Lelakiku

Lelakiku
PROMO NOVEL


__ADS_3

Yukc



yuk yang sudah tamat baca kisah ini, bisa melipir ke novel terbaru othor ya β™₯️


Cuplikan Bab :


"Tolong menjauhlah dariku ayah!"


"Tiara mohon!"


"Jangan sentuh Tiara!"


Rintihan Tiara Fransiska menggema didalam ruangan kamar miliknya yang saat ini tengah gulap gulita.


*


*


*


Dia adalah anak pertama dari 3 bersaudara, sebagai anak tertua dirinya kerap kali dituntut untuk menjadi panutan bahkan contoh yang baik untuk adik-adiknya kelak.


Tiara Fransiska gadis cantik yang memiliki kulit sawo matang dan memiliki mata sipit dan bulu mata yang lentik. Kali ini usianya menginjak 13 tahun, dan ia telah memilih untuk masuk kedalam sekolah menengah pertama negeri yang cukup favorit didesanya.


Tekadnya yang bulat, tak membuat gentar hatinya sedikitpun. bahkan semenjak ia sudah menempuh pendidikan sejak dini hingga sekolah dasar, semua rangking kelas pun ia dapatkan dengan mudah.


Setiap tahun, ia selalu menduduki rangking 1 bahkan 2 dikelasnya. Dirinya cukup pintar, dan tak jarang semua gurunya pun seringkali memuji kepintarannya itu.


"Cepat habiskan makananmu!" ucap Mia.


Mia Safitri adalah ibu Tiara, sehari-harinya ia hanya menjadi seorang ibu rumah tangga biasa. sepanjang hari waktunya hanya dihabiskan dengan mengasuh ke dua anaknya yang masih balita.


"Bisakah mulutmu tidak berdecak ketika mengunyah makanan itu!" umpat Mia dengan kasar.


Tiara selalu melewati pagi harinya dengan segudang kepenatan hati didalam dirinya. Tapi ia tak pernah mengeluhkan hal itu sedikitpun.


"Hari ini ayah akan mengantarkanmu sekolah!" ujar seorang pria yang memiliki tubuh yang cukup tinggi dan berkulit sawo matang.

__ADS_1


Dia adalah ayah Tiara yang memiliki usaha cukup terkenal didesa itu. dan pria itu bernama Faizal Jaidi, di desa itu dirinya kerap dipanggil oleh warga setempat dengan sebutan pak Faizal.


"Tiara sudah janji dengan teman kalau akan berangkat sama-sama yah" jelas Tiara sambil setengah melirik tanpa berani menatap muka lelaki itu dengan sempurna.


"Tidak!"


"Ayah bilang tidak ya tidak!"


kekangan pria tersebut terkadang membuat Tiara begitu minder pada teman-teman sebayanya, bagaimana tidak meskipun ia sudah menginjak dewasa seperti ini ayahnya selalu saja terlalu posesif terhadap dirinya.


Sementara ibunya yang sama sekali tak memperdulikan perdebatan itu, terus sibuk mengurusi ke dua adiknya dimeja makan yang tengah memberantakan seluruh meja makanan.


"Aku sudah selalu bilang, bawa mereka berdua jauh-jauh dariku jika aku sedang makan bukan?!" maki Faizal pada istrinya.


Seperti biasa, Mia hanya cuek dengan semua omelan khas pagi hari dari suaminya itu. Dirinya terus menghadap ke dua putrinya sambil terus menyuapi dengan sabar.


"Ayo berangkat!"


Tiara yang sejak tadi telah usai menghabiskan makanannya, hanya patuh terhadap perintahnya.


Sepanjang perjalanan, mereka berdua hanya terdiam tanpa kata. tak ada obrolan menarik yang ingin mereka bicarakan diatas motor itu. Hingga sampai pada akhirnya, Tiara yang baru saja turun dari atas motor milik sang ayah harus terhenti dengan suara ayahnya.


"Jangan pernah bermain dengan teman lelakimu!" ucapnya garang.


*


*


*


Hari itu, adalah hari ke dua setelah masa orientasi siswa. setelah pembagian kelas, Tiara dan seluruh teman-temannya pun mendapatkan pembagian buku yang dilakukan secara bergilir dalam kelas.


Dalam sekolah favorit itu, hanya dia dan temanya Pujianti yang dapat masuk kedalam sekolah itu. Pemilihan murid disana sangatlah ketat, tak penting seberapa hebat orang tuamu ataupun sekaya apapun jabatan orang tuamu.


Tetap saja, seleksi dilakukan dengan ketat melalui serangkaian tes mata pelajaran. Hanya murid yang memiliki kepintaran diatas rata-rata saja yang mampu mendapatkan bangku sekolah tersebut.


"Puji, kali ini aku duduk denganmu yah" ujar Tiara yang mendekati puji.


"Tentu boleh" sahut Puji lirih.

__ADS_1


Beruntungnya mereka dapat dipertemukan lagi dalam satu sekolah, bahkan merekapun ditakdirkan untuk bertemu dalam satu kelas lagi. Tak ada perlombaan ataupun persaingan diantara keduanya, meski keduanya adalah pemegang peringkat terbaik tahunan selama di bangku sekolah dasar.


"Tadi kenapa kamu tidak berangkat denganku?" ujar Fuji .


"Maaf ya, ayah maksain aku buat antar ke sekolah" sahut Tiara dengan wajah sedih.


Fuji yang sudah seringkali mendengar alasan itu, mencoba mengerti keadaan temanya tersebut dengan baik.


Pada hari ini, banyak sekali guru-guru yang mengisi waktu mereka hanya untuk sekedar berkenalan dengan anak didiknya dalam kelas. masih belum ada satupun mata pelajaran yang meraka berikan selama masa mos berlangsung.


tepat pukul 11 siang, sekolah itu membunyikan bel pulang tanpa harus ada waktu istirahat bagi mereka. Sudah dua hari ini Tiara dan Fuji melewati masa mos lebih cepat.


"Aku duluan ya Ra" tutur Puji meninggalkan dirinya didepan gerbang sekolah.


Tiara yang selalu menunggu kedatangan ayahnya, selalu menunggu dibawah sebuah pohon beringin yang terdapat bangku kursi panjang disana. Ditempat itupun kerap kali terlihat anak seusianya bahkan kakak kelasnya untuk hanya sekedar nongkrong dan menghabiskan waktu disana.


πŸ“²"Yah, Tiara sudah pulang" suara Tiara yang menelpon ayahnya.


Pria itu hanya melakukan hal yang sama disaat mendengar suara putrinya menggema di ponsel miliknya. Tanpa menyauti apapun, dirinya hanya menutup telepon itu dan segera bergegas berangkat menjemputnya.


Faizal tidak pernah takut meninggalkan pekerjaannya, karena dirinya adalah bos besar dalam usaha itu. Usahanya sering kali ia titipkan kepada anak buahnya, ketika dirinya memutuskan untuk keluar sebentar ataupun bepergian.


Sebagai pengusaha sukses didesa itu, hampir sebagian warga sekitar ataupun pemuda setempat memutuskan untuk bekerja bersama dirinya saat ini.


Dirinya memiliki usaha yang cukup bagus dan berpotensi untuk berkembang pesat. Faizal selalu melayani pembelian ikan olahan yang sering kali disebut warga sekitar sirip ikan hiu. Tak jarang permintaannya itu, menembus hingga ke kota-kota besar di Jawa hingga keluar pulau.


Dan dengan usahanya ini, dirinya mampu memberikan sebuah fasilitas handphone mahal untuk sang putri Tiara beserta sang istri. Tiara yang baru saja duduk dibagku sekolah itu, sudah mengantongi ponsel yang sudah cukup canggih. yang dimana notabene anak seusianya masih belum memiliki sebuah ponsel.


"Lama sekali ayah" gerutu Tiara dengan wajah datar.


Laki-laki itu hanya diam sambil menatap tajam kearah seorang pemuda yang tengah menatap dirinya dan Tiara .


"Siapa dia?!" tunjuk Faizal dengan wajah marah, sementara pemuda itu hanya menundukkan kepalanya ketika Tiara melihatnya.


Dirinya berlindung dibalik topi sekolah miliknya dengan segera.


*


*

__ADS_1


*


Simak kelanjutan kisahnya yah, segera otw bab akan up setiap hari guys 😘


__ADS_2