
Hai hai ... kali ini, othor kembali dengan cerita percintaan yang dikemas cukup apik disebuah pedesaan loh.
Seorang gadis belia, yang memiliki kisah cinta meranik disepanjang perjalanan hidupnya. Ikuti kelanjutan kisahnya yuk, buruan simak bab selanjutnya yah 💐
Dan terimakasih untuk segala bentuk dukungannya yang sudah kalian berikan pada othor. tanpa kalian, diri ini hanya butiran air tanpa meninggalkan bekas🙏🙏
Cuplikan bab 1
Hari Gelap
*
*
*
"Duh, Tolong lepaskan tanganmu mas." jerit Sofia yang merintih kesakitan akibat ulah Mahardika.
Dia adalah Sofia Larasati, gadis desa yang masih belia dengan usia yang masih belasan tahun. Tahun ini usianya genap 18 tahun, Ia yang baru saja lulus dari bangku sekolah menengah atas memutuskan untuk mengadu nasib dikota.
Tetapi malang usahanya di urungkan oleh kekasihnya yang bernama Mahardika Prasetyo, dia adalah kakak kelas dua tingkat lebih tua dari Sofia. Dirinya begitu mengagumi Sofia, hingga perasaannya tersebut mebutakan mata hatinya.
"Diam!. Kamu nggak perlu menjerit seperti itu, orang akan mendengarnya." Mahardika masih berupaya membekap mulut Sofia.
"Tolong lepaskan aku mas, sakit." Sofia terlihat kesakitan dan hatinya begitu gusar dengan perlakuan Mahardika.
"Aku bilang diam!." sentak Mahardika disebuah gubuk tua.
Kala itu matahari terlihat sedikit terbenam, sinarnya yang mulai meredup membuat sekelilingnya kehilangan kilaunya. Disebuah gubuk tua yang tak berpenghuni, Mahardika yang sudah dibutakan oleh perasaan sesatnya menarik tangan Sofia dengan begitu cepat untuk masuk ke dalam.
Hanya tumpukkan jerami yang menjadi saksi bisu diantara mereka berdua. Beberapa di antara petani saat itu sudah mulai terlihat untuk pulang meninggalkan ladang miliknya.
Dengan wajah yang sedikit berbeda dari biasanya ia memandangi Sofia penuh kegusaran dalam hatinya.
"Lepaskan tanganmu dari wajahku mas" suara Sofia yang sudah terlihat melemah ditengah cengkraman Mahardika.
__ADS_1
"Tidak, kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi." ucap Mahardika.
Sofia hanya tertunduk lemas saat itu, ia menyadari bahwa sekencang apapun dirinya berteriak tidak akan ada seorang pun yang mendengarnya.
"Lakukanlah" tantang Sofia tanpa basa-basi.
Mahardika yang sedikit tertantang dengan ucapan Sofia lalu melancarkan aksinya, ia mendapati gadis didepannya kini sudah kalah telak tanpa perlawanan.
Dirinya kini sudah menguasai Sofia sepenuhnya, dan Sofia hanya diam saat mendapati Mahardika sedikit menaikkan tubuhnya.
Ini adalah kali pertama bagi mereka berdua melakukan hal yang tidak pantas.
"Mas, hentikan" mulut Sofia bergumam tak karuan.
Dalam suasana itu, kedua insan ini tak sengaja melakukan sebuah pengalaman pertama, yang kata orang itu adalah surganya dunia, untuk kali pertama Sofia dan Dika bersatu dalam raga, dalam hubungan yang belum memiliki ikatan itu, keduanya menikmati nya sebelum menikah. Ah pergaulan sekarang, dimana nafsu yang mengalahkan akal logika, dan akhirnya masa-masa muda itu yang akan dikorbankan.
"Mas! Kenapa semua ini harus terjadi." racau Sofia saat tubuh mereka begitu dekat. Namun, Dika tak memperdulikan nya, Ia pun tetap melanjutkan aktivitasnya agar lekas tercapai menuju puncak.
"Tolong berhenti, Mas! Berhenti!" Sofia merasa sedikit tidak nyaman dengan perlakuan Dika, bagaimana pun juga Ia merasa begitu berdosa telah terjerembab dalam kubangan dosa.
"Aku pulang," sambil mengutip beberapa pakaian miliknya, Sofia nampak memakai pakaiannya dengan benar.
Ia pun terlihat membenarkan rambutnya yang sedikit tertempel oleh jerami dan acak-acakan.
"Maafkan aku." Mahardika terlihat setengah menyesal melakukan hal itu, tapi dirinya puas karena merasa berhasil memiliki Sofia seutuhnya.
Sofia melewati tubuh Mahardika begitu saja yang masih tergeletak dibeberapa tumpukan jerami saat itu. Dalam perjalanan ia pulang, dirinya menyalakan sebuah lampu senter kecil yang selalu ia bawa kemanapun. Saat dirinya sudah keluar dari area persawahan, dan menuju jalan setapak ke arah rumah kakek dan neneknya ia menjumpai pak kades beserta istrinya yang terlihat baru saja pulang dari masjid.
"Sof, dari mana kamu petang begini" terdengar suara Sumitra ibu dari Mahardika. Ia dikenal sebagai wanita paling penyabar didesa itu.
"Eh, pak buk. Sofia tadi disuruh si mbah untuk ambil daun tela buat masak hari ini." ucapnya dengan santun sambil membungkuk.
"Lain kali kamu bisa minta tolong sama Dika saja" Sumitra mempunyai panggilan khas tersendiri untuk putranya Mahardika.
Tanpa menimpali perkataan Sumitra, ia hanya tersenyum kecil pada ke duanya.
__ADS_1
"Lah ndok, terus mana daunnya. Kok kamu nggak bawa apa-apa." tanya pak kades yang bernama Prasetyo.
"Anu e pak, tadi Sofia tergelincir waktu mau metik dipematang sawah. Jadi Sofia urungkan untuk mengambilnya." suaranya kikuk saat mencari alasan menutupi keadaannya.
"Kalau begitu ini untuk kamu saja ya. Salamkan untuk ke dua mbah kamu dirumah, hati-hati dijalan ini sudah gelap" ujar Sumitra yang memberikan beberapa bungkus nasi untuk Sofia.
"Terimakasih ya buk, ini Sofia terima. Semoga bapak sama ibuk selalu diberikan kesehatan dan umur panjang." Sofia selalu mendo'kan untuk semua orang yang sudah berbaik hati padanya.
"Aamiin" ucap barengan Sumitra dan suaminya.
Sofia pun nampak berjalan dan menjauhkan langkah kakinya pada Sumitra dan Prasetyo yang masih menunggu dirinya sedikit berjalan jauh. Saat mereka berdua sudah memastikan Sofia berjalan sedikit jauh, mereka pun terlihat meninggalkan tempat itu dengan segera.
"Assalamu'alaikum mbah, Sofia pulang" ucap Sofia santun di kedua hadapan kakek dan neneknya.
"Dari mana saja kamu, sudah petang begini baru pulang." tanya mbah uti yang masih terlihat mengenakan mukenah lengkap.
"Tadi Sofia dijalan nggak sengaja ketemu ibuk dan bapaknya Mahardika mbah. Dan Sofia diajak ngobrol cukup lama dengan mereka, lalu ini juga ada titipan dari mereka untuk si mbah." Sofia berupaya merubah alur pertanyaan si mbah.
"Untukmu apa untuk si mbah" ke dua kakek dan neneknya sering sekali bercanda dengan cucunya tersebut. Pasalnya mereka mengetahui bahwa Mahardika begitu menaruh harapan yang mendalam terhadap cucunya.
Maafkan Sofia ya mbah, kali ini Sofia tidak jujur dengan si mbah. penuh kesedihan Sofia menatap ke dua kakek neneknya yang berjalan ke arah sebuah kursi kayu untuk menyantap nasi tersebut.
"Cepetan mandi, nggak baik perawan mandinya gelap begini" perintah si mbah pada Sofia.
Langkah kakinya yang saat itu berjalan tiba-tiba terhenti saat mendengar perkataan si mbah yang menekankan kata-kata perawan dalam perintahnya. Rasanya ia kini tak pantas menyandang pernyataan tersebut, pasalnya Sofia baru saja kehilangan kesuciannya yang direnggut oleh Mahardika.
Tanpa menghiraukan perkataan si mbah, ia memasuki sebuah kamar mandi dengan ukuran yang tak terlalu besar. Hanya cukup untuk satu orang saja saat masuk kedalamnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membasuh tubuhnya yang sudah ternoda itu dengan sebuah do'a yang terucap di bibirnya.
Ia berharap semua dosa besar yang dirinya lakukan hari ini dapat gugur dengan guyuran air mandi. Dirinya yang belum terlalu paham akan niat mandi wajib, hanya mengucapkan beberapa kalimat yang ia yakini benar adanya.
Guyuran air dalam gayung itupun membasahi sekujur tubuhnya dengan baik.
...Happy Reading ya guys...
__ADS_1