Lelakiku

Lelakiku
Aku tau


__ADS_3

"Jelaskan kepadaku ma, kenapa hal sebesar ini kamu tutupi sejauh ini" nadanya meninggi dengan sorot mata tajam.


"M-maafkan aku pa" tangis istrinya pecah seketika.


"Maaf katamu?, sejak dulu aku selalu berkata dan berpesan kepada putri tunggal kita bahwa jangan sampai dirimu jatuh ataupun tertunduk dalam kubangan yang salah dalam kehidupan. Karena itu bisa mencermarkan harga diri dan martabat keluarga, uang bisa dicari oleh siapapun didunia ini tetapi tidak semua orang bisa menjaga martabat mereka dengan baik." ingatan Roni kembali menyeruak saat mengingat putrinya tersebut.


Istrinya hanya bisa menangis dihadapan Roni kala itu, bukan tanpa alasan mama Anya menutupi aib besar ini dari suaminya. Ia tidak ingin jika kesalahan fatal putrinya ini bisa mengakibatkan Roni dibutakan oleh sebuah amarah yang tidak akan pernah bisa dikendalikannya lagi. Dirinya sangat mengenal suaminya itu, melebihi Roni mengenal dirinya sendiri.


Lampu ruangan operasi terlihat sudah dimatikan kala itu, terlihat beberapa dokter keluar serta seorang perawat membawa inkubator keluar dari ruangan tersebut. Sosok mungil yang berada didalam inkubator itu, terdengar masih terus menangis hingga sampai pada ruangan yang dikhususkan untuk bayi.


Sayangnya, malaikat kecil itu tak mampu meluluhkan hati Roni yang masih teguh dengan pendiriannya. Jangankan menyentuh ataupun melihatnya, ia bahkan tak menoleh sedikitpun pada cucunya. Tubuhnya mematung disana dan tak bergerak sama sekali dari tempatnya sedikitpun.


"Pa, ayo kita masuk untuk melihat keadaan Anya" suara mama Anya terlihat melemah dan sedikit serak akibat tangis yang tak terhenti sedari tadi. Ia berusaha membujuk Roni dengan penuh kelembutan sambil meraih tanganya.


"Jangan lagi kamu sentuh aku!" sentak Roni yang seketika menghempaskan tangan istrinya.


"Pa, tolonglah ini rumah sakit" istrinya masih berusaha menenangkan Roni.


"Aku sudah tidak perduli dimana lagi kakiku berpijak. Tolong kamu ingat ini baik-baik, jangan sampai kamu berani membawanya pulang ke rumah dengan bayi itu. Aku benar-benar tidak sudi menerima mereka berdua" umpat Roni penuh amarah.


Mendengar keputusan Roni, dirinya tak mampu lagi membantah ataupun memohonkan ampunan atas ulah putrinya itu. Dengan dada yang sesak dipenuhi oleh bara api kemarahan, ia tinggalkan istrinya begitu saja disana. Dirinya lebih memutuskan pergi dari tempat itu dari pada menjumpai Anya yang masih terbaring lemah didalam.


Ceklek


Pintu ruangan tersebut dibuka oleh mamanya dengan segera.


"Ma, anakku perempuan ma" ucap Anya penuh kebahagiaan saat menyampaikan kepada mamanya, matanya berbinar-binar.


Mamanya hanya mengangguk dan merangkul erat tubuhnya tanpa berkata. Isak tangisnya begitu hebat dalam pelukan Anya, ia tak mampu lagi membendung kesedihannya.


"Papa sudah tahu semuanya" ujar mama sambil menggoyangkan tubuh Anya.

__ADS_1


Saat menatap mata mamanya, ia yakin bahwa baru saja terjadi pertengkaran hebat antara ke dua orang tuanya ini. Hari yang seharusnya ia bahagia karena baru saja melahirkan seorang putri cantik, mendadak menjadi hari yang begitu menyedihkan. Dengan muka yang datar ia hanya bisa merenungi semua dosa yang telah dirinya perbuat.


Bukan maksud dirinya untuk mecerai berai keluarga ini, hanya saja caranya yang salah dalam menyampaikan betapa besar rasa cintanya kepada lelaki yang sudah ditentang mati-matian oleh papanya itu.


Sementara dikantor polisi, semua berkas pengajuan Lukman dan Annara tengah diproses pihak berwajib dengan cepat. Kabarnya dalam waktu dekat ini Tomy dan Febrian dapat bebas dari jeratan hukum.


Tiga hari berlalu, tepat pada hari ini pukul 9 pagi Tomy dan Febrian menghirup udara segar diluar, iya mereka telah terbebas dari jerat hukum. Dengan sujud syukur keduanya nampak menangis bahagia, Febrian saat itu langsung bergegas pulang ke rumah orang tuanya. Tapi tidak dengan Tomy, ia begitu bingung ingin pergi kemana dulu hari ini.


Ia pun mencoba menghidupkan kembali ponselnya, mencoba untuk menelpon Anya. Belum sampai dirinya menelpon Anya, ternyata sudah tertera pesan singkat disana darinya.


Sayang aku sudah melahirkan. isi pesan singkat Anya.


Tomy tersenyum bahagia membaca kabar yang menggembirakan itu, tanpa pikir panjang ia pun menuju salah satu rumah sakit yang ia yakini bahwa Anya beserta putrinya ada disana. Setibanya dirumah sakit itu, hatinya berdebar kencang dan langkahnya sedikit gemetar. Ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah sakit itu, dan mencoba bertanya kepada salah satu suster disana.


"Pasien atas nama Anya dimana sus?" ucapnya.


"Ibu Anya berada dikamar bogenvil no 26 pak" ujar seorang suster kepdanya.


Ceklek ...


Suara pintu kamar itu terbuka oleh kehadiran Tomy, Suasana kamar saat itu cukup hening. Terlihat disana Anya tengah menyus*i seorang bayi yang menghadap tepat ke wajahnya. Sementara mama Anya terlihat sedang duduk disebuah sofa mengupaskan buah untuk putrinya.


Karena mereka berdua pikir yang masuk ruangan kali ini adalah suster, ke duanya nampak tak bergeming dari aktivitasnya masing-masing.


"Pagi sus ..." sapa mama Anya yang tengah sibuk mengupas dan memandangi buah yang ada ditangannya.


Karena ia tak mendapati jawaban dari ucapannya itu, dengan segera dirinya menatap seorang yang sudah berdiri dibalik pintu itu.


"Kamu" nadanya menjadi tinggi sambil menatap Tomy penuh kesal.


Dirinya kali ini melirik ke putrinya dan sang cucu, seolah memastikan bahwa mreka berdua jangan sampai sadar dengan kehadiran Tomy disini. Ia berdiri menghampiri pemuda tersebut yang berada dibalik kelambu.

__ADS_1


"Maafkan saya tante" Tomy bersimpuh dikaki mama Anya dengan menahan tangis.


Belum sampai dirinya mengusir Tomy dari ruangan, ia sudah terlebih dahulu meminta maaf kepada orang tua Anya.


"Ma, siapa itu ma" tanya Anya yang masih berada diatas ranjang.


Mamanya hanya terdiam tanpa kata. Anya tiba-tiba saja turun dari atas tempat tidur sambil menggendong putri kecilnya.


"Kamu ... sudah bebas" matanya penuh binar keharuan, karena ini adalah kali pertama mereka dipertemukan sebelum kejadian pilu itu.


Tomy yang masih berlutut dikaki mama Anya tak terlihat bergeser sedikitpun disana.


"Ma, tolong terima Tomy demi aku dan baby N yah" ucapnya gemetar sambil memegang erat tangan mamanya.


Ia selalu tak sanggup jika menolak permintaan putrinya selama ini, dirinya pun tak tega jika harus memisahkan ayah dan anak itu. Hatinya mulai luluh saat Anya menghampiri dirinya untuk memohon.


"Bangunlah, kamu saya maafkan untuk yang terakhir kalinya" seru mama Anya pada Tomy yang sedikit bernada tegas.


"Terimakasih tante" terlihat Tomy mengusap air mata yang mencoba menetes dipipinya.


"Kamu sudah menjadi seorang ayah, saya harap kali ini kamu mampu menunjukkan ke saya dan suami saya bagaimana seorang lelaki bertanggung jawab semestinya. Jangan pernah lagi kecewakan putri saya, terlebih lagi cucu saya" ucapnya bergetar dihadapan Tomy, dengan sekuat tenaga ia mencoba menahan agar tak menangis dihadapan mereka. Kali ini ia melakukan tugas seorang ibu yang sudah seharusnya melindungi putrinya.


...----------------...


Happy reading guys 🤗


semoga masih pada betah disini yah❤️


✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.


✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️

__ADS_1


✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️


__ADS_2