
Tok…tok…tok.…
" Ini pak hasil revisi laporan dari divisi marketing dan promosi ", ucap Alex sambil menyerahkan berkas hasil meeting sore tadi.
" Apa ada yang bisa saya bantu lagi pak ? ", tanya Alex dengan sikap hormat.
"Tidak ada. Jika semua pekerjaanmu sudah beres kamu bisa langsung pulang " , ucap Alfredo datar.
" Baik pak ", ucap Alex sambil melangkah keluar ruangan.
Sudah hampir satu bulan ini seluruh karyawan bekerja lembur untuk menstabilkan kondisi perusahaan yang sempat goyah akibat ulah Vera dan kroni - kroninya.
Alfredo juga terpaksa harus merombak total karyawannya dengan menghilangkan tikus - tikus yang selama ini mengerogoti dari dalam.
Dan hal tersebut tentunya bukanlah perkara mudah. Karena sebagian besar mereka adalah orang - orang yang sudah lama bekerja bersamanya.
Untuk mendapatkan orang baru dengan kapabilitas seperti mereka tentunya bukan perkara yang mudah.
Maka dari itu dirinya bersama Alex harus bekerja ekstra keras agar pergantian itu tidak terlalu berpengaruh dalam kondisi perusahaan yang masih belum stabil.
Alfredo yang sudah sangat letih dengan permasalahan yang ada di kantor tidak ingin menambahnya lagi dengan masalah Felicia.
Untuk itu dia selalu pulang larut malam dan berangkat sedini mungkin agar sementara tidak bertemu dengan orang - orang yang sangat disayanginya itu.
FLASH BACK ON
Siang itu, setelah menjadi pembicara dalam seminar yang diadakan dikampusnya, pria beranak satu ini mendapat telepon dari professor Budi yang mengajaknya untuk makan siang bersama.
Karena kebetulan sahabatnya itu sedang berada di daerah yang tidak jauh dari kampus Alfredo mengajar.
Karena sudah lama tidak bertemu, sekalian Alfredo ingin bertukar pikiran dengan sahabatnya itu tentang beberapa masalah pendidikan yang sedang terjadi di kampus tempatnya mengajar, membuatnya menyangupi permintaan sahabatnya itu untuk bertemu.
Disinilah, di sebuah restoran padang mereka bertemu dan berbincang bincang.
Beban berat Alfredo yang selama ini dia pikul sedikit terangkat saat sudah bertukar pikiran dengan sahabatnya itu.
Bahkan dia juga mendapatkan beberapa pemasukan yang dirasa cukup relevan untuk mengatasi permasalahan yang ada.
Melihat sahabatnya mulai lebih santai daripada saat pertama kali datang membuat professor Budi akhirnya mengutarakan apa yang menjadi maksud dan tujuannya mengajak bertemu Alfredo hari ini.
Saat mendengar penjelasan professor Budi, Alfredo sempat tidak setuju atas pemikiran sahabatnya itu yang merasa kekasihnya akan berkembang dengan cepat jika program yang telah dirancangnya ini bisa berhasil.
Bukannya tidak percaya dengan kemampuan Felicia, tapi Alfredo tidak sependapat jika kekasihnya tersebut diharuskan untuk berkeliling Indonesia, mengingat gadis itu pernah diculik saat sedang menghadiri acara di jogja. Kali ini dia tidak mau kejadian yang sama terulang kembali.
Meski Vera sudah dihukum mati, tapi Setyo dan anak buahnya tidak akan membiarkan dirinya bisa hidup dengan tenang, mengingat ancaman yang pernah diberikan oleh Vera saat dirinya membesuk sebelum mantan istrinya tersebut menjalani eksekusi hukuman yang diberikan kepadanya.
"Jangan terlalu over protektiv pada kekasihmu itu, kamu harus mulai percaya padanya. Aku yakin keputusan yang diambil ini pastinya telah dipikirkan matang matang " , ucap professor Budi menepuk pundak Alfredo berusaha menenangkan semua kegelisahan yang sedang dirasakan sahabatnya itu.
FLASH BACK OFF
Dia menungguku lagi, guman Alfredo saat melihat kekasihnya sedang tidur meringkuk di sofa.
" Kenapa kamu harus keras kepala seperti ini", batin Alfredo sedih sambil menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik gadis itu.
Rasa lelah yang dia rasakan dalam sekejap hilang melihat wajah tenang kekasihnya itu.
Dengan perlahan ALfredo mengangkat tubuh Felicia dan membawanya kedalam kamar.
__ADS_1
Dibaringkan kekasihnya itu diatas ranjang dan diselimuti agar tubuhnya hangat.
Sebelum keluar dari kamar, Alfredo mengecup pelan kening Felicia dengan lembut. Menyalurkan rasa rindu dan kegelisahan bercampur jadi satu.
Perlahan dia melangkah keluar kamar dan menuju kamarnya sendiri yang berada disebelah kamar Felicia.
Setelah mengecek dan membalas beberapa email yang masuk, Alfredo segera membersihkan tubuhnya di kamar mandi dan beranjak tidur.
Karena esok hari dia yakin merupakan hari yang berat, mengingat kekasihnya itu pasti akan memaksanya untuk memberi ijin pergi.
Suatu hal yang sangat sulit untuk Alfredo lakukan.
Felicia merasa gemas dengan tingkah laku kekasihnya itu. Sudah hampir satu bulan, Alfredo selalu pulang larut malam saat dirinya sudah tertidur dan berangkat sangat pagi sekali saat semua orang belum terbangun.
Saat di telepon, dia selalu bilang kalau lagi ada meetinglah, lagi ada tamulah, dan alasan lainnya yang membuatnya harus sesegera mungkin untuk menutup telepon.
Chat yang dikirim oleh Feliciapun dibalas seadanya, itupun dia harus menunggu cukup lama.
Bahkan saat dia nekat pergi kekantor dan menunggunya, pria tersebut masih tidak bisa ditemui.
Alfredo seakan terus menghindar dari dirinya, entah apa penyebabnya.
Selama ini, sesibuk apapun kekasihnya itu selalu bisa meluangkan waktu untuk dirinya.
Meski itu hanya beberapa menit saja, setidaknya tidak menghindar dan cuek seperti saat ini.
Selama ini Felicia sudah berusaha untuk memahami karena adanya permasalahan yang sedang melanda perusahaan klekasihnya itu tentunya banyak menyita waktu dan pikiran.
Tapi dia sendiri juga harus secepatnya mendapatkan ijin agar bisa pergi dinas dengan hati tenang.
Berbekal segelas kopi hitam, dia akan berusaha keras agar jangan sampai tertidur. Mengingat besok sore adalah waktu pemberangkatan dirinya untuk mulai berkeliling Indonesia menguji cobakan program yang telah dibuat bersama timnya.
Felicia yang sudah sempat tertidur akhirnya terbangun saat mendapat telepon dari satpam rumahnya yang telah diperintahkan untuk meneleponnya jika Alfredo pulang.
Dengan wajah masih mengantuk, dia berjalan menuju kamar mandi guna membasuh mukanya agar kembali segar.
Alfredo cukup terkejut saat mendapati Felicia berada dalam kamarnya.
Pada saat melewati ruang keluarga, Alfredo sebenarnya sudah merasa curiga karena tidak melihat kekasihnya berada disana seperti beberapa hari sebelumnya.
Selama beberapa hari terakhir ini Felicia memang selalu menunggu Alfredo pulang dengan duduk di sofa ruang keluarga, walaupun pada akhirnya dia tertidur dan diangkat oleh kekasihnya itu kembali kekamarnya.
"Aku sangat letih hari ini. Jika ada yang ingin dibahas, kita bicarakan besok pagi saja" , ucap Alfredo datar.
" Besok pagi kapan....bukankah setiap pagi buta sebelum aku bangun kamu sudah pergi ", sindir Felicia.
Alfredo yang tidak ingin bertengkar dengan kekasihnya memilih diam dan bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan mendinginkan kepalanya agar tidak terpancing semua yang diucapankan oleh kekasihnya itu.
Felicia yang merasa dicuekin oleh Alfredo tidak bisa menyembunyikan kekesalan yang ada dalam hatinya.
Kekesalannya semakin bertambah saat sang kekasih tidak kunjung keluar dari kamar mandi.
Tok…tok…tok…
" Mau sampai kapan kamu berada di kamar mandi ", teriak Felicia kesal.
Tok…tok…tok…
__ADS_1
Tok…tok…tok…
Tok…tok…tok…
Felicia tidak berhenti mengetuk pintu kamar mandi sampai ada respon dari dalam.
Alfredo yang sudah menahan emosinya sejak tadi akhirnya mulai terpancing dengan keberisikan yang dibuat oleh kekasihnya itu.
Dengan marah dia segera membuka pintu kamar mandi.
" Maumu apai...ni sudah malam ", bentak Alfredo dengan tatapan tajam.
" Apa maksudmu menghindar dariku seperti ini ", ucap Felicia tak kalah sewot.
Mendengar nada tinggi dari ucapan Felicia membuat Alfredo yang pikiran dan badannya sangat lelah karena masalah yang ada dikantor membuat emosinya tersulut.
Felicia yang tidak terima dengan perilaku kekasihnya itu akhirnya meluapkan semua rasa kesalnya yang selama ini dia pendam.
Perang mulut pun tak bisa dihindarkan lagi, saling bentak dan keluarnya ucapan dengan nada kasar dari mulut mereka mewarnai pertengkaran malam itu.
Mereka berdua sama - sama dalam keadaan lelah sehingga emosi mudah tersulut.
Pertengkaran hebat itu terdengar hingga keluar kamar.
Membuat penghuni rumah tersebut keluar dari kamar masing - masing mencari sumber suara yang menyebabkan mereka terbangun.
Tidak ingin meneruskan percekcokan yang tiada akhir karena dua - duanya tidak ada yang mau mengalah dan tetap pada argumennya masing - masing, Felicia memilih keluar dengan membanting pintu kamar Alfredo dengan keras sambil berderai air mata.
Didalam kamarnya dia mulai menangis meraung - raung, menumpahkan semua rasa yang terasa bregitu menyesakkan dada.
Ini adalah pertamakalinya Alfredo membentak dirinya.
Meski Felicia sadar bahwa Alfredo membentaknya juga karena kesalahannya yang terus menekan kekasihnya itu, padahal dia tahu kalau kondisi kekasihnya itu sekarang tidak dalam kondisi baik - baik saja.
Tapi entah kenapa, hatinya terasa sangat sakit mendengar hal itu.
Didalam kamarnya, Alfredo terlihat sangat frustasi.
Ini adalah pertengkaran pertama mereka semenjak menjadi sepasang kekasih.
Pertengkaran yang dipicu oleh hal yang sangat remeh, hanya saja hadir disaat emosi keduanya sedang tidak baik baik saja.
Dengan frustasi, Alfredo mengacak acak secara kasar rambutnya. Seharusnya, sebagai pria yang lebih dewasa dia bisa mengendalikan emosinya.
Dia sangat menyesal tadi telah membentak Felicia dengan keras.
"Arcchh.....", teriak Alfredo yang segera beranjak kembali kedalam kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya.
Semua orang yang melihat dan mendengar kejadian barusan hanya bisa diam dan menghela nafas panjang.
Mia segera mengajak cucunya yang hendak masuk kekamar Felicia untuk melihat kondisi kakak cantiknya itu pergi tidur.
" Sammy tidur sama nenek ya. Biarkan kakak cantik menenangkan diri dulu. Jangan diganggu ya ", ucap Mia lembut sambil mengajak cucunya untuk segera kembali kekamar.
Sammy yang sempat ragu, akhirnya menuruti ajakan sang nenek, meski hatinya masih khawatir tentang kondisi kakak cantiknya.
Setelah Mia dan Sammy masuk kedalam kamar, semua pembantu yang tadi berkumpul, satu - persatu mulai membubarkan diri dan kembali kekamarnya masing masing.
__ADS_1