi.


Setelah Tomy berlalu dari hadapan mereka, Anya dan Roni yang duduk terdiam diruangan itu saling menatap seakan tidak percaya. Lalu Roni mengambil ponsel miliknya yang tergeletak dimeja. Ia pun lalu menghubungi Lukman, memang tidak ada kata pemecatan waktu itu apalagi kata-kata pengunduran diri dari mulut Lukman. Hanya saja Lukman memutuskan untuk lebih memilih menenangkan dirinya saat peristiwa itu.


Tuuut ... Tuuut ...


Bunyi suara ponsel Roni.


Terdengar suara Lukman dari ujung telepon.


Sore pak, maaf ada apa ya pak?. Sahut Lukman.


Suara Roni.


Maaf mengganggu waktu kamu sebentar, apa sore ini kamu bisa datang ke kantor?. Pinta Roni.

__ADS_1


Suara Lukman.


Baik pak, saya segera datang.


Roni tau bahwa permintaannya tidak akan pernah ditolak oleh Lukman, ia sudah menganggap Lukman seperti anak kandungnya sendiri. Tetapi dengan kehadiran Tomy, membuat ia menaruh curiga pada Lukman dan membuat keadaan semakin buruk.


Setibanya Lukman dikantor, ia pun dengan segera mengetuk pintu Roni.


"Selamat sore pak." sapa Lukman lirih sambil menatap wajah Anya yang sembab. Hatinya pun penuh dengan tanya.


"Eh sudah datang, ayo duduk dulu. Sebelumnya saya dan Anya minta maaf, atas perlakuan kami waktu itu ke kamu. Kami sudah salah menilai kamu. Tolong maafkan kami." jelas Roni.


❤️❤️❤️


**Happy Reading guys🤗


terus ikutin ceitanya ya, mohon kritik dan sarannya.


maaf ya jika masih babak belur ceritanya ❤️.


...----------------...


Jangan Lupa mampir kesini juga yah❤️


salah satu rekomendasi novel terbaik buat kalian**!!



**3. GORESAN LUKA


(SyaSyi)


Pernikahan adalah sebuah impian setiap orang, tetapi bagaimana rasanya kalau kita menikah dengan orang yang salah? Perkenalan yang begitu singkat membuat Anindya tak mengenal jelas sosok Argantara suaminya. Niat hati ingin mendapatkan kebahagiaan, dia justru mendapatkan goresan luka yang dibuat oleh sang suami. Lantas, siapakah yang disalahkan dalam hal ini? Mungkinkah takdir tak berpihak kepadanya?


Anindya Saputri, wanita berusia 24 tahun yang harus merasakan luka dan penderitaan yang mendalam dalam pernikahannya. Pernikahan tak seperti dalam bayangannya. Dia telah salah dalam memilih suami. Argantara bukanlah suami yang baik untuknya. Banyak rahasia yang belum terungkap.


"Aku cape, harus terus terlihat bahagia di depan semua orang. Menutupi kelakuan kamu!"


-Anindya Saputri-


"Aku yakin kamu akan selalu mempertahankan aku dan tak akan pernah pergi meninggalkan aku."

__ADS_1


-Argantara Wijaksono-


Rahasia apa yang dimiliki Argantara? Akankah Anindya tetap mempertahankan pernikahannya**?


__ADS_2