
Lukman hanya terduduk diujung tempat tidur sambil menunggu Annara keluar dari kamar mandi. Matanya yang tak mampu terbuka dengan sempurna, membuatnya ia sesekali kehilangan keseimbangan.
Terdengar suara pintu kamar mandi yang sudah terbuka lirih, Annara yang menjumpai suaminya dengan muka bantal tersebut mencoba menghampiri dengan pelan. Langkah kakinya terhenti tepat dihadapan Lukman, dengan sekuat tenaga Lukman juga berusaha menghilangkan kantuknya seketika itu.
"Gimana sayang?, apa sekarang aja kita ke rumah sakit." tanyanya cemas sambil memegangi pinggang Annara dengan ke dua tanganya.
"Masih jam segini, pasti belum datang juga dokternya." jelas Annara sambil menyembunyikan sebuah benda yang berada digenggaman tanganya.
"Terus tadi dikamar mandi lama banget kamu ngapain?. Apa masih terasa mual banget?." ujar Lukman dengan menggosok ke dua matanya yang mengantuk.
"Masih ngantuk ya, lanjutin tidur dulu deh kalau gitu. Nanti kalau sudah bangun, baru aku tunjukkin sesuatu buat kamu." goda Annara agar suaminya mampu membuka matanya dengan lebar.
"Eh, apaan?. Ada apa ini, kasih tau sekarang sayang." ungkap Lukman yang mendadak membuka matanya lebar-lebar.
"Aku tutup dulu mata kamu ya, nanti sampai aku bilang buka baru buka. oke, satu dua tiga buka." pinta Annara sambil menarik tangan dari hadapan mata Lukman sambil menunjukkan hasil testpacknya.
"Allahuakbar, serius sayang?. Ini beneran punya kamu, hai sayang ini papa nak. Sehat-sehat didalam sana, jangan buat ibu kamu sampai sakit apalagi lelah karena jagain kamu didalam sana yah. jelas Lukman dengan mata berkaca-kaca sambil memegangi test pack bergaris dua, ia lalu mengelus perut Annara yang masih terlihat datar dan terus menci*minya.
Annara tak menyangka bahwa ekspresi suaminya begitu bahagia menyambut kabar ini. Ia pun berharap semoga bayi kecil yang berada didalam perutnya terus tumbuh dengan sehat sampai pada waktunya lahir nanti.
"Terimakasih ya sayang, ini adalah kabar yang paling bahagia buat aku." ucapnya sambil merengkuh erat tubuh Annara.
"Sama-sama, semoga dia akan terus sehat didalam sana." tegas Annara sambil mengelus perutnya.
"Aku mau siap-siap dulu, abis gitu kita pergi ke rumah sakit. Mau memastikan semuanya dengan baik, biar kamu juga dapat vitamin untuk ibu hamil." jelas Lukman yang mulai cerewet pada keadaan istrinya tersebut.
__ADS_1
Annara hanya tersenyum mendengar semua kebawelan Lukman saat itu. Dirinya sungguh bahagia, karena mendapati suaminya itu sangat perhatian kepada dirinya beserta anak yang berada didalam perutnya. Tidak perlu waktu lama bagi Lukman untuk bersiap dan segera pergi menuju ke rumah sakit.
"Mas, kenapa pelan sekali mobilnya." tanya Annara.
"Iya, aku nggak mau sampai perut kamu keguncang gitu. Takut kenapa-napa matinya," ujar Lukman polos.
"Astaga, kamu ni ada-ada aja mas." sahut Annara sambil tersenyum lebar karena mendapati tingkah Lukman yang mendadak aneh.
Mereka yang saat itu tiba disalah satu rumah sakit yang terletak tak begitu jauh dengan hotel segera bergegas turun dari dalam mobil. Lukman degan cekatan mendampingi Annara tepat disisinya. Lukman kemudian menyuruh Annara untuk duduk disebuah kursi tunggu. Dan dirinya segera berjalan menuju loket untuk mengambil nomor antrian.
Saat itu masih terlihat cukup sepi, dan hanya ada tiga orang saja yang juga terlihat sama akan memeriksa kandungannya. Mereka berdua terlihat memperoleh nomor antrian empat saat itu, setelah menunggu satu jam lamanya akhirnya mereka mendapat giliran untuk masuk.
Terlihat seorang dokter spesialis kandungan tengah menunggu mereka di mejanya, dengan senyuman hangat dokter tersebut menyapa mereka berdua. "Selamat pagi bapak dan ibu, mari silahkan duduk."
"Pagi dok, saya mau cek kandungan." sahut Annara menyapa dan menjelaskan maksud kedatangannya.
"Saya Annara dok, dan ini suami saya Lukman." pungkas Annara.
"Saya lihat ini adalah kehamilan pertama bagi ibu Annara ya, baiklah kita akan segera periksa terlebih dahulu ya. Mari ikut saya bu," titah Stephanie.
Terlihat Annara sudah bersiap diatas sebuah tempat tidur degan posisi terlentang. Dirinya pun mendapatkan serangkaian pemeriksaan dari Stephanie dan berlanjut pada USG. Kali ini, perut Annara terlihat diberikan sedikit cairan untuk memulai rangkaian pemeriksaan USG.
"Pak Lukman bisa juga melihat pada layar tv yang berada didepan bapak ya." ucap Stephanie mengarahkan Lukman.
Saat sebuah alat menyentuh perut Annara, dan sebuah gambar mulai terlihat dilayar monitor. Samar terlihat sebuah kantong hitam dan bulatan kecil seukuran biji kacang terpampang dilayar tv.
__ADS_1
"Baik, semua terlihat sehat dan normal ya bu." ujar Stephanie sambil menjalankan alat tersebut diatas perut Annara.
Dengan segera salah satu seorang perawat yang berdiri tepat disamping Annara membersihkan bekas cairan yang telah disemprotkan diatas perut Annara tadi. Dengan sehelai tisu ia mengeringkan permukaan perut Annara.
Setelah semua selesai, Annara pun berjalan menghampiri Lukman yang masih setia menunggu dikursi dekat meja Stephanie.
"Sebelumnya saya ucapkan selamat ya pak bu, karena sekarang sudah resmi menyandang status sebagai orang tua baru. Semoga dengan kehadiran si kecil ini dapat lebih meningkatkan rasa kecintaan pada istri terus meningkat setiap harinya, untuk ibu Annara kehamilan anda sudah memasuki minggu ke empat. Jadi nanti pasti akan lebih sering buang air kecil, mual, pusing, nafsu makan yang berubah ataupun mood yang naik turun. Untuk bapak Lukman jangan kaget dengan semua perubahan itu ya. Tapi disini saya juga sering mendapatkan pasien, banyak diantara mereka si ibu tidak merasakan apapun waktu hamil. Melainkan semua rasa itu, digantikan oleh si bapak. Apapun itu, saya berharap kalian berdua bisa melewati dengan baik ya. Saya akan menuliskan beberapa vitamin yang akan dikonsumsi oleh ibu Annara." wejangan Stephanie panjang lebar.
Mereka berdua menyimak betul apa yang tengah disampaikan oleh Stephanie kala itu, karena ini adalah hal yang baru bagi mereka jadi mereka tidak ingin ada sesuatu hal yang salah. Dengan perasaan lega dan penuh bahagia mereka meninggalkan ruangan tersebut. Lukman dengan segera menebus semua resep vitamin tersebut untuk Annara.
Sementara Annara yang berdiri tepat disamping ruangan Stephanie, hanya memandangi hasil foto USG dengan tersenyum kecil.
Hallo sayang, ini mama. Tumbuh yang sehat ya kamu, jangan rewel didalam sana. Mama sangat mencintai kamu. gumam Annara.
Dengan begitu manis Lukman perlakuan Annara bak seorang permaisuri saat itu, tetapi dalam perjalanan mereka menuju tempat parkir saat itu tidak sengaja mereka berdua juga menjumpai Anya yang terlihat buru-buru masuk ke dalam rumah sakit dengan berlari kecil.
Mereka pun di buat bingung dengan sikap Anya yang hanya datang seorang diri ke rumah sakit dengan wajah yang sedikit tegang.
...----------------...
Happy reading guys 🤗
semoga masih pada betah disini yah❤️
✓ Ditunggu Vote dan tap ❤️ nya.
__ADS_1
✓ Ditunggu kiriman hadiah bunga sekebonya yah❤️
✓ Ditunggu kritik dan saran yang membangun buat othor❤️