
"Aku harap, dengan kesempatan kali ini kamu tidak akan menyia-nyiakan dengan percuma. Banyak orang yang berharap dirimu berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik, terlebih istriku. Dia mau melihat kamu benar-benar mencintai Anya dengan segenap hati kamu Tom." tutur Lukman sepanjang pertemuan mereka.
Karena Tomy tak kunjung merespon semua ucapan yang Lukman lontarkan, ia lebih memilih untuk berpamitan saat itu juga. Lukman hanya bisa berharap Tomy mampu menelaah semua perkataannya dengan baik.
Lukman yang pergi meninggalkan Tomy saat itu segera menuju mobil miliknya dan berlalu pulang. Sedangkan Tomy yang baru tersadar dari lamunannya, menyesal karena belum sempat mengucapkan kata terimakasih tuk yang terakhir kalinya.
"Pak Tomy, mari kembali ke dalam sel" ucap petugas yang tengah berdiri menjaga dirinya.
Ia terlihat berdiri dengan lemas, dan menghampiri petugas tersebut untuk segera kembali masuk dalam sel. Saat dirinya hendak masuk ke dalam sel, tidak sengaja berjumpa dengan Febrian yang tengah berada diluar sel. Sepertinya ia pun baru saja menemui sanak saudaranya yang sedang berkunjung.
"Pak, tolong kasih saya waktu sebentar untuk bicara dengan teman saya itu." pinta Tomy dengan menunjuk ke arah Febrian.
Pak polisi yang mengetahui permintaan Tomy, lantas memalingkan wajahnya ke arah Febrian yang juga hendak dimasukkan ke dalam sel.
"Baiklah silahkan, hanya 10 menit saja" tegas suara polisi tersebut.
Tomy hanya mengangguk dan berjalan untuk menjumpai Febrian saat itu, mereka berdua berbincang terhalang oleh jeruji besi. Pasalnya mereka berdua tidak disatukan dalam sel, ke duanya dipisahkan dengan sel yang berbeda.
"Gimana kabarmu" sapa Tomy.
"Lu Tom, aku baik. Kamu sendiri gimana?," sahut Febrian yang menimpali ucapan Tomy.
"Baik juga, aku kesini pengen ngomongin sesuatu sama kamu. Baru saja aku ketemu dengan Lukman," terlihat Tomy membuka topik pembicaraan.
"Pasti dia masih kecewa dan marah besar dengan kita ya Tom. Pantas si, dia berperilaku seperti itu mereka berhak marah dengan kita". jelas Febrian dengan wajah lesu.
Febrian benar-benar dibuat gusar dengan perjumpaan Tomy dan Lukman. Karena ia tidak ingin jika sampai kedatangan Lukman akan lebih memperberat masa hukumannya, masa depannya telah terbengkalai semenjak kejadian waktu itu. Dirinya dalam sekejap kehilangan semuanya begitu saja.
"Tidak, kedatangannya kali ini berbeda. Aku pun di buat terkejut dengan keputusan yang ia ambil dengan Annara, sempat aku berpikiran malu yang teramat dalam pada mereka berdua saat ini. Karena aku merasa, perbuatanku kali ini sungguh diluar batas nalar dan tak pantas untuk dimaafkan. Dia kesini untuk mencabut laporan kita berdua," jelas Tomy yang menceritakan perjumpaan dirinya dengan Lukman.
__ADS_1
Mata Febrian terlihat bulat sempurna dan tidak bergeming sedikitpun, tanganya terlihat hanya meremas jeruji besi yang ada dihadapannya. Entah bagaikan kesempatan ke dua bagi dirinya untuk menebus semua dosa-dosanya. Ia pun terlihat menangis saat mendengar semua kebaikan Lukman dan Annara. Seakan tak percaya bahwa dirinya sebentar lagi akan menghirup udara bebas diluar sana.
"Waktu sudah habis pak Tomy" ujar salah seorang polisi.
Tomy memandang polisi tersebut sambil mengangguk dengan patuh.
"Aku kembali dulu, semoga kabar baik yang aku sampaikan ini bisa membuat kamu merasa jauh lebih baik dalam menjalani sisa waktu disni. Maafkan aku yang sudah membuat kamu meringkus didalam sini" ujar Tomy sebelum meninggalkan Febrian.
🖤
"Akh ... kenapa dengan perutku ini. Sakit ma, tolongin Anya. erang Anya yang kesakitan menahan kontraksi yang tiba-tiba datang dengan hebat.
Terlihat jarinya meraih ponsel yang berada diujung meja dekat telepon. Ia mencoba menghubungi mamanya untuk mengantarkan dirinya ke rumah sakit saat itu juga, 30 menit kemudian mamanya pun tiba disana. Mamanya sedikit terkejut mendapati kondisi Anya yang sudah pecah ketuban, terlihat bingung tapi segera ditangani dengan baik oleh mamanya.
Dengan membopong tubuh anaknya, ia pun berbicara untuk menguatkan putrinya yang mulai melemah.
"Kamu kuat sayang, sebentar lagi kita akan sampai." ujar mama yang menguatkan Anya dalam rintihannya.
"Pak, tolong segera bawa kami ke rumah sakit dengan cepat" pinta mama Anya dengan cepat, sambil memegangi tubuh serta perut Anya.
"Baik bu, dengan tak banyak kata pak Slamet mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata" ucapnya sambil menyetir.
Tak butuh waktu lama, mereka bertiga sampai di sebuah rumah sakit yang cukup besar. Dan rumah sakit itu memiliki fasilitas yang begitu lengkap, dengan sigap pak Slamet lalu mengambil sebuah kursi roda untuk Anya. Lalu mendorong Anya yang sudah terduduk di atas kursi roda tersebut. Tubuhnya sedikit menggelinjang tak karuan akibat rasa kontraksi yang begitu hebat setiap menitnya.
"Sus, anak saya sepertinya akan melahirkan. Tolong tangani dengan cepat" pinta mama dengan nada yang sedikit gelisah.
"Baik bu, silahkan ibu duduk dan tunggu diluar sampai penanganan selesai" tutur salah seorang suster yang hendak membawa Anya memasuki sebuah ruangan.
Dua menit setelah Anya memasuki ruangan tersebut, terlihat beberapa dokter menuju ruangan itu untuk mengambil tindakan. Dan salah seorang suster yang sudah memakai pakaian lengkap untuk melakukan tindakan datang menghampiri mama Anya menyodorkan secarik kertas yang bertuliskan bahwa Anya harus ditangani secara caesar.
__ADS_1
Karena usia kandungan Anya saat ini tidak mencukupi dari usia lahir, maka dokter mengambil keputusan untuk melakukan tindakan caesar pada Anya.
Mama pun menandatangani kertas tersebut tanpa berpikir dua kali, dirinya hanya perduli dengan keselamatan putri dan calon cucunya saat ini.
Selama satu jam kurang mama Anya berdiri gelisah dengan melipat ke dua tanganya dan berjalan mondar mandir didepan ruangan operasi.
Oeeek ... Oeeek
Tubuhnya langsung lemas saat mendapati suara tangisan bayi dari dalam ruangan operasi tersebut.
Air matanya tumpah seketika, senyumnya merekah dengan begitu lega. Ia pun dengan segera menghampiri pak Slamet yang sudah menunggui dirinya dan Anya dirumah sakit.
"Pak, saya minta tolong untuk hal ini jangan ceritakan dahulu kepada bapak" pinta mama kepada pak Slamet.
"Baik bu, perintah dimengerti" sahut pak Slamet yang tengah berdiri dihadapan mama.
Tanpa ia sadari, suara langkah kaki seorang menyadarkan dirinya dari lamunannya sesaat. Suara langkah kaki itu semakin berderap mendekatinya, dan betapa terkejutnya bahwa itu adalah suaminya Roni.
Ternyata Roni mencurigai kepergian istrinya malam ini yang terlihat sangat cemas dan buru-buru tanpa meninggalkan penjelasan kepada dirinya. Dengan badan tegap ia berdiri dihadapan istrinya sambil memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celananya.
...----------------...
Happy reading guys 🤗
semoga masih pada betah disini yah❤️
✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.
✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️
__ADS_1
✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️