
Kehidupan Alfredo mulai berwarna sejak Felicia hadir. Dia merasakan semangat yang selama ini mulai menghilang telah muncul kembali.
Mia yang melihat perubahan dari anak semata wayangnya ikut merasa bahagia.
Selama delapan tahun terakhir dia sama sekali tidak pernah melihat kebahagiaan terpancar dari wajah anak tunggalnya tersebut.
Perubahan ini tentunya juga dirasakan oleh putra semata wayangnya, Samuel dan istrinya, Vera yang mulai menaruh curiga terhadap perubahan sikap suaminya tersebut.
Diam - diam Vera menyuruh orang untuk mengawasi semua aktivitas suaminya tersebut dan melaporkan kepadanya.
Alfredopun berusaha untuk bermain rapi agar hubungannya dengan Felicia tidak terdeteksi oleh istrinya, mengingat sifat possesif Vera terhadap dirinya yang terbilang sangat berlebihan.
Vera selalu menyingkirkan siapapun perempuan yang dekat dengannya, meski itu kedekatan itu hanya sebatas dalam urusan pekerjaan.
Maka dari itu, asisten dan orang - orang yang berhubungan langsung dengan Alfredo baik iti dikampus ataupun dikantor hampir semuanya berjenis kelamin laki - laki, hal tersebut dilakukan untuk menghindari kecemburuan yang tidak mendasar dari istrinya.
Untung saja apartemen Felicia satu kawasan dengan tempat tinggal Alex, asistennya, sehingga Vera tidak curiga saat mobil Alfredo parkir dibaseman gedung tersebut.
Alex hanya bisa pasrah saat dirinya dijadikan kedok oleh bosnya untuk berselingkuh. Meskipun hubungan tersebut salah, tapi Alex cukup senang karena sekarang bos nya sudah lebih manusiawi, dibandingkan dengan sebelumnya.
Sejak Felicia sudah bisa menerima keberadaan Alfredo, dirinya rutin berkunjung ke apartemen Felicia. Entah itu hanya untuk mengobrol ataupun sekedar makan malam yang diakhiri dengan pemuasan batinnya.
Felicia sebenarnya cukup senang dengan kehadiran Alfredo dihidupnya. Karena sekarang dia punya seseorang yang bisa dijadikan sandaran dan pegangan saat dia mendapatkan kesulitan.
Beda usia yang cukup jauh diantara mereka bukanlah penghalang untuk tumbuh dan berkembangnya cinta yang ada.
Bahkan aktivitas sexual Alfredo yang boleh dibilang "maniak" masih bisa diimbangi oleh Felicia, meski kadang dia kewalahan kalau gairah Alfredo sudah mulai tinggi.
Seperti hari ini, akibat melayani gairah Alfredo yang cukup tinggi semalam, Felicia
merasakan tubuhnya serasa remuk.
Jika dia tidak ingat padatnya jadwal profesor Willy dan banyaknya event yang akan diselenggarakan di cafenya, mungkin hari ini dia akan bermalasan ditempat tidur.
Sebenarnya pekerjaan di cafe bisa sepenuhnya dia alihkan ke Ajeng, tapi dikarenakan ada beberapa klien yang hanya mau jika hal tersebut ditangani langsung oleh Felicia, maka dengan terpaksa dirinya yang harus turun tangan menangani semuanya.
Selama ini Felicia selalu mengedepankan kepuasan konsumennya. Dan rata - rata mereka yang ingin acaranya ditangani langsung olehnya merupakan klien tetap yang terbilang cukup loyal.
Siang itu, setelah meeting dengan beberapa klien, dengan tubuh limbung, Felicia segera masuk kedalam ruangannya dan berbaring.
Ajeng yang melihat kondisi sahabat sekaligus bosnya tersebut segera mengambilkan makanan, air dan obat untuk diminum.
Dengan lembut dia berusaha untuk membantu Felicia bangun dan menyuapinya, tapi ditolak dengan halus oleh Felicia.
" Aku bisa makan sendiri Jeng", tolak Felicia sambil mengambil piring dari tangan Ajeng.
Baru dua suapan, Felicia sudah menghentikan makannya. Perutnya terasa mual dan penuh. Untuk meredakan mual yang ada, segera dia minum air hangat yang dibawakan oleh Ajeng.
" Kamu pasti telat makan lagi. Kerja boleh, tapi jangan terlalu diforsir. Kasihan tubuhmu ", nasehat Ajeng, denga. lemas Felicia hanya bisa mengangguk.
" Sekarang kamu istirahat saja. Pak Rafael nanti biar aku yang handle ", ucapnya.
Kemudian Ajengpun pergi meninggalkan Felicia dan kembali kedepan.
Felicia berusaha untuk memejamkan matanya karena tiba - tiba kepalanya terasa pusing.
Diingatnya kembali bahwa terakhir dia makan adalah pagi hari kemarin, itupun hanya sepotong sandwich dan segelas susu. Dan malam harinya dia tidak sempat makan, ditambah tenaganya diforsir habis oleh kehadirap Alfredo.
Pagi ini pun karena kesiangan dia tidak sempat sarapan dan segera menuju kekampus untuk menyelesaikan beberapa laporan yang harus dibawa oleh profesor Willy meeting dan menyiapkan materi perkuliahan yang akan dihadiri oleh profesor Willy dikampus tetangga sebagai dosen tamu.
Setelah semua urusan dikampus, dia langsung ke cafe untuk bertemu dengan beberapa klien terkait event yang akan diadakan dua hari lagi di cafe miliknya.
Alhasil asam lambungnya naik karena telat makan dan stres. Untung dia memiliki sahabat seperti Ajeng yang selalu cekatan untuk merawat Felicia jika kondisinya sedang drop seperti ini.
Setelah meminum obat yang disiapkan oleh Ajeng tadi, Felicia sempat tertidur sebentar. Saat terbangun badannya terasa sangat lemas dan bertenaga.
Ajeng yang melihat Felicia sudah bangun dan kesulitan untuk berdiri segera membantunya.
" Kamu mau keman...?, sudah istirahat saja dulu. Apa perlu aku antar ke apartemen biar kamu bisa istirahat ", ucap Ajeng.
" Aku mau kekamar mandi ", ucap Felicia.
__ADS_1
Ajengpun denga sigap hendak membantu Felicia berjalan kekamar mandi.
" Aku sudah agak mendingan, tadi cuma agak pusing sedikit. Kamu jangan terlalu khawatir, aku bisa sendiri ", tolak Felicia dengan halus, dan Ajengpun mengangguk mendengar jawaban Felicia.
Diapun segera meninggalkan Felicia untuk kembali kedepan, mengingat pada jam tersebut kondisi cafe sedang ramai pengunjung, jadi dia harus membantu karyawannya yang lain.
Lagipula Felicia itu keras kepala, jika dia sudah bilang bisa sendiri maka dia akan tetap teguh pada pendiriannya tersebut dan menolak segala bentuk bantuan yang datang.
Setelah mencuci muka, Felicia merasa sedikit segar. Dia segera melahap bubur hangat yang tersedia dimeja bersama teh hangat yang telah disiapkan oleh Ajeng sebelum pergi kedepan membantu teman - temannya.
Drrttt....drrttt.....drrttt.....
Ponsel Felicia berbunyi, tertera nama Alfredo dilayar. Segera diangkatnya dengan wajah penuh kebahagiaan.
A : Malam sayang....
A : Masih di cafe apa sudah di rumah ?
F : Aku masih di cafe
F : Mas sendiri masih dikantor kah ?
A : Iya, masih dikantor sayang.
A : Mau aku jemput apa aku tunggu diapartemenmu ?
F : Jemput aku di cafe ya
F : Badan aku lemes banget mas...
A : Kamu kenapa sayang
Alfredo mulai panik mendengar suara lemas Felicia.
F : magh ku kambuh
F : Perutku sakit banget mas
A : Tunggu ya sayang...
kemudia telepon terputus
Alfredo yang khawatir akan kondisi Felicia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Sesampainya di cafe dia bertanya dengan salah satu karyawan Felicia, tentang keberadaan bosnya tersebut.
Segera mendapatkan jawaban tentang keberadaan Felicia, Alfredo segera bergegas masuk kedalam. Ajeng yang melihat ada seorang pria asing masuk kedalam ruangan segera menyusulnya.
" Maaf tuan, Anda tidak boleh masuk kedalam. Hanya karyawan yang boleh masuk kedalam area ini ", ucap Ajeng sambil berlari mengejar Alfredo yang sudah mulai membuka pintu ruang kerja Felicia.
Ajeng yang merasa diacuhkan oleh Alfredo segera berlari menyusulnya.
Saat tiba didalam ruang kerja Felicia, Ajeng dibuat terkejut atas perhatian yang ditunjukkan pria tersebut kepada sahabatnya.
" Sayang, mana yang terasa sakit ", tanya Alfredo panik saat melihat Felicia yang tidur di sofa sambil memegang perutnya. Sementara Ajeng hanya melihat Alfredo dengan tatapan aneh.
" Sakit sekali perutku ", ucap Felicia merintih.
" Sabar ya sayang, aku akan segera membawamu kerumah sakit ", ucap Alfrefo yang langsung mengendong Felicia keluar.
Melihat Felicia yang digendong keluar, Ajeng pun segera menyusul Alfredo. Sesampainya diparkiran mereka berhenti
" Tolong buka pintunya ", perintah Alfredo kepada Ajeng, kemudia Alfredo membaringkan tubuh Felicia dikursi belakang mobil.
" Kamu duduk dibelakang, temani Felicia ", perintahnya dan Ajeng pun segera duduk disamping Felicia. Kepala sahabatnya tersebut dia letakkan diatas pangkuannya, sambil beberapa kali tangan mungilnya menghapus keringat yang ada di wajah sahabatnya tersebut.
Alfredo segera memacu mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Felicia yang masih kesakitan segera dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD).
" Bagaimana kondisi istri saya dok?", tanya Alfredo kepada dokter yang menangani Felicia.
" Istri anda mengalami dehidrasi dan asam lambungnya naik akibat stres dan kelelahan. Jadi saya sarankan perbanyak minum air putih dan istirahat yang cukup ", ucap dokter tersebut sambil tersenyum.
__ADS_1
" Syukurlah dok kalau kondisinya baik - baik saja ", ucap Alfredo lega.
"Setelah infus ini habis, istri anda sudah boleh pulang. Jangan lupa obatnya diminum secara teratur ", ucap dokter tersebut sambil berlalu pergi untuk memeriksa kondisi pasien yang lain.
" Kamu jaga Felicia, saya akan keapotik ambil obatnya dulu ", perintah Alfredo
Sementara itu, Ajeng hanya bengong melihat kepergian Alfredo. Disekanya keringat yang muncul di wajah dan leher Felicia denga. lembut.
Pikiran Ajeng saat ini dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan.
" Istri...? sejak kapan Felicia menikah dengan pria itu. Kenapa dia tidak pernah membicarakan hal ini kepadaku...", batin Ajeng penuh tanda tanya.
Saat Ajeng bergelut dengan pikirannya, Felicia yang tadi sempat pingsan pelan - pelan mulai membuka matanya.
" Aku dimana..? ", ucapnya
" Jangan bangun dulu ", ucap Ajeng
" Apa aku berada dirumah sakit ", tanya Felicia dan dijawab anggukan oleh Ajeng.
" Kamu tadi pingsan dan suamimu yang tampan itu segera membawamu kerumah sakit", ucap Ajeng datar.
" Suami...? ", tanya Felicia binggung.
" Iya, suami...pria tpan yang menjemputmu di cafe tadi..", ucap Ajeng penuh selidik.
" Ohhh...maksudmu Alfredo ", ucap Felicia dan lagi - lagi di jawab anggukan oleh Ajeng.
" Kenapa kami menyebutnya suamiku..? ", tanya Felicia heran.
" Karena dia menyebutmu istri di depan dokter yang memeriksamu ", ucap Ajeng penasaran.
Mendengar hal tersebut, Felicia hanya tersenyum. Apalagi saat ini dia melihat muka Ajeng yang cemberut membuatnya ingin tertawa.
" Aku tidak menyangka kalau asam lambung bisa menjalar ke otak dan menyebabkan penderitanya gila ", ucap Ajeng sebal.
Mendengar hal tersebut, bukannya diam, Felicia malah semakin melebarkan senyumnya. Apalagi saat dilihatnya mulut Ajeng sudah maju satumeter membuatnya tertawa hingga perutnya sakit.
"Wah...kelihatannya sayangku sudah sembuh sekarang ", Ucap Alfredo yang tiba - tiba muncul dan duduk disamping Felicia.
" Iya, sudah lumayan baikan sekarang. Terimakasih ya sayang ", ucap Felicia manja.
" kapan aku bisa pulang ?", tanya Felicia sambil bergelayutanja di lengan Alfredo.
" Tunggu infusnya habis baru bisa pulang " ucap Alfredo lembut.
" Sabar ya ", ucapnya sambil membelai lembut kepala Felicia.
" Aku keluar dulu ", ucap Ajeng datar.
" Mau kemana ?", tanya Felicia
" Cari udara segar diluar ", ucapnya sambil berlalu.
Felicia yang melihat raut muka Ajeng merasa binggung. Tapi saat matanya melihat pria tampan yang ada disampingnya, dirinya baru menyadari kenapa sikap Ajeng begitu aneh.
" Tampaknya sekarang adalah waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya ke Ajeng ", batin Felicia.
" Ada apa sayang...?", tanya Alfredo membutarkan lamunan Felicia.
" Tidak ada apa - apa ", ucap Felicia sambil tersenyum.
Felicia yang tidak ingin Alfredo curiga segera menyandarkan kepalanya kebahu Alfredo sambil memainkan jari - jari tangannya yang masih digenggam erat oleh Alfredo.
Tingkah manja Felicia tentunya membuat Alfredo bahagia. Beberapa kali Alfredo mengecup pucuk kepala Felicia di sela - sela perbincangan yang mereka lakukan.
Ajeng yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku mereka berdua dari balik pintu merasa sedikit khawatir. Meski dia sempat merasa gembira melihat wajah bahagia sahabatnya tersebut.
Tetapi entah kenapa dirinya merasakan hal yang buruk tentang kedekatan mereka. Bukan saja karena Alfredo yang telah berumur, tapi Ajeng merasa ragu kalau pria dengan usia matang seperti itu masih lajang, belum beristri.
Tapi kekhawatirannya tersebut dia simpan dalam hati. Dia menunggu sampai keadaan Felicia membaik, baru dia akan bertanya kepadanya.
__ADS_1