
"Baik pak, nanti akan saya sampaikan pada Annara istri saya. Dia pasti sangat senang melihat kebaikan bapak dan ibu yang luar biasa ini." ujar Lukman.
"Ayo ke depan, kamu lihat dulu mobilnya." pinta Roni sambil mengarahkan Lukman untuk keluar ruangan.
Sementara diluar, teman kantor Lukman terlihat riuh. Mereka semua penasaran dengan mobil yang tengah terparkir tepat didepan kantor dengan aksen pita merah besar. Terlihat mobil sport putih dengan aksen hitam terpampang jelas saat itu. Lukman yang segera menghampiri mobil tersebut, wajahnya penuh bahagia. Sementara Tomy beserta Anya yang tengah berada dikantornya masing-masing sangat penasaran apa yang sedang terjadi diluar.
Mereka berdua keluar dari ruangan itu dan mendekat pada Roni dan Lukman. Betapa terkejutnya mereka berdua melihat sebuah mobil tengah terparkir didepan kantor, rasa penasaran semakin menyelimuti perasaan keduanya saat itu.
"Pa, mobil siapa itu?. tanya Anya yang melirik ke arah Lukman.
"Lukman," jawab singkat Roni pada putrinya.
Apa, mobil mewah ini buat Lukman?. apa papa dan mama nggak salah kasih dia hadiah. kenapa kesannya berlebihan seperti ini, apalagi ini terjadi dihadapan Tomy. Pasti dirinya kini tengah cemburu melihat momen ini. gumam Anya.
Sementara Lukman yang tengah diteriaki oleh semua teman kantornya di minta untuk mencoba mobil tersebut. Dirinya yang setengah kikuk saat memasuki mobil tersebut, segera menyalakan mesin mobil tersebut. Semenjak Lukman bekerja pada keluarga Roni, dia memang sering diminta untuk menyupiri Roni jika ada klien di luar kota jadi dia sudah terbiasa membawa mobil.
"Sayang," ucap Anya pada Tomy yang melamun.
"Arrkh mau apa lagi kamu?," jawab Tomy penuh arogan.
Anya menghentikan ucapannya tersebut, entah kenapa semenjak Tomy mengetahui tentang pernikahan Lukman dan Annara semakin tidak bisa mengontrol egonya. Mudah sekali meledak-ledak saat menjumpai masalah kecil.
Flashback Anya
Kamu ni, pegang yang bener dong!. kuah sampai bisa tumpah ke baju aku kayak gini. nggak becus banget!. umpat Tomy pada Anya yang menumpahkan sedikit kuah ke bajunya.
Dirinya hanya merenung jika mengingat semua perlakuan Tomy padanya.
Lain dengan Lukman, perasaan bahagia tengah menyelimuti pikiranya saat itu. Dia sudah membayangkan betapa bahagianya istrinya nanti, jika mengetahui hal bahagia ini. Rasa tak sabar ingin menjemput Annara.
Pukul empat sore waktu itu, sebagian orang-orang tengah bersiap untuk pulang. Begitu juga dengan Lukman, ia bersiap menuju kantor sang istri dan menjemputnya. Sementara mobil pemberian dari Roni akan diantarkan ke rumah Lukman.
"Hai sayang," ucap Lukman penuh bahagia didepan Annara.
"Hei, kelihatannya lagi seneng banget nih. Mana senyumnya lebar banget ih," goda Annara.
"Buruan naik yuk, pengen cepet pulang nih." pinta Lukman.
Annara yang mendengar permintaan suaminya itu, segera naik ke atas motor dan memasang helm miliknya. Dipertengahan jalan dirinya yang mendapati Yasmin dan kekasihnya tengah berduaan, Annara melambaikan tangan pada mereka berdua.
__ADS_1
Sesampainya dirumah, Lukman dengan segera menyuruh istrinya untuk mandi.
"Sayang, cepet mandi ya. Habis gitu aku juga mandi," ujar Lukman dengan senyuman.
Annara yang kebingungan dengan sikap suaminya itu, bergegas memasuki kamar mandi dengan segudang tanya dihatinya. Ia tak pernah menjumpai suaminya bersikap aneh seperti ini.
"Bu, chia ayo kesini." teriak Lukman dari luar pintu.
"Kenapa teriak-teriak, ada apa?." ucap ibu kebingungan tetapi melihat putranya tersenyum bahagia.
Lima menit kemudian, sebuah mobil box besar tiba diteras depan rumah Lukman. Annara beserta ibu dan adiknya bertanya-tanya, apa isi didalam mobil box tersebut.
"Permisi, apa benar dengan pak Lukman." ucap salah satu seorang pegawai mobil tersebut.
"Iya, saya sendiri." sahut Lukman.
"Baiklah, akan kami turunkan disini ya pak," ujar karyawan tersebut sambil menunjuk halaman rumah Lukman.
Tiit Tiit Tiit
Bunyi mobil box tersebut membuka sebuah bagasi yang begitu besar, terlihat sebuah mobil didalamnya.
"Bu, Ra. Ini adalah hadiah pemberian dari pak Roni beserta istrinya.
"Astaga," ucap Annara terkaget.
"MasyaAllah, apa ini cuman mimpi. Ini beneran dari pak Roni Man?, apa tidak terlalu berlebihan semua ini. ujar ibu.
"Tadinya Lukman juga berfikir seperti itu bu, tapi dengan penuh keyakinan pak Roni meyakinkan Lukman. Beliau berharap semoga ini bisa bermanfaat kedepannya bagi kita bu." ucap Lukman.
Seolah tak sabar, mereka semua mencoba mendekati kendaraan tersebut. Sementara Lukman masih harus menandatangani surat serah terima dengan karyawan mobil tersebut.
❤️
Berbeda dengan kediaman rumah Roni saat itu, Anya yang terlihat kesal pada keputusan papanya ia hanya bisa mengunci diri dan berdiam dikamar. Ia tak mau keluar dari kamar sama sekali saat itu, ditambah lagi ia tak ingin makan sesuap pun.
Mamanya yang gelisah melihat tingkah putrinya itu, mencoba mengadu pada suaminya yang tengah membaca koran.
"Pa, coba bujuk Anya supaya mau keluar dan makan. Mama khawatir sama dia didalam sana. Mama uda berulang kali coba memanggil tapi tidak ada respon." ujar mama Anya.
__ADS_1
Tanpa berucap satu kata pun, Roni segera berdiri dan menghampiri pintu kamar Anya. Istrinya hanya bisa mengikutinya dari belakang.
"Ini papa. Kamu dengar baik-baik ucapan papa ini, kalau kamu masih bertingkah konyol seperti ini papa tidak akan segan-segan memecat Tomy dari kantor." cecar Roni pada putrinya.
Ceklekk ...
Suara pintu kamar Anya terbuka, wajahnya yang sembab dan masam membuatnya tak berselera untuk berdebat panjang dengan papanya saat itu. Dia lebih memilih diam dan berlalu menuju meja makan.
"Pa, kenapa sih keras banget sama putrinya sendiri. Anya itu anak semata wayang kita pa." ucap mama Anya.
"Sudah ratusan kali yang kamu ucapkan tetap sama. Justru dia adalah anak kita satu-satunya, aku nggak mau dia salah menentukan jalan hidupnya. Kamu lihat, dirinya lebih mementingkan lelaki nggak jelas itu dari pada kamu mamanya sendiri yang tengah khawatir akan keadaannya." jelas Roni panjang lebar kepada istrinya yang selalu membela Anya.
"Pa, sudah. Meski begitu, dia adalah pilihan anak kita. Jadi kita cuman bisa mendukung yang terbaik aja kan?," sahut istrinya.
"Terserah kamu, kalian berdua memang keras kepala. Sama-sama nggak bisa kalau diarahin ke hal yang benar." cecar Roni.
Ditempat lain, terlihat Tomy yang tengah duduk disebuah cafe tengah menikmati segelas minuman yang ia pesan. Tak sengaja saat itu, dirinya bertemu dengan teman sekantornya Febrian.
"Hai Tom," sapa Febrian dari kejauhan.
"Eh, lu ngapain disini." sahut Tomy ketus.
"Boleh gabung nggak ni, kan sama-sama sendirian kita. Biar asyik ada temen ngobrol," ujar Febrian.
"Boleh," sahut Tomy menerima tawaran Febrian.
"Oh iya, dikantor tadi Lukman beruntung banget ya bisa jadi salah satu karyawan kebanggaan pak Roni. Jadi iri, apa kabar kamu yang menjabat calon mantu darinya Tom." ujar Febrian yang membuat hati Tomy menjadi mendidih.
...----------------...
Happy reading guys 🤗
semoga masih pada betah disini yah❤️
✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.
✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️
✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️
__ADS_1