
"Nanti aku akan coba datangi kantor polisi ya, aku bakal tanyakan lagi tentang laporan pencabutan itu sayang." jelas Lukman yang mencoba mengingat dengan baik laporan tersebut.
"Tolong kamu pastikan kembali dengan baik ya. Aku mau yang terbaik untuk Anya mas. pinta Annara.
Lukman tersenyum saat mendapati permintaan istrinya tersebut, sambil mengusap lembut rambut Annara.
Kamu selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu dari pada diri kamu sendiri sayang. Terimakasih telah mengajarkanku banyak hal yang tidak pernah aku jumpai pada wanita lain. gumam Lukman.
Dirinya pun lantas menarik tubuh Annara dan memberikan sebuah pelukan kasih sayang.
"Mas, ini tempat umum" terdengar Annara membisik ke telinga Lukman yang masih saja dengan erat memeluk Annara.
"Biarin, kita kan sudah suami istri. Paling juga mereka yang masih jomblo akut cemburu melihat kita." ujar Lukman yang sedikit memberikan candaan disela pelukannya.
"Dasar kamu ini" Annara ikut tertawa mendengar ucapan Lukman.
Mereka pun terlihat memutuskan pilihannya pada beberapa barang disana. Sambil membawa tas yang berisi beberapa pakaian serta perlengkapan mandi si kecil, Annara berjalan menuju kasir untuk melakukan pembayaran saat itu juga.
"Selamat sore bu, ah ibu ini lagi rupanya. Senang bisa melayani ibu dan bapak sore hari ini, apa ini adalah anak pertama pak bu?" ujar salah satu kasir yang memakai papan nama bertuliskan Siska.
"Betul mbak," sahut Annara sembari tersenyum.
"Sudah saya duga, karena melihat persiapan yang ibu beli begitu banyak." jelas Siska sambil mengawasi monitor.
"Mbaknya sendiri kapan?" ucap Lukman yang memotong pembicaraan ke dua wanita tersebut dengan iseng.
"Hahah, orang saya masih jomblo pak. Do'akan saya supaya ada lelaki yang segera menimang saya" seru Siska sambil tertawa.
"Aamiin, do'a baik biasanya tidak akan lama lagi segera terwujud mbak" Annara mencoba memberikan keyakinan pada Siska.
__ADS_1
Lukman hanya menggeleng saat ke dua wanita sudah mulai dipertemukan dan membahas hal yang menurut mereka itu asyik untuk diperbincangkan.
"Baik, semua sudah selesai pak bu. Totalnya 1.125.000 rupiah." seru Siska sambil mengucapkan nominal belanja yang sudah tertera pada layar yang berada dihadapan Annara.
"Pakai ini ya mbak" Annara terlihat mengeluarkan sebuah kartu debit milik Lukman.
"Tit ... tit ..." Siska mulai memproses kartu tersebut dengan baik.
Mereka berdua yang saat itu sudah menyelesaikan pembayaran berjalan keluar dari toko tersebut dan memutuskan untuk kembali pulang. Di pertengahan jalan menuju rumah, Annara terlihat kembali mengingatkan Lukman tentang Tomy. Dirinya meminta hari ini Lukman untuk segera menyambangi kantor polisi dimana tempat Tomy dan Febrian ditahan.
"Iya sayang, habis aku anterin kamu pulang aku akan kekantor polisi hari ini juga." seru Lukman sambil menyetir.
Setibanya mereka dihalaman depan rumah, Annara terlihat segera turun dari dalam mobil. Ia pun terlihat melambaikan tanganya pada Lukman yang segera memutar balikkan mobil miliknya untuk menuju kantor polisi saat itu juga.
Bertepatan dengan jam istirahat para napi saat itu, Lukman yang baru saja memarkirkan mobilnya berjalan memasuki salah satu ruangan polisi. Ia pun menyampaikan tentang kesulitannya dalam proses pencabutan berkas atas nama Tomy dan Febrian.
"Saudara Tomy mari ikut saya, ada yang ingin menemui anda diluar." krek krek terdengar suara gesekan besi pada jeruji yang tengah dibuka oleh polisi tersebut.
Tomy pun keluar dalam sel dan mengikuti petugas tersebut dari belakang. Tampangnya sedikit tak terurus, kumisnya dibiarkan tumbuh dengan tipis dan memiliki brewok yang sedikit tebal.
"Lukman" terdengar suara Tomy dari balik punggung Lukman.
Dengan segera Lukman memalingkan wajahnya ke hadapan Tomy.
"Tom, apa kabar. Ayo duduk sini, ada yang mau aku bicarakan sama kamu." undang Lukman pada Tomy yang masih terlihat berdiri.
"Ada perlu apa kamu kemari," ucapnya lembut dan santun.
"Hari ini aku kemari untuk mencabut laporanku pada kamu dan Febrian." jelas Lukman singkat dan padat.
__ADS_1
Matanya terbuka sempurna dan lebar saat mendengar penjelasan Lukman barusan. Dirinya sungguh dibuat terkejut dengan keputusan Lukman kali ini, karena sisa hukuman yang harus dilalui Tomy masih tersisa 2,5 tahun lagi.
"Apa benar yang kamu ucapkan barusan?." tanyanya lirih seakan tak percaya.
"Benar Tom, sebenarnya ini bukan keputusanku. Semua ini adalah keputusan Annara" ujar Lukman.
Dirinya tertunduk saat Lukman menyebut nama Annara kala itu, rasa malu yang begitu hebat tiba-tiba saja menampar keras dirinya atas ulah yang sudah ia perbuat selama ini.
"Kenapa dia mau melakukan ini?" tanyanya dengan nada gemetar.
"Annara melakukan semua ini atas permintaan Anya waktu itu. Beberapa bulan yang lalu Anya datang menghampiri kami untuk membahas masalah ini, ia datang untuk memohonkan maaf atas nama kamu dihadapan Annara. Dirinya sempat menceritakan tentang kondisinya sekarang, pada kami. Ternyata Anya sekarang juga berbadan dua, maka dari situlah pertimbangan Annara membuat sebuah keputusan besar ini dimulai. Kamu juga mengenal Annara dengan baik, seperti aku. Bagaimana cara dia memandang orang lain tanpa memperdulikan segala perasaan ataupun keadaan dirinya. Ia selalu mengutamakan perasaan orang lain ketimbang perasaannya sendiri kan Tom?". tutur Lukman menceritakan semua kejadian tentang Anya.
"Jadi semua ini atas permintaan Anya yah. Aku minta maaf sama kalian ya, sedari dulu aku sudah memberikan ultimatum pada dia agar tidak ikut campur dalam hal ini. Karena sudah sepatutnya aku mendapatkan semua hukuman ini, dan aku akan menjalani semuanya dengan baik hingga selesai. Kamu tidak perlu mencabut laporan ini untuknya, biarkan dia akan mengerti dengan sendirinya nanti." jelas Surya yang tidak terima atas ulah Anya.
"Jangan begitu Tom, Anya saat ini juga dalam kondisi yang membutuhkan kehadiran kamu. Ia juga tengah berbadan dua, dan dalam waktu dekat ini ia akan melahirkan anak kalian berdua. Aku dan Annara sudah jauh memaafkan kalian berdua atas semua peristiwa waktu itu, jadi jalan ini kami ambil dengan dasar rasa kemanusiaan." jelas Lukman memberikan pengertian pada Tomy.
Mulut Tomy terbungkam saat mendengar semua kenyataan yang Lukman jelaskan, benar dirinya akan menjadi seorang ayah dari anak Anya. Tetapi dirinya juga dihantui rasa bersalah yang begitu hebat, jika dirinya akan dibebaskan dari jerat hukum ini begitu saja. Rasa takut menyelimuti pikirannya saat itu, tapi ada sedikit rasa bahagia terselip dihatinya karena sebentar lagi berjumpa dengan Anya.
...----------------...
Happy reading guys 🤗
semoga masih pada betah disini yah❤️
✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.
✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️
✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️
__ADS_1