Lelakiku

Lelakiku
Hadirmu


__ADS_3

Bulan demi bulan berlalu, tepat pada hari ini usia kandungan Annara memasuki trimester ke 3 pada usia kandungan 36 minggu. Perutnya yang semakin membuncit tak dapat lagi ia sembunyikan dibalik pakaiannya. Ia juga tengah mengalami beberapa perubahan anggota tubuh seperti, kaki yang mulai terlihat membengkak dan payud*ra yang sudah terisi penuh oleh asi.


Kali ini, dirinya tengah diselimuti rasa khawatir yang begitu mendalam. Pasalnya dokter tengah memperkirakan bahwa dirinya dalam waktu dekat akan segera melahirkan. Semua terlihat normal, baik posisi bayi ataupun berat badan janin. Ia hanya perlu menyiapkan mental saja untuk menghadapi persalinan yang hanya tinggal menghitung hari.


Lain dengan kondisi Anya saat ini, dirinya yang menjalani kehamilannya seorang diri tanpa dampingan seorang suami. Ia pun harus hidup terpisah sementara dari ke dua orang tuanya, mamanya lebih menyembunyikan untuk menutup rapat tentang kehamilan Anya terhadap suaminya Roni dari pada mengungkapkan hal pahit ini dihadapannya.


Kini Anya tinggal disebuah apartemen yang tak cukup jauh dari tempat tinggalnya, semua rencana ini sudah disusun matang oleh mamanya. Sejauh ini rencana mereka terlihat berjalan cukup baik tanpa kendala yang berarti. Usia kehamilan Anya pun sama dengan Annara, mereka diperkirakan akan melahirkan secara bersamaan oleh dokter Stephanie, ia adalah dokter yang menangani kehamilan mereka berdua.


Ting Tong


Terdengar suara bunyi bel apartemen Anya berbunyi, ternyata kali ini adalah mamanya. Seperti biasa, mamanya selalu datang menjenguknya untuk membawakan semua keperluan yang ia butuhkan selama di apartemen.


"Ma ..." sambut Anya pada mamanya yang terlihat sedikit kesusahan untuk berjalan sempurna.


"Sayang, gimana cucu mama apa semua baik?." mama terlihat begitu mengkhawatirkan keadaan anak Anya.


"Dia baik ma, aktif dan juga sehat kata dokter." jelas Anya mengabarkan kondisi janinnya.


Mama terlihat cukup lega dengan penjelasan Anya, dirinya pun terlihat menata semua makanan ke dalam lemari es untuk stock Anya beberapa hari ke depan. Dengan penuh kasih sayang, ia juga sudah menyiapkan sebuah masakan kesukaan putrinya tersebut.


"Mendekat ke mama sini, mama mau suapin kamu. Buka mulutnya," titah mama yang begitu memperhatikan kondisi putri semata wayangnya itu.


"Aaaaak," ucap Anya yang membuka mulutnya dengan lebar, ia begitu bahagia saat mamanya berkunjung. Karena tak ada orang lain selain mamanya yang menjaga dirinya.


"Kamu harus kuat untuk anak kamu." tegas mama sambil menyeka air matanya.


"Selalu ma, gimana kabar papa ma. Anya rindu sekali," air matanya tak terasa tumpah dihadapan mamanya, bagaimana tidak dirinya sudah sangat lama jauh dari papanya demi menutupi hal ini.

__ADS_1


"Papa lagi sakit dirumah ia juga merindukan kamu tapi dengan kuat ia mencoba menutupi semua rasa itu dari mama, sebenarnya mama juga nggak tega tutupin hal ini dari dia. Tapi perjuangan kita tinggal sedikit lagi, semua ini mama lakukan demi kalian berdua. Mama nggak ingin ia tidak sampai terlahir ke dunia ini karena perbuatan kakeknya." nada suara mama mulai terdengar pilu saat menceritakan kondisi Roni suaminya.


Anya begitu sedih mendengar kondisi papanya, ia sangat merasa bersalah dalam hal ini. Dirinya berharap semua akan berlalu dengan begitu cepat dan menuai hasil akhir yang indah.


"Bagaiman perkembangan kasus Tomy," ucap mama yang membuat hati Anya tersentak.


"Dulu, Anya sebenarnya sudah sempat memohon pada Lukman dan Annara ma. Mereka berjanji akan mencabut laporan mereka kepada Tomy, tapi entah sampai dengan saat ini kasus itu belum bergulir juga." matanya begitu sendu saat menceritakan kisah pilu perjuangannya untuk Tomy.


"Mama yakin, mereka berdua adalah orang baik. Kamu tunggu saja kabar baik yang mungkin akan segera datang dalam waktu dekat ini." tegas mama yang yakin terhadap kebaikan Lukman beserta Annara.


Tak terasa makanan yang dibawah oleh mama sudah habis tak tersisa dimakan oleh Anya, mama memerhatikan tubuh putrinya yang sedikit lebih berisi dari biasanya. Tersirat rasa sedih yang terpancar diraut wajah Anya, tapi mamanya hanya memilih untuk berpura-pura tidak tahu agar Anya bisa tetap tegar menjalani ini semua.


"Mama pulang dulu ya, mingu depan mama akan kesini lagi. Jaga diri baik-baik disini, mama akan selalu ada buat kamu." ujar mama sambil memberikan ci*man hangat untuknya dan berlalu menuju pintu keluar.


❤️


"Aaaaakh," tubuh Annara sedikit tersentak saat mendapati tendangan dari bayi kecilnya yang berada dalam perutnya.


"Hai sayang nggak boleh nakal seperti itu ya, kasihan mama" seru Lukman yang tengah duduk disamping Annara dengan mengusap lembut perut besar istrinya.


"Dia kayaknya sudah nggak sabar mau ketemu kamu mas." jelasnya lirih setengah berbisik.


Memang selama ini bayi tersebut selalu merespon dengan baik setiap kata yang Lukman ucapkan, ia merespon dengan sebuah tendanga kecil ke arah perut Annara jika mendengar suara Lukman.


"Sebentar lagi kita akan bertemu sayang, kumpulkan tenaga yang banyak ya. Biar waktu lahiran besuk mama nggak perlu berlama-lama nungguin kamu keluar." goda Lukman merayu bayi kecilnya tersebut.


Baik Annara ataupun Lukman memang telah sepakat untuk tidak mengetahui jenis kelamin dari bayi mereka. Jadi sampai dengan hari ini, mereka hanya memanggil dengan sebutan bayi kecil.

__ADS_1


"Mas, beberapa keperluan sudah siap untuk bayi kecil kita. Tapi masih ada yang kurang beberapa lagi," jelas Annara yang tengah berbenah keperluan si kecil.


"Nanti kita keluar ya, kita beli perlengkapan yang masih kurang. Tunggu agak sorean, biar cuacanya nggak begitu panas." jelas Lukman.


Setelah beberapa jam kemudian, jam dinding rumah pun berdenting menunjukkan pukul empat sore hari itu. Annara yang sudah terlihat bersiap untuk segera pergi membeli perlengkapan, ia terlihat mengenakan sebuah daster dengan nuansa pastel dan tas selempang kecil bewarna cream.


Ia pun dengan segera menuju Lukman dan mengajaknya segera berangkat saat itu juga, Rasa bahagia dan tak sabar segera bertemu malaikat kecilnya sudah tersirat jelas diwajahnya.


Mereka pun berlalu memasuki mobil dengan segera.


"Sudah siap permaisuri ku?" goda Lukman disampingnya.


"Siap mas," ucap Annara sambil tersenyum manja.


Lukman pun dengan segera membawa Annara ke sebuah toko perlengkapan bayi saat itu. Sesampainya ditempat itu, dengan kalap Annara memilah semua baju yang bewarna netral untuk calon malaikat kecil mereka berdua.


Ditengah kesibukannya memilah baju, terlintas pikiran tentang Anya dibenaknya.


"Mas, gimana kabar pencabutan laporan kita untuk Tomy?. Kenapa nggak ada kabar sampai sekarang, aku kasihan sama Anya. Pasti sampai detik ini ia masih mengharapkan kedatangan Tomy disisinya. Apalagi sebentar lagi ia juga akan melahirkan sama sepertiku." kenang Annara pada Anya yang bernasib pilu.


...----------------...


Happy reading guys 🤗


semoga masih pada betah disini yah❤️


✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.

__ADS_1


✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️


✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️


__ADS_2