
Sementara di rumah sakit, ibu beserta Chia tengah menjaga Annara dengan sepenuh hati. Tak disangka, Annara sudah mulai banyak merespon orang-orang yang berada disekitarnya saat itu.
"Kak, ayo bangun. Kali ini kakak harus nurut sama Chia ya, kakak harus makan yang banyak biar cepet pulang. Buka mulutnya Aaaaaaaa," ujar Chia disamping Annara yang sudah bersiap menyuapi bubur untuk Annara.
"Baik bu dokter kecil," ucap Ara saat melihat tingkah Chia.
Entah kenapa, sejak kedatangan Chia dirumah sakit saat itu membuat Annara memiliki semangat baru. Ia tak lagi diam mematung dan bersedih meratapi semua keadaan yang telah terjadi. Chia pun mampu mengukir senyuman di bibir Annara.
"Chia ayo sini, biar kak Ara istirahat dulu," tegur ibu pada Chia yang terus menerus mengajak Annara untuk berbica.
"Nggak papa kok bu, biar Chia didekat Ara saja. Soalnya, Chia ngehibur Ara banget. Maafkan Ara juga ya bu, sudah menyusahkan ibu disini," ujar Annara.
"Kenapa perlu minta maaf, sudah kewajiban ibu. Bagi ibu, kamu atau Chia dan Lukman semua sama. Anak ibu semua, jadi kalau sakit pasti ibu akan rawat dengan baik," jelas ibu pada menantunya.
Annara yang mendengar hal itu tak mampu menahan tangisnya saat itu, dan dirinya merasa begitu beruntung dapat menyatu dengan keluarga Lukman. Ibu yang melihat Annara menangis, mencoba mendekat dan memberi pelukan untuk menyemangati Annara.
"Bu, dari tadi Ara nggak ngelihat Lukman sama sekali. Dimana dia bu?," tanya Annara.
"Dia pagi-pagi sekali tadi sudah pamit ke ibu untuk keluar sebentar. Tapi dia bilang akan segera kembali kesini." jelas ibu.
Tidak berselang lama Lukman akhirnya tiba dirumah sakit, dirinya terlihat begitu tergesa-gesa untuk menemui istrinya. Ia sangat khawatir tentang perkembangan Annara, dengan berlari kecil ia menuju kamar tempat dimana Annara berada.
Ceklekk ...
Suara pintu kamar terbuka.
"Mas," sapa Annara dari tempat tidur.
Betapa bahagianya ia dapat mendengar kalimat itu untuk hari ini. Setelah semalaman suntuk ia mendampingi Annara dengan jiwa yang sedikit berbeda.
"Hei, kamu sudah mau bicara. Sudah makan, obatnya juga sudah diminum?" cecar Lukman pada Annara sambil menci*m keningnya.
"Kamu dari mana, kenapa ninggalin aku lagi." pungkas Annara dengan tatapan penuh selidik.
__ADS_1
Lukman yang mendengar kalimat istrinya tersebut, ia meyakini bahwa Annara masih diselimuti rasa traumanya akibat kejadian itu.
"Aku dari kantor kamu tadi, buat ketemu Yasmin. Lalu aku pergi ke kantor polisi sekalian. Maaf ya, lain kali aku pasti bilang kalau mau bepergian," tutur Lukman.
"Yasmin, kantor polisi?. Memang ada apa mas?," tanya Annara.
"Aku tadi ke kantor untuk minta tolong pada Yasmin buat cek cctv disekitar kantor. Terus aku dapat beberapa rekaman cctv kejadian yang menimpa kamu kemarin, dan aku langsung masukin laporan aja ke polisi. Semoga kita segera tau siapa dalang dibalik semua ini yah," papar Lukman.
"Aamiin," jawab ibu dari belakang Lukman.
"Kamu yakin kalau kamu kuat sayang, kamu pasti bisa lalui semua ini dengan baik. Kita bakal selalu ada buat kamu," ucap Lukman menyemangati.
Terdengar suara pintu kamar dibuka oleh seseorang.
"Selamat siang semuanya, mohon maaf kami mengganggu sebentar ya." ucap Rehan dan seorang perawat memasuki kamar itu.
"Rehan," pekik Annara terkejut.
"Hai Ra, iya ini aku. Gimana keadaannya, sudah baikan?. Harusnya sudah dong, kamu punya suami yang begitu siaga jagain kamu sampai rela begadang demi kamu," goda Rehan pada Annara.
"Sudah nih? tatapan cintanya. Kalau belum, nanti dilanjut lagi ya. Sekarang mau diperiksa dulu perkembangan kamu Ra, biar bisa cepat pulang. Enakan dirumah bisa tidur bebas kan dari pada disini tidurnya nggak nyenyak," Sindir Rehan pada Annara. Rehan melakukan semua interaksi ini, agar dirinya merasa nyaman dan dapat mengalihkan pikirannya pada rasa trauma yang di alaminya.
"Gimana dok, apa semua baik?," tanya Lukman pada Rehan.
"Panggil saja namaku. Keadaan istri kamu sungguh luar biasa, dia jauh lebih baik hari ini. Aku nggak kaget si kalau dia bakal melalui masa ini dengan cepat, karena kalian menjaganya dengan begitu baik." Jelas Rehan.
"Terimakasih ya, sudah membantu kami dengan begitu baik." tutur Lukman.
"Sama-sama, sudah menjadi tugas aku juga sebagai dokter. Semoga kalian segera memiliki momongan yah, itu juga akan sangat membantu psikis Annara kedepannya." jelas Rehan singkat.
"Aamiin, semoga disegerakan," ucap Lukman penuh yakin.
Sementara dari kejauhan, terlihat kedatangan Yasmin dan Baruna saat itu.
__ADS_1
"Man, mana kamar Ara?," tanya Yasmin singkat.
"Ini, ayo silahkan masuk." ajak Lukman.
Saat mereka masuk ke dalam kamar Annara, betapa terkejutnya Annara melihat keberadaan Baruna yang ikut ke rumah sakit saat itu.
"Hai Ra, gimana kabarnya?. Sudah mendingan kan." tanya Yasmin yang berdiri tepat disampingnya.
"Sudah baikkan kok," jawab Annara singkat sambil memberikan isyarat pada Yasmin.
"Maaf, tadi pak Baruna juga pengen ketemu kamu. Dia pengen tau keadaan kamu juga Ra. Makanya kita barengan kesini." tutur Yasmin.
"Ra, maaf kalau saya tidak mengabari kamu terlebih dahulu." sahut Baruna yang berdiri tepat disebelah Yasmin.
"Nggak papa kok pak, justru saya yang tidak enak sama bapak. Soalnya bapak sampai repot-repot datang kemari." ungkap Annara.
"Sudah kewajiban saya sebagai atasan kamu, saya harus tau keadaan karyawan saya yang sakit. Apalagi seperti kamu, suamimu lalai menjagamu," Sahut Baruna kesal saat mencibir Lukman.
Kali ini Baruna tidak dapat mengontrol emosinya didepan Annara. Dirinya yang belum bisa melupakan Annara dengan baik, sangat terkejut sekaligus kesal saat mendapati kejadian ini terjadi pada Annara. Ia harus berpura-pura lagi dengan perasaannya kali ini, Baruna hanya bisa mengatasnamakan karyawan demi untuk menutupi perasaanya.
Terlihat Yasmin dan Annara saling melempar pandangan dan memberikan isyarat satu sama lain. Mereka berdua dibuat keheranan dengan tingkah Baruna saat ini. Karena mereka berdua sangat mengetahui bagaimana sikap Baruna terhadap karyawan yang lainnya.
Jelas tidak mungkin jika semua ini atas nama karyawan, aku bisa melihat dengan jelas disini. Pak Baruna sepertinya memang menyimpan perasaan pada Annara, tapi ia telat mengutarakan perasaan tersebut. Dan sampai detik ini, rasa itu terlihat jelas masih ada. Dari cara dia perhatian, memperlakukan Annara itu sangat berbeda dengan karyawan lainnya. gumam Yasmin.
"Yas, kamu tadi bilang sama aku kalah hari ini kamu bakal ada janji keluar bareng sama orang tua kamu ya?," potong Annara, mencoba menetralkan keadaan yang menegang diantara Lukman dan Baruna.
...----------------...
Happy reading guys 🤗
semoga masih pada betah disini yah❤️
✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.
__ADS_1
✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️
✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️