Lelakiku

Lelakiku
Kotak itu ...


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya sus?." tanya Annara pada perawat itu.


"Pak Lukman sudah melewati masa kritisnya dengan baik bu, akan terus kami pantau keadaannya nanti." jelas perawat.


"Terimakasih ya sus." ucap Annara senang dengan mata berbinar-binar.


"Ra ..." pekik Lukman lirih.


"Ssssssttt diem dulu jangan bawel." ujar Annara yang tengah berusaha mengabari ibu Lukman saat itu.


Tapi sayangnya ibu Lukman tidak merespon panggilan telepon dari dirinya saat itu.


"Boleh minta tolong kesini sebentar." pinta Lukman.


"Kamu ni, jangan banyak bicara dulu tau." celoteh Annara pada Lukman sambil merapikan selimut Lukman.


"Kamu tau, dalam tidurku kemarin aku mendengar suara perempuan. Kayaknya aku kenal betul suara itu, seperti suara kamu." jelas Lukman dengan lemah.


"Hah, mana mungkin aku masuk ke mimpi kamu." sahutnya tergesa menutupi pipinya yang memerah karena malu.


Ceklekk


Suara pintu ruangan terdengar dibuka oleh seseorang.


"Bu." ucap Lukman dan Annara secara bersamaan.


"Tadi Annara mau kabarin ibu soal Lukman, tapi nggak diangkat." jelasnya bahagia.


"Maaf ya, mungkin ibu tadi sudah dijalan menuju rumah sakit." pungkas ibu sambil tersenyum.


"Lihat Lukman bu, baru aja siuman udah bawel banget sama Ara." celetuk Annara merengek pada ibu Lukman.


"Syukurlah kalau kamu sudah sadar nak, semalam penuh ibu nggak bisa tenang dirumah memikirkan kamu." uca ibu.


"Baiklah, karena semua sudah berkumpul disini. Nggak perlu lama-lama lagi, ya kan bu?." ujar Lukman.

__ADS_1


Dengan segera ibunya yang mengambilkan sebuah kotak hitam dari dalam tas Lukman saat itu. Annara yang berdiri dengan kebingungan, memandangi kotak hitam tersebut. Ia seakan familiar dengan kotak tersebut, tapi dirinya tak berkata satu katapun.


"Kamu masih ingat kotak ini kan Ra?." tanya Lukman sambil membuka kotak kecil itu dengan sedikit gemetar.


"Tentu ingat, itu cincin milik ibu kan." sahut Annara dengan bingung.


Lukman dan ibunya tersenyum sambil melihat ke arah Annara. Saat itu, tubuh Annara yang ditarik oleh ibu sedikit mendekat pada Lukman. Annara yang hanya bisa mematung kebingungan, nggak tau sebenarnya ada apa ini.


"Ra, hari ini aku masih diberikan kesempatan untuk kesekian kalinya buat utarakan ini sama kamu. Tuhan masih sayang denganku, aku masih diberikan kehidupan ke dua untuk menuntaskan semua niat baikku ini. Dihadapan ibuku dan disaksikan oleh ibuku beserta malaikat yang ada dalam ruangan ini, maukah kamu menjadi pendamping hidupku dan menua bersamaku?." tanya Lukman dengan bergetar.


Mata Annara yang tak kuat membendung air matanya, tumpah membasahi ke dua pipinya. Sebuah kebahagiaan yang selalu ia nantikan selama ini dalam hidupnya.


*Akhirnya, hari ini telah tiba. Annara sudah menemukan tambatan hati yang selama ini Ara cari bu. Ara yakin ibu dan ayah juga pasti bahagia di atas sana melihat kebahagiaanku. Apa memang Lukman lelaki yang selama ini telah ibu siapkan dan Tuhan pilihkan untuk Ara?. Apapun itu, Ara sangat berterimakasih untuk segala kebahagiaan ini.


Gumam Annara dalam hati*.


"Iya aku mau." jawab Annara singkat tapi pasti, ia menangis haru sambil memeluk calon mertuanya itu.


"Ibu senang, melihat kalian berdua akhirnya bersatu. Akhirnya kamu yang akan jadi menantu ibu Ra, ibu restui kalian berdua semoga dilancarkan segalanya ya." tutur ibu Lukman.


❤️


Seminggu berlalu, Lukman yang telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit saat itu sudah tiba dirumahnya. Annara yang setiap hari tak lupa menjenguk calon imamnya itu, selalu menyempatkan untuk membawakan masakan untuk Lukman. Ia berharap, Lukman akan segera pulih dan dapat beraktivitas seperti sedia kala.


Terlihat Lukman juga sudah mulai beraktivitas kecil diteras halaman rumahnya. Dengan menjemur tubuhnya di pagi hari, dan melakukan olahraga kecil. Annara yang selalu setia mendampingi dirinya dengan menyiapkan segala obat dan keperluan lainnya yang dibutuhkan oleh Lukman.


Saat semua sudah dipersiapkan oleh Annara, ia yang menghampiri ibu Lukman lalu ijin untuk segera pergi ke kantor. Setibanya dikantor, dirinya yang langsung menuju meja kerja saat itu dihampiri oleh Yasmin.


"Pagi Ra, gimana keadaan Lukman hari ini?." tanya Yasmin sambil melirik cincin yang dikenakan Annara dijari manisnya.


"Sudah membaik." ucap Annara tengah menyusun laporan.


"Ciyee, bau calon pengantin nih. Aku disalip ni Ra?". goda Yasmin pada temannya itu.


Annara dengan segera membukam mulut Yasmin saat itu, ia tidak mau semua orang mendengar apa yang diucapkan oleh Yasmin saat itu.

__ADS_1


"Sssttt... Kamu ni, jangan kayak gitu. Pamali tau." ujar Annara.


"Ih kok bisa si Ra, kan uda pasti. Orang cincinnya uda melingkar dijari kamu." sahut Yasmin.


"Dih, pokoknya diam aku bilang." ucap Annara sambil berlalu dari hadapan Yasmin.


Sementara saat itu, keadaan terlihat berbeda di kantor tempat Lukman bekerja. Anya dan Tomy yang kembali berselisih paham tentang beda pendapat tengah ribut dalam ruangan milik Anya.


"Kamu tahu, aku orangnya paling nggak suka kalau lihat papa kamu lagi tegang begitu mukanya. Terus kamu minta aku supaya berhadapan langsung dengan papa kamu. Maunya apa si kamu?." cecar Tomy pada Anya.


"Setidaknya, kamu bisa perjuangin aku didepan papa. Karena kamu juga uda aku perjuangin didepan mama dan papa hari itu. Bisa jadi, hati papa luluh kalau lihat kamu menghadap sama dirinya langsung." jelas Anya penuh harap.


"Apa masih kurang aku buat memperjuangkan kamu selama ini?. Haruskah aku bersujud dihadapan papamu demi mendapatkan restu?, aku tau papamu tidak pernah suka dengan diriku. Tapi tidak seperti ini caranya untuk menginjak harga diriku." jelas Tomy dengan amarah.


"Tolong untuk kali ini aja, kamu buktikan ke papa kalau kamu layak buat aku. Aku yakin papa bakal luluh, kalau kamu mau mencoba satu kali lagi." pinta Anya memohon.


Tomy yang tengah diselimuti oleh amarah, segera meninggalkan ruangan Anya begitu saja. Tanpa kepastian kali ini Anya hanya berdiri sambil menangis diruangan miliknya. Seperti tak ada harapan untuk hubungannya kali ini, apa yang telah ia perjuangkan semua sia-sia rasanya saat itu.


Ditengah kesedihannya, ponsel miliknya pun menyala. Terlihat sebuah pesan singkat yang masuk dari papanya saat itu.


Isi pesang singkat Roni papa Anya.


Tolong kamu besuk Lukman dirumahnya sekarang. Lukman baru saja pulang dari rumah sakit karena kecelakaan.


Anya yang membaca isi pesan itu lalu beranjak mengambil tas beserta kunci mobilnya saat itu. Dirinya lalu menuju mobilnya dan meluncur ke tempat salah satu swalayan untuk membelikan buah tangan untuk Lukman.


...----------------...


Happy reading guys 🤗


semoga masih pada betah disini yah❤️


✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.


✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️

__ADS_1


✓ Ditunggu juga kritik dan saran yang membangun buat othor 🌷


__ADS_2