Lelakiku

Lelakiku
Keraguan


__ADS_3

Hari mulai gelap, dan jam kantor saat itu sudah usai. Semua karyawan terlihat sudah meninggalkan kantor saat itu, termasuk Annara dengan Lukman.


Dalam perjalanan pulang, ke duanya yang masih berada dalam mobil akhirnya bertukar cerita tentang segala aktifitasnya saat berada dikantor hari ini. Hal ini sudah dilakukan keduanya sejak pertama kali menikah, ini semua mereka lakukan agar satu sama lain bisa saling terbuka dan dapat menghilangkan penat dalam pikiran masing-masing.


"Sayang, boleh aku cerita tentang pak Baruna," Annara melanjutkan pembicaraan mereka dan beralih topik.


Dengan wajah yang merayu, ia menghadap ke wajah Lukman sembari memeluk pinggang Lukman.


"Tentu" jawabnya singkat dan sedikit malas mendengar nama itu disebut.


"Jangan manyun gitu dong, senyum dulu" pintanya manis.


Lukman akhirnya menuruti permintaan istrinya tanpa syarat.


"Hari ini dikantor, aku ketemu dengan Namira mas. Perempuan yang dijodohkan dengan pak Baruna" jelas singkat Annara.


Mendengar kata perjodohan, Lukman akhirnya tertarik untuk mendengarkan cerita itu dengan seksama.


"Terus," ucap Lukman dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Dia minta aku buat ajari supaya dirinya bisa menjadi seperti aku" tuturnya mulai lemah, ia takut jika ia sampai mengucapkan hal sensitif itu dapat melukai perasaan suaminya.


"Aku tahu, karena Baruna begitu terobsesi dengan kamu kan?" timpal Lukman sambil memegang dagunya.


Annara terkejut Lukman bisa menebak kemana arah pembicaraannya kali ini, tanpa harus ia jelaskan terlebih dahulu.


"Hah?" refleks Annara yang terkejut.


"Benar kan apa kata aku, Baruna itu suka sama kamu. Hanya aja dia terlalu gengsi waktu itu, jadi nggak sempat mengutarakan segala isi hatinya sama kamu. Tapi lebih baik begitu sih, aku nggak kebayang aja jika dia sampai mengutarakan perasaannya sama kamu. Aku bakal terabaikan sudah dan tak ada kesempatan untuk memiliki kamu," goda Lukman terhadap istrinya.


"Iih apaan si kamu mas, aku serius nih" ujar Annara dengan kesal.


"Serius, aku pun juga serius sayang. Baruna lelaki dan akupun juga lelaki. Jadi sesama lelaki, pasti tau gimana bahasa tubuh seorang pria jika suka dengan lawan jenisnya" jelas Lukman yang menuturkan segalanya tentang Baruna.

__ADS_1


"Jadi, kamu lebih tau tentang pak Baruna?" pancing Annara.


"Sedikit" sahut Lukman.


Karena jalanan saat itu cukup macet, dan padat merayap menjadikan perbincangan mereka terjadi cukup lama dimobil.


"Coba ceritakan ke aku mas" seru Annara yang juga semakin penasaran.


"Dari awal aku sudah tau si, kalau bos kamu itu pasti menaruh perasaan yang lebih terhadap kamu. Bukan hanya hubungan seorang bos dan karyawan saja, dari cara dia melindungi kamu dari Tomy waktu itu dan cara dia selalu ada buat kamu disaat kamu susah itu sudah cukup mencolok buat aku. Terlebih saat dirumah sakit kemarin, waktu dia jenguk kamu sama Cio. Perasaan aku semakin kuat dan yakin, jika Baruna sampai dengan saat ini masih menaruh harapan lebih terhadap kamu. Tapi meskipun begitu, aku tak pernah meragukan sedikitpun perasaan kamu kepadaku. Aku selalu yakin akan hal itu, dimana pun kamu berada akan hanya ada satu nama disana," tutur Lukman menjelaskan semua unek-unek yang berada dalam hatinya sambil mengusap lembut rambut istrinya.


"Makasih ya mas, untuk semua kepercayaan kamu. Aku akan selalu menjaganya dengan baik, aku pun selalu berharap hal yang sama pada kamu" sahut Annara yang merasa lega.


"Sama-sama sayang, jadi sekarang semua pilihan ada ditangan kamu. Apapun yang terbaik menurut kamu, lakukan. Tapi jika menurut kamu itu tidak baik, hentikan. Karena jika dipaksakan sekalipun akan membuahkan hasil yang buruk." Lukman mencoba memberikan saran terbaiknya.


"Iya mas," timpal Annara yang menyandarkan kepalanya dibahu Lukman.


Pada akhirnya mereka pun tiba dirumah meskipun telat dari jam pulang semestinya. Dengan wajah yang bahagia, setelah mencuci ke dua tangannya mereka lalu menghampiri Cio yang masih saja asyik tertidur pulas disana.


🖤


Berbeda dengan Anya dan Tomy, keduanya kini tengah berbagi tugas mengurus putri kecilnya, hal itu memang diperintahkan oleh Roni kepada istrinya. Ia mau Anya menjadi wanita yang jauh lebih dewasa saat menjadi ibu sekarang.


Dirinya tidak mau jika sang cucu terus bergantung pada istrinya setiap hari. Karena Anya tengah mengalami baby blue, dirinya mudah sekali marah dan tersinggung sampai menangis dengan sendirinya.


Ia tak mampu mengurus Nami dengan baik saat ini, dirinya butuh didampingi oleh Tomy agar mampu melewati masa-masa sulit selama baby blues.


"Sayaaaaang" teriak Anya yang memekik kencang dari arah kamar.


Tomy yang tengah menggendong Nami sambil membuatkan susu putrinya, sedikit kewalahan melihat sikap Anya saat ini.


Pasalnya, apapun yang diperbuat Tomy selalu salah dihadapan Anya. Ia juga terkadang tak mampu mengerti apa yang diminta oleh istrinya tersebut.


Ambil tergopoh-gopoh membawa sebotol susu dan menggendong Namira ia berjalan dengan kesusahan ke arah Anya yang saat ini sudah menangis dikamar karena sudah lama menunggu Tomy disana.

__ADS_1


"Kenapa sayang, kenapa malah nangis" ucapnya lembut.


"Aku panggil dari tadi, kamu lama banget si," Anya terlihat kesal memberikan penjelasan sambil menekuk ke dua kakinya.


"Kan lagi bikinin susu buat Nami, lihat dia juga ikut nangis ni" seru Tomy.


Kali ini, ke dua wanita tersebut sama-sama menangis dalam kamar. Tomy yang terlihat bingung ingin menenangkan siapa terlebih dahulu, akhirnya ia mendekap erat ke duanya dalam pelukannya. Sambil terus mengayun Nami juga.


"Berhenti ya nangisnya, kan sudah dipeluk" ujar Tomy sambil memberikan ciu*an kepada ke dua wanitanya itu.


Anya yang sudah bisa mengontrol perasaannya saat itu, dengan cepat mengambil Nami dan memberikan Tomy waktu untuk segera mandi.


Tomy memandang hal ini sangat wajar, mungkin istri beserta anaknya ingin mendapatkan perhatian lebih dari dirinya karena sudah lama mereka terpisah. Akibat perbuatannya, ia tidak dapat mendampingi Anya saat mengandung Nami sampai sembilan bulan penuh lamanya.


Tapi Tuhan begitu baik, kesempatan demi kesempatan selalu diberikan kepada Tomy yang sudah berulang kali terjatuh pada kesalahan yang sama.


Kini dirinya dapat berkumpul dengan Anya berserta Nami, suatu hal yang jauh dari pemikiran Tomy saat itu. Dengan campur tangan Tuhan, apa yang tak mungkin menjadi mungkin dalam waktu yang begitu singkat.


"Sayang apa masih lama kamu didalam sana" rengek Anya yang kembali terdengar didalam kamar.


Tomy yang sedang mandi, segera berlalu keluar dan mengambil baju miliknya dan dikenakan dengan begitu cepat. Karena ia terburu-buru, dengan wajah dan rambut yang masih basah dia menghampiri Anya yang sudah kembali ngambek.


...----------------...


Happy reading guys 🤗


semoga masih pada betah disini yah❤️


✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.


✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️


✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️

__ADS_1


__ADS_2