Lika - Liku Cinta Alfredo

Lika - Liku Cinta Alfredo
HONEYMOON


__ADS_3

            Jika Setyo dan Yasmin sedang kedinginan berada dibalik jeruji besi karena semua perbuatan yang telah mereka lakukan.


            Hal ini berbanding terbalik dengan Ajeng dan Aldo yang justru lagi panas – panasnya menikmati  keindahan pantai disalah satu pulau yang ada dinegeri ini.


            Di sebuah resort pribadi dengan hamparan pasir putih yang cukup luas di depannya. Mereka bisa melakukan apa saja disini tanpa terganggu akan kehadiran orang lain.


            Sepasang pengantin baru tersebut saat ini sedang duduk berdua dihamparan pasir putih, tangan keduanya tidak pernah terlepas, saling bertautan. Menikmati indahnya sunset di sore hari, menambah suasana menjadi


syahdu.


            Wajah keduanya berseri dan senyum merekah bagaikan bunga – bunga yang bermekaran dimusim semi tidak pernah luntur dari wajah keduanya.


              Ajeng mulai berdiri dan menuju bibir pantai. Kaki jenjangnya terangkat setiap kali ombak datang menerpanya.


                Berlari kecil menhindari sang ombak sambil mengangkat sebagian gaun pantai yang dipakainya hingga memperlihatkan sebagian pahanya yang mulus.


                 Aldo hanya bisa menelan ludah setiap kali melihat pemandangan seperti itu. Meski dia sudah melihat semua lekuk tubuh sang istri, namun sebagai laki – laki normal melihat hal tersebut gairahnya kembali naik.


            Diangkatnya tubuh sang istri dan dibawanya masuk kedalam penginapan agar segera bisa menuntaskan apa yang sudah bergejolak didalam sana.


“ Yang…turunkan…aku masih belum puas mainnya…”, renggek Ajeng manja.


“ Sekarang main dulu sama aku ya…pasti lebih asik…”, goda Aldo dengan senyum nakal.


            Ajeng pun hanya bisa pasrah dan menuruti semua keinginan suaminya. Aldopun segera menurunkan sang istri diatas ranjang dan tak berapa lama suara – suara merdu yang membangkitkan gairah bagi yang mendengarnya mulai mengalun dengan indah.


            Bahagia…Itulah yang mereka rasakan, setelah penyatuan demi penyatuan mereka lakukan demi segera menghadirkan sosok malaikat kecil yang menyempurnakan pernikahan mereka.


“ Kapan dia segera hadir…”, ucap Ajeng sambil mengelus perutnya yang rata.


“ Makanya kita berusaha terus agar dia bisa segera ada ”, ucap Aldo sambil mengecup perut rata Ajeng dengan lembut.


“ Kuharap setelah pulang dari sini kita bisa memberikan kado terindah untuk mami ”, ucap Ajeng penuh harap.


            Dirinya masih ingat betapa mami mertuanya tersebut sangat berharap agar Aldo dan Ajeng segera memberinya cucu agar bisa menjadi teman Alika.


            Bahkan untuk memuluskan keinginannya tersebut, Dinda rela merogoh kocek lumayan dalam untuk menyewakan resort pribadi ditepi pantai ini agar aktivitas Aldo dan Ajeng bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja tanpa ada gangguan.


“ Kenapa melamun…”, ucap Aldo sambil mengelus kepala istrinya dengan lembut.


“ Bagaimana kalau kita berusaha lagi sekarang ”, ucap Aldo mulai kembali menyerang sang istri.


            Akhirnya pergumulanpun terjadi, pasangan pengantin baru tersebut seakan tidak pernah lelah melakukan penyatuan demi penyatuan setiap gejolak itu muncul.


            Kegiatan panas tersebut berlangsung cukup lama hingga tak terasa hari sudah semakin larut. Mereka baru berhenti saat sudah kehabisan tenaga dan perut mereka sudah bernyanyi minta diisi.


            Selagi Ajeng membersihkan diri didalam kamar mandi, Aldo menyiapkan makan malam romantis di teras depan.


            Lampu kelap – kelip yang dipasangnya siang tadi mulai dinyalakan. Meja sudah dihias oleh lilin dan bunga Gardenia putih kesukaan Ajeng.

__ADS_1


            Saat kembali kedalam kamar, dilihatnya sang istri sudah berganti pakaian dan sekarang lagi menyisir rambut hitamnya yang lurus sepinggang.


            Dikecupnya bahu mulus istrinya yang terekspos karena malam ini Ajeng menggunakan dress diatas lutut yang sedikit tipis dengan tali spagethi yang terikat dilehernya sehingga bahu, punggung dan sebagian dadanya


terekspos sempurna.


            Badan Ajeng seketika kaku seperti tersengat aliran listrik saat Aldo mulai mengecup dan mengigit leher istrinya hingga meninggalkan bekas merah keungguan.


“ Kok ditandai sih…”, ucap Ajeng sambil menyingkirkan kepala suaminya dari lehernya dengan sedikit kesal akibat lukisan yang dibuat suaminya.


“ Hanya satu sayang…atau kamu ingin aku buat yang banyak ”, ucap Aldo dengan senyum mengoda.


“ Awas saja kalau berani…aku pastikan kamu tidur diluar ”, ucap Ajeng geram.


            Aldo yang mendengar ancaman sang istri hanya bisa nyengir kuda sambil menelan ludahnya dengan susah payah.


“ Maaf…jangan ngambek lagi ya…”, ucap Aldo merajuk.


            Diapun segera mengajak sang istri ke teras depan. Ajeng yang melihat makan malam romantis yang telah disiapkan sang istri tersenyum bahagia.


“ Alhamdulillah dia suka, jika tidak…bisa tidur diluar aku ”, batin Aldo lega saat melihat senyum terpancar dari wajah cantik sang istri.


            Mereka berdua menikmati makan malam romantis dengan canda tawa. Mendapatkan kejutan demi kejutan dari snag suami membuat Ajeng merasa sangat bahagia.


            Dia sangat berharap kehidupan bahagia diawal pernikahannya ini akan terus berlanjut sampai maut memisahkan mereka.


“ Bagaimana honeymoon Ajeng di l****k\, sukses…”\, tanya Alfredo sambil memeluk sang istri dari samping.


“ Sukses lah…mas bisa lihat sendiri wajah bahagia Ajeng ”, ucap Felicia dengan mata berbinar.


“ Ok…Minggu depan kita kesana…”, ucap Alfredo santai.


“ Kemana…”, tanya Felicia binggung.


“ L****k…”\, jawab Alfredo singkat.


“ Ngapain…”, tanya Felicia semakin binggung dengan jawaban sang suami.


“ Bulan madu…”, ucap Alfredo tersenyum bahagia.


            Feliciapun langsung memutar bola matanya dengan malas setiap suaminya membahas masalah itu.


“ Anak sudah dua…ingat itu ”, ucap Felicia geram.


“ Kita masih belum punya anak perempuan. Lagian Rafael sudah waktunya punya adik ”, ucap Alfredo merajuk.


“ No…”, tolak Felicia tegas.


“ Ayolah yang…Rafael kan sekarang juga sudah bisa ditinggal. Lagian kita nggak lama, hanya tiga atau

__ADS_1


empat hari saja disana…ya…ya….mau ya…. ”, rengek Alfredo sambil terus membuntuti kemana istrinya berjalan.


            Sammy yang melihat tindakan papanya segera membuntuti dari belakang, begitu juga deng bin Ina yang sedang mengendong Rafael. Mia pun turut mengikuti karena penasaran dengan apa yang dilakukan anak dan cucunya itu.


Brukk….


“ Ahhh….”


“ Aduh…”


“ Kepalaku….”


Teriak mereka berbarengan saat Felicia tiba – tiba berhenti tanpa aba – aba.


“ Ada apa dengan kalian…”, tanya Felicia binggung melihat semua orang terlihat kesakitan sambil memegang


dahinya, kecuali Rafael yang tertawa gembira sambil bertepuk tangan.


“ agi…agi…”, celoteh Rafael kegirangan.


            Semua orang hanya bisa membulatkan mata atas keingginan bayi tampan itu namun sedetik kemudian mereka semua tertawa terbahak – bahak gemas dengan tingkah pola Rafel yang lucu.


            Felicia yang pada awalnya ingin marah karena kelakuan suaminya akhirnya ikut tertawa melihat tingkah pola anaknya yang mengemaskan itu.


            Meski Setyo sudah berada dibalik jeruji besi namun Martin tidak mau lengah mengingat sudah dua kali Setyo berhasil membawa kabur tahanan, yaitu Vera dan Yasmin.


            Untuk itu Setyo dikurung didalam sel khusus dan dilarang untuk memakai alat komunikasi kecuali bicara dengan pengacaranya.


            Sementara itu, anak buah Setyo yang hendak melenyapkan Ajeng sudah disingkitrkan oleh anak buah Alfredo yang ditugaskan untuk mengikuti kemanapun pasangan pengantin baru itu pergi.


            Meski Setyo sudah ditangkap, namun Alfredo tidak mau lengah. Untuk itu dia tidak mengendorkan penjagaan terhadap Ajeng dan keluarganya.


            Pasangan pengantin baru yang tidak tahu menahu bahwa nyawanya hampir terancam tersebut semakin menunjukkan kemesraan mereka disisa waktu liburan yang ada.


“ Nggak terasa besok kita sudah harus pulang…”, ucap Ajeng sedih.


“ Tenang saja…kita lanjutkan bulan madu kita di rumah ”, ucap Aldo bersemangat.


“ Kalau dirumah kita tidaka akan bisa bebas…”, ucapnya masih dengan wajah sedih.


“ Kita nanti akan tinggal disini…”, ucap Aldo sambil mengayunkan kunci rumah dihadapan Ajeng.


“ Ini kunci rumah kita…”, ucap Ajeng terkejut.


“ Kapan kamu membelinya…kok aku nggak tahu ”, ucap Ajeng sambil menantap suaminya dengan pandangan curiga.


“ ini hadiah pernikahan kita dari Felicia dan Alfredo ”, ucap Aldo menjelaskan.


“ Benarkah…”, ucap Ajeng yang langsung memeluk suaminya dengan penuh bahagia.

__ADS_1


__ADS_2